
Pertolongan kadang bisa berasal dari siapa saja.
***
Sidra langsung melesat menuju Xiao berada dan menyerangnya. Xiao dan Chan sontak terjatuh bersamaan. Tubuh keduanya merasa semakin melemah tatkala Sidra menyerap energi mereka.
Penglihatan Xiao menjadi kabur. Dia tidak bisa kembali bangkit meski memaksakan diri. Hingga penglihatannya pun menjadi kabur dan menggelap. Alhasil Sidra membawa Xiao dan Chan ke suatu tempat, kemudian mengurungnya.
Tidak lama kemudian, Xiao mulai tersadar. Pandangannya langsung disambut dengan wajah pucat Chan yang berjarak sangat dekat. "Chan. . ." lirihnya dengan suara yang parau.
Chan membuka matanya secara perlahan. Dia hanya menatap Xiao, masih dalam keadaan dengan tubuh yang gemetaran. Sepertinya gadis itu masih tidak mampu berbicara banyak.
Xiao memeluk erat Chan. Dia berharap bisa memberikan kehangatan. Xiao mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia mencoba mengamati tempat dimana dirinya berada sekarang.
Tempat tersebut tampak sangat lembab, air bahkan terus menetes di area temboknya. Xiao yang masih merasa lemah, akhirnya tertidur. Entah sudah berapa lama keduanya terjebak. Yang jelas mereka masih belum mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan diri.
Xiao tiba-tiba membelalakkan mata, dia merasakan energi yang muncul di badannya. Lelaki itu pun berusaha bangkit untuk berdiri.
"Hai Xiao!" suara serak lelaki membuat Xiao terperanjat. Dia pun lantas berbalik untuk melihat makhluk apa yang memanggilnya.
Xiao membulatkan mata seketika, saat menyaksikan makhluk tinggi dan bertanduk besar berdiri dan berada sangat dekat dengannya. "Siapa kau?" tanya Xiao, tetap dalam posisinya dan berusaha melindungi Chan yang masih terbaring lemah.
"Aku. . . devilmu, akulah yang memberimu energi!" ujar makhluk bertanduk besar tersebut.
"Devilku?" Xiao merasa tidak percaya. Dia mencoba mengingat berapa banyak orang yang telah dibunuhnya. Benar saja, setidaknya Xiao sudah membunuh sekitar tiga orang.
Ilustrasi Devil di samping Xiao :
Devil mendekatkan wajahnya untuk menatap Xiao. Perlahan makhluk tersebut terseyum, dan menampakkan gigi-gigi yang tersusun rapi, namun sangat mengerikan. Xiao merasa tidak ciut sedikit pun, toh dia tahu devilnya tidak akan berarti apa-apa tanpa dirinya.
"Karena ada kau di sini, bantulah kami keluar dari tempat ini!" ujar Xiao yang tengah saling bertukar pandang dengan devilnya sendiri.
"Baiklah!" sahut sang devil, lalu mengangkat tubuh Xiao.
"Eh tunggu! bawa gadis itu juga!" titah Xiao, yang sontak membuat devilnya menatap bingung.
"Aku hanya akan menyelamatkanmu, untuk apa aku menyelamatkannya?" balas si devil santai.
__ADS_1
"Dia temanku!" tegas Xiao.
"Oh begitu, ya sudah. Aku bersedia menyelamatkannya, tetapi kau harus berjanji akan memberiku energi lebih banyak!"
"Bagaimana?" Xiao mengerutkan dahi.
"Tentu saja dengan membunuh!" devil kembali tersenyum lebar. "Apa kau berkenan?" lanjutnya.
"Itu mudah!" sahut Xiao.
Selanjutnya devil Xiao pun segera mengangkat Chan ikut bersamanya. Makhluk tersebut menggunakan tangannya yang tampak seperti akar pohon, tetapi sangatlah kuat.
"Hei, lembut dikit dong kalau sedang membawa perempuan!" kritik Xiao yang melihat kepala Chan tertelungkup akibat dibawa dengan asal-asalan. Namun devil tak hirau, dia tetap fokus melangkah dengan jalan yang gontai. Hingga tibalah ketiganya ke tempat awal Xiao tiba. Bisa dilihat air yang mengembang di atas kepala bak sebuah langit.
Sidra yang menyadari tawanannya lepas, sontak bergegas menghampiri. Devil pun dengan cekatan melempar tubuh Xiao dan Chan ke air. Kemudian langsung menyerang Sidra dengan keganasannya.
Xiao langsung sigap menangkap Chan, lalu mencoba berenang menuju permukaan. Dia menoleh sejenak ke arah devilnya berada. Dirinya hanya bisa membelalakkan mata ketika melihat devilnya menjadi sangat mengerikan.
"Huaaah!" Xiao keluar dari air, tangannya berusaha memegangi Chan sangat erat.
"Xiao!" pekik Viera, dia langsung membantu Xiao. "Maafkan aku!" tambahnya sembari memeluk Chan.
"Kau tidak perlu memaksakan diri Vier!" balas Xiao yang tengah berusaha mengatur nafasnya.
Byuuurr!
Devil keluar dari air, dan langsung melompat ke dekat Xiao. Viera yang menyaksikannya sontak membulatkan mata.
"Xiao, dia?" Viera merasa tidak percaya.
"Dia Devgan!" sahut Xiao.
"Devgan?" devil Xiao menatap penuh tanya. Hal yang sama juga sedang dilakukan Viera.
"Aku menamaimu Devgan!" jelas Xiao singkat seraya memandang ke arah devilnya. "Sidra tidak akan mengejar kita lagi kan?" lanjutnya.
"Tentu tidak, dia hanya hantu tanpa tuan yang tak berguna!" ujar Devgan sinis.
"Devgan kenalkan dia Viera, dia juga dahulunya devil sepertimu!" imbuh Xiao santai.
__ADS_1
"Hmmm. . . makhluk lemah!" sinis Devgan, namun sama sekali tak di gubris oleh Viera.
"Kita tidak punya waktu untuk basa-basi, ayo cari jalan keluar dari sini dahulu!" ungkap Viera, yang sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Kau benar! ayo!" balas Xiao sambil memasang ranselnya kembali. "Devgan, kau bawakan Chan ya!" sambungnya, yang segera dilaksanakan oleh Devgan dengan sigap.
"Apa jembatannya jauh ya?" Xiao celingak-celingukan untuk mencari jembatan yang sebelumnya pernah menjadi jalan keluarnya.
"Benda yang bisa menjadi jalan keluar tidak hanya satu, Xiao!" ucap Viera yang juga tengah mengedarkan pandangannya kemana-mana.
"Kalau begitu, bagus dong!" Xiao mulai bersemangat.
Setelah lumayan lama mencari, Xiao pun melihat sebuah kursi panjang yang warnanya tampak bersinar, dan paling berbeda di antara benda yang lain. Tanpa berpikir lama, dirinya pun segera berlari dan duduk ke kursi itu. Di susul oleh Chan, yang dilemparkan paksa oleh Devgan tepat ke pangkuan Xiao.
Bruk!
"Devgan!!!" pekik Xiao dengan dahi yang mengernyit, namun Devgan malah tertawa senang. Selanjutnya, dalam sekejap Xiao dan Chan kembali ke dunia nyata.
"Akhirnya!" gumam Xiao yang merasa lega bisa melihat dunianya lagi. Tetapi dia langsung diterpa kebingungan tatkala melihat tempat di sekitarnya sangatlah asing.
'Terserah dimana pun ini, yang paling penting aku harus membawa Chan ke rumah sakit!' batin Xiao, lalu menggendong Chan ke punggung. Lalu meletakkan ransel ke depan dada.
"Kita ada di kota Guanxi!" Viera baru muncul dari samping kanan. Xiao yang mendengar pernyataan tersebut, matanya sontak membola.
"Benarkah?" tanya Xiao tak percaya.
"Kalau kau tak percaya, tanyakan saja pada orang-orang di sini!" balas Viera yakin.
Xiao terus berjalan menyusuri jalanan sepi. Hingga dari jauh muncullah sebuah truk kecil yang mendekat. Lantas Xiao pun melambaikan tangan untuk meminta tumpangan.
Syut. . .
Truk itu berhenti dengan pelan. Tampak seorang lelaki tersenyum ramah kepaa Xiao. "Terima kasih!" ujar Xiao sembari membuka pintu, kemudian memasukkan Chan terlebih dahulu yang disusul oleh dirinya.
"Apa yang terjadi pada kalian? terus kenapa gadis ini pingsan?" tanya sopir truk yang memiliki kumis tebal di bawah hidungnya. Dia menatap ke arah Chan dengan raut wajah khawatir.
"Kami tersesat Pak dan tidak sengaja tercebur ke sungai," terang Xiao dengan segala kebohongannya. Entah kenapa Devgan kembali menampakkan senyumnya, lalu berkata, "Bunuh saja lelaki berkumis itu, dengan begitu kau akan leluasa mengendarai truk ini!"
Xiao yang mendengar sama sekali tak merespon, dia masih sibuk saling berbincang dengan sopir truk. "Nama kota ini Guanxi ya?" tanya-nya yang ingin memastikan.
__ADS_1
"Iya! memangnya kau tidak tau?" sang sopir truk mengerutkan dahi.
"Tentu tahu, aku hanya masih bingung!" balas Xiao seraya memegangi bagian kepala. 'Astaga, Viera benar! aku sekarang sudah berada di kota Guanxi!' lanjutnya dalam hati.