
Ilusi memang menipu mata.
Seakan semuanya telah tersembunyi.
***
Xiao dan Chan melangkahkan kaki bersama untuk kembali pulang. Keduanya berjalan dengan tergesak-gesak, seakan waktu terus mengejar. Jujur saja dalam hati Xiao, dia masih diselimuti rasa gelisah. Takut kalau anak buah ayah dan ibunya akan kembali mengejar.
"Xiao, Chan bisakah kalian tenang. Toh tidak ada orang yang mengejar kan?" tegur Viera sembari melayang mundur. Tatapannya fokus pada dua insan yang terus melangkahkan kaki dengan tempo cepat.
"Menyingkirlah Viera!" Xiao menembus tubuh Viera begitu saja.
"Jadi laki kok sensi amat sih!" keluh Viera.
Tidak berapa lama kemudian sampailah Xiao dan Chan ke apartemen. Namun mereka segera bersembunyi saat melihat segerombolan lelaki berdiri di depan apartemen Chan.
"Aku sudah berfirasat..." gumam Xiao sembari menatap Chan lewat ujung matanya.
"Sialan! mereka mengobrak-abrik rumahku! lakukan sesuatu dong Xiao!" Chan menggertakkan giginya.
"Bagaimana? jumlah mereka lebih banyak! hantu-hantunya juga banyak lagi!"
"Xiao, setidaknya aku bisa mengambil uang dan benda-benda berhargaku dulu, ayo tanggung jawab! bukankah kekacauan ini karena dirimu?"
"Tenang bawel! biar aku pikirkan caranya!" Xiao mengerutkan dahi.
"Tunggu, dimana Viera?" Xiao mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berada.
"Entahlah Xiao, keberadaan hantu itu tidak bisa ditebak!" sahut Chan yang juga ikut celingak-celingukan untuk mencari Viera.
"Kalian mencariku?" kedatangan Viera dengan cara menembus dinding sekali lagi berhasil membuat Xiao dan Chan kembali terperanjat. Untung saja keduanya tidak mengeluarkan suara sama sekali. Mereka hanya bisa bersumpah serapah pada hantu wanita itu dengan cara berbisik.
"Viera, maukah kau-membantu kami?" tanya Xiao yang sepertinya telah mendapatkan ide.
"Apa rencanamu?" tanya Chan dengan mengangkat dagunya.
"Hantui mereka!" ucap Xiao yakin. Namun tidak bagi Chan dan Viera. Keduanya tahu bahwa tidak semua hantu bisa menampakkan diri dengan mudah.
Plak!
Cap lima jari Chan langsung melayang ke pipi Xiao. Seketika lelaki yang masih mengenakan topi hitamnya itu memegangi pipinya. "Chan!" pekiknya pelan.
"Ternyata kamu tidak selalu jenius ya!" ejek Chan dengan kekehnya. Xiao yang melihat hanya bisa menggertakkan gigi.
__ADS_1
"Kenapa memang?" tanya Xiao yang masih belum paham.
Chan mendengus kencang dan berkata, "Xiao, tidak semudah itu bagi Viera untuk menampakkan dirinya,"
"Oh begitu..." balas Xiao lirih, lalu langsung terdiam. Perlahan lelaki tersebut membulatkan mata, yang berarti ide cemerlang lainnya kembali muncul.
"Chan! aku akan menarik perhatian mereka di luar apartemen. Saat mereka semua mengejarku, kau bisa masuk untuk mengambil barang-barangmu!" titah Xiao sembari beranjak pergi untuk segera keluar dari apartemen.
***
"Woy! preman-preman jelek! mencariku ya?!" Xiao memekik dari halaman apertemen. Dia membuka topinya agar wajah tampannya bisa terlihat jelas. Apa yang dilakukannya itu pun sontak membuat semua gerombolan preman berdesakan untuk menangkapnya.
Tanpa pikir panjang, Xiao berlari sekuat tenaga. Menyusuri gang-gang kecil yang ada di lingkungan tersebut. Para preman juga ikut berlari, dan saling berdahuluan agar bisa cepat-cepat menangkap lelaki yang sudah berusia tujuh belas tahun itu.
Di sisi lain Chan yang sudah melihat keadaan apertemennya yang sepi, segera melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang berharga dan uang tabungannya yang tersisa.
"Cepat Chan! kita juga harus menyelamatkan Xiao!" desak Viera yang sedang melihat keadaan dengan cara melihat keluar jendela.
***
Aksi kejar-kejaran Xiao dan gerombolan preman masih berlanjut. Meskipun begitu, jarak Xiao lumayan jauh dengan keberadaan para preman itu. Hingga dia pun terpikir untuk mencari tempat bersembunyi yang bisa menyelamatkan dirinya dari kejaran.
Perhatian Xiao langsung terfokus pada tempat sampah yang berada tidak jauh darinya. Walau merasa jijik, Xiao rela memasukkan tubuhnya di antara sampah-sampah yang sudah berbau busuk. Tangannya terpaksa menutup hidung, karena bau busuk yang benar-benar menguar kuat.
Suara langkah kaki perlahan mendekat. Para preman itu sekarang berada begitu dekat dengan tempat persembunyian Xiao.
"Dimana anak itu?"
"Entahlah! ... bhueekk! bau sekali!"
"Idih! mafia macam apa kau, sama bau sampah aja ciut! haha!"
"Kampret kalian! masih sempat aja bercanda! ayo kita ke sana mungkin anak itu lari ke situ!"
Setelah beberapa percakapan, para preman itu pun beranjak pergi. Xiao yang sudah merasa keadaan aman segera cepat-cepat keluar dari tempat sembunyi. Toh dia juga sudah tidak tahan dengan bau sampah yang begitu menusuk.
Xiao mengusap bajunya yang kotor seraya mengibaskan tangan untuk menjauhkan lalat yang sedari tadi mengganggu.
"Xiao!" Chan datang dengan tas besar hitam di tangannya. Gadis itu berlari menghampiri Xiao, namun bau badan Xiao sontak membuat Chan kembali melangkah mundur.
"Xiao, kau bau sekali!" raut wajah Chan tampak meringis.
"Benarkah? enggak kok!" Xiao mengukir seringai diwajahnya, sepertinya niat jahilnya perlahan muncul.
__ADS_1
"Ekspresi apaan tuh?" kritik Chan.
"Mau aku peluk?" tawar Xiao sembari berjalan mendekati Chan.
"Ih! ogah ah!"
"Loh kenapa? bukankah kau mencintaiku Chan, kok nggak mau ku-peluk!"
"Gadis mana yang mau dipeluk sama pria yang bau!" Chan terlihat mengibaskan tangan di depan hidungnya.
"Sini!" Xiao semakin berjalan mendekat.
"Eh jangan dekat-dekat ya!" sekali lagi Chan mencoba menghindar.
"ITU MEREKA!" tanpa diduga salah satu preman bertubuh berisi memergoki Xiao dan Chan. Alhasil keduanya pun kembali kabur dengan cara berlari sekuat tenaga. Usaha mereka sekali lagi berhasil lepas dari kejaran para preman.
***
Malam semakin larut, Chan berusaha menahan kantuknya. Gadis itu duduk terdiam di depan pemandian umum. Menunggu Xiao yang tengah membersihkan diri.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Xiao keluar dengan penampilan yang lebih segar. Chan menoleh sesaat, Deg!
Jantung gadis itu kembali berdebaran, kala melihat lelaki yang ada di depan matanya. Wajah tampan Xiao semakin mempesona saat rambut hitamnya terlihat basah. Lelaki itu tampak mengibaskan rambutnya yang basah. Bulir-bulir air beterbangan di sekitarnya bagaikan butir permata di mata Chan. Waktu bahkan seolah melambat karena momen tersebut.
"Chan!" Xiao mengerutkan dahi, ketika melihat Chan menatap dirinya dalam keadaan bengong.
"CHAN!" Xiao memekik keras ke telinga Chan. Gadis itu pun langsung tersadar, dan segera menatap wajah Xiao yang sedang berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Xi-xi-xiao... a-a-ada apa..." respon Chan yang tengah tergagap.
"Chan..." ujar Xiao sembari menatap lekat Chan.
"A-a-apaan sih..." Chan mulai salah tingkah.
"Chan... kamu punya uang?" ucap Xiao, yang sontak membuat Chan geram. Gadis itu langsung menggertakkan giginya.
"Nih!" pada akhirnya Chan menyerahkan beberapa uang untuk Xiao, yang akan dia gunakan untuk membayar biaya pemandian umum.
***
Xiao dan Chan menaiki kereta api untuk pergi ke suatu tempat. Keduanya tengah duduk berdampingan saat itu.
__ADS_1
"Chan, saat kita sudah tiba di tujuan... kita harus mengubah penampilan kita!" ujar Xiao dengan raut wajah serius. Chan pun merespon dengan anggukan kepala penuh keyakinan.