Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 69 - Lupa


__ADS_3

Manusia kadang lupa, dan itu hal yang normal.


***


"Shuwan, aku ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu, sebelum aku benar-benar membantumu!" Xiao menatap tajam.


"Katakan saja." Shuwan menjawab datar.


"Bantuanku tidak gratis, jika kau menginginkannya kau harus mau melakukan apa yang aku mau!" terang Xiao, yang sontak membuat Shuwan membulatkan mata.


Shuwan membisu, karena lagi-lagi dia meragu dengan pilihannya.


"1, 2, 3, 4, tik-tok, tik-tok. . . waktu hampir habis, ayo jawab se--"


"Baiklah! aku akan turuti apa maumu!" Shuwan lekas-lekas menjawab, sebelum Xiao sempat menyelesaikan kalimatnya. Pilihannya itu sontak membuat Xiao tersenyum puas.


Brian yang sedari tadi terduduk di tanah, akhirnya tersadar kalau lelaki aneh yang sedang bertelanjang dada di depannya ternyata Shuwan. "Kau, bukankah. . ." pupil matanya membesar.


"Oke, ayo kita cari baju untukmu!" Xiao segera melangkahkan kakinya lebih dahulu, tanpa menghiraukan Brian sama sekali. Dengan wajah kesal, akhirnya Brian pun berdiri dan terpaksa berderap mengikuti Xiao dan Shuwan.


Ketiganya telah sampai di sebuah toko baju. Selagi menunggu Shuwan memakai pakaiannya, Xiao memanfaatkan kesempatan itu untuk menghubungi Yenn.


"Halo Xiao? bagaimana? apa kau berhasil menemukan ayahmu?" Yenn menjawab panggilan telepon Xiao dengan pertanyaan menumpuk.


"Iya, aku menemukannya. Tetapi. . ." Xiao baru teringat, kalau dia tidak membawa tas yang berisi kepala ayahnya dan Anming. Matanya sontak terbelalak, ia juga tak lupa menatap ke arah Brian yang juga kebetulan sedang menelepon.


"Tapi apa Xiao?!" Yenn menuntut jawaban dari seberang telepon.


"Pokoknya aku ingin memberitahu, kalau sekarang kita bisa dengan mudah membekuk orang-orang Tao. Aku harap Ibu segera melakukan serangan ke markas mereka, karena Anming dan Shuwan sudah tidak ada!" Xiao menjelaskan.


"Benarkah, bagaimana kau--"


"Ya sudah, aku harus mengurus sesuatu!" Xiao memotong kalimat sang ibu karena merasa terdesak. Dia langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak.


Di jarak yang tidak begitu jauh, Brian juga sedang bergumul dengan teleponnya. Dia mencoba menghubungi Al, namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Sudah lebih sepuluh kali dia mencoba memanggil, tetapi hasilnya tetaplah nihil.


"Al, kenapa kau tidak menjawab teleponnya!" gumam Brian dengan dahi yang berkerut.


"Brian!" Xiao tiba-tiba datang menghampiri.


"Kenapa?" Brian mengangkat dagunya sekali.

__ADS_1


"Kau tidak membawa tas itu?" Xiao bertanya dengan wajah serius.


"Tidak! aku pikir kau--"


"Sial!!!" Xiao segera berlari menuju lokasi kecelakaan. Dia berniat ingin mengambil dua tas yang tertinggal di taksi Hiroto.


"Xiao! kau!" panggil Brian kepada Xiao yang sudah berlari jauh darinya. Dia pun hanya bisa menghela nafas panjang karena ditinggalkan bersama Shuwan.


Area kecelakaan masih dikerumuni orang banyak. Para polisi tampak sibuk dengan dua mobil yang bertubrukan. Kebetulan ada salah satu korban kecelakaan yang masih terjebak kala itu. Xiao memakai kesempatan tersebut untuk berjalan mendekati taksi milik Hiroto yang sudah hancur akibat tertimpa tiang.


Tanpa ba bi bu, Xiao membuka pintu mobil sekuat tenaga. Dia berusaha sebisa mungkin agar tidak menimbulkan keributan.


"Hei! apa yang kau lakukan!" teguran seorang lelaki menyebabkan Xiao harus menghentikan aktifitasnya. Dia segera menoleh ke arah lelaki yang tadi menegurnya. Ternyata lelaki itu adalah seorang polisi bernama Takeshi Nakamura. Namanya terpampang jelas di saku bajunya.


"Maaf Pak, saya berusaha mengambil barang yang ketinggalan di mobil ini," jawab Xiao ramah.


"Kau tidak bisa! untuk sementara area ini hanya bisa di akses oleh pihak berwajib!" tegas Takeshi sembari mengerutkan dahi.


"Devgan, apa kau bisa melakukan sesuatu?" Xiao berbisik kepada devilnya.


"Karena kau baru saja memberiku energi, aku bisa melakukan sesuatu yang luar biasa!" sahut Devgan yakin, kemudian segera beranjak pergi ke arah kerumunan.


'Apa yang sedang direncanakan Devgan?' Xiao bertanya-tanya dalam hati.


"Ayo cepat pergi dari sini anak muda!" Takeshi mendesak Xiao.


Ketika Xiao hendak menggerakkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah kerumunan. Sekarang kumpulan manusia tersebut menjadi kacau akibat diserang rasa panik. Dikarenakan ada seorang lelaki yang mendadak menghujamkan pisaunya kepada salah satu wanita. Semua polisi lantas segera berlari untuk menghentikan keributan itu. Termasuk Takeshi, dia reflek melangkahkan kakinya untuk berlari.


Tanpa pikir panjang Xiao langsung mengambil kedua tas yang sedari tadi ingin di ambilnya. Devgan kembali menghampiri Xiao dengan seringai yang terukir diwajahnya. Sekarang keduanya beranjak pergi jauh-jauh dari tempat kejadian.


"Kerja bagus Devgan!" puji Xiao pada devilnya sembari berderap dalam tempo cepat. "Memangnya, apa yang kau lakukan pada lelaki yang memiliki devil itu?" lanjutnya yang sekarang bertanya.


"Aku cuman sedikit membagikan energi kepada devilnya, agar lelaki tersebut tidak merasa takut dan lebih berani." Devgan menjelaskan.


"Kau bisa melakukan itu?"


"Iya, semua devil bisa melakukannya. Asalkan sedang mempunyai energi yang banyak!" terang Devgan yang lagi-lagi terus menyentuh bagian lehernya.


"Lehermu itu kenapa sih? apa kau sakit? apa makhluk devil sepertimu bisa terserang sakit?" tanya Xiao. Dia merasa terganggu dengan gelagat aneh Devgan.


"Sudah kubilang, ini terjadi sejak aku melahap Viera!"

__ADS_1


Xiao menghentikan langkahnya dan menatap Devgan serius. "Kau melahapnya?!" tanya-nya sambil terperangah.


"Aku sangat kesal kepadanya!" Devgan memberi alasan.


"Mungkinkah dia be-regenerasi di badanmu?" Xiao mengungkapkan pendapatnya, dan langsung mendapat bantahan dari Devgan.


"Tidak! itu tidak akan terjadi!" tegas Devgan.


"Apakah itu bisa terjadi?" Xiao masih menatap serius devilnya.


"Sudah kubilang itu tidak akan pernah terjadi!"


"Aku cuman bertanya, apakah itu bisa terjadi? hah!" Xiao bersikeras menuntut jawaban. Suaranya lumayan lantang, hingga menyebabkan orang-orang disekitarnya menatap dirinya aneh. Namun Xiao sama sekali tak peduli.


"Aku tidak tahu!" Devgan menegaskan.


Xiao mengangguk-anggukkan kepalanya saja, seolah tak ingin peduli lagi dengan jawaban Devgan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pun kembali melanjutkan jalannya.


***


Al dan Chan sedang berjalan berbarengan di jalanan trotoar. Seperti rencananya, mereka akan mencari rumah sewaan dan juga sekolah untuk Chan.


"Apa kau tidak tertarik lagi pergi ke perkumpulan rahasia?" celetuk Al, memecah keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Chan.


"Tertarik, cuman karena kalian sudah memberitahu betapa sulitnya mencari tempat itu, aku jadi berpikir lagi," jawab Chan seraya mendengus kasar.


"Sudah kubilang, orang seperti Xiao-lah yang bisa membawa kita ke sana. Tetapi kita harus membujuknya terlebih dahulu untuk menemukan senjatanya!" tutur Al.


"Terserah apa maumu, yang jelas aku tidak ingin lagi berurusan dengan Xiao!" Chan menundukkan kepala dan kembali meneruskan, "ngomong-ngomong ada sesuatu yang membuatku penasaran!"


"Apa?" Al penasaran.


"Jonas kan dahulu juga seperti Xiao, bahkan senjatanya juga sudah berada ditangannya. Tetapi kenapa dia tidak ditemui oleh orang-orang dari perkumpulan rahasia itu?" Chan bertanya panjang lebar.


Al membisu, karena dia juga sama sekali tidak mengetahui alasannya. 'Chan benar! kenapa aku tidak memikirkannya!' batinnya.


"Memangnya dari mana kau mengetahui info mengenai perkumpulan rahasia itu?" Chan kembali bertanya.


"Dari mimpi, dan anehnya. . ."


"Mimpi itu terasa sangat nyata!" Chan menyambung kalimat Al. Hingga keduanya saling bertatapan dengan keadaan mata yang membola.

__ADS_1


__ADS_2