
Perlahan tapi pasti, semua devil itu akan musnah.
***
Setelah memakan waktu berjam-jam, akhirnya pesawat tiba di tempat tujuan. Sosok lelaki tanpa topeng terlihat menyambut kedatangan semua orang. Dialah Shuwan, yang terlihat berjalan percaya diri karena sudah menjadi salah satu orang kepercayaan Spiderblood.
Xiao menuruni tangga lebih dahulu dibanding Chan dan Theo. Matanya tentu tertuju kepada sosok Shuwan yang kelakuannya masih saja belum berubah. Meyebalkan dan angkuh.
Kedua tangan Xiao mengepalkan tinju. Dia seketika teringat dengan insiden buruk yang terjadi di markasnya beberapa pekan lalu. Xiao menyeringai licik dari balik topengnya. Sebelum pergi, dia menyuruh Chan dan Theo untuk menunggunya.
"Kau mau kemana?" tanya Chan penasaran. Namun Xiao sama sekali tidak menjawab, dan hanya terus menggerakkan kaki untuk maju.
Tibalah Xiao di hadapan Shuwan. Dia segera merangkulnya seolah bersikap begitu akrab. Apalagi Zac terdengar memuji apa yang telah dilakukan Xiao ketika di pesawat.
"Dia menggunakan gergaji itu seperti orang berpengalaman. Aku rasa Xen bisa menjadi salah prajurit utamamu. Komplotan topeng biru tersebut pasti kalah!" ujar Zac sambil menepuk pundak Xiao.
Xiao mengangguk yakin. Kemudian berkata dengan sedikit mengubah suaranya. "Tuan, maukah kau ikut denganku? aku punya sesuatu untukmu," tuturnya kepada Shuwan.
"Apa? kenapa tidak di sini saja?" balas Shuwan yang berbalik tanya.
"Sejujurnya, aku adalah penggemarmu. Aku bisa melihat caramu membunuh saat di samping Spiderblood, aku bersumpah kau begitu keren..." puji Xiao yang tentu dipenuhi dengan segala kebohongan. "Jadi, ini hubungan antara fans dan idola. Aku tidak mau orang lain tahu mengenai hadiah spesialku untukmu," sambungnya lembut.
Mulut Shuwan perlahan mengembang membentuk sebuah senyuman. Dia akhirnya setuju untuk ikut. Xiao membawa Shuwan ke toilet yang ada di bandara. Hal itu tentu membuat Shuwan keheranan.
"Kenapa harus di sini?" tanya Shuwan yang sudah melangkahkan kaki masuk ke toilet.
__ADS_1
Xiao yang sedari tadi berdiri di depan Shuwan, memutar tubuhnya. Tangannya dengan cekatan mengambil sebilah pisau dari saku celana. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Xiao langsung melayangkan tusukan ke perut Shuwan.
"Sial! a-apa yang kau--" ucapan Shuwan terhenti, saat Xiao mencabut pisau, kemudian menancapkan lagi ke rongga dada.
Jleb! Jleb! Jleb!
Dengan penuh amarah dan tanpa ampun, Xiao terus menusukkan pisau ke badan Shuwan. Tidak peduli berapa tusukan yang dia lakukan. Yang jelas semua pembalasan dedamnya telah terpenuhi. Kali ini, Xiao tak akan lagi membiarkan Shuwan lolos begitu saja.
Darah Shuwan seketika bertaburan kemana-mana. Memberikan banyak noda pada pakaian yang sedang dikenakan Xiao.
Tubuh Shuwan gemetaran dengan keadaan mata yang terbelalak. Sebelum ajalnya tiba, Xiao sengaja membuka topengnya.
"Xi-xi-xiao..." lirih Shuwan terbata-bata seraya memegangi bagian dadanya. Perlahan dia tumbang ke lantai. Melemah dan tak mampu melakukan apapun.
"Cuh!" Xiao meludahkan salivanya ke arah Shuwan. Selanjutnya dia menatap devil Shuwan yang terus berusaha memberikan energi kepada tuannya. Saat itulah Xiao berpikir untuk mencoba senjata gaib Jonas. Dia lantas mengambil senjatanya dari tas ranselnya. Kemudian membuka sarung yang menutupi pedang.
Kini terpampanglah pedang gaib yang ada dalam genggaman Xiao. Memancarkan bentuk pedang berupa neon. Pancaran itu hanya mampu dilihat oleh Xiao dan para devil.
"Tolong, jangan musnahkan aku. Lagi pula tuanku sudah mati, aku tidak bisa apa-apa sekarang!" mohon devil Shuwan, lalu bergegas melarikan diri.
Xiao yang tidak menduganya, bergegas keluar dari toilet. Anehnya para orang bertopeng yang melihatnya tampak mematung. Menatap ke arah Xiao. Keadaan yang tadinya riuh langsung berubah menjadi hening.
'Tunggu, apa yang terjadi?' batin Xiao, yang merasa heran. Bola matanya segera mengarah kepada banyaknya devil yang menundukkan kepala. Kemudian duduk bersimpuh seolah meminta ampun.
Tanpa pikir panjang, Xiao segera mengarahkan pedangnya pada salah satu devil. Dia menyentuhkan ujung pedangnya tepat ke dada devil tersebut. Kobaran api langsung memusnahkan sang devil. Teriakannya yang menggelegar dan penuh kesakitan, membuat devil lainnya semakin ciut.
__ADS_1
Berbeda dengan Xiao yang perlahan melengkungkan senyuman lebar dimulutnya. Dia tidak menduga, senjatanya akan sekuat ini.
Dari belakang Xiao, Theo dan Chan memanggil. Pekikan mereka lantas berhasil menyadarkan semua orang bertopeng.
"Theo! Chan! bantu aku!" ujar Xiao dengan nada tinggi.
"Membantu apa?" sahut Chan sambil mengangkat kedua tangannya.
Xiao berjalan sedikit mendekati Chan dan Theo. "Bunuh orang-orang bertopeng ini. Sedangkan aku akan mengatasi semua devil mereka!" suruhnya. Lalu segera kembali memusnahkan devil yang ada.
Benar saja, yang dikatakan Devgan. Kematian devil tidak akan memperngaruhi, jika tuannya akan membunuh lagi. Jadi, sia-sia memusnahkan devil tanpa memberantas tuannya.
Chan dan Theo meragu. Mereka membeku di tempat dalam selang beberapa saat. Menyaksikan Xiao yang tampak sibuk melayangkan pedang gaibnya ke udara. Setidaknya begitulah yang mereka lihat.
"Apa yang kalian lakukan?! CEPAT!!!" desak Xiao, yang menyadari Theo dan Chan masih mematung.
Theo menghela nafas dan berucap, "Chan, biar aku saja yang melakukannya. Aku tahu kau tidak akan mampu!"
"Maafkan aku Theo. Tetapi aku akan keluar dan mencari bantuan!" balas Chan. Dia segera berlari menuju pintu keluar. Sedangkan Theo mulai menggunakan shotgun yang di ambil dari ranselnya.
Xiao tidak hanya sibuk memusnahkan para devil. Tetapi juga tuan-tuannya devil tersebut. Tangan kirinya memegang pisau untuk membunuh manusia, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk menyerang devil. Dia melakukannya dengan sigap seakan sudah berlatih puluhan kali. Tidak diragukan lagi, Xiao memang sejak kecil sudah mahir menggunakan pisau dan ahli melakukan bela diri.
Dor! Dor! Dor!
Beberapa tembakan Theo berhasil mengenai sasaran. Sebagian orang bertopeng banyak yang berusaha melakukan perlawanan. Mereka mencoba melakukan serangan balasan kepada Theo dan Xiao. Akan tetapi, karena devil mereka lemah akibat senjata Xiao, mereka pun juga ikut melemah. Kini energi mereka tidak seberapa dibandingkan Xiao dan Theo.
__ADS_1
Di sisi lain, tepatnya di luar gedung. Chan berlari sambil memegangi perutnya. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Hingga layar sebuah komputer yang terpampang di salah satu toko menarik perhatiannya. Chan kemudian melangkah memasuki toko itu. Dia menatap gambar kelompok orang bertopeng biru yang terlihat di layar komputer. Tanpa basa basi lagi, Chan pun mencoba menghubungi orang-orang bertopeng biru tersebut.