Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 129 - Ratusan Ekor Ular


__ADS_3

Tidak ada perjuangan yang sia-sia.


***


Xiao, Chan dan Theo sudah menggeromboli buku kuno. Mereka membuka lembar demi lembar buku tersebut.


"Buku aneh..." komentar Chan dengan dahi yang berkerut. Meskipun begitu atensinya tidak teralih dari tulisan-tuliasan yang ada di buku.


Semua orang termasuk Xiao tidak mengerti dengan isi buku itu. Tetapi entah kenapa bukunya sangatlah menarik perhatian dan membuat penasaran. Seakan memiliki aura tertentu agar semua orang tertarik kepadanya.


Xiao hampir menyerah untuk mencari tahu, hingga pada akhirnya dia melemparkan bukunya ke lantai. "Menyebalkan, lebih baik kita cari senjatanya secepatnya!" gerutu Xiao, lalu menggerakkan kakinya menuju pintu keluar.


Buku yang dilempar Xiao terjatuh dalam keadaan terbuka. Tepat di sebuah halaman dimana terdapat gambar berupa pedang. Chan menjadi satu-satunya orang yang memperhatikannya. Dia lantas mengambil kembali buku kuno.


"Xiao!" panggilnya, yang seketika mengharuskan Xiao mengurungkan niat untuk beranjak pergi.


"Aku rasa ini adalah buku petunjuk mengenai pedang gaib. Di sini dijelaskan bagaimana cara untuk menggunakannya!" ujar Chan sembari membaca tulisan yang ada di buku. Jari telunjuknya berjalan di bawah huruf-huruf yang membentuk puluhan kalimat di atas kertas.


Xiao bergegas menghampiri, lalu merebut begitu saja buku kuno dari tangan Chan. Dia memastikan sendiri tulisan yang ada di sana.


"Sepertinya Chan benar!" Theo menyetujui pendapat Chan. Lagi pula penjelasan buku itu sepertinya sangat meyakinkan.


"Entahlah... tetapi tidak ada petunjuk mengenai dimana letak senjatanya berada," sahut Xiao sambil menutup bukunya, kemudian menyerahkannya kepada Chan. "Lebih baik kita bawa saja!"


Chan menganggukkan kepala. Dia bergegas memasukkan buku kuno ke dalam tas. Selanjutnya dia dan yang lain kembali menelusuri kastil lagi.

__ADS_1


Waktu terus berlalu. Xiao, Chan dan Theo sudah mencari di berbagai ruangan yang ada di kastil. Nihil, mereka belum juga bisa menemukan senjata yang dicari. Hingga tibalah ketiganya di atap. Tempat yang mereka kira adalah lokasi terakhir.


"Menurutku, tidak mungkin senjatanya ada di sini." Theo mengungkapkan pendapatnya. Kedua bahunya nampak terangkat satu kali.


"Diamlah Theo, jangan mengatakan sesuatu yang membuat kita kehilangan harapan!" tukas Xiao dengan dahi yang berkerut. Dia terus mengedarkan pandangan ke segala penjuru.


Karena tidak kunjung mendapat apa yang dicari. Xiao mengarahkan bola matanya ke arah Devgan. Dia merasa aneh dengan diamnya Devgan semenjak mendatangi kastil.


"Devgan, katakan kepadaku kalau kau sebenarnya tahu dimana senjata itu kan? kau sengaja tidak memberitahuku karena takut kalau-kalau aku membunuhmu!"


"Tidak! apa maksudmu?!" Devgan reflek mengangkat kedua tangannya. Dia agak kebingungan merespon kecurigaan Xiao terhadapnya.


"Cepat katakan!" desak Xiao, dadanya terlihat bergerak naik turun akibat menahan amarah yang sedang memuncak.


Devgan sempat terdiam sesaat. Hingga beberapa saat kemudian, dia akhirnya berucap, "Pedang itu ada di bawah tanah kastil. Maaf Xiao... seharusnya kau bertanya dari awal..."


Chan dan Theo yang melihat hanya membisu. Keduanya tentu sangat paham kalau Xiao tengah berkomunikasi dengan Devgan.


Xiao berusaha menenangkan diri dalam beberapa detik. Kepalanya yang sempat tertunduk perlahan didongakkan. "Devgan bilang senjatanya ada di bawah tanah!" ujarnya, lalu berjalan lebih dahulu menuruni tangga.


"Apa?!" keluh Chan sembari memegangi kepala. Dia tentu kesal, karena sekarang mereka berada di atap. Itu berarti, jika ingin ke ruang bawah tanah, mereka harus melewati banyak tangga lagi. Helaan nafas panjang keluar dari hidungnya yang mancung.


"Chan, kau tidak apa-apa?" tanya Theo, ketika menyaksikan adanya kecemasan di semburat wajah Chan.


"Aku hanya lelah..." lirih Chan sambil membungkuk dan memegangi kedua lututnya.

__ADS_1


"Kau mau aku gendong?" Theo memposisikan diri membelakangi Chan, dan menyodorokan punggungnya untuk dinaiki. Dia hanya bersikap seperti yang seharusnya sebagai seorang lelaki.


"Tidak apa-apa Theo, aku masih sanggup berjalan," ungkap Chan seraya menepuk pelan punggung Theo yang menghadap ke arahnya.


"Jangan bilang kau tidak mau, karena takut dengan Xiao," tukas Theo yang sedikit menyunggingkan mulut ke kanan.


"Tidak kok! aku memang masih sanggup berjalan!" tegas Chan cemberut. Kemudian segera memaksakan kakinya melangkah mengikuti Xiao. Theo hanya terkekeh sambil menggeleng tak percaya. Dia bergegas menyusul Chan.


Xiao sedari tadi menunggu Chan dan Theo ditangga. Sebelah kakinya terlihat dimain-mainkan untuk menemani kebosanannya. Setelah melihat kemunculan Chan, barulah dirinya berderap lagi.


Butuh waktu setengah jam lebih untuk turun ke bawah. Apalagi ke basemen yang jelas-jelas letaknya tersembunyi di balik pintu tua berwarna hitam.


Xiao membuka pintu basemen secara perlahan. Kegelapan segera menyambut penglihatannya. Terdengar juga suara banyak desisan dari bawah sana. Sedangkan Theo berinisiatif menyalakan senternya. Kemudian mengarahkannya ke dalam basemen.


Mata Xiao, Chan dan Theo membelalak bersamaan. Karena ruangan tersebut dipenuhi ular yang sangat banyak. Menyebabkan darah disekujur tubuh mereka berdesir hebat.


"Devgan? kau bisa mengatasinya kan?" Xiao menyalangkan mata ke arah Devgan.


"Baiklah, aku akan berusaha sebisa mungkin." Devgan terpaksa memimpin jalan lebih dahulu. Dia segera mengambil ratusan ular yang menggeliat di hadapannya. Lalu memisahkan badan ular itu menjadi dua bagian. Devgan melakukannya dengan kuat dan cepat. Hingga membuat suara desisan semakin berkurang. Pertanda kalau semua ular yang ada telah dibunuhnya.


Xiao akhirnya menderapkan kakinya memeasuki basemen. Melangkah dengan hati-hati, melewati bangkai-bangkai ular yang berserakan di lantai.


"Apa ini ulah Devgan?" tanya Chan saat menyaksikan bangkai ular di sekelilingnya. Sebelah tangannya menutup kedua lubang hidungnya. Karena bau amis dan busuk sangat mengganggu indera penciumannya.


"Menurutmu? bukankah itu sudah jelas Chan!" geram Xiao sambil memutar bola matanya. Dari kejauhan dia dapat melihat sebuah pedang tergeletak di lantai. Pedang tersebut tampak seolah memancarkan neon berwarna hijau.

__ADS_1


"Teman-teman, apa kalian bisa melihatnya?" tanya Xiao memastikan. Tangannya menunjuk ke arah benda yang disebutkannya.


"Iya, tetapi kami hanya bisa melihat gagangnya," jawab Theo, memperhatikan sebuah benda yang menurutnya hanya gagang pedang. Namun dia dan Chan tahu kalau itulah benda yang sedari tadi mereka cari.


__ADS_2