
Terkadang semuanya tidak selalu sesuai harapan.
***
Xiao yang merasa terbawa suasana, segera melepaskan pelukannya. Ia sekarang kembali tergoda dengan bibir merah muda alami milik Chan.
"Xiao!" Chan mencoba menjaga dirinya sebisa mungkin. Termasuk berusaha melepaskan cengkeraman Xiao dari kedua tangannya. Namun Xiao malah semakin bersemangat dan menarik Chan menjadi lebih dekat. Sepertinya tempat umum tidak membuat Xiao mengurungkan niatnya.
"Xiao, orang-orang melihat ke arah kita!" ujar Chan yang berusaha sebisa mungkin menjauh dari Xiao. Keinginan Xiao yang menggebu-gebu membuat cengkeramannya semakin kuat. Hingga akhirnya Chan mengerang kesakitan karena ulah Xiao, tangannya terasa sangat ngilu. Seakan darah sudah berhenti mengalir di area lengannya.
"Chan, kau tidak apa-apa?" tanya Viera khawatir. "Xiao! apa yang kau lakukan?!" sambungnya yang sekarang menatap ke arah Xiao tak percaya.
Xiao sontak tersadar ketika mendengar pekikan Viera. Dia reflek melepaskan genggamannya. Setelahnya lelaki itu berusaha melihat keadaan pergelangan tangan Chan. Namun langsung ditolak mentah-mentah. Gadis itu mengerutkan dahi dan melayangkan pelototan kepada Xiao.
"Lebih baik kita bergegas temukan senjata itu! ayo Vier, tunjukkan jalannya!" ungkap Chan seraya melingus melewati Xiao.
Dalam perjalanan, Xiao dan Chan lagi-lagi berjalan beriringan. Namun kali ini Chan yang memimpin, dengan ditemani Viera di sampingnya. "Apa sudah dekat, Vier?" tanya Chan.
"Sedikit lagi!" sahut Viera.
"Chan!" Xiao berusaha menyamakan langkahnya dengan Chan.
"Xiao, lebih baik kau jangan dekat-dekat dahulu denganku!" ucap Chan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kalau begitu kau mau pergi?" tanya Xiao.
"Eh bukan itu. Maksudku menjaga jarak Xiao!" sahut Chan dengan nada penuh penekanan.
"Yah itu sama saja. Aku harus bagaimana? aku selalu bernafsu saat melihat kecantikanmu. Lebih baik kau pergi sebelum aku menyakitimu!" ujar Xiao dengan raut wajah datar.
Pipi Chan awalnya memerah malu bagaikan kepiting rebus. Namun setelah mendengar kalimat akhir Xiao, dia pun langsung dibuat geram.
"Kenapa kau terus menyuruhku pergi sih?!" dahi Chan berkerut.
"Sudah ku-bilang! aku takut terjadi sesuatu padamu!" Xiao menghentikan langkahnya dan menatap tajam kepada gadis di sampingnya.
__ADS_1
"Sejak kamu kembali untuk menyelamatkanku di gudang, saat itulah aku sudah siap menerima resiko apapun. Jadi jangan bertanya lagi!" ungkap Chan seraya melajukan langkahnya mendahului Xiao yang masih terdiam di tempat.
"Lalu apa fungsinya menjaga jarak kalau kau siap menerima resiko?" pekik Xiao kepada Chan yang terus berjalan. Tetapi gadis itu hanya mengacungkan jari tengahnya untuk merespon. Xiao pun hanya bisa menggeleng maklum dengan seringai diwajahnya.
"Bukankah bagus kalau dia memilih tidak pergi. Anggap saja dia seorang tawanan yang mau melakukan apapun untukmu!" bisik Devgan tepat ke telinga Xiao.
"Kau benar!" balas Xiao, lalu kembali melanjutkan jalannya.
"Ini dia tempatnya!" imbuh Viera sambil menunjuk ke arah toko barang bekas yang ada di depannya. Alhasil Xiao dan Chan segera masuk ke dalam toko tersebut. Mereka langsung disambut oleh nenek penjaga toko yang bernama Ma Wati.
"Ada yang bisa dibantu?" ujar nenek yang kulitnya sudah keriput itu.
"Terima kasih Nek." Chan mengukir senyuman tipis, yang segera mendapatkan anggukan oleh nenek Ma.
"Tidak usah basa-basi!" tegur Xiao sambil berjalan maju. "Nek! aku ingin melihat-lihat dahulu!" lanjutnya yang hanya menatap sekilas nenek Ma.
"Viera, bisakah kau jelaskan bagaimana bentuk senjata yang kita cari?" tanya Xiao.
"Itu adalah sebuah gagang pedang kuno. Namun jika di dunia nyata pedangnya tidak ada. Hanya kau dan para devil yang bisa menyaksikan bagaimana pedang itu," terang Viera, yang sontak membuat Xiao dan Chan melakulan pencarian.
Chan lantas menoleh ke arah nenek Ma. "Kami sedang mencari sebuah gagang pedang kuno!" ujarnya dengan ekspresi serius.
"Oh, kenapa tidak tanya dari tadi?" balas nenek Ma yang segera bergegas mencarikan barang yang di inginkan Xiao.
Nenek Ma mengeluarkan suara grasak-grusuk dari bawah. Wanita tua tersebut akhirnya muncul dengan memegangi kotak kayu berukuran sedang. Setelah membuka kuncinya, terlihatlah sudah kumpulan gagang pedang di dalam kotak.
"Viera, mana yang asli?" tanya Xiao sembari menilik gagang-gagang pedang yang ada.
"Tunggu. . ." Viera mencoba mencari senjata Jonas. Dia berusaha teliti, dan puluhan kali melihat namun tidak menemukan benda yang dia cari. "Coba tanyakan pada neneknya mengenai gagang pedang berwarna hijau!" titahnya, yang sontak langsung mendapatkan anggukan kepala dari Xiao.
"Nek, gagang pedang berwarna hijau kok tidak ada?" tanya Xiao pelan.
"Ungu? tunggu biar aku mencoba mengingat dahulu." Nenek Ma berpikir sejenak. "Aku ingat sekarang! ada seorang turis yang telah membeli gagang pedang itu!" jelasnya.
"Turis? apa Nenek tahu siapa dia?" Chan lebih dahulu bertanya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tapi dia memiliki badan besar dan kumis tebal! dia sangat ramah. Alasan dia membeli gagang pedang itu karena untuk koleksi katanya," terang nenek Ma.
"Bagus!" gumam Devgan, yang tentu saja dapat terdengar oleh Xiao dan Viera. Sepertinya devil tersebut lega, karena Xiao tidak berhasil menemukan senjata yang mungkin saja dapat mencelakakan dirinya.
"Xiao, sepertinya senjata itu sudah berpindah tangan!" Viera menggelengkan kepala kecewa. Alhasil Xiao dan Chan pun segera keluar dari toko, toh senjata yang mereka cari sudah tidak ada.
"Kau sama sekali tidak mengetahuinya?" Xiao menatap tajam Viera dengan dahi yang mengernyit.
"Kau pikir aku selalu berada di sini setiap hari?" tepis Viera dengan nada tinggi.
"Terserah! sekarang aku ingin istirahat!" ketus Xiao yang segera melangkahkan kakinya. Kemudian Di ikuti oleh Chan dari belakang. Keduanya mencari tempat penginapan terdekat.
"Pesan--"
"Pesan dua kamar ya Mbak!" Chan langsung menyambar kalimat yang hendak di ucapkan Xiao. Lelaki itu hanya bisa mengalah dan diam. Alhasil resepsionis yang berjaga sontak memberikan dua kunci kamar.
"Terima kasih!" ujar Chan sambil tersenyum simpul. Sekarang Xiao dan Chan tengah berada di dalam elevator.
"Chan, kau tidak ingin tidur bersamaku?" Xiao tersenyum smirk. Dia menilik tubuh Chan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Xiao, jangan macam-macam!" tegas Chan yang berusaha menyembunyikan kengeriannya. Dirinya merasa ada yang berbeda dengan Xiao.
"Terserah! yang jelas aku akan menunggu di kamar!" imbuh Xiao yang sedikit terkekeh. Pintu elevator perlahan terbuka, lelaki tersebut lebih dahulu keluar dan masuk ke kamarnya. Chan yang menyaksikannya hanya menggeleng tak percaya.
Viera perlahan muncul dari samping Chan. "Viera, apa kau merasa ada yang berubah dengan Xiao?" tanya Chan serius.
"Bukan perasaan lagi Chan! dia benar-benar berubah sejak memiliki Devgan!" sahut Viera yang sedang menyamakan lajunya dengan Chan.
"Devgan?" dahi Chan berkerut.
"Xiao menamakan devilnya Devgan!" balas Viera.
Ceklek!
Chan masuk ke kamarnya dengan helaan nafas panjang. Dia menyenderkan tubuhnya ke pintu. 'Aku harap Xiao baik-baik saja, aku tidak ingin dia berubah,' batinnya yang merasa bergidik ngeri.
__ADS_1