Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 101 - Mencari Lien


__ADS_3

'Aku hanya mengikuti apa yang menurutku harus dilakukan.' - Xiao.


...-----...


[Flashback On]


Ketika Xiao berbisik ke telinga Olive. Dia berkata, "Pergilah ke ruang laboratorium, kita akan bertemu di sana. Tenang saja, aku lebih memilihmu dari pada gadis itu. Tolong jangan tunjukkan raut wajah senang, tetapi tampakkan seolah kau sedih!"


Olive berusaha sebisa mungkin memasang mimik wajah datar. Setelah Xiao selesai bicara, dia pun pergi dengan menunjukkan ekspresi sedih. Bahkan matanya tampak meyakinkan dengan pendar seakan hampir menangis.


Ketika keluar dari kantor guru, Olive tersenyum puas sambil memegangi bagian dadanya. Dia benar-benar merasa berada di puncak kemenangan. Olive kemudian melanjutkan niatnya untuk pergi ke laboratorium, sesuai yang diperintahkan Xiao kepadanya.


Namun bukannya bertemu dengan Xiao, Olive malah ditemui oleh Lien.


"Kau mau apa?!" tanya Olive ketus seraya mengangkat dagunya dengan angkuh.


Lien malah berseringai. Ia hanya menampakkan pisau yang sedari tadi disembunyikan dari balik badannya.


Pupil mata Olive membesar. Dia perlahan memundurkan langkahnya dan berusaha memohon untuk tidak disakiti.


"Aku tidak pernah berbuat kesalahan apapun kepadamu! kenapa kau melakukani ini!" ujar Olive yang sudah terpojok ke ujung dinding.


Karena merasa terancam, Olive pun berusaha berteriak untuk meminta tolong. Namun sebelum suaranya keluar, Lien dengan cekatan memasukkan pisau ke dalam mulutnya. Lalu memberikan luka lebih banyak dari itu. Beberapa menit kemudian dia kehilangan nafas dan meninggal di tempat.


Di hari tersebut Xiao tidak sempat mengambil darah, karena mayat Olive terlanjur ditemukan oleh seorang guru. Ia bahkan tidak sempat mengatasi jasad Olive, seperti dirinya membereskan dua mayat teman Lien sebelumnya.


[Flashback Off]


...-----...


Xiao membuka matanya secara tiba-tiba. Sebab mimpi yang sama kembali hadir dalam tidurnya. Sekarang ia hanya mendengus kesal. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.


Chan ikut terbangun karena eratnya pelukan Xiao. Matanya terbelalak. Dia sepenuhnya belum mengetahui keberadaan Xiao di belakangnya. Gadis tersebut mengira orang yang memeluknya adalah orang lain. Sebab Al tidak mungkin memiliki ukuran tangan yang besar. Alhasil Chan pun segera meraih salah satu tangan yang melingkar di badannya, kemudian menggigitnya sekuat tenaga.


"Aaaargghh!!" Xiao mengerang kesakitan. Dia menarik tangannya dan mengubah posisi menjadi duduk. Menatap Chan yang sudah berdiri dan menjauh darinya.

__ADS_1


Chan berbalik badan dan memastikan orang yang telah berani memeluknya tanpa permisi. Matanya langsung membola ketika mengetahui orang itu adalah Xiao.


"Kenapa kau tidur di sini?!" timpal Chan. Perasaannya sekarang campur aduk, antara kesal dan juga merasa bersalah.


"Chan, kau membuat jariku berdarah!" ujar Xiao seraya menutupi bagian tangan yang disebutnya berdarah. Dia menunjukkan raut wajah seolah kesakitan.


"Xiao, jelas-jelas itu tidak berdarah!" kritik Devgan yang terheran. Dia tidak paham tuannya sedang melakukan kejahilan. Atau mungkin pembalasan Xiao untuk Chan, karena gadis itu sudah nekat menggigit tangannya.


"Benarkah?!" Chan kembali duduk ke kasur dan berusaha memeriksa tangan Xiao. Namun dia sama sekali tidak melihat satu tetes pun darah. Dahinya mengernyit heran. Xiao sontak tergelak geli.


"Kau pikir itu lucu hah?!" geram Chan dengan wajah merengut. Dia pun segera beranjak pergi menuju kamar mandi.


"Ahahahaha!" Xiao masih menikmati kegelian di perutnya. Mungkin hanya Chan satu-satunya orang yang mampu membuatnya tertawa. Setidaknya untuk sekarang.


"Kenapa kau malah bersenang-senang, padahal banyak hal buruk yang menimpamu!" tegur Devgan.


Xiao pun perlahan menghentikan tawanya. Dia menatap ke arah Devgan. Tepatnya ke leher makhluk devilnya tersebut. Dan keadaannya masih sama, hanya terdapat dua mata kecil seperti sebelumnya.


"Kenapa?" Devgan menyadari tatapan Xiao yang fokus kepada lehernya.


"Aku harap begitu, jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja ini salah satu regenerasi untuk menambah kekuatanku!" Devgan menyeringai dan terdengar percaya diri. Xiao hanya merespon dengan ekspresi meremehkan.


"Oh benar, kau jadi kan meminta bantuan Lien untuk menghentikan mimpi buruk itu?" tanya Devgan.


Xiao membisu. Dia berusaha mencari jawaban. Penglihatannya di alihkan ke arah jam dinding yang sedang berdetak. Waktu sekarang menunjukkan jam tiga pagi. Itu berarti ia hanya tertidur selama dua jam. Xiao akhirnya bangkit dari kasur dan memutuskan menerima usulan Devgan.


"Kau akan pergi sekarang?" Devgan menuntut jawaban.


"Kau pikir?! jelas-jelas aku bersiap-siap ingin pergi. Mumpung Chan sedang tidak ada. Lagi pula di jam segini suasana pasti akan sepi!" ujar Xiao sembari berjalan menuju kamarnya.


"Kau benar, ayo cepat kita pergi!" desak Devgan.


Xiao sudah berada di dalam kamarnya. Dia mengenakan topi beserta masker hitam. Selanjutnya ia pun beranjak pergi dengan menggunakan mobilnya. Namun kakinya reflek menginjak rem tatkala baru menyadari kalau dirinya masih tidak mengetahui alamat rumah Lien.


"Sial!" Xiao menepuk kesal setir mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Devgan keheranan.


"Kita tidak tahu harus kemana untuk menemui Lien."


"Tenang saja, pegilah ke gudang yang ada di sekolah. Kau pasti akan bertemu dengannya di sana."


"Bagaimana kau tahu?" Xiao menatap penuh tanya.


"Karena tempat makhluk itu kan memang di sana!"


"Benar juga," Xiao menyetujui, lalu kembali menjalankan mobilnya.


Setelah tiba di sekolah, Xiao memarkirkan mobilnya di tempat yang tertutup. Dia perlahan turun dari mobil. Kemudian berjalan dengan cara mengendap-endap, hanya berjaga-jaga kalau mungkin saja ada orang yang berjaga. Benar memang, terdapat dua orang lelaki di pos dekat pintu gerbang. Untung keduanya masih asyik tertidur pulas.


Xiao hanya dapat menggertakkan gigi saat melihat pintu gerbang terkunci dengan gembok. Dia tidak punya pilihan lain selain menaiki pagar. Sebelum melakukannya, Xiao melirik sejenak untuk memastikan dua penjaga masih tertidur. Setelahnya ia pun memanjat pagar secara perlahan.


"Kenapa mereka tidak kita bunuh saja!" usul Devgan.


"Kau pikir semua masalah hanya bisa selesai dengan cara dibunuh? kalau kau tidak punya otak dikepalamu lebih baik diam!" geram Xiao yang tentu saja dengan suara berbisik. Dia sekarang sudah berada ditahap menuruni pagar.


Trak!


Mata Xiao melebar ketika bajunya tidak sengaja mengait di bagian pagar yang runcing.


"Huaaaah. . ." salah satu penjaga tiba-tiba bersuara. Membuat ketegangan Xiao semakin meningkat. Tubuhnya lantas membeku. Sedangkan tangannya perlahan di arahkan ke saku celana. Dia bersiap-siap menyerang dengan pisau lipatnya, jika salah satu penjaga berhasil memergoki. Namun setelah dilihat, ternyata penjaga yang tadi bersuara hanya sedang menggeliat.


"Aman, kau bisa masuk!" ujar Devgan yakin.


Setelah menarik bajunya, Xiao pun masuk ke dalam lingkungan sekolah. Dia sekarang berjalan menyusuri koridor, tepatnya menuju gudang.


Di perjalanan, Xiao tak sengaja menyaksikan penampakan hantu Olive. Gadis yang telah menjadi salah satu korban Xiao itu, memiliki mata merah menyeramkan. Darah berceceran keluar dari mulutnya.


Xiao hanya memutar bola mata malas. Baginya wujud Olive tidak begitu menyeramkan. Meskipun hantu wanita tersebut memiliki dendam kepadanya, Xiao tidak peduli. Dia melanjutkan langkahnya dengan santai.


Saat Xiao semakin mendekat, Olive langsung menyerangnya. Dia mencengkeram kedua lengan Xiao dengan erat. Devgan yang tahu harus bertindak apa, lantas segera menghabisi Olive dengan satu serangan. Xiao pun bisa melanjutkan jalannya kembali dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2