
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
Dendam akan terbalaskan dengan rencana yang tepat.
***
Shuwan sudah tiba di markas Yakuza. Dia sekarang saling berhadapan dengan lelaki sangar dan bertato itu.
"Apa kalian sudah menemukan lokasi ayahku?" tanya Shuwan, yang langsung di artikan oleh penerjemah sewaannya.
"Haha! itu mudah, tetapi bolehkah aku bertanya berapa jumlah bawahan yang kau bawa?" Yakuza berbalik tanya.
"Seperti yang terlihat, 1, 2, 3. . . hmmm. . ." jawab Shuwan malas.
"Kau sepertinya tidak membawa semuanya." Yakuza tampak berpikir.
"Memangnya kenapa?"
"Karena, jika banyak. Aku akan kesulitan menghabisimu. . . hahaha! tangkap mereka!" titah Yakuza, yang ternyata memiliki niat tersembunyi dari balik kerjasamanya dengan klan Tao.
"Kurang ajar! apa yang kau--" kalimat Shuwan terhenti kala beberapa bawahan Yakuza menyeretnya pergi.
"Dasar keparat! lepas!" Shuwan menggertakkan gigi kesal sembari berusaha melepaskan cengkeraman dua pria yang sedang menyeretnya.
"Dadah. . ." Yakuza melambai tenang ketika menyaksikan kekesalan diwajah Shuwan. Sedangkan di luar ruangan, semua bawahan Tao juga berhasil dilumpuhkan. Mereka kalah telak terhadap jumlah dan kekuatan dari para anak buahnya Yakuza.
***
Xiao melayangkan pisau ke arah hantu transparan di depannya. Usahanya tentu tidak membuahkan hasil. Benda tajam miliknya tersebut menembus begitu saja ke badan sang hantu.
"Xiao, gadis itu melihat semuanya. Dia sekarang menatapmu dengan getir ketakutan dimatanya. Chan membencimu sejak dulu!" hantu itu kembali berucap.
"Omong kosong!" Xiao berseringai. Dia sekarang percaya apa yang diucapkan para hantu tersebut adalah kebohongan. Terutama kala dirinya mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan mereka kepadanya tadi. Xiao tahu, dahulu Chan tidak pernah membencinya. Alhasil ia pun kembali berjalan dengan tenang.
"Hiks! hiks! hiks. . ." Xiao mendengar suara samar-samar perempuan menangis. Suaranya berbeda dari para hantu tadi. Dia yakin itu adalah manusia. Xiao lantas mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Atensinya tertuju kepada rambut yang terlihat dari balik pohon besar. Kakinya perlahan mendekati pohon tersebut. Benar saja ada seorang gadis tengah menangis sendirian, dia juga memegang pisau di tangan kirinya.
"Apa yang kau lakukan?" Xiao bertanya untuk sekedar menyapa. Padahal dia tahu betul tempat dirinya sekarang berada adalah tempat bunuh diri paling populer di Jepang.
"Aku. . . a-aku, hanya ingin mati. Tetapi tidak sanggup melakukannya sendiri. . ." sahut gadis yang sepertinya sebaya dengan Xiao. Bisa terlihat dari seragam sekolah yang ia pakai.
"Siapa namamu?" Xiao menatap serius.
__ADS_1
"Ashumi. . ." gadis itu menjawab lirih. "Apa kau bisa membantu? aku akan sangat berterima kasih, jika kau melakukannya," sambungnya sembari menyodorkan pisaunya kepada Xiao.
"Wah Xiao! kesempatan bagus!" Devgan terdengar bersemangat.
"Kau yakin?" Xiao bertanya sambil mengambil pisau yang disodorkan untuknya. Ashumi lantas membalas dengan anggukannya.
"Ya sudah. Pejamkan matamu!" perintah Xiao.
"Apa kau punya kalimat terakhir?" Xiao kembali bertanya.
"Aku sudah menuliskan semuanya di surat. Lakukanlah!" desak Ashumi.
"Ini sama sekali tidak menyenangkan," keluh Xiao dengan nada pelan.
"Kenapa kau tidak membunuhnya? kau tidak ingin energiku bertambah? jika aku semakin kuat maka otomatis akan berdampak kepadamu!" Devgan mendesak.
"Aku hanya teringat ucapan ayah." Jujur saja, memorinya sedang menyingkap kilas balik kalimat sang ayah yang mengatakan, 'Membunuh orang yang ingin hidupnya berakhir tidaklah menyenangkan.' Namun Xiao menggelengkan kepala untuk mencoba menepis ingatannya. Kemudian segera menghujamkan pisau ke jantung Ashumi tanpa aba-aba.
Jleb!
Cairan merah nan kental mengucur deras. Xiao kembali terpesona kala menyaksikan darah yang mulai merubah warna seragam Ashumi. Nafas gadis tersebut mulai tercekat. Karena belum puas, Xiao menancapkan pisau kembali di area tubuh Ashumi yang lain.
Jleb! Jleb!
Ashumi terlihat mematung, pertanda ia telah kehilangan nyawanya. Sedangkan Xiao masih tampak terpaku menatap hasil karya tangannya itu. 'Ternyata ayah salah, ini cukup menyenangkan bagiku,' Xiao berpendapat sendiri dari lubuk hatinya.
"Xiao, aku ingin memberitahumu sesuatu, kalau ada benda yang sedari tadi mengawasimu." Devgan memberitahukan.
"Apa? dimana?" tanya Xiao. Devgan pun menunjukkan tangannya ke sebuah pohon yang berada tidak jauh dari Xiao.
"Bisakah kau menghancurkan benda itu?" titah Xiao seraya menatap ke arah benda yang ternyata adalah kamera pengawas. Devgan pun sontak mengangguk yakin, lalu segera melakukan perintah tuannya.
Spiderblood menyeringai saat dirinya melihat adegan Xiao membunuh Ashumi. Dia bisa merasakan naluri yang dimiliki Xiao.
"Tuan, Kazou menghubungimu!" Tenshi menyerahkan ponsel kepada Spiderblood.
"Halo Tuan Kazou, sekali lagi terima kasih sudah mempercayai kami untuk menghukum orang yang bersalah untukmu. Sesuai perjanjian, kau bisa menghukum orang itu sesuka hati. Aku sudah melepas mereka ke hutan!" tutur Spiderblood percaya diri.
"Akulah yang harus berterima kasih. Mafia seperti mereka sangat sulit untuk ditangkap, aku sangat kagum kepadamu bisa melakukan semuanya dengan baik. Sekarang apa mereka sedang mengejar dua mafia itu?" sahut Kazou dari seberang telepon.
"Mereka sedang beraksi! tenang saja, Hongli dan Anming tidak akan bisa lolos, karena aku sudah melukai kaki mereka!" Spiderblood menjelaskan.
"Tuan, kamera pengawasnya tiba-tiba mati satu per satu!" Tenshi memberitahu karena merasa panik.
__ADS_1
"Tenanglah, semuanya terkendali. Suruh para algojo beraksi!" perintah Spiderblood yang tengah berusaha tenang.
***
Hongli terus memaksakan diri berlari. Jujur saja, luka di pahanya tak henti mengeluarkan darah. Karena merasa tidak kuat, ia pun berhenti sejenak untuk beristirahat. Sekarang lelaki paruh baya tersebut tersandar di batang pohon berukuran sedang.
"Spiderblood kurang ajar!" geram Hongli seraya mengepalkan tinju ditangannya. Matanya terpejam untuk beberapa saat.
Setelah merasa cukup beristirahat, Hongli akhirnya mencoba bangkit lagi. Pertama-tama ia membuka matanya pelan, namun betapa terkejutnya dia tatkala menyaksikan beberapa orang aneh yang mengenakan topeng berbeda-beda tengah menatap ke arahnya. Hongli berdiri dengan gelagapan dan berusaha berlari secepat yang dia bisa.
"Hahaha!"
"Dasar manusia keparat! kau telah membunuh putraku, apa kau lupa?"
"Hidupku anakku hancur, gara-gara kau sudah membunuh suamiku. Kali ini rasakanlah pembalasan kami!"
Orang-orang bertopeng itu berbicara saling bergantian. Namun Hongli tak hirau, karena dia lebih mementingkan keselamatannya sendiri.
Ilustrasi topeng yang dikenakan orang-orang misterius :
"Dasar bodoh! Spiderblood melukai kakimu bukan tanpa alasan!"
Syuuut!
Sebuah panah mengenai punggung Hongli. Sekarang ia semakin tak berdaya, dan terjatuh ke tanah.
Orang-orang bertopeng yang terhitung sekitar delapan orang tersebut berdiri mengitari Hongli. Mereka sudah siap menghukum kesalahannya.
Di sisi lain Anming mencoba menguatkan diri dengan hanya mengandalkan tongkat kruknya. Sebenarnya dia sudah menjatuhkan diri ke tanah beberapa kali, karena tidak terbiasa dengan tongkat itu. Peluh bahkan sudah membanjiri seluruh badannya.
Bruk!
Anming lagi-lagi terjerembab ke tanah, ketika ia hendak kembali bangkit sepasang kaki tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia perlahan mendongakkan kepala untuk melihat wajah pemilik kaki tersebut.
Mata Anming membola kala menyaksikan sosok aneh yang sedang mengenakan topeng menyeramkan itu.
Ilustrasi topeng sosok misterius di depan Anming :
Anming ingin lekas-lekas bangkit, tetapi kaki sosok di depannya tersebut dengan sigap menekan punggungnya. Kemudian menendang jauh-jauh tongkat kruk Anming. Sekarang ia tidak mampu berdiri, apalagi tanpa adanya tongkat kruk yang dapat membantunya berjalan.
__ADS_1