
Sesuatu yang terlihat biasa, sebenarnya bisa menjadi pemicu dari tragedi besar.
***
"Cepat yang kuat dong nariknya!" titah seorang siswi yang sedang melakukan pose berkacak pinggang. Dia menyuruh kedua temannya untuk menyeret seorang gadis berkcamata ke suatu tempat di lingkungan sekolah. Tepatnya ke sebuah gudang terlarang yang sering membuat semua orang takut.
"Kau mau apakan dia?!" salah satu temannya bertanya.
"Ya memberi pelajaran untuknya lah! kalau perlu kita kurung dia di gudang itu!" balas sang siswi yang bisanya cuman memerintah orang lain.
Kedua temannya yang sedari tadi sibuk menyeret sang gadis berkacamata tiba-tiba berhenti. Mereka sepertinya enggan menuruti suruhan dari teman angkuhnya yang bernama Lien itu.
"Apa yang mau kau lakukan? padahal aku sudah meminta maaf!" rengek siswi berkacamata yang sedang diseret paksa di lantai. Dia sering disapa dengan panggilan Niu.
Lien tersenyum remeh sambil memutar bola mata jengahnya. Kemudian segera menarik ribuan helai rambut Niu.
"Kau harus terima akibatnya! karena sudah berani melaporkanku kepada guru!" tegas Lien. Sekarang dia menyeret Niu menuju ke arah gudang.
"Lien! kau boleh memberinya pelajaran. Tetapi jangan pernah berani membuka gudang itu! kau tahu kan insiden-insiden aneh akan terjadi jika kau nekad membukanya?" salah satu teman Lien memohon agar temannya tersebut mengurungkan niatnya.
"Kenapa kalian percaya sama mitos sih?! kalau tidak di sini? dimana lagi dong sisi sepi dari sekolah ini? kau mau dihukum sama guru lagi?" tukas Lien dengan dahi yang berkerut. Dan berhasil membuat kedua temannya terdiam seribu bahasa.
Lien pun segera mengambil benda keras agar mampu menghancurkan gembok yang mengunci pintu gudang.
Bruk! Bruk!
Lien memukulkan benda keras ke gembok beberapa kali. Namun gemboknya tak kunjung lepas.
"Sialan!" cibir Lien kepada benda mati yang tak bisa bicara. Dia segera menoleh dan menatap tajam ke arah kedua temannya. "Apa yang kalian lakukan?! kenapa tidak membantuku!!" bentaknya. Hingga akhirnya kedua temannya pun terpaksa membantu.
Melihat Lien dan teman-temannya lengah, Niu pun memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Dia sekarang bangkit dan berlari menjauh.
"Lien! dia kabur!!" pekik salah satu teman Lien.
"Kenapa kau diam?! tangkap diaaa!!!" titah Lien sambil menghentakkan kakinya beberapa kali akibat merasakan kesal yang teramat sangat. Kedua teman Lien sontak berlari mengejar Niu. Sedangkan Lien masih berdiam diri di tempatnya.
__ADS_1
Trak!
Gembok yang tadinya menutup rapat tiba-tiba terbuka sendiri. Benda keras tersebut terjatuh mengikuti gravitasi dan menghentak ke lantai. Lien agak sedikit kaget, apalagi pintu gudang terdengar mendecit pertanda sudah terbuka. Alhasil atensi Lien sekarang terfokus ke dalam gudang.
Mata Lien membulat sempurna, karena dia tidak melihat apapun selain barang-barang bekas. Gadis itu lantas mendengus lega dengan dihiasi senyuman tipis diwajahnya.
***
Chan sedang menikmati makan siangnya sendirian. Akhir-akhir ini ia tidak terpisahkan dengan buku pelajaran. Hingga kebiasaannya tersebut membuat beberapa kelompok pertemanan mulai tertarik untuk menindasnya. Mereka menganggap Chan siswi yang rajin dan dapat dimanfaatkan.
Plak!
Seorang siswi menghempaskan tangannya ke meja makan Chan. Siswi tersebut terlihat tersenyum lebar seakan mencoba bersikap ramah. Ketiga temannya tampak berdiri di belakangnya.
Dahi Chan berkerut. Dia sama sekali tidak takut. "Apa yang kau lakukan?" tanya-nya sembari menatap tajam.
"Wow! aku hanya ingin berteman denganmu, kenapa kau merespon niat baikku begitu?" balas sang siswi yang sering disapa An itu. Dia juga merupakan teman sekelas Chan.
"Aku kembali ke sekolah hanya ingin belajar!" ketus Chan, dia segera bangkit dari tempat duduknya. 'Agar aku bisa memperbaiki kehidupanku.' Chan melanjutkan dari dalam hati seraya terus melangkahkan kakinya.
Ketika Chan keluar dari kantin, penglihatannya langsung disambut dengan keberadaan Xiao dan teman-temannya. Lelaki berparas rupawan tersebut terlihat sedang didekati siswi cantik. Dan Chan sangat tahu siswi itu sangat populer di sekolah. Namanya Olive, dia adalah keturunan Eropa-China yang kebetulan menetap tinggal di kota Metropolis.
Olive terlihat mengaitkan tangannya ke lengan Xiao. Kemudian menyeret lelaki tersebut ke suatu tempat. Mereka pergi berduaan entah kemana.
'Jangan pedulikan Chan! kumohon jangan terlalu memikirkannya!' Chan mencoba mencuci otaknya sendiri. Namun jujur saja, hatinya sedang dirundung rasa penasaran bukan kepalang.
Bruk!
Olive mendorong Xiao ke sebuah kursi. Dia langsung membuka kancing baju Xiao satu per satu. Sebelah kakinya di posisikan di atas pangkuan Xiao. Dia memandang Xiao dengan tatapan sensual. Keduanya sedang berada di ruang laboratorium. Namun Xiao hanya menampakkan raut wajah datar.
"Kenapa kau terlihat biasa saja?" tanya Olive. Kemudian mencoba mendekatkan wajahnya kepada Xiao.
Xiao hanya mematung. Sepertinya wajah cantik Olive belum cukup menggoda nafsunya. "Aku sedang tidak ingin mela--"
Brak!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara benda bergeser dari luar ruangan. Hingga membuat Xiao dan Olive sontak menghentikan aktifitas mereka. Xiao bergegas keluar dan mencoba memeriksa. Dan dia dapat melihat seorang gadis tampak berlari terbirit-birit.
"Haha! itu Chan, aku tadi melihatnya!" bisik Devgan dengan suara beratnya. Xiao pun perlahan mengukir senyuman miring. Matanya terus tertuju kepada gadis yang sedang berlari semakin jauh.
"Siapa?" tanya Olive sambil memposisikan dirinya berdiri di sebelah Xiao.
"Bukan apa-apa!" balas Xiao sembari menggeleng pelan. Lalu beranjak pergi meninggalkan Olive.
"Kau pergi?!" tanya Olive yang terheran.
***
Chan terus berlari, entah kenapa hatinya terasa sesak sekali. Bahkan dirinya tidak menyadari kalau sedang berada di dekat gudang terlarang.
Chan berjongkok sambil menangkup wajahnya. Karena ia sudah tak mampu lagi membendung air matanya. Gadis tersebut menangis dengan terpejam.
'Fix! aku tidak ingin lagi berdekatan dengan Xiao!' dia membulatkan tekadnya.
Ketika Chan membuka matanya, dia melihat ada sepasang kaki yang sedang berdiri di hadapannya. Pemilik kaki itu perlahan ikut berjongkok.
Mata Chan membelalak, kala mengetahui lelaki yang tengah berdiri di hadapannya ternyata adalah Xiao. Dia pun segera berdiri dengan wajah cemberut.
"Chan!" Xiao ikut berdiri dan segera memegangi kedua tangan Chan.
"Lepaskan! bukankah kau tidak mengenalku?! hah?!" geram Chan dengan nafas tersengal-sengal akibat amarahnya yang memuncak. Bukannya menjawab, Xiao malah menenggelamkan wajahnya ke leher Chan. Dia menghirup aroma badan yang selalu membuat jantungnya berdebar penuh semangat.
Chan sontak mematung, jantungnya ikut merasa deg-degan. Sekujur tubuhnya merinding seketika. Bahkan gadis tersebut sudah menenggak salivanya dua kali.
Bruk!
Tiba-tiba terdengar suara hempasan pintu yang membuat perhatian Xiao dan Chan teralih. Angin yang berasal dari dalam gudang berdesir hebat dan menghantam beberapa benda disekitar.
Chan baru teringat kalau dirinya sedang berada di area terlarang yang disebutkan Li-Jun tempo hari. Tanpa memperdulikan Xiao, Chan pun berlari lebih dahulu menjauhi area itu. Cengkeraman Xiao yang lengah bisa dilepaskannya dengan mudah.
Berbeda dengan Xiao, dia malah mematung di tempat. Karena dia menyaksikan sesuatu yang menarik atensinya. Lelaki tersebut segera berjalan memasuki gudang. Sebuah tangan memegangi pundaknya. Bahkan Devgan terlihat mengukir senyuman.
__ADS_1