
Dalam rantai makanan elang adalah konsumen puncak. Memiliki penglihatan tajam dan bercakar kuat.
[Flashback 2 tahun yang lalu.]
"Ayo Xiao! kau seharusnya meninju lebih kuat dari itu!" titah Hongli. Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxernya. Tato bergambar elang dipunggungnya terpampang nyata.
Buk dhuak! Buk dhuak!
Sesuai suruhan sang ayah, Xiao mencoba melayangkan tinju pada samsak lebih kuat dari sebelumnya. Dia yang masih berusia lima belas tahun kala itu, terus dipaksa untuk menguasai tak-tik bela diri. Sebenarnya Xiao sudah menguasai ilmu bela diri karate dan kungfu sekaligus. Namun sepertinya itu masih belum cukup bagi Hongli.
"Hanya itu? padahal kau masih muda. kenapa terlihat lemah sekali." Hongli sengaja meremehkan, agar putra semata wayangnya tersebut semakin bersemangat.
Benar saja, Xiao meninju dengan tempo yang lebih cepat. Gemertak giginya menunjukkan tekad. Peluh mulai membasahi sekujur tubuhnya. Sama dengan ayahnya, Xiao juga hanya mengenakan celana boxer. Namun masih tidak terdapat tato sedikit pun yang menghiasi badannya.
"Bagus Xiao! sekarang cobalah melawan Feng." Hongli menyuruh Xiao berhenti berlatih dengan samsak-nya. "Feng!" pekiknya, mencoba memanggil bawahan terkuatnya. Xiao mendengus kasar, di hadapan ayahnya dia memang sama sekali tidak berani mengeluh.
Feng yang berbadan besar datang. Dia langsung melepaskan pakaiannya dan mengenakan sarung tinju yang tersedia. "Coba kalahkan aku Xiao!" ucapnya sembari berlari di tempat untuk melakukan pemanasan.
Feng dan Xiao sudah berada di area ring tinju. Keduanya saling bertatapan sambil terus berjalan mengitar membentuk lingkaran. Mereka sama-sama mencari waktu yang tepat untuk menyerang.
Wush!
Xiao melayangkan serangan pertama, tetapi melesat begitu saja. Feng mampu menghindar dengan sigap.
Wush! Bhuk!
Serangan pertama Feng juga luput, namun dia berhasil mengenai sisi wajah Xiao di tinju keduanya.
Xiao tak terima, dia mulai melakukan hantaman balik secara betubi-tubi. Hingga membuat Feng agak kewalahan menghindar. Hongli yang menyaksikan adegan tersebut mengukir senyum bangga pada mimik wajahnya.
Feng tak ingin kalah dengan seorang anak yang terbilang masih dibawah umur. Kali ini dia pun mengerahkan semua kekuatannya untuk bergempur lebih hebat.
Buk dhuak! Buk dhuak!
Beberapa pukulannya berhasil membuat Xiao oleng.
__ADS_1
"Xiao!!" pekik Hongli yang menampakkan semburat ketegasan diwajahnya. Dia tidak terima anaknya dikalahkan.
Buk dhuak!
Lagi-lagi Feng melayangkan serangan. Dia menggunakan kesempatan untuk memukul lagi, di saat Xiao oleng dan lengah.
Nafas Xiao mulai naik turun dalam tempo cepat. Dia meludah sejenak untuk membuang darah yang keluar dari mulutnya. Kemudian segera berlari menghampiri Feng dan melayangkan tinju-nya.
Buk!
"Aaaaaarrkkkh!!" erang Feng dengan mata yang membola. Dia memegangi area pribadinya yang terasa sangat sakit. Iya, Xiao sengaja meninju bagian tubuh paling berharga milik Feng. Tanpa bersalah sedikit pun Xiao mengangkat tangannya dan tersenyum bangga untuk melakukan selebrasi.
"Aaa. . . itu. . . curang. . ." kritik Feng yang perlahan merebahkan diri ke lantai ring. Dia merintih kesakitan.
"Hahaha! hahaha!" Hongli tergelak kala melihat kelakuan sang anak. Dia sebenarnya terperangah dengan pola pikir Xiao yang agak berbeda.
"Itu curang Tuan. . ." ucap Feng dengan suara seadanya.
"Aku tahu, tetapi menurutku itu strategi yang bagus!" sahut Hongli sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Kerja bagus Xiao!" pujinya yang sekarang berbicara kepada sang putra. Xiao pun berseringai senang, hingga gigi putihnya sedikit mengintip dari balik mulutnya.
[Flashback Off]
Xiao sekarang lagi-lagi sedang berada di dalam mobil bersama Yenn. Mereka terdiam untuk sejenak.
"Xiao, kau membunuh kedua wanita itu kan?" tanya Yenn, yang akhirnya memecah kesunyian di antara dirinya dan sang putra.
"Iya. Tetapi caraku masih berantakan, kau tahu maksudku kan?" jawab Xiao dengan nada tak acuh.
"Ibu tahu. Itu biasalah untuk seorang pemula. Berlatihlah lebih baik lagi!" Yenn menjeda sejenak lalu kembali melanjutkan, "kau juga tidak perlu memikirkan polisi dan penjara, karena mereka tidak bisa berkutik dengan kita!"
"Benarkah? bagaimana polisi bisa kalah dengan orang seperti Ibu? apakah se-rendah itu hukum di masa sekarang?" tanya Xiao sembari berseringai remeh.
"Begitulah!" Yenn menggeleng pelan.
"Sekarang kau mau mengajakku kemana? bukankah ini jalan yang berlawanan dari markas kita?" Xiao mencelingak-celingukkan kepalanya. Dia mencoba mengenali jalanan yang sedang dilalui mobilnya.
"Sudah saatnya kau menegaskan jati dirimu Xiao," ungkap Yenn ambigu. Hingga menciptakan kernyitan keheranan di kening Xiao.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Bahwa kau adalah bagian dari klan Wong. Ibu ingin sekutu kita bertambah banyak, bahkan mampu mengalahkan klan Tao!" jelas Yenn.
"Baiklah." Xiao menjawab singkat. "Apa Fa sudah menemukan Chan? aku sangat merindukannya. Aku juga ingin menjadikannya bagian dari klan Wong!" tambahnya yang menatap serius ke arah sang ibu.
"Apa kau sangat mencintai dia? sampai-sampai terpikir begitu?" Yenn menggeleng tak percaya.
"Bukankah kau dan Ayah juga saling mencintai? apa aku salah? bahkan aku tidak pernah melihat kalian bertengkar!" ungkap Xiao sembari menyenderkan kepalanya. Rambut pirangnya tampak menyentuh sandaran kursi.
Yenn terkekeh. "Kau benar, tetapi pemikiran kami sama Xiao. Aku tidak tahu dengan pemikiran Chan, mungkin dia menganggap keluarga kita sebagai komplotan orang jahat. Aku takut dia berpikir seperti orang normal lainnya!"
"Apa maksudmu?" Xiao mulai curiga. Dia bisa menerka dari padanan kalimat yang baru saja dilontarkan ibunya. Namun Yenn hanya terdiam, biji matanya bergerak pelan karena mencoba mencari alasan yang tepat.
"Apa kau melakukan hal buruk kepadanya?!" Xiao meninggikan intonasi nada bicaranya.
"Mungkin begitu!" balas Yenn seraya mengangkat sebelah tangannya. Sedangkan tangan yang satunya terlihat masih menggenggam kendali setir mobil.
"Apa yang sudah kau lakukan? HAH!!" mata Xiao melotot tajam.
Syut. . .
"Oke! oke! kalau begitu kita cari dia sekarang!" ujar Yenn setelah menghentikan mobilnya dengan pelan.
"Ibu sudah berbohong kepadaku. Aku akan mencarinya sendiri!" Xiao langsung turun dari mobil dan menghilang ditelan kegelapan. Yenn hanya bisa menghela nafas berat, lalu segera menghubungi Fa.
"Halo? ada apa lagi nona?" sahut Fa dari seberang telepon.
"Aku hanya membatalkan misi. Jangan bunuh gadis itu, kau lebih baik mengikuti Xiao saja sekarang!" kata Yenn. Dia masih menatap jalanan yang sudah dilalui Xiao.
"Baiklah. Sekarang Xiao dimana?" balas Fa. Yenn lantas memberitahu alamat jalan yang sedang ditelusuri Xiao.
"Jaga dia! jika ada keadaan genting menimpa kalian, cepat beritahu aku!" perintah Yenn, kemudian mematikan panggilan telepon secara sepihak.
***
Xiao berjalan menuju apertemen kumuh yang pernah Chan tinggali. Dia mengira gadis tersebut pasti akan kembali ke tempat itu. Benar saja, dirinya tidak sengaja menyaksikan kehadiran Chan sedang berdiri di depan sebuah kedai kecil.
__ADS_1
"Chan, kau sudah--" Al baru saja keluar dari kedai, dan reflek menjeda kalimatnya karena lebih dahulu melihat keberadaan Xiao.
"Kenapa Al?" tanya Chan, yang masih tidak tahu menahu. Al pun menunjukkan tangannya ke arah Xiao berada. Chan sontak menoleh, dia tentu saja langsung memasang raut wajah tidak senang.