Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 97 - Kaburnya Shuwan


__ADS_3

Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan kekerasan dilarang membaca!


...-----...


Selalu berhati-hatilah terhadap musuh di dalam selimut.


***


Xiao dan Zao telah tiba di ruangan Shuwan. Keduanya berusaha mengatur deru nafas akibat kelelahan berlari. Sedangkan Chan tertinggal di belakang, karena gaun yang dikenakannya sangat menghambat langkah kakinya.


"Sial! kenapa kau sangat ceroboh!!!" geram Xiao yang langsung mencengkeram kerah baju Zao. Sebab Shuwan sudah tidak ada lagi di ruangannya.


"Maaf Tuan, semuanya karena wanita itu sangat meyakinkan!" tutur Zao.


Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Xiao pun segera melepaskan cengkeraman dari kerah baju Zao. Dia memperhatikan darah yang berceceran di lantai. Xiao sangat yakin darah tersebut adalah milik Shuwan.


"Panggil semua bawahan, dan suruh berpencar untuk mencarinya!" titah Xiao. Zao pun bergegas melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.


Xiao lekas-lekas berlari mengikuti percikan darah yang ada di lantai. Chan yang tidak sempat berbicara, berusaha mengekorinya dari belakang.


Bruk!


Xiao menendang pintu belakang. Mulutnya langsung berseringai tatkala menyaksikan Mei dan Nuan kewalahan membopong Shuwan. Sebelum melakukan pengejaran, Xiao mengambil sebuah linggis yang kebetulan disandarkan di dinding.


"Sial!" Nuan begitu terkejut saat melihat Xiao sudah berjalan menuju ke arahnya. Sekarang dia dan Mei berusaha mempercepat langkahnya.


"Kalian teruskan saja! biar aku yang menghadapi Xiao, dan bawalah ini untuk melindungi diri!" ujar Nuan sembari menyerahkan sebuah pisau lipat kepada Mei untuk berjaga-jaga. Mei sontak menganggukkan kepala pertanda setuju.


"Oh iya, jika kalian nanti butuh pertolongan. Tolong buka alamat web ini." Nuan menyerahkan secarik kertas dengan tulisan domain internet tertentu. "Mereka adalah sekolompok orang yang sedang merencanakan sesuatu yang besar. Mereka pasti akan menolong orang sepertimu Shuwan!" tambahnya, kemudian membalikkan badan untuk berhadapan dengan Xiao.


"Ayo cepat Shuwan!" Mei membopong Shuwan sekuat tenaga. Keduanya sekarang berlari menyusuri rerumputan. Sebentar lagi mereka akan mencapai lubang kecil yang terhubung dengan jalanan beraspal.


Chan perlahan membuka pintu, matanya membola ketika menyaksikan Nuan berhadapan dengan Xiao. Nuan terlihat mengambil pistol yang tersembunyi di balik baju panjangnya. Sekarang wanita tersebut menodongkan pistol ke arah Xiao.


Dor!!!


Nuan menarik pelatuk senjata apinya. Dia tidak membidik Xiao, melainkan putrinya sendiri.


"Chaaan!!" Al yang ternyata sedari tadi mengikuti, dengan sigap membawa Chan menghindar dari tembakan. Kedua gadis tersebut terjatuh bersamaan ke tanah. Untung saja, peluru tidak mengenai salah satu di antara mereka. Chan dan Al langsung melakukan pose melindungi diri dengan bersembunyi di balik tiang terdekat.

__ADS_1


Xiao yang melihat kejadian itu semakin dibuat geram. Dia melotot tajam ke arah Nuan.


"Jangan ampuni dia Xiao!!" ujar Devgan yang mengambil kesempatan itu agar dapat menambahkan energinya.


Tanpa pikir panjang, Xiao mengangkat linggis yang ada di tangannya. Dia melayangkan ujung tajam linggis tepat ke perut Nuan.


Syut! Jleb!


Linggis berhasil mengenai sasaran, hingga tembus ke punggung Nuan. Benda yang terbuat dari besi itu melayang bagaikan tombak. Sekarang cairan merah kental mengalir deras keluar dari perut dan mulut Nuan. Tidak lama kemudian tubuhnya pun terhempas ke tanah.


'Kau hanya akan menjadi penghancur.' Kalimat dari mimpi buruk Xiao kembali menghantui. Namun nampaknya kemarahan yang dirasakan Xiao, mampu membuat dirinya tidak hirau lagi terhadap kalimat itu. Dia berjalan menghampiri Nuan yang telah sekarat. Xiao bermaksud mengambil linggisnya kembali.


"A-a-apa kau mau tahu. . . alasanku meninggalkan Chan?" ucap Nuan sebelum detik-detik terakhirnya tiba. Xiao menatap serius untuk mendengarkan.


"Di-di-dia. . . adalah. . . gadis pembawa sial. Jadi, aku pastikan kau akan terus menderita, karena--"


Bruk!


Xiao yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya kembali menyerang Nuan dengan linggis.


Al yang merasakan keadaan sudah aman, mencoba memperhatikan apa yang terjadi. Namun dia malah melihat Xiao sedang mengamuk. Lelaki tersebut tampak beberapa kali melayangkan pukulan ke wajah Nuan.


"Tidak! ayo kita pergi dari sini!" Al bergegas menutupi mata Chan. Lalu membawanya masuk kembali ke dalam markas. Dia tidak mau Chan melihat keberingasan Xiao. Apalagi sekarang lelaki itu sedang menghabisi ibu kandung dari kekasihnya sendiri.


Wajah Xiao dipenuhi percikan darah akibat ulahnya. Selanjutnya dia pun segera menyusul tawanannya yang telah kabur.


***


Shuwan dan Mei tengah bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mei mencoba membuka pintu mobil, namun sia-sia.


"Mobilnya di kunci!" ujar Mei seraya celingak-celingukan untuk memeriksa mobil yang ada di sekitar. "Mungkin mobil yang ada di seberang bisa kita masuki!" lanjutnya, atensinya tertuju pada mobil hitam yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya.


Shuwan hanya terdiam, seakan masih berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya. Ketika keduanya hendak berdiri, tiba-tiba Xiao mendadak muncul. Mata Mei sontak terbelalak.


"Shuwan, kau bisa berlari ke mobil itu kan? aku akan memperlambat Xiao. Berusahalah untuk kabur sebisa mungkin!" ucap Mei seraya menyerahkan secarik kertas yang tadi diberikan Nuan kepada Shuwan. Sedangkan Shuwan hanya terdiam, sebenarnya ia hanya berusaha menahan sakit di sekujur badannya.


Mei perlahan berdiri, dan berderap menghampiri Xiao yang kebetulan membelakanginya.


"Xiao!" pekik Devgan, yang mencoba memperingatkan tuannya. Xiao sontak mengalihkan pandangannya ke belakang. Namun ia malah mendapatkan sambutan dari Mei dengan hujaman pisau.

__ADS_1


Tangan Xiao reflek mencoba menghalangi serangan Mei. Namun telapak tangannya malah tergores oleh pisau. Meskipun begitu lukanya tidak terlalu parah.


Shuwan memanfaatkan peluang tersebut untuk memasuki mobil yang ada di seberang jalan. Dia memaksakan dirinya berlari sekuat tenaga. Benar saja, mobil yang ditujunya memang tidak dikunci. Bahkan pemiliknya menyimpan kunci mobil di dalam laci dashboard. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepada Shuwan.


"Aaarkkh!!!" Xiao reflek mengerang, amarahnya pun semakin memuncak. Linggis yang sedari tadi ada di genggamannya segera dipukulkan ke kepala Mei. Gadis yang dipukulnya seketika oleng dan tak sadarkan diri.


Sekarang Shuwan telah siap menjalankan mobil. Dia kebetulan menyaksikan Xiao menghantam kepala Mei dengan kasar. Urat-urat leher Shuwan menegang akibat pitamnya yang semakin melonjak. Kakinya pun beraksi untuk menginjak pedal gas, lalu melajukan mobil tepat ke arah Xiao.


"Aaaaarghhh!!!" teriak Shuwan sambil terus menjalankan aksinya.


Xiao yang melihat mobil melaju ke arahnya segera berlari untuk menjauh. Untung saja mobil Shuwan hanya berhasil mengenai ujung kakinya. Xiao sekarang terjatuh ke tanah. Sedangkan mobil Shuwan terus semakin menjauh dari pandangannya.


"Devgan! kenapa kau tidak menyerang devilnya!" Xiao mengerutkan dahi kesal.


"Meskipun aku menyerang devilnya, tidak akan ada yang terjadi kepada Shuwan. Dia akan tetap lari darimu!" sahut Devgan.


"Keparat!" Xiao semakin kesal. Dia juga berusaha menahan kakinya yang sakit. Mobil Shuwan tampak semakin menjauh dari pandangannya. Sekarang dia hanya mengharapkan keberhasilan dari semua anak buahnya.


...-----...


[Epilog Spesial Bab 97]


Nuan memiliki hubungan khusus dengan Anming. Hanya saja keduanya merahasiakan hubungannya. Shuwan bahkan mengetahuinya karena ketidaksengajaan.


Ketika Anming menghilang, Shuwan tidak lupa menyusun plan B. Dia memilih Nuan untuk menjalankannya. Apalagi Shuwan juga kala itu hendak pergi ke Jepang untuk mencari ayahnya.


Setelah mendapat tugas, Nuan pun berusaha mengamati gerak-gerik Xiao, yang kebetulan sedang bersama Brian. Dia memperhatikan mobil Xiao yang perlahan berhenti. (Lihat Bab 57)


Hingga ada satu hal yang membuat Nuan terkejut. Dia menyaksikan keberadaan putrinya keluar dari mobil Xiao.


'Benar-benar kebetulan yang sangat pas!' batin Nuan seraya tersenyum senang. Dia pun berubah haluan untuk mengikuti Chan.


Awalnya Nuan bermaksud menculik Chan, tetapi karena kehadiran Al, dia harus mengulur waktu. Ia bahkan meletakkan penyadap suara secara diam-diam ke rumah yang ditinggali Chan dan Al.


Nuan dapat mendengarkan semua pembicaraan Chan. Dia semakin yakin putrinya memiliki hubungan spesial dengan Xiao.


Karena terlalu lama mengulur waktu, Nuan akhirnya harus mendapat kabar buruk. Dia sangat dibuat kaget dengan jatuhnya Klan Tao. Pada akhirnya, Nuan pun lebih memilih bersembunyi dibalik selimut.


Nuan berpura-pura baik kepada Chan agar bisa di ijinkan masuk ke dalam markas Klan Wong. Dia berharap bisa menemukan orang-orang Tao yang tersisa. Benar saja, wanita tersebut berhasil mengetahui keberadaan Shuwan dan Mei. Namun sayang, hingga akhir hayatnya Nuan masih belum mengetahui nasib Anming yang sebenarnya.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2