Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 18 - Finding Money


__ADS_3

Hati-hati dengan perkataanmu. Karena terkadang, semuanya bisa menjadi kenyataan.


***


Zhu langsung mengernyitkan dahi karena sudah tidak melihat lagi dua sejoli yang bermesraan. Meskipun dilanda kebingungan, dia tetap kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gang kecil.


"Apa Zhu sudah pergi?" bisik Chan pada Xiao. Keduanya tengah bersembunyi di dalam toko laundry.


"Aku rasa begitu. . ."


"Hei anak muda! kalian mau mencuci baju?" sapa seorang wanita paruh baya bertubuh berisi. Dia mengenakan rol yang menempel di rambutnya. Otomatis Xiao dan Chan pun segera menoleh ke arah wanita itu.


"Oh kami cuman mau numpang tanya nona!" ujar Xiao yang sontak membuat Chan meringiskan wajahnya.


"Hahaha! kau-bisa saja anak muda. . . mau menanyakan apa?" wanita paruh baya tersebut kegirangan akibat sanjungan yang diberikan Xiao.


'Xiao mau merencanakan apa lagi?' benak Chan bertanya-tanya, dia menatap Xiao dengan sudut matanya.


"Apa di sekitar sini ada tempat yang bisa meminjamkan uang?" tanya Xiao pelan.


"Sudah ku-bilang itu bukan ide yang bagus!" kritik Chan dengan dahi yang mengernyit. Namun Xiao tak hirau sama sekali.


"Maksudmu rentenir?" terka si wanita paruh baya. Lantas Xiao pun segera menganggukkan kepala.


"Di gang sebelah utara sana tuh ya, di sana banyak sekali rentenir. Kau bisa mencoba pergi ke sana!" jelas wanita paruh baya itu sambil mengarahkan tangannya ke arah utara yang ia maksud. "Ngomong-ngomong, mau apa kau-berurusan dengan para rentenir? mereka itu berbahaya loh!" sambungnya lagi. Sekarang dia menatap ke arah Xiao dengan ekspresi serius.


Perlahan Xiao menampakkan wajah sedihnya dan berucap, "Ibuku sedang sakit keras, sedangkan ayahku selingkuh dengan wanita lain. Sekarang aku harus mengurus semuanya sendiri. . ."


"Astaga, kasihan sekali. Kalau kamu membutuhkan pekerjaan, aku akan memberikan peluang untukmu sayang," ungkap si wanita paruh baya yang merasa iba.


"Benarkah? benarkah anda mau. . ." Xiao menekan lengan Chan, agar gadis itu berhenti bicara. Chan yang merasa risih segera menatap tajam Xiao.


"Baiklah! kami pergi dulu nona, aku akan pikirkan dulu tawaranmu itu." Xiao tersenyum tipis, lalu segera menyeret paksa Chan ikut bersamanya.


"Ta-ta-tapi. . ." ujar Chan yang masih tidak terima. Tubuhnya memang tidak kuat melawan tenaga Xiao yang terus membawanya keluar dari toko.


"Nona akan menunggumu anak muda, ckck!" pekik si wanita paruh baya dengan tawa genitnya.


Sekarang Chan hanya bisa menghela nafas panjang seraya berjalan mengekori Xiao. "Tunggu, ini arah pulang kan? bukannya kita mau ke utara?" tanya Chan.


"Memangnya kau-mau meminjam uang dengan memakai seragam sekolah?" Xiao memalingkan tubuhnya untuk menatap Chan.

__ADS_1


"Kau benar," Chan merespon dengan menunduk malu, lalu berjalan melingus melewati lelaki bertubuh jangkung di depannya. Alhasil Xiao yang melihatnya sedikit terkekeh.


"Chan tunggu dong!" Xiao melingkarkan tangannya ke pundak Chan. Kali ini gadis tersebut pasrah dengan rangkulan Xiao.


"Xiao, tentang kejadian tadi. . . kenapa kau-tidak menciumku beneran?" tanya Chan tiba-tiba, yang langsung membuat Xiao agak sedikit kaget.


"Haha! kenapa? kamu mau yang beneran?" timpal Xiao dengan kekehnya.


"Eh! bukan gitu, soalnya kamu kan biasanya nyosor!" bantah Chan dengan gelagapan, dirinya sekarang menyesali pertanyaan yang dia lontarkan.


"Pokoknya kali ini kamu saja yang memulainya duluan. Aku takut dikira melakukan pelecehan!" jelas Xiao, sekarang dia memasukkan tangannya ke saku celananya.


"Hah? jadi karena masalah Shuwan tadi? tapi. . . sudahlah!" balas Chan, dirinya sudah kebingungan untuk merespon ucapan Xiao barusan. Dia membuang muka dari lelaki yang tengah berjalan bersamanya.


Xiao yang melihat kegugupan Chan, lantas segera berbisik ke telinganya, "Tapi kalau nanti aku ingin menciummu, aku akan meminta ijin dulu padamu. . ." Setelah mengucapkannya, Xiao pun kembali memimpin jalan. Chan yang mendengarnya langsung tersipu malu dan menghentikan langkahnya.


'Astaga Chan! tenangkan dirimu!' gumam Chan dalam hati sambil menepuk-nepuk bagian dadanya, karena jantungnya tak berhenti bergemuruh. Sekarang adegan ciuman pertamanya dengan Xiao mulai menghantui pikirannya.


"Astaga! kenapa sekarang aku malah mengharapkannya!" kali ini Chan menampar pipinya sendiri beberapa kali.


Xiao yang sudah berjalan hampir mendekati rumah, malah kembali lagi dengan lari kecilnya. Chan yang melihatnya sontak membulatkan mata, pikirannya berlarian kemana-mana.


'Oh tidak! tidak! apa Tuhan langsung mengabulkan harapanku, padahal kan aku cuman bergumam!' batin Chan yang masih terdiam di tempat. Xiao terlihat semakin mendekat, Chan pun reflek memejamkan matanya.


"Chan, aku rasa ini bukan waktu yang tepat," ucap Xiao dengan nada pelan. Alhasil Chan hanya mendengarnya dengan samar-samar.


"Apa?" akhirnya Chan membuka lebar-lebar matanya.


"Shuwan ada di depan rumah kita, aku rasa kau harus sembunyi dulu!" suruh Xiao, kemudian segera beranjak pergi dengan senyum smirk-nya.


"Memalukan sekali!" Chan memukul jidatnya sendiri, akibat merasakan malu yang teramat sangat.


***


"Kenai! kamu kemana saja? kami sudah lama menunggumu!" Shuwan mengerutkan dahinya dan melayangkan tatapan tajam terhadap Xiao.


"Memangnya ada apa?" tanya Xiao santai, tatapan Shuwan tidak pernah berhasil membuatnya takut.


"Perlihatkan pada Kenai!" titah Shuwan kepada empat temannya. Mereka pun segera memperlihatkan Qibo yang sudah tidak sadarkan diri di dalam mobil.


"Apa kau-membunuhnya?" Xiao bertanya sekali lagi.

__ADS_1


"Belum, masih ku-pikirkan!" sahut Shuwan sembari mengambil sebilah rokok dari sakunya, lalu perlahan menyalakannya. "Aku ingin mengujimu saja," lanjut lelaki berambut tipis tersebut.


"Aneh bukan, kamu tiba-tiba menghilang saat aku berusaha melakukan rencana pentingku!" Shuwan sekarang menghisap rokoknya. Dirinya sekarang berjalan mendekati Xiao. Perlahan dia keluarkan asap dari mulutnya tepat ke wajah Xiao.


"Shuwan aku jamin kamu tidak akan kecewa padaku!" kata Xiao dengan tatapan yang seketika berhasil meyakinkan Shuwan.


"Bagus sekali!" Shuwan menepuk-nepuk bahu Xiao, kemudian kembali berkata, "tetapi boleh aku bertanya kemana kamu tadi pergi?"


"Ibuku tiba-tiba sakit Shuwan, jadi aku bergesak-gesak berlari ke rumah sakit! maaf, aku tidak sempat meminta ijin padamu. . ." jelas Xiao seraya memasang wajah sendu.


"Benarkah?" Shuwan menjeda untuk sekedar menghela nafas dan meneruskan, "apa keuangan kalian cukup?"


Pertanyaan Shuwan itu sontak membuat mata Xiao membola. Mungkin sang dewi fortuna tengah berpihak kepadanya. Dengan begini Xiao tidak perlu repot-repot mengambil pinjaman uang.


"Aku akan merasa senang sekali jika kau-memang mau membantu, tapi kalau tidak ya. . ."


"Tentu saja aku akan membantu, kamu tidak perlu meragukanku! aku bisa berikan berapapun." Shuwan tampak begitu percaya diri. Xiao pun meresponnya dengan senyuman.


"Berarti kamu sendirian di rumah ya Kenai?" tanya Shuwan.


"Iya!" jawab Xiao singkat.


"Bagus! ayo keluarkan Qibo dari mobil, kita akan melakukannya di rumah Kenai, untung saja wilayah di rumahmu ini agak sepi ya!" Shuwan melangkahkan kaki untuk memasuki rumah Xiao.


Bruk!


Tubuh Qibo dihempaskan begitu saja ke lantai. Selanjutnya Xiao, Shuwan dan ke-empat teman lainnya segera duduk santai di sofa. Mereka menunggu Qibo sadarkan diri. Viera yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka mulai merasa risih, dan berucap, "Xiao! apa yang mereka lakukan di sini?"


Namun Xiao sama sekali tak peduli, dia bersikap seolah-olah dirinya tidak melihat keberadaan Viera.


***


"Yenn, bertahanlah! Feng sedang berusaha mencari keberadaan anak kita," ungkap Hongli sambil menggenggam jari-jemari sang istri.


"A-a-aku benar-benar tidak tahu alasan Xiao kabur dari kita. Apa kita melakukan kesalahan?" ucap Yenn dengan wajah pucat pasi, dia sedang terbaring lemah di atas hospital bed-nya.


"Karena itulah aku sedang berusaha mencarinya. Aku ingin tahu alasannya. . . apa mungkin, karena pekerjaan kita?" terka Hongli dengan dahi yang mengernyit.


"Apa kamu ingat dengan keluarga Tao?" kata Yenn yang tiba-tiba mengungkit masa lalu.


"Cih! bagaimana bisa aku lupa dengan pengkhianat itu!"

__ADS_1


"Mungkinkah . . . Xiao sekarang bersama Shuwan. . ." lirih Yenn.


Hongli yang mendengarnya pun langsung terkekeh dan berucap, "Tidak mungkin! kau-tahu betapa bencinya Xiao kepada Shuwan!"


__ADS_2