Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 127 - Laut Gelap


__ADS_3

Kegelapan seringkali berpadu dengan hawa dingin.


***


Mata semua orang seketika terbelalak. Sebab penampilan makhluk aneh itu sangatlah mengerikan. Xiao lantas menyuruh Chan masuk ke dalam kapal. Takut kalau-kalau makhluk tersebut akan mendadak menyerang.


Makhluk mengerikan yang baru saja muncul, memang ukurannya lebih besar dari Devgan. Namun dia tampak terkejut dengan keberadaan Devgan. Secara makhluk jenis seperti Devgan adalah yang terkuat.


"Devgan, berilah waktu sedikit untuk kami!" titah Xiao, yang segera dilaksanakan oleh Devgan. Devilnya itu langsung menghadapi musuhnya tanpa ada ketakutan sedikit pun.


Tanpa pikir panjang, Bork langsung memalingkan kapalnya. Dia memanfaatkan waktu dengan baik untuk menjauh dari makhluk pengganggu tersebut.


Terdengar suara pekikan keras yang dikeluarkan sang makhluk besar. Theo mencoba menoleh ke belakang untuk melihat keadaan. Dan dia tidak bisa menyaksikan wujud Devgan, hanya ada penampakan makhluk besar itu yang seolah sedang kesakitan.


Berbeda dengan Xiao, yang dapat melihat dengan sempurna apa yang dilakukan Devgan. Xiao agak sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Devgan. Anehnya devilnya itu dapat dengan mudahnya melakukan serangan. Menghancurkan setiap jengkal bagian tubuh lawannya. Terlihat berebihan dan terkesan sadis.


Devgan tampak merobek kulit makhluk besar tersebut. Hingga erangan yang terdengar semakin nyaring. Ternyata hanya ukurannya saja yang besar, akan tetapi dia sama sekali bukan lawan yang sepadan untuk Devgan.


Lama-kelamaan sang makhluk besar pun tumbang dan terjatuh. Namun Devgan sepertinya belum selesai menghabisinya. Devil Xiao itu terlihat menguliti si makhluk besar. Bagian tubuhnya menjadi kepingan, sedangkan darahnya merembes banyak layaknya aliran sungai yang deras. Devgan tampak menikamtinya, seakan kekalahan musuhnya masih belum membuatnya puas.

__ADS_1


Xiao meringiskan wajah. Karena pemandangan yang dilihatnya benar-benar mengerikan. Dia lekas-lekas mengalihkan pandangannya dari Devgan.


"Sekarang aku semakin yakin untuk menemukan senjata itu!" celetuk Xiao, yang dilanjutkan dengan dengusan kasarnya.


"Kau melihat apa yang dilakukan devilmu kan?" tanya Theo seraya berjalan menghampirir Xiao. "Makhluk yang namanya devil memang sangatlah mengerikan. Tidak heran, manusia yang ada bersama mereka akan otomatis memiliki kesamaan. Apalagi mengenai cara membunuh mereka."


"Ya, aku rasa kau benar..." sahut Xiao lirih. Dia menatap ke arah depan. Menyaksikan adanya pemandangan laut yang tampak begitu gelap.


"Setelah melewati laut itu, kita akan tiba di tempat tujuan," ucap Theo, ikut menatap ke arah laut. Dia terus melanjutkan pembicaraan dengan Xiao. Termasuk membicarakan mengenai pengetahuan dirinya yang mengetahui banyak hal dunia dimensi lain.


"James datang ke dalam mimpiku. Dia menceritakan dimana letak pedang gaib itu berada. Kau beruntung, aku bersedia membantumu. Karena sebelumnya, aku sempat tidak bersedia membantu siapapun..."


"Ya, tetapi keadaan kacau sekarang, pasti akan membuat orang yang punya keahlian sepertimu berusaha untuk bertahan hidup," balas Xiao sembari menatap Devgan yang baru saja kembali. Setelahnya, Xiao pun segera berderap untuk menemui Chan.


"Kita dimana? suasananya semakin gelap dan dingin." Chan melingkarkan kedua tangan ke badannya sendiri. Dia duduk berhadapan dengan Xiao. Keduanya tengah berada di bagian dalam kapal. Beristirahat untuk sesaat terhadap perjalanan yang mereka lakukan.


Chan tampak menggosok-gosokkan telapak tangannya. Berharap apa yang dilakukannya itu dapat menghangatkan badannya.


"Chan, jika kau ingin hangat, duduklah di sampingku. Mumpung Theo belum masuk ke sini." Xiao menepuk ruang kosong di sebelahnya, untuk memberikan kode kepada Chan.

__ADS_1


"Xiao, ini bukan waktu yang tepat!" Chan mengerutkan dahi. Dia memahami ajakan Xiao dengan maksud lain.


Xiao tersenyum, akibat berusaha menahan tawa. Sebab Chan selalu berpikiran kemana-mana, terutama jika dirinya berusaha memberikan sentuhan. Padahal dia hanya bermaksud membantu Chan agar tidak merasakan kedinginan yang parah. Alhasil Xiao tidak punya pilihan lain selain berpindah duduk di samping Chan. Kemudian memberikan pelukan kepada gadis itu dari samping. Sebenarnya apa yang dilakukannya tersebut juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuhnya sendiri.


"Xiao!" ucap Chan dengan kening yang mengernyit. Namun dia sama sekali tidak berusaha melepaskan dekapan Xiao. Nampaknya Chan enggan untuk menolak perlakuan Xiao yang telah berhasil mengurangi rasa dinginnya itu.


Perlahan Xiao membawa kepala Chan bersandar ke dada bidangnya. Mereka cukup lama diam dalam posisi tersebut.


"Xiao, aku harap setelah raja devil dimusnahkan, kita bisa meneruskan kehidupan kita dengan baik. Lebih baik dari dulu..." lirih Chan, lalu mengangkat kepalanya. Dia menatap Xiao dengan lekat.


Xiao hanya tersenyum tipis. Dia ingin menjanjikan hal baik kepada Chan, akan tetapi dia terlalu takut memastikannya dengan mulut. Dia hanya bisa mendaratkan bibirnya ke kening Chan, lalu beralih ke pipi kiri dan kanan Chan, dan tentu saja di akhiri dengan ciuman di bibir.


Tak... Tak... Tak...


Suara langkah kaki, mengharuskan Chan mendorong Xiao menjauh darinya. Hingga tautan bibirnya dan Xiao terpelepas begitu saja.


"Maaf mengganggu, aku sudah tidak kuat lagi berada di luar!" ujar Theo yang baru saja muncul. Lalu bergegas menutup pintu kembali. Lelaki tersebut langsung merebahkan diri di atas plang kayu yang tersusun.


Xiao hanya menghela nafas panjang. Kemudian berpindah tempat untuk merebahkan diri seperti Theo. Hal yang sama juga dilakukan oleh Chan. Namun belum sempat mereka puas beristirahat, suara bantingan pintu terdengar sangat nyaring.

__ADS_1


Bruk!


Pintu terbuka lebar, tampaklah Bork sedang berdiri. "Sudah waktunya. Aku butuh darah lagi..." ujarnya pelan sambil menatap ke arah Chan.


__ADS_2