Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 19 - Pisau


__ADS_3

[Flashback, 9 tahun silam]


Dor!


Seorang anak kecil menekan pelatuk senapannya. Dia tampak begitu fokus dengan sasarannya. "Kau berhasil Shuwan, rusa itu tumbang! hebat sekali!" puji Xiao, yang merasa kagum.


"Iyaa. . . aku tahu!" sahut Shuwan sembari mengarahkan senjatanya kepada Xiao. Kemudian dengan sigap dia menarik pelatuk senapannya.


"HEI! apa yang kau--"


Dor!


[Flashback Off]


...-----...


"Lihat si kuda nil sudah bangun!" ujar Jay, yang melihat Qibo telah sadarkan diri. Lelaki bertubuh berisi itu langsung dibuat kaget dengan kehadiran Shuwan.


"Shu-shu-shuwan ampuni aku, kumohon maafkanlah! aku menyesalinya!" Qibo memohon pada Shuwan dengan rengekannya. Bahkan air mata mulai berlinang di pipinya.


"Cuih! maaf kentut! Kenai!" geram Shuwan sembari memberikan sinyal kepada Xiao agar segera melakulan aksinya. Xiao yang mengerti langsung memukuli Qibo tanpa ampun.


Bug! Bug! Bug!


Qibo hanya bisa mengerang kesakitan akibat pukulan yang diberikan Xiao. Shuwan yang menyaksikan, malah asyik tertawa geli bersama ke-empat temannya.


Bruk! Bruk!


Kali ini Xiao menendang bagian perut Qibo dengan beringas. "Xiao! hentikan!" pekik Viera, namun kembali tidak digubris. Hingga percobaan panggilan yang kedua, Viera berteriak sangat lantang, "Hentikaaaaan!!!" seketika Xiao tersadar dan berhenti menyakiti Qibo.


"Ampun! ampuni aku Shuwan! aku akan lakukan apapun untukmu!" tubuh Qibo sekarang meringkuk di lantai dengan keadaan lemah dan tak berdaya. Dia gemetaran dengan darah yang mulai keluar dari mulutnya. Sedangkan Xiao tengah merasa ciut, karena melihat devil di samping Shuwan mulai mencoba menyerangnya.


"Kenai! kenapa?" Shuwan menatap Xiao bingung.


"Aku ingin ke toilet." Xiao beranjak pergi begitu saja.


***


Xiao menatap pantulan dirinya di cermin, dia berusaha membasuh wajahnya beberapa kali. "Xiao! apa yang terjadi?" Viera datang dengan menembus dinding dengan tatapan geramnya.


"Entahlah! tetapi aku merasa berdebar-debar Viera, perasaan ini tidak pernah hilang dariku. Entah kenapa aku menyukai erangan orang yang kesakitan sejak kecil!" sahut Xiao dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Aku sudah menduga, semuanya karena ayah dan ibumu. Aku tahu hal yang normal mungkin tidak akan menarik lagi untukmu," sekarang Viera berdiri di samping Xiao.

__ADS_1


"Apa aku bisa menghilangkan perasaan aneh ini?" Xiao bertanya-tanya.


"Itu tergantung dirimu, hanya kau yang mampu mengendalikannya. Kamu harus berusaha dengan jalanmu sendiri Xiao!" Viera menjeda sejenak untuk menatap Xiao, lalu meneruskan, "tetapi jika kelepasan, kau akan melihat dengan mata dan kepalamu sendiri devilmu. Atau devil orang lain yang akan menghampirimu, kau tidak bisa berlama-lama berada di dekat Shuwan!"


Kling!


Suara berisik dari arah dapur tiba-tiba saja menarik perhatian Xiao. Dia pun segera menuju sumber suara tersebut.


"Jay, apa yang kau lakukan?" tanya Xiao yang bingung melihat keberadaan Jay di dapurnya.


"Shuwan menyuruhku mencari pisau! tetapi aku tidak menemukannya!" terang Jay yang masih mencari-cari benda yang di inginkan Shuwan. Alhasil Xiao pun segera turun tangan untuk mencarikan. Nihil, dia juga tidak bisa menemukan satu pun pisau.


"Sudahlah Jay! Kenai! aku akan serahkan semuanya kepada pembunuh bayaranku saja. Mereka akan menyelesaikannya dengan mudah dan rapi!" Shuwan tiba-tiba datang untuk sekedar memberitahu. Bajunya tampak terkena percikan darah.


"Pembunuh bayaran? siapa?" tanya Xiao serius.


"Ada pokoknya! mereka sangat hebat!" balas Shuwan dengan senyum smirk-nya.


"Bagaimana dengan Qibo?" Xiao kembali bertanya.


"Dia sudah tidak sadarkan diri." Shuwan perlahan berjalan kembali menuju ruang tamu.


"Xiao, dia menusuk perut Qibo dengan gunting puluhan kali. . ." bisik Viera. Akhirnya Xiao pun bergegas untuk melihatnya sendiri. Benar saja, lantai ruang tamunya sudah tergenang dengan darah dan menimbulkan bau amis. Sedangkan tubuh Qibo sudah dibawa keluar dari rumah, dan dimasukkan ke dalam mobil oleh suruhan pembunuh bayaran.


"Kenai, kau tahu? aku semakin menyukaimu. Karena itu aku akan mengundangmu besok ke rumahku. Sekalian melakukan rencanaku untuk murid baru bernama Jia itu!" sambung Shuwan, lalu segera melangkahkan kaki menuju mobil sportnya. Mereka pun pergi dalam sekejap.


Ruang tamu pun bersih seperti semula, sedangkan Xiao tampak duduk di sofa dengan raut wajah datar. Pikirannya tengah dirundung kekalutan.


Ceklek!


Chan muncul dari balik pintu dengan ekspresi yang tampak lelah. Dia hanya menatap Xiao sekilas tanpa berbicara sedikit pun.


"Chan!" panggil Xiao, yang sontak menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" sahut Chan jengah.


"Apa kau yang menyembunyikan pisau?" tanya Xiao. Chan seketika membelalakkan mata, dia merasa dibuat kaget. Dikarenakan memang dirinya-lah yang sengaja menyembunyikan pisau tersebut.


"Xiao, aku. . ." lirih Chan dengan tatapan yang meliar kemana-mana, dia sedang memikirkan alasan yang tepat.


"Apa kamu masih tidak mempercayaiku?" Xiao melangkah lebih dekat ke arah Chan.


"Maaf Xiao, aku hanya berjaga-jaga." Chan perlahan melangkah mundur karena terancam dengan Xiao.

__ADS_1


"Aku kecewa padamu!" ungkap Xiao, lalu segera melingus pergi menuju kamarnya.


Brak!


Xiao sengaja membanting pintu dengan kencang, hingga bunyi-nya menggema ke seluruh penjuru rumah. Bahkan Chan terlihat tersentak kaget akan hal itu.


Di sisi lain di kota Metropolis kelahiran Xiao, Feng masih melakukan tugasnya. "Bos! kata polisi mereka kehilangan jejak dua remaja itu tepat di hari kecelakaan!" jelas Chang, salah satu bawahan Feng yang memiliki tubuh agak kurus.


"Ini sudah lebih tiga hari, syukur saja aku sudah membawa istri dan anakku ke tempat yang aman." Feng mendengus lega.


"Apa kita akan kabur dari keluarga Hongli Wong sekarang?" tanya Chang serius.


"Resikonya besar jika kita kabur sekarang. Pokoknya kita harus temukan Xiao secepatnya, dengan begitu kita tidak akan berurusan lagi dengan keluarga Wong!" terang Feng.


Drrt... drrt... drrrt...


Ponsel jadul Feng bergetar, dia pun segera mengangkat panggilan tesebut.


"Bos! aku menemukannya! mereka melakukan perjalanan ke kota Ding Yang sekitar lima hari yang lalu!" Mendengar pemberitahuan dari salah satu anak buahnya itu, Feng segera menyeringai dan berucap, "Sekarang aku bisa menebak dia ada dimana!"


***


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


Chan mengetuk pintu kamar Xiao dengan pelan. Sedari tadi dia tidak bisa tidur, karena merasa bersalah. "Xiao! aku ingin bicara, kumohon."


Namun Chan masih tidak mendapatkan respon sedikit pun dari Xiao. Tetapi dia tidak menyerah dan berkata, "Xiao, andai aku tidak mempercayaimu mungkin aku sudah pergi sejak awal bertemu denganmu. Aku hanya tidak ingin kamu menjadi seperti ayah dan ibumu. . ."


Ceklek!


Xiao membuka pintu dengan tiba-tiba, dia langsung membawa Chan masuk ke dalam pelukannya. Kemudian menepuk-nepuk pundak Chan dengan pelan, layaknya memperlakukan seorang anak kecil.


"Xiao! bukankah katamu kau perlu ijin dulu sebelum melakukan. . ." tegur Chan dengan nada enggan.


"Oh iya, aku lupa!" Xiao sontak melepaskan pelukannya, dan kembali berkata, "Apa kau-mau melanjutkan yang tadi siang?"


"Hah?" Chan mengerutkan dahi, dia tidak mengerti. Lantas Xiao pun sengaja memejamkan mata, untuk memberikan ingatan kepada Chan tentang kejadian siang tadi.


"Aku mau makan mie, kau mau?" Chan sengaja mengalihkan pembicaraan seraya berjalan menuju dapur.


"Idih! jadi nggak jadi nih! aku sudah siap loh Chan." goda Xiao, yang tengah mengekori Chan dari belakang.


"Xiao!" Chan mengacungkan jari tengahnya untuk Xiao, karena dia tidak mau menanggung malu lebih banyak lagi.

__ADS_1


__ADS_2