Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 110 - Dikejar Polisi


__ADS_3

Untuk saat ini Xiao mungkin tenang, tetapi dia belum mengetahui apa yang telah terjadi di markas.


***


Brian mulai merasa tidak nyaman saat berada di dalam markas. Entah kenapa dia ingin lekas-lekas keluar dari sana. Lelaki itu berusaha menbawa Fa bersamanya. Namun Fa langsung menolak mentah-mentah ajakannya. Fa bilang dia harus mengambil beberapa barang penting.


"Pergilah Bri! aku bisa melakukan semuanya sendiri!" ujar Fa yakin.


"Tidak. Kau masih punya Xiao, aku yakin dia akan datang ke sini sebentar lagi. Ayolah, kita tunggu di luar saja. Firasat burukku kembali terasa kuat sekarang!" Brian mendesak, dan lagi-lagi Fa sama sekali tak hirau dengan peringatannya. Alhasil Brian tidak punya pilihan selain keluar lebih dahulu dari markas.


Al terlihat menyenderkan badannya ke mobil dengan keadaan mata yang merah. Gadis tersebut terus memegangi bagian perutnya. Bola matanya tertuju pada Brian yang baru saja keluar dari markas.


"Bri, aku sangat beruntung bisa berteman denganmu. Nyawaku selalu berhasil lolos dari maut. Andai aku tadi tidak ikut menjemput Chan, mungkin aku sudah menjadi salah satu korban yang ada di dalam markas sekarang." Al mendengus lega.


"Huhh. . . padahal ketika kita mau berangkat tadi, aku sama sekali tidak merasakan firasat apapun. Tetapi yang jelas saat aku berada di dalam markas, aku kembali merasakan firasat buruk."


"Lalu Fa?"


"Dia bersikeras tidak mau keluar. Katanya mau mengambil beberapa barang penting lebih dahulu," sahut Brian sambil memposisikan dirinya di sebelah Al.


Tidak lama kemudian, Fa keluar sambil membawa tas besar hitam. Wajahnya jelas tampak begitu sembab. Dia berjalan dengan tatapan kosong. Lalu mendudukkan diri di tangga yang ada di teras.


***


Xiao perlahan menurunkan Chan dari punggungnya. Dia sudah lumayan lama menggendong gadis itu. Lagi pula di hadapan mereka sudah ada jalanan beraspal. Sekarang mereka hanya menunggu mobil lewat.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sebuah kendaraan muncul. Truk besar tersebut berjalan semakin mendekat. Chan bergegas untuk menghentikannya. Ia mengangkat sebelah tangan, lalu menatap penuh harap ke arah truk.


"Berhentilah!!" pekik Chan sembari terus mengangkat sebelah tangannya. Namun sayang, truk yang berusaha dia hentikan berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


"Maaf Xiao!" ucap Chan kepada Xiao yang masih duduk istirahat di atas rerumputan hijau.


"Tidak apa-apa, kau bisa--"


"Lihat! ada kendaraan lagi!" Chan memotong kalimat Xiao tanpa sengaja, karena sebuah mobil mendadak muncul dari kejauhan. Kali ini Xiao bangkit dari tempat duduknya, kemudian berdiri tepat di samping Chan.


Setelah mobil sudah semakin dekat, Xiao mendadak berjalan ke tengah jalan.


"Xiao! apa yang kau lakukan?!" tegur Chan yang merasa khawatir dengan kelakuan Xiao. Namun lelaki yang ditegurnya malah memposisikan diri menghadap ke arah mobil. Chan yang melihat reflek melangkahkan kaki untuk mengejar Xiao. Akan tetapi, belum sempat ia menghampiri, mobil sudah berhenti tepat di hadapan Xiao.


Chan sekarang mematung dengan keadaan mata yang membola. Nafasnya naik turun dalam tempo cepat akibat mencemaskan sesuatu hal buruk. Namun untung saja, dia dan Xiao baik-baik saja.


"Ayo Chan!" ajak Xiao seraya masuk lebih dahulu ke dalam mobil.


"Dasar gila!" gerutu Chan, yang merasa kesal dengan kelakuan Xiao. Dia lantas ikut masuk ke dalam mobil.


Ketika sudah duduk di samping kursi kemudi, Xiao malah mendapat respon aneh dari sang pemilik mobil. Lelaki yang sedang mengenakan topi biru tersebut tampak terkejut menyaksikan wajah Xiao.


"Ke Metropolis. Ka-kalian?" balas si pria bertopi biru yang terlihat gugup.


"Pas sekali, kami juga mau ke sana. Jaraknya tidak jauh kan?"


"Tidak. Hanya sekitar dua kilometer dari sini!"


"Oke, kau bisa jalankan mobilnya!" ujar Xiao, yang tentu langsung dilakukan oleh sang pemilik mobil.


Xiao sebenarnya sangat paham bahwa lelaki di sebelahnya mengenal dirinya. Seperti yang telah diketahui, kalau foto Xiao sekarang beredar dimana-mana. Tetapi selama lelaki tersebut tidak melakukan hal aneh, Xiao berusaha bersikap setenang mungkin. Hal yang sama juga dilakukan Chan.


Lelaki bertopi biru terlihat meneteskan keringat yang lumayan banyak di pelipisnya. Sepertinya dia agak takut kepada Xiao. Tangannya bahkan gemetaran. Akibat hal itu, suasana dalam mobil menjadi hening.

__ADS_1


'Aku harus mengabaikannya!' batin Xiao sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Toh dia tak peduli, yang paling penting sekarang adalah kembali ke markas dengan tenang.


Tidak lama kemudian, mobil sudah memasuki area Metropolis. Anehnya mobil di arahkan menuju pusat kota. Xiao merasakan adanya niat tersembunyi dari sang pemilik mobil. Dia pun melayangkan tatapan menyelidik ke arah pria bertopi biru itu.


"Kau tidak akan mengantar kami ke kantor polisi kan?" tanya Xiao.


"Bukankah kau harus dihukum atas perbuatan yang telah kau lakukan?!" balas si pria bertopi biru yang semakin melajukan mobilnya. Sepertinya dia tidak mampu lagi menutupi rencananya. Alhasil Xiao tidak punya pilihan lain selain berusaha menghentikan mobil. Namun pria bertopi biru terus mempertahankan tempatnya, dan tidak memberikan kesempatan kepada Xiao untuk menghentikannya.


"Hentikanlah!" pekik Xiao sembari terus mencoba merebut kursi kemudi. Sekarang mobil bergerak ke kiri dan kanan tanpa beraturan. Membuat kendaraan yang ada di sekitarnya menegur dengan cara membunyikan klakson.


"Bisakah kalian berhenti?!" Chan mencoba memperingatkan. Dia menutup matanya rapat-rapat karena merasa sangat panik. Apalagi keadaan mobil sedang terguncang hebat. Menyebabkan Chan harus berpegangan erat agar tidak terhantam benda keras.


Trak!


Xiao sudah berhasil membuka pintu yang ada di sebelah kursi kemudi. Sekarang angin yang tercipta dari kelajuan, menerpa masuk ke dalam mobil. Xiao pun segera melepaskan sabuk pengaman yang dikenakan pria bertopi biru. Lalu mendorongnya keluar dari mobil.


"Kau akan mendapat balasannya di neraka!!Aaaaaaa. . ." ucap si pria bertopi biru, yang di akhiri dengan teriakannya saat sudah terguling di aspal.


Xiao lekas-lekas menutup pintu mobil, lalu duduk ke kursi kemudi. Dia langsung memutar balik mobil, dan melajukannya dalam kecepatan tinggi.


Chan yang sedari tadi di belakang, hanya bisa menenggak saliva-nya sendiri, akibat ketegangan yang baru saja terjadi. Dia memegangi area dadanya agar dapat sedikit tenang. Matanya sudah kembali terbuka lebar.


"Xiao, cepatlah! sebelum pria itu memberitahukan kita kepada polisi!" desak Chan.


"Aku sedang berusaha!" sahut Xiao sambil mengeratkan rahangnya dengan penuh tekad.


Benar saja, selang beberapa menit mobil polisi sudah mengekori dari belakang. Xiao sontak menginjak pedal gas untuk menambah kelajuan mobilnya. Kemudian membawa masuk mobil ke sebuah gang yang terhubung dengan jalan pintas menuju markas. Dia sudah beberapa kali hampir menabrak orang-orang yang hendak menyebrang. Untung saja keberadaan mobil polisi masih agak jauh di belakang.


"Xiao, berhati-hatilah!" ucap Chan yang merasa khawatir dengan cara mengemudi Xiao.

__ADS_1


Syut!


Xiao menghentikan mobil di tempat yang menurutnya tepat. Dia dan Chan langsung lekas-lekas keluar dari mobil. Lalu berlari menuju jalan pintas yang mengarahkannya ke markas Klan Wong.


__ADS_2