Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 49 - Perjanjian Dengan Viera


__ADS_3

"Sulit untuk percaya, tetapi aku tidak ingin memperdulikan cinta lagi. Kalau perlu, kita jadi musuh saja." - Chan.



Ceklek!


Xiao dan kedua wanita yang bersamanya terdengar sudah masuk ke dalam kamar. Chan sama sekali tidak ingin peduli, menatap wajah Xiao pun sekarang dia tak berminat. Gadis itu berjalan menuju atap gedung. Ketika sudah tiba di sana, Chan memekik sekeras mungkin. Mengeluarkan seluruh kekesalan yang sangat menyesakkan dada.


"Aaaaaarrgghhhh!!! dasar lelaki keparaaat!"


Dug!


Chan menghempaskan kepalan tangannya ke pagar pegangan yang mengelilingi atap.


"Chan! kau baik-baik saja?" Viera tiba-tiba datang dari belakang. Chan reflek menoleh ke arah hantu wanita yang sedang menampakkan wajah sendunya tersebut. "Viera. . ." lirihnya.


"Sudah ku-bilang kan Xiao berkhianat! seharusnya kau percaya kepadaku dari awal!" ujar Viera.


Chan terdiam, dan membiarkan hembusan angin menerpa tubuhnya. Rambut hitamnya terlihat beterbangan hingga sedikit menutupi wajahnya yang tertunduk. "Kau benar Vier, harusnya aku mempercayaimu," ucapnya.


"Nasib kita sama Chan. Awalnya aku juga menganggap Xiao orang yang bisa membantu, tetapi lihat sekarang!"


"Aku ingin menangis, tetapi entah kenapa tidak bisa. Mungkin amarahku lebih berkuasa sekarang!" Chan menggertakkan gigi yang masih disertai kepalan tinju di kedua tangan.


"Chan, aku ingin bersamamu saja sekarang. Bolehkan? aku juga tidak mau lagi berada di sisi Xiao." Viera menatap dalam ke manik berwarna kecoklatan gadis yang tengah berdiri di hadapannya.


Chan tersenyum tipis. "Tentu saja Viera, aku malah senang bisa mempunyai teman yang senasib denganku."


"Terima kasih Chan, aku tahu kau adalah gadis yang sangat baik. Tetapi bisakah aku meminta bantuan?" tutur Viera yang diakhiri dengan pertanyaannya.


"Bantuan? apa kau sedang kesulitan Vier?" Chan mendongakkan wajah, lalu menatap lurus ke arah Viera berada.


"Aku semakin melemah Chan, aku memerlukan energi agar mampu bertahan." Viera berterus terang.


"Lalu bagaimana aku bisa membantu?"

__ADS_1


"Dengan perjanjian!" jawab Viera sembari melayang mendekat. Chan yang tidak mengerti lantas mengernyitkan kening.


"Apa kau tahu mengenai ritual pengikat? itu adalah sejenis perjanjian yang bisa dilakukan manusia kepada makhluk sepertiku." Viera menjelaskan secara pelan.


"Adakah hal semacam itu?" Chan tampak berpikir. "Tetapi jika aku bisa membantu, aku akan bersedia melakukannya!" lanjutnya dengan anggukan kepala. Viera yang mendengar merasa terharu. Dia berusaha memeluk Chan dengan tubuh transparannya, namun menembus begitu saja. Chan tergelak singkat. Setidaknya karena keberadaan Viera dia bisa melupakan Xiao sejenak.


***


Xiao beringsut ke ujung kasur. Dia berusaha tidak membangunkan kedua wanita malam yang telah setengah terlelap.


"Kau mau pergi?" tanya Elen dengan mata yang mengerjap malas. Ia tidak sengaja mendengar berisik yang ditimbulkan Xiao.


"Aku hanya mau ke kamar mandi!" sahut Xiao sambil meneruskan jalannya.


Klik!


Xiao mengunci pintu kamar mandi. Sebenarnya sudah sedari tadi Devgan mendesak dirinya untuk membunuh. Namun Xiao masih memikirkan caranya agar tidak diketahui oleh orang awam.


"Apa susahnya Xiao, kau tinggal tusukkan saja pisau ke badan kedua wanita itu puluhan kali!" usul Devgan, yang sama sekali tidak digubris Xiao.


"Itu terdengar bodoh untuk seorang manusia ber-OTAK sepertiku!" sarkas Xiao dengan menggeleng remeh.


"Apa?!! bodoh?!" Devgan memberikan pelototannya untuk Xiao. Namun lelaki yang dipelototinya terlihat santai, dengan tangan menyilang di depan dada.


"Lebih baik kau matikan listrik yang ada di hotel ini. Kau bisa kan?" Xiao memperhatikan Devgan melalui pantulan cermin yang ada di depannya.


"Hmh! jangan meremehkanku!" Devgan ber-seringai. Dia segera melakukan sesuatu terhadap aliran listrik terdekat, kemudian mengutak-atiknya sedikit. Tidak butuh waktu yang lama seluruh listrik yang ada di hotel langsung padam.


Dub!


Chan yang masih berada di atap merasa kebingungan dengan kondisi padamnya listrik. "Vier, apa yang terjadi? bukankah ini aneh?" tanya-nya.


"Aku akan periksa sebentar, kau lebih baik tetap di sini. Toh jalan menuju tangga sangat gelap!" suruh Viera. Chan pun menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan saran hantu wanita tersebut.


Sambil menunggu Viera, Chan mencoba menoleh ke bawah. Tepat kepada jalanan raya yang tampak sepi. Atensinya kala itu langsung tertuju kepada seorang wanita yang menjatuhkan diri ke aspal. Mata Chan membulat sempurna, apalagi ada satu wanita lagi yang menyusul untuk terhempas ke jalanan. Dia merasa sangat syok akan pemandangan yang baru saja disaksikannya. Meskipun dirinya melihat dari ketinggian, tapi ia bisa melihat cairan kental merah merembes di aspal.

__ADS_1


'Tunggu, aku mengenali baju kedua wanita itu. Dia. . .' batin Chan, seraya terus menelusuri ingatannya. Hingga memorinya berakhir mengingat kembali lelaki yang terus mengganggu pikirannya.


Chan sekarang berlari menuruni tangga dengan hanya bermodalkan sinar yang menembus dari jendela dan ventilasi. Tetapi langkah gadis tersebut langsung reflek berhenti, ketika bekas luka tembakan diperutnya kembali nyeri.


"Aaa!" Chan memegangi area perutnya. Dia mencoba menenangkan diri dan beristirahat di tempat.


"Chan! kau tidak apa-apa? sudah ku-bilang tunggu sampai aku kembali," ujar Viera yang baru saja datang.


"Tidak. aku harus menemui Xiao, dia melakukan sesuatu yang buruk lagi! kali ini aku ingin menonjok wajahnya!" geram Chan.


"Aku tahu, tetapi kau harus memperhatikan keadaan dirimu terlebih dahulu. Kumohon Chan, lebih baik kita tidak terlibat lagi dengan Xiao. Aku ingin melihat kau menjalani kehidupanmu sendiri," Viera berusaha menenangkan. Chan pun perlahan melembut, dan berjalan dalam keadaan tenang.


Di sisi lain Xiao sudah kembali berpakaian dan bergegas keluar dari hotel secepatnya. Pandangannya mengedar kemana-mana untuk mencari mobil tumpangan. Hingga mobil Yenn tiba-tiba muncul dan berhenti di depannya. Tanpa pikir panjang, Xiao pun langsung masuk ke dalam mobil.


Malam menjelang pagi berubah menjadi pagi yang seutuhnya. Cahaya surya bersinar cerah, dan memperjelas dua mayat wanita yang bersimbah darah di jalanan beraspal. Polisi dan ambulan tampak berdatangan.


Chan, Brian dan Al yang baru saja keluar dari hotel berhenti sejenak untuk menyaksikan keributan itu.


"Tubuh keduanya hancur berkeping-keping, aku heran kenapa mereka mau bunuh diri dengan cara seperti itu," Al merasa bergidik ngeri. Chan yang mendengar penuturan Al lantas menatap bingung.


"Kenapa kau berkesimpulan kalau mereka bunuh diri?" tanya Chan.


"Bukankah itu sudah jelas?" Brian menyahut lebih dahulu, sebelum Al sempat bersuara.


"Bukankah sudah jelas, kalau banyak keanehan yang terjadi kemarin malam?" Chan menyorot ke arah Brian dan Al secara bergantian.


"Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya. Biarkan polisi saja yang melakukan pekerjaannya," balas Al seraya berjalan ke arah parkiran.


"Ayo Chan! kita harus pergi!" seru Brian yang melangkah mengekori Al.


Chan masih diam mematung di tempat. Pikirannya mencoba menduga-duga apa yang telah Xiao lakukan. Viera datang menghampirinya dari samping kanan.


"Vier, beritahu aku kalau Xiao-lah yang membunuh kedua wanita itu?!" Chan bertanya sambil menatap ke arah dua mayat wanita yang masih tergeletak di aspal.


"Kau pikir siapa lagi Chan? memang dialah pelakunya," sahut Viera yakin.

__ADS_1


__ADS_2