Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 117 - Bertemu James


__ADS_3

Pertemuan bisa menjadi awal sebuah petualangan yang baru.


***


Al dan Fa menodongkan pistol ke segala arah untuk berjaga-jaga. Mereka melangkah maju secara perlahan.


Kretak!


Suara berisik dari arah kanan mengalihkan atensi Al dan Fa sekaligus. Mereka sekarang bisa menyaksikan seorang lelaki paruh baya sedang dibopong oleh wanita. Dialah James dan Eva.


Al membulatkan mata. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan lelaki yang selama ini muncul dalam mimpinya.


"Anak itu, dimana dia?" tanya James langsung ke intinya.


"Hey! jangan mendekat! siapa kau?!" timpal Fa yang sama sekali tidak tahu menahu. Dia masih dalam keadaan menodongkan pistol ke arah James.


"Fa, tenanglah! aku mengenal mereka," ujar Al seraya merendahkan pistol yang tengah dipegang Fa.


"Anak yang kau maksud... adalah Xiao kan?" tanya Al mengembalikan topik yang tadi ditanyakan James.


"Iya. Dia!" James mengangguk yakin.


"Oke, kalau begitu kalian lebih baik ikut kami!" ajak Al sambil memimpin jalan untuk kembali ke mobil.


"Apa-apaan Al! kenapa kau mengajak orang asing untuk ikut?!" geram Fa yang tak terima dengan keputusan Al.


"Percayalah padaku. Mereka bukan orang jahat!" sahut Al kemudian segera memposisikan diri duduk di belakang setir. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.


Sementara itu, Xiao masih terus melajukan mobilnya. Meski orang-orang bertopeng sudah hampir tidak terlihat. Sedikit lagi dia akan tiba di bandara.


"Jika sudah tiba di bandara, apa yang harus kita lakukan?" tanya Brian.


"Tentu saja menaiki salah satu pesawat! kau bodoh atau apa!" balas Xiao yang ditambah dengan segala cibirannya. Hingga membuat raut wajah Brian seketika cemberut.


"Xiao!" Chan menyahut dari belakang. Kepalanya menggeleng tak percaya saat mendengar ucapan kasar Xiao.

__ADS_1


Tidak lama kemudian tibalah mereka di bandara. Xiao menjalankan mobilnya dengan pelan. Mereka dikejutkan dengan keadaan yang begitu sepi, kelam dan juga dipenuhi darah. Tidak ada satu pun manusia hidup yang terlihat.


"Ini benar-benar mengerikan. . ." lirih Chan sembari menutup mulutnya sendiri.


"Sekarang bagaimana kita menaiki pesawatnya?" ujar Brian.


"Tenang saja, yang paling penting kita temukan pesawatnya lebih dahulu. Beruntung, Fa masih ada bersama kita. Sebab dia satu-satunya orang yang kukenal bisa mengendalikan pesawat," ucap Xiao seraya kembali melajukan mobilnya. Tepatnya menuju ke lintasan pesawat yang luas. Di sana terdapat ada beberapa pesawat masih tersusun rapi.


"Apa dia dahulu seorang pilot?" tanya Chan.


"Bisakah kita membuang pertanyaan yang tidak penting untuk sementara? karena kita sekarang dalam keadaan terdesak!" sahut Xiao, yang tidak bersedia menjawab pertanyaan Chan.


Mobil dihentikan dengan pelan oleh Xiao. Setelahnya, dia dan Brian segera turun dari mobil. Di ikuti Chan yang sepertinya tidak bersedia menunggu.


"Aku akan membantu," kata Brian sambil mencoba membantu Chan berjalan.


Sedangkan Xiao, terlihat tidak peduli. Ia hanya sibuk memperhatikan beberapa pesawat yang ada di hadapannya. Sekali-kali penglihatannya tertuju ke arah barat. Tempat dirinya bisa menyaksikan devil Spiderblood berdiri.


"Apa kau takut?" Xiao bertanya kepada Devgan.


"Awalnya, tetapi sekarang aku sudah terbiasa dengan tatapannya," jawab Devgan.


"Bukankah kemungkinan besar kau akan menyingkirkanku?"


"Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak yakin apakah bisa menemukan benda itu. Semuanya berubah sekarang." Xiao menghela nafas panjang. Pandangannya tertuju pada langit hitam tanpa bintang. Dia duduk di pintu masuk pesawat. Mencoba menenangkan pikirannya yang sempat berkecamuk.


Jujur saja, rasa sedih, takut, dan marah telah mengganggu benak Xiao. Ia merasa apa yang terjadi sangatlah berantakan. Dengan hancurnya Klan Wong serta pembantaian Spiderblood, sektika membuat apa yang sudah dilakukan Xiao sebelumnya tidak berarti.


"Hei!" Chan mendatangi Xiao, dengan bantuan sebuah tongkat yang membantunya untuk berjalan.


"Chan, berhentilah memaksakan diri!" Xiao mengerutkan dahi. Mulutnya sudah lelah menasehati kelakuan Chan yang tak pernah mau menurut. Gadis tersebut seakan tidak memikirkan resiko dari hasil perbuatannya.


"Duduk diam sendirian, tanpa melakukan apapun. Itu lebih memaksa bagiku," ungkap Chan yang sudah berdiri di hadapan Xiao. "Aku sangat mengkhawatirkanmu. . ." tambahnya, menatap lekat.


"Kalau begitu mulai sekarang, lebih baik kau cemaskan dirimu saja!" balas Xiao. Namun hanya direspon Chan dengan putaran bola mata malasnya.

__ADS_1


Chan memaksa Xiao bergeser, karena dia berniat untuk duduk. Xiao lantas menuruti keinginan gadis tersebut. Dia masih enggan menatap Chan. Akan tetapi Chan malah memeluk Xiao dari samping. Kemudian meletakkan kepala ke pundak Xiao.


"Chan!" Xiao berusaha menjauhkan tangan Chan yang melingkar di pinggulnya.


"Diamlah! setidaknya ini membuatku tenang." Chan bersikeras. Hingga akhirnya Xiao pun mengalah, dan terus membiarkan Chan mendekapnya. Mereka cukup lama dalam posisi tersebut. Sebenarnya Xiao mengakui kalau apa yang disebutkan Chan memanglah benar. Dia merasa sedikit tenang sekarang.


Dari kejauhan tampak sebuah mobil berjalan mendekat. Ternyata itu adalah Al dan yang lainnya. Mereka membawa dua orang baru untuk ikut.


Semua orang bergegas untuk mendekati mobil Al yang telah berhenti. Xiao dan Chan sama-sama membulatkan mata kala menyaksikan kehadiran James. Lelaki yang sangat sering datang ke dalam mimpi mereka.


Atensi James tertuju kepada Xiao. Banyak sekali hal yang ingin diberitahukannya. Terutama mengenai keberadaan senjata gaib.


Sekarang James duduk beristirahat. Di sekitarnya ada Xiao, Chan, dan Al. Sedangkan Fa dan Brian sibuk mempersiapkan pesawat yang akan dinaiki.


"Aku mendengar mengenai tragedi di sekolah," ucap James memulai pembicaraan.


"Aku tersiksa dengan mimpi yang kau berikan kepadaku. Apa kau tahu itu?" balas Xiao ketus.


"Itulah caraku untuk memperingatkanmu."


"Tetapi kenapa caranya harus begitu?! kenapa kau tidak mengirim pesan, menelepon atau memberikan pesan yang jelas melalu mimpi? apa kau tinggal di zaman batu, atau--"


"Xiao, bisakah kau berhenti menggerutu?" Chan sengaja memotong ucapan Xiao. Takutnya hal tersebut akan menimbulkan perdebatan yang panjang.


"Aku paham. Tetapi cara kerjanya memang tidak seperti itu. Bukankah kalian juga memiliki bakat? lalu apakah ada di antara kalian yang bisa mengendalikannya?" James memberikan pertanyaan menohok. Hingga membuat Xiao kehabisan kata-kata.


"Aku hanya berusaha sebisa mungkin. Dan yang seharusnya kita pikirkan adalah menghentikan aksi pembantaian Spiderblood. Ini sudah di luar batas!" terang James.


"Iya, miris saat melihat hasil perbuatannya." Al menggidikkan bahunya.


"Inilah yang aku lihat dalam penglihatanku terhadap masa depan. Semuanya benar-benar terjadi. Mungkin orang normal akan menganggap bahwa yang melakukan kejahatan adalah manusia psikopat. Tetapi kita semua tahu, kalau ada makhluk mengerikan dibalik orang yang pernah membunuh." James menjelaskan panjang lebar.


"Apakah semuanya bisa berakhir?" tanya Chan dengan nada meragu.


"Itulah alasanku menemuimu Xiao." James menatap serius ke arah Xiao. "Sebab aku tahu dimana letak senjata gaib berada," lanjutnya, yang sontak membuat pupil mata Xiao membesar.

__ADS_1


"Dimana?" tanya Al.


"Ini memang agak sulit dipercaya. Tetapi keberadaan senjata itu ada di dimensi lain!" ungkap James.


__ADS_2