Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 20 - Cerita Xiao


__ADS_3

Pengkhianatanlah yang seringkali menimbulkan dendam. Hingga membuat masalah semakin membesar.


***


"Nah sudah jadi!" Chan meletakkan dua porsi mie instan di meja makan, perlahan ia pun duduk berhadapan dengan Xiao. "Sekarang aku ingin menagih janjimu!" sambung Chan.


"Hah? janji yang mana? ciuman?" terka Xiao yang sontak membuat mata Chan membola.


"Idih! bukanlah! tetapi alasan kau mau menjatuhkan keluarga Shuwan." Tegas Chan.


"Oh makanya yang spesifik dong nanya-nya!" timpal Xiao, yang kemudian segera bercerita, "Anming Tao dahulu adalah parasit untuk keluarga kami. Dia miskin dan tidak punya pekerjaan untuk menghidupi istrinya. Makanya setiap hari Anming datang kepada ayahku untuk meminjam uang. Dia sempat hampir dibunuh oleh rentenir, tetapi ayahku berhasil menyelamatkannya." Xiao menjeda ceritanya untuk memasukkan sedikit mie ke dalam mulutnya.


"Lalu?" desak Chan yang penasaran.


"Suatu hari ayahku kehilangan pekerjaannya, hingga Anming mengajaknya untuk melakukan pekerjaan ilegal. Awalnya ayahku tidak mau, karena pekerjaannya memiliki resiko yang besar!"


"Tunggu! apa pekerjaan itu adalah apa yang sekarang dilakukan oleh ayahmu?" Chan melebarkan matanya, sontak Xiao pun menganggukkan kepala untuk mengiyakan.


"Saat sudah setengah jalan, Anming tiba-tiba menghilang, dan membuat ayahku terjebak dengan pekerjaan itu. Lama-kelamaan ayahku menjadi terbiasa dan menikmatinya, sampai-sampai dia mengajak ibu untuk ikut bersamanya. Bahkan kepadaku juga," terang Xiao sembari membayangkan kejadian-kejadian masa kelamnya.


"Oh jadi karena itu kamu sangat ingin menjatuhkan keluarga Tao, tapi kenapa ayahmu tidak bertindak Xiao?" Chan kembali dirundung rasa penasaran.


"Sudah! ayahku-lah yang membunuh ibunya Shuwan. Dan itu berhasil membuat Anming kembali menemui ayahku dengan kekuasaan yang telah dimilikinya, dia membawa Shuwan bersamanya saat itu. Bukannya marah, Anming malah meminta maaf dan berkata ingin membalas budi kepada ayah. Tetapi. . ."


"Tapi apa Xiao?" Chan mencondongkan tubuhnya ke arah Xiao.


"Anming kembali berkhianat! dia menyuruh Shuwan menembakku, dan mengancam ayahku untuk tidak mengganggunya lagi. Ayahku takut, karena bukan hanya kepolisian yang berpihak kepada Anming tapi juga para mafia!" Xiao kembali melahap mie-nya lebih banyak.


"Keluarga Tao memang sangat berkuasa selama beberapa tahun belakangan, sekarang aku jadi ragu untuk menjalankan rencana kita." Chan menatap datar Xiao, dia terlihat sudah menghabiskan mie-nya.


"Karena itulah, aku ingin mengatakan rencana mengenai besok!" celetuk Xiao, dengan raut wajah serius.


"Kenapa? apa terjadi sesuatu?"


"Astaga! sepertinya aku belum memberitahumu." Xiao menepuk jidatnya sejenak lalu kembali berucap, "Shuwan ingin melakukan sesuatu padamu!"


"Benarkah?" Chan mendengus kasar.

__ADS_1


"Kau tahu alasannya kan?"


"Tentu! itu karena aku melaporkan mereka kepada kepala sekolah," Chan memutar bola mata jengah, perasaan jengkel terhadap Shuwan kembali menghantuinya.


"Mereka tadi sudah membunuh Qibo! aku penasaran dengan respon semua orang di kota Ding Yang, kita akan melihat seberapa berkuasanya keluarga Tao!" tutur Xiao sembari melahap mie-nya. Pupil mata Chan membesar, saat mendengar kabar itu.


"Apa? kenapa kau diam saja Xiao! apa kau tidak bisa melakukan sesuatu untuknya?" Chan menghempaskan sumpitnya ke meja.


Xiao mengacak-acak rambutnya frustasi. "Awalnya aku ingin mencoba menyelamatkannya, tetapi saat aku memukuli Qibo. . ." Xiao terdiam sejenak dan menambahkan, "Aku berusaha mengendalikan diri dengan pergi ke toilet, tetapi saat itulah Shuwan beraksi membunuhnya!"


"Kenapa pada saat kau memukuli Qibo?" tanya Chan.


"Aku terbawa suasana Chan. . ." lirih Xiao.


"Xiao aku paham, bahkan orang yang depresi pun sulit untuk mengendalikan emosinya. Tapi aku yakin kamu bisa!" Chan mencoba menghibur Xiao.


"Oke! sekarang aku akan beritahu rencananya!" ucap Xiao, dan kembali meneruskan, "Tapi aku perlu ijin darimu!"


"Hah? ijin?" Chan mengernyitkan dahi.


"Ke-ke-kenapa?" tanya Chan dengan tergagap.


"Aku harus berpura-pura sangat bernafsu kepadamu, maksudku. . . yah, kau paham kan?" jelas Xiao dengan sorot mata penuh tekad. "Pokoknya kamu harus berakting seolah-olah ketakutan dan tersiksa. Begitu saja sih, nggak repot!" sambung Xiao santai.


"Tapi, apa perlu kita melakukannya?"


"Yah, sebenarnya itu cuman untuk meyakinkan Shuwan saja! tapi, apa kau punya rencana lain?" Xiao meragukan Chan.


"Tidak." Chan segera menggelengkan kepala, dia tampak menggigit bibir bawahnya. Alhasil Xiao pun sedikit terkekeh kala melihatnya.


"Kau tenang saja! aku berjanji tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun. Ya sudah, aku tidur duluan!" Xiao berdiri dari tempat duduk, dan beranjak pergi ke arah kamar.


'Astaga! aku tidak akan bisa tidur malam ini!' keluh Chan dalam hati seraya mengukir wajah hampir merengek.


***


Keesokan harinya saat di sekolah, semua orang belum menyadari menghilangnya Qibo. Bahkan lebih parahnya lagi, kepala sekolah Huan dipecat dari pekerjaannya.

__ADS_1


"Shuwan? apa kau yang membuat Pak Huan dipecat?" Mei datang menghampiri Shuwan dengan wajah semringah.


"Tentu saja sayang," Shuwan merangkul pundak Mei lembut.


"Apa? Pak Huan dipecat?" Xiao yang baru datang ikut bertanya.


"Iya Kenai! si tua bangka itu terlalu banyak tingkah!" sahut Shuwan santai sembari memandangi wajah cantik Mei dengan penuh nafsu.


Xiao hanya bisa mendengus kasar. 'Sudah kuduga Anming akan selalu berpihak kepada anaknya, meskipun Shuwan telah melakukan hal yang buruk. Tidak perlu diragukan lagi perangai bapak dan anak tidak ada bedanya.' ucap benak Xiao.


Di sisi lain, Chan tengah termenung menatap bangku Zhu yang kosong. Dia penasaran dengan ketidakhadiran gadis tersebut hari ini. 'Kemana Zhu ya? padahal kemarin aku baru saja melihatnya. Aku harap dia tidak apa-apa,' ujar Chan dalam hati dengan diliputi perasaan khawatir.


Teng! Teng! Teng!


Lonceng pertanda pulang sudah terdengar. Semua murid pun berhamburan keluar dari kelas. Shuwan, Xiao dan ke-empat temannya sudah memasuki mobil. Ketika dalam perjalanan, Shuwan melihat Ling sedang berjalan sendirian dengan kepala yang menunduk.


"Lihat! mantan teman kita!" kata Shuwan dengan kekehnya. Lalu mengarahkan mobilnya untuk mencoba menabrak Ling. Alhasil Ling pun tersentak kaget dan terjerembab ke tanah. Shuwan yang melihatnya merasa puas dengan tawa gelinya.


"Sekarang kita cari gadis bernama Jia itu," ujar Shuwan bertekad.


Tidak butuh waktu yang lama untuk menemukan Chan. Gadis itu tampak berjalan sendirian menyusuri jalanan. "Shuwan biar aku saja yang menyeretnya!" imbuh Xiao yang sedang duduk di samping Shuwan.


"Oke, aku percaya padamu!" balas Shuwan. Perlahan mobil berhenti tepat di hadapan Chan. Xiao segera turun dari mobil.


"Chan, ayo beraksi!" ujar Xiao dengan nada pelan, lalu segera mencengkeram lengan Chan.


"Kau tidak akan meliar sekarang kan?" tanya Chan serius.


"Pffft. . . astaga, tidak secepat itu cantik!" tepis Xiao yang berusaha menahan tawa. Chan hanya bisa menggertakkan gigi sambil melayangkan pelototannya. Sekali lagi dia sangat kesal dengan godaan Xiao.


"Cepat masuk!" titah Xiao dengan kepura-puraannya. Chan pun masuk ke dalam mobil Shuwan seraya menampakkan wajah takutnya.


"Cepat!" Xiao mendorong paksa Chan masuk ke mobil.


"Kalian mau apa?" tanya Chan yang telah duduk di bagian belakang mobil bersama Xiao. Namun Shuwan hanya terdiam dengan seringai diwajahnya.


"Mampus kau!" timpal Jay yang menatap Chan jijik.

__ADS_1


__ADS_2