
Udara terkadang bisa terasa hangat dengan sebuah suasana.
***
Xiao merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana bisa senjata gaib itu ada di dimensi lain. Yang dia tahu benda tersebut dibawa oleh seseorang berkumis tebal dari toko barang bekas.
"Bagaimana kau bisa tahu dan sangat yakin?" tanya Xiao memastikan.
"Aku memiliki bakat bisa melihat sesuatu yang jauh. Termasuk masa depan, dan sekarang apa yang kulihat telah benar-benar terjadi!"
"Pembantaian yang dilakukan Spiderblood sekarang maksudmu?" tebak Chan, yang langsung dijawab oleh James dengan anggukan kepala.
"Yang harus kita lakukan adalah bersembunyi ke tempat aman terlebih dahulu," ujar James.
"Apa kau tahu dimana?" tanya Chan.
"Iya, kalian harus ikut denganku," James mencoba meyakinkan.
"Terserah, aku hanya ingin semua kegilaan ini berakhir!" tukas Xiao, lalu beranjak pergi menjauhi James.
"Dia memang begitu, aku minta maaf dengan sikapnya," tutur Chan yang merasa tidak enak dengan James.
"Tidak apa-apa. Aku paham..." James tersenyum tipis.
Pembicaraan mereka berakhir, ketika Fa memanggil semua orang untuk segera naik ke pesawat. Dia sepenuhnya telah memeriksa keadaan pesawat yang akan dinaikinya.
Satu per satu semua orang naik ke dalam pesawat. Mereka tentu duduk berkumpul di kelas bisnis yang jelas lebih nyaman dibanding kelas ekonomi.
"Xiao, kemana tujuan kita?" tanya Fa seraya menatap serius ke arah Xiao.
"Tanyalah lelaki tua yang duduk itu, dia bilang tahu tempat yang aman!" sahut Xiao sambil menunjukkan tangan pada James.
"Dia?" Fa mengernyitkan kening heran. "Kenapa? dia orang asing Xiao. Jangan terlalu cepat mempercayainya. Aku sebenarnya tidak terima mereka ikut dengan kita!" sambungnya kesal.
"Ada sesuatu yang tidak kau mengerti Fa. Aku akan menjelaskannya nanti, sebab sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara panjang lebar!"
Fa memutar bola mata jengah. Dia terpaksa menuruti perintah Xiao. Yaitu langsung bertanya kepada James. Dia menanyakan tempat yang akan menjadi tujuan mereka.
__ADS_1
James mengatakan kalau mereka harus pergi ke sebuah pulau rahasia. Yang mana keberadaan tempat itu berada tidak jauh dari negara Denmark. Tempatnya sendiri lumayan jauh, dan memakan waktu berjam-jam lamanya.
Fa sudah duduk di area kokpit pesawat sebagai pilot. Sedangkan orang yang bertugas menjadi Co-pilot adalah Brian. Padahal lelaki itu sama sekali tidak memiliki pengalaman mengemudikan pesawat. Dia hanya mendapatkan pengetahuan banyak dari Fa, yang sudah sedikit mengajarinya beberapa menit lalu.
Fa mulai menjalankan pesawat ke dalam lintasan. Dia menghembuskan nafas dari mulut akibat merasa gugup. Sebab sudah agak lama dirinya tidak mengendalikan pesawat. Mungkin terakhir kali ia melakukannya sekitar dua tahun yang lalu. Untung saja, dia masih tidak lupa fungsi puluhan tombol yang ada di kokpit pesawat.
"Kau bisa melakukannya Fa, kami semua mengandalkanmu!" Brian memberikan semangat. Dia berusaha menciptakan aura positif untuk Fa yang sedang dirundung perasaan gugup.
Brian yang tadinya fokus melihat ke depan, mendadak mengalihkan atensinya pada jendela yang ada di samping kanannya. Matanya langsung membola saat menyaksikan puluhan mobil sedang melaju ke arah pesawat.
Tidak hanya Brian yang menyadari pasal puluhan mobil itu, tetapi juga semua orang di dalam pesawat. Bahkan termasuk Fa sendiri, perasaannya semakin bertambah ciut.
"Apa mereka Spiderblood dan bawahannya?" tanya Chan seraya menatap Xiao dengan ekor matanya.
"Iya, tepat sekali! aku bisa melihat devilnya yang sangat besar!" sahut Xiao yakin. "Berusahalah untuk tidak menatap ke arah devil Spiderblood, aku tidak ingin kau dipengaruhi!" sambungnya yang sekarang bicara kepada Devgan.
"Faaa! cepat terbangkan pesawatnya!!" pekik Xiao mencoba mendesak Fa.
"Aku sedang berusaha!!" balas Fa sambil menggertakkan giginya.
"Lakukan dengan tenang Fa, aku yakin mereka tidak akan sempat mendatangi kita!" ucap Brian, yang langsung direspon oleh Fa dengan anggukan kepala.
Satu per satu mobil mulai berdatangan untuk mengiringi pesawat yang sedang dinaiki Xiao. Spiderblood berada di mobil paling depan. Dia terlihat menampakkan diri dengan cara keluar dari jendela mobil. Sebelah tangannya memegangi pistol. Spiderblood mengarahkan pistol ke arah pesawat, meskipun mobil yang dikendarainya terus berjalan.
Fa mulai melajukan jalan pesawat. Membuat beberapa mobil yang mengejarnya menjadi semakin tertinggal. Sekarang puluhan mobil itu tidak punya pilihan lain selain terus menembakkan peluru ke arah pesawat.
"Sial!" geram Xiao, dia segera mengambil senapan dari tas besar bawaan Fa. Di sana ia mengambil senapan berupa shotgun. Yang mana kekuatan tembak senjata tersebut sangatlah kuat dan cepat.
"Xiao, kau mau apa? kita sedang lepas landas, bahaya jika kau nekat membuka jendela!" Al mencoba mengingatkan. Namun Xiao sama sekali tidak hirau. Dia masih tetap pada pendiriannya, yaitu segera membuka salah satu jendela pesawat.
Sekarang Xiao sudah membuka jendela. Angin kencang dari laju pesawat menerpa rambut tebalnya. Dia memaksakkan diri untuk memposisikan senapannya ke arah mobil Spiderblood. Bahkan dirinya harus menerima serangan peluru bertubi-tubi. Tetapi untung saja lelaki itu sangat lihai menghindarinya.
Setelah menemukan waktu yang tepat untuk menyerang, Xiao pun menarik pelatuk senapannya. Peluru kuat dan cepat langsung menghantam ban mobil Spiderblood.
Buk! Syuuut!
Mobil Spiderblood seketika oleng dan kehilangan kendali, dikarenakan meletusnya salah satu ban depan. Mobil tersebut berputar dan terhenti. Membuat beberapa mobil yang ada di belakangnya menabrak tanpa sengaja. Keadaan itu persis seperti kecelakaan beruntun yang lumayan besar.
__ADS_1
Menyaksikan dirinya sudah tidak dikejar lagi, Xiao segera menutup jendela kembali. Saat itulah Fa mengangkat pesawat ke udara. Dan perlahan menukikkannya ke atas langit, menembus gumpalan awan berwarna putih.
Semua orang sekarang merasa lega, karena sudah berhasil menghindari Spiderblood dan bawahannya.
Dari kejauhan, James tersenyum melihat aksi yang baru saja dilakukan Xiao. Dia tiba-tiba merasa yakin, kalau Xiao memang orang yang tepat menerima bakat istimewa dari Jonas.
Xiao melingus melewati James. Dia berniat kembali duduk. Namun kali ini, Xiao memilih duduk di samping Chan.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Chan. Dia sebenarnya merasa senang Xiao memilih tempat duduk di dekatnya.
"Aku ingin bicara denganmu," balas Xiao menatap serius.
"Apa?"
"Menurutmu, seberapa lama manusia bisa bertahan di dimensi lain?"
"Oh itu, entahlah. Pokoknya tidak bisa terlalu lama. Kemarin saja, tubuhku sangat lemah karena terlalu lama terjebak di sana!" ungkap Chan khawatir.
"Kalau begitu jika senjata Jonas ada di sana, bagaimana kita mencarinya?"
"Aku yakin dia punya cara. Mungkin itulah alasan dia membawa kita bersamanya!" balas Chan. Namun Xiao hanya membisu dan memejamkan mata. Kepalanya menyandar ke sandaran kursi pesawat.
"Aku sangat lelah dengan semuanya..." keluh Xiao. Sebelah tangannya memegangi area jidatnya sendiri.
"Kau pikir aku tidak lelah!" tukas Chan yang ikut-ikutan menyandarkan diri ke kursi. Kepalanya menoleh ke arah Xiao.
"Karena itulah aku menyarankanmu pergi!" Xiao membuka mata dan membalas tatapan Chan.
"Aku tidak bisa melakukannya, tidak akan pernah bi--"
"Aku tahu!" Xiao sengaja memotong kalimat Chan. Sebelah tangannya memegangi pipi gadis tersebut. Wajahnya mendekat pelan untuk menegaskan perkataannya.
"Berjanjilah, kau tidak akan pernah menyuruhku pergi lagi!" Chan menatap tegas pada manik hitam milik Xiao.
"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjanjikan--" ucapan Xiao terjeda, kala Chan menarik kerah bajunya dan memberikan sebuah ciuman singkat.
"Jangan beralasan, yang penting sekarang kita masih bersama!" kata Chan sembari menatap lekat.
__ADS_1
Xiao yang menerima tatapan penuh arti dari Chan, langsung terpaku. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung menyentuh bibir Chan dengan mulutnya. Dia menginginkan sentuhan lebih lama dibanding yang dilakukan oleh Chan tadi.