
Tragedi melanda, yang bisa dilakukan sekarang adalah bertahan.
***
Di markas Klan Wong, Yenn mengumpulkan semua bawahannya. Sebab Zao dan Feng berhasil menemukan Shuwan. Katanya, mereka akan segera membawa Shuwan kembali ke markas.
Langit tampak begitu mendung. Gerimis mulai membasahi tanah. Waktu bahkan sudah menunjukkan jam 12.30 siang. Yenn teringat kalau anaknya sebentar lagi akan pulang. Dia lantas memerintahkan Fa untuk menjemput putra semata wayangnya itu.
Fa bergegas masuk ke dalam mobil. Saat ia menyalakan mesin, Brian dan Al tiba-tiba ikut masuk ke dalam mobilnya. Brian memposisikan diri duduk di samping Fa, sedangkan Al memilih berada di belakang.
"Hei! apa yang kalian lakukan?" tanya Fa dengan dahi yang berkerut kesal.
"Kami ingin menjemput Chan!" sahut Al tak peduli dengan kemarahan yang ditunjukkan Fa melalui raut wajahnya.
"Aku bisa melakukannya sendiri!" balas Fa.
"Tapi kau kan menjemput Xiao, berbeda dengan kami. Jadi adil kan?" timpal Brian, memberikan alasan yang tidak masuk akal.
"Benar!" Al mengamini pendapat Brian.
"Cepat berangkat Fa! biar Xiao bisa datang tepat waktu!" Yenn tiba-tiba memekik dari kejauhan.
"Tuh! sudah didesak sama bosmu. Ayo!" ucap Brian, yang pada akhirnya mengharuskan Fa menjalankan mobilnya. Wanita pemarah tersebut hanya bisa mendecakkan lidah kesal.
***
Chan membopong Xiao sekuat tenaga. Ia berlari melalui pagar belakang sekolah. Untung saja kunci pintunya hanya berupa pengait, jadi Chan tidak kesulitan untuk melakukan pelariannya.
Suara sirine mobil polisi dan ambulan terdengar bersahut-sahutan dari berbagai arah. Bahkan cahaya kerlap-kerlip dari lampu sirine tersebut juga sesekali terlihat oleh Chan dari kejauhan.
Keringat menetes di kedua pelipis Chan. Sebenarnya dirinya juga sangat ketakutan dengan apa yang telah terjadi. Tubuhnya gemetaran, tetapi ia mencoba tegar agar bisa mempertahankan keadaan Xiao. Gadis itu membawa Xiao masuk ke dalam gang yang kebetulan terhubung dengan belakang sekolah. Xiao sendiri tampak lemah, namun ia masih mampu menjalankan kakinya.
Jujur saja sangat sulit menghindari perhatian dari semua orang yang kebetulan lewat. Mata mereka tentu tertuju kepada Xiao dan Chan. Bagaimana tidak? seragam putih Xiao sudah sepenuhnya dibasahi dengan darah. Chan yang sedari tadi membopongnya juga tidak bisa lepas dari noda merah berbau amis tersebut.
__ADS_1
"Aaaarkkhh!!" seorang anak berkepala pelontos berteriak histeris tatkala menyaksikan Xiao dan Chan. Dia segera berlari menjauh.
Gerimis mendadak berubah menjadi hujan yang deras. Membasahi setiap jengkal tubuh Xiao dan Chan yang masih berjalan menyusuri jalanan.
Xiao terlihat masih terdiam dengan mimik wajah yang meringis kesakitan. Tangannya memegangi luka yang ada dilengannya.
"Xiao? kau tidak apa-apa?" Chan menatap Xiao dengan perasaan khawatir. Bunyi tetesan hujan membuat suara Chan agak samar di telinga Xiao.
"Aku rasa kita harus berteduh sebentar!" imbuh Chan sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar. Hingga atensinya tertuju pada kedai kecil yang tidak begitu jauh. Terlihat asap yang keluar dari kedai itu. Chan pun berjalan ke sana dengan masih dalam keadaan membopong Xiao.
Ketika Xiao dan Chan sudah tiba di kedai, mereka langsung melebarkan mata, karena ada banyak orang di sana. Keduanya seketika menjadi pusat perhatian.
Meskipun darah yang ada di baju Xiao sedikit luntur karena air hujan. Tetapi noda merah tersebut tidak sepenuhnya hilang, sebab ada beberapa bagian yang sudah beku. Sedangkan salah satu tangan Chan terlihat masih setia menggenggam belati Glorix. Tentu menyebabkan orang-orang yang melihatnya berkesimpulan buruk.
"Hei anak muda! kalian habis melakukan apa?" tanya wanita pemilik kedai ketus.
"Ibu, ibu! itu dua orang mengerikan yang aku bilang tadi!" anak sang pemilik kedai memberitahu sambil menunjuk ke arah Xiao dan Chan. Ternyata anak itu adalah yang tadi sempat berteriak ketakutan.
"Benarkah?" wanita pemilik kedai menilik ke arah Xiao dan Chan.
"Lari Chan, kita pergi dari sini. . ." suruh Xiao dengan nada pelan. Tanpa pikir panjang Chan pun menuruti perintah Xiao. Mereka kembali berjalan di bawah hujan yang deras.
"Aku yakin siswa yang tadi adalah pembunuh yang kabur. Lihat! polisi sedang mencarinya!" pelanggan dari kedai kembali berucap seraya menunjukkan sebuah artikel. Dalam berita tersebut terdapat foto Xiao terpampang jelas bahwa dia sudah menjadi buronan.
"Tunggu apalagi, cepat hubungi polisi, kalau mereka sedang berada di sekitar sini!" respon pelanggan lainnya.
"Benar, ini demi keselamatan kita semua."
"Mereka sudah pergi!" anak sang pemilik kedai menyahut sembari memperhatikan Xiao dan Chan yang terus berlari menjauh.
"Mereka ke arah mana?"
"Ke arah kanan!"
__ADS_1
"Oke, aku sudah memberitahu polisi!" pelanggan kedai tersebut memastikan.
Sementara itu, Xiao dan Chan kembali dirundung perasaan terdesak. Mereka cukup lama berlari. Hingga dari kejauhan terlihat mobil polisi yang semakin mendekat. Jujur saja, nafas Chan sudah tersengal-sengal akibat kelelahan. Apalagi dari belakang terdapat beberapa orang yang berjalan ke arah mereka. Chan menduga orang-orang tersebut adalah para pelanggan yang ditemuinya di kedai tadi.
Chan mencoba membuka toko yang kebetulan ada di sampingnya. Nihil, usahanya sia-sia karena tokonya sedang terkunci.
"Sial! kita terjebak!" geram Chan.
Lama-kelamaan mobil polisi sudah sangat dekat.
Deg!
Jantung Chan berdetak hebat. Bahkan ketika dia menengok ke belakang, orang-orang yang tadinya jauh, sedikit lagi berada di depan mata. Chan merasa semakin panik, hingga dia tidak mampu berpikir jernih dan kebingungan.
"Chan!" Xiao memegangi lengan Chan.
"Xiao, maaf. Sepertinya kita akan tertangkap! hiks!" Chan menangis sambil menangkup wajah Xiao.
"Tidak!" Xiao membantah tegas. "Kita masih bisa bersembunyi!" sambungnya. Chan sontak terdiam dan berpikir, dia sekarang mengerti maksud Xiao. Satu-satunya tempat persembunyian paling aman baginya adalah dengan cara berpindah ke dimensi lain.
"Kau benar. . ." respon Chan sambil menenggak saliva-nya sekali.
"Angkat tangan kalian, dan lepaskan senjata yang ada di tanganmu!" polisi sudah keluar dari mobilnya. Mereka sudah menodongkan pistol.
Chan memejamkan matanya sejenak agar dapat berkonsentrasi. "Sekarang kau bisa fokus menatap mataku!" titahnya yang sudah membuka mata. Xiao lantas menuruti perintahnya. Matanya terpaku tertuju pada iris mata Chan. Untuk yang kedua kalinya, Xiao bisa melihat kilatan putih seperti debu halus yang bersinar di manik hitam milik kekasihnya.
"Aku bilang jatuhkan senjatamu!" polisi memekik lantang. Namun betapa terkejutnya mereka tatkala keberadaan Xiao dan Chan menghilang dalam sekejap. Mereka hanya bisa celingak-celingukan ke segala arah untuk mencari dua sejoli itu.
***
Yenn sedang berada di ruangannya sambil memegangi sebuah gelas yang berisi bir. Dia duduk dengan santai sambil mendengarkan musik klasik kesukaannya. Namun tiba-tiba indera pendengarannya menangkap suara keributan dari luar.
Yenn reflek bangkit dari tempat duduknya. Dia segera berjalan keluar dari ruangan. Sebelum itu, ia mengambil pistol magnumnya untuk berjaga-jaga. Ketika Yenn sudah berada di luar, dia dikejutkan dengan sosok yang tidak asing.
__ADS_1
Dengan topeng merah khasnya, jelas sosok tersebut adalah Spiderblood. Dia segera melayangkan katana-nya ke arah Yenn. Mata ibu kandung dari Xiao itu sontak terbelalak.
*to be continued...