
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
Terkadang kita harus menerima kekalahan.
***
Zzzzt...
Channel Spiderblood dibuka dengan glitz. Wajahnya yang tertutupi topeng tampak memenuhi layar. Ia memiringkan kepalanya sembari tersenyum dari balik penutup wajahnya itu.
"Kalian tahu, aku sudah menangkap beberapa orang untuk mempraktekkan dunia neraka yang selama ini aku sebutkan. Butuh strategi yang matang untuk menangkap orang-orang terpilih ini." Spiderblood berucap di hadapan kamera. Di depannya juga terdapat laptop yang menyala, memperlihatkan tayangan channel miliknya.
Komentar di channel dark web Spiderblood :
•Mr. X66
[Wow, aku tidak sabar menunggumu beraksi.]
•lovelyblood
[Aku penggemar setiamu, kau tidak pernah mengecewakan!]
•Sanctuary07
[Hmm... jangan membuatku penasaran. Cepat buka topeng yang dikenakan orang-orang di belakangmu itu!]
•Zigxxx
[Ngomong-ngomong kenapa kau harus repot-repot menyusun strategi untuk menangkap mereka, bukankah kau sudah profesional menangkap orang biasa?]
Spiderblood menggeleng remeh kala membaca komentar dari Zigxxx. "Hai Zig, aku ingin memberitahukan kalau orang-orang di belakangku ini bukanlah orang biasa seperti sebelumnya!" ujarnya sambil berjalan menuju ke tawanan-tawanan bertopengnya. Dia memilih lelaki berbadan berisi untuk menjadi korban pertamanya.
Spiderblood perlahan membuka topeng tawanannya. Sekarang terpampanglah wajah asli di balik topeng tersebut. Ternyata ia adalah salah satu pejabat ternama di Jepang. Mata lelaki itu menyalang ke arah Spiderblood karena tak terima dirinya diperlakukan semena-mena. Namanya adalah Takeda Yamoto. Dia mendendam dengan Anming, karena urusan bisnis.
"Dasar keparat!!!" cibir Takeda dengan rahang yang bergetar akibat meluapnya amarah.
Spiderblood yang mendengar memundurkan badan seolah terkejut. Sepertinya dia tengah menunjukkan isyarat mengejek untuk Takeda.
"Harusnya aku yang berkata begitu, Tuan Takeda yang baik hati. Tetapi coba jawab pertanyaanku, apakah kau pernah berbohong dalam hidupmu?" tanya Spiderblood seraya memegangi dagunya sendiri. Namun Takeda tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab.
"Ngomong-ngomong apa yang kau katakan pada keluargamu sebelum ke sini. Apa kau mengatakan bahwa dirimu akan membunuh seorang mafia?. . . atau, 'Ayah ada pekerjaan bisnis hari ini, jadi akan pulang dalam beberapa hari kemudian.' begitukah?" ucap Spiderblood dengan segala gelagat anehnya.
__ADS_1
"Kau!!!" Takeda menggertakkan gigi, wajahnya semakin memerah. Urat-urat dilehernya terlihat mulai menegang.
"Aku yakin kau pasti berbohong Tuan Takeda. Jadi, aku akan memotong lidahmu." Spiderblood beranjak menuju meja, dan mengambil gunting tanaman.
"Jangan bercanda!!!" seorang wanita memekik lantang. Membuat Spiderblood menoleh ke arahnya. Atensinya tertuju kepada wanita tersebut.
"Tenang saja, aku tidak bercanda cantik. Atau aku harus panggil Jennifer Lee, artis yang katanya hanya memainkan pemeran pembantu. Hufh. . . kau pasti jengkel kan?" Spiderblood mendekati Jennifer, kemudian membuka topeng wanita itu.
"Cuih!" Jennifer melakukan serangan saliva tepat ke wajah Spiderblood. Lendir miliknya sontak menempel di topeng Spiderblood.
"Haaahhh! kau bikin ulah saja nona! bagaimana kalau aku hancurkan saja wajah palsumu itu!" Spiderblood tiba-tiba menyerang wajah Jennifer dengan gunting yang tadi ia ambil. Dia membidik wajah cantik milik wanita tersebut.
Srraakk!
"Aaaaarkkkhh!!!" Jennifer memekik keras ketika Spiderblood menguliti wajahnya. Tenaganya yang sangat kuat, menyebabkan dirinya mampu melakukan aksinya lebih cepat. Sekarang kulit wajah Jennifer berhasil terkoyak. Penampilan wajahnya tampak mengenaskan, wanita itu langsung pingsan karena tak mampu menahan sakit.
Tawanan lain yang melihat sontak ketakutan dan membuat keributan. Ada yang menangis, berteriak, memohon, bahkan mencoba melarikan diri. Masing-masing dari mereka berusaha beringsut mundur sebisa mungkin. Termasuk Takeda, nyalinya sekarang ciut ketika melihat kesadisan Spiderblood.
"Aku pernah membaca di sebuah kitab, kalau manusia yang melakukan operasi plastik akan mendapatkan hukuman seperti itu di neraka." Spiderblood menjelaskan di hadapan kamera. "Sekarang kita lanjut dengan lidah Takeda," dia mendekatkan wajahnya ke kamera dan berbisik, "pejabat itu membohongi keluarganya, ayo kita potong lidahnya!"
Komentar di channel dark web Spiderblood :
•Zigxxx
•lovelyblood
[Bolehkah aku membeli kulit Jennifer? haha!]
•Sanctuary07
[Wah, bagaimana aku bisa mengalahkanmu. Channelku harus lebih baik dari ini :-o ]
***
Xiao berjalan dengan amarah yang masih menggebu dalam dirinya. "Aaaarrgghhh!!!" dia kembali berteriak nyaring untuk melampiaskan semua kekesalannya.
Hujan belum berhenti, Brian terlihat sudah tiba di pintu masuk wisata Aokigahara Jukai. Dia segera pergi ke teras bangunan yang ada di sana untuk berteduh. Lelaki tersebut mencoba menenangkan pikirannya dengan duduk dan menyandarkan diri ke dinding. Matanya terpejam cukup lama.
Tak! Tak! Tak!
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Brian reflek membuka matanya. Penglihatannya langsung disambut dengan wajah cemberut Xiao.
Bruk!
__ADS_1
Xiao menghempaskan kedua tas yang dibawanya ke lantai. Dia tampak mengatur deru nafas yang ngos-ngosan.
"Tenanglah Xiao. . ." lirih Brian. Dia yang masih belum mengetahui isi dari dua tas bawaan Xiao, lantas mengerutkan dahi. "Tas apa ini?" tanya-nya. Namun tidak mendapat sama sekali jawaban dari Xiao. Lelaki tersebut terlihat membuang muka dari Brian seraya mengacak-acak rambut frustasi.
Brian perlahan beringsut untuk mendekati dua tas di hadapannya. Dia mencoba membuka salah satunya, dan betapa terkejutnya Brian kala menyaksikan kepala utuh Hongli. Meskipun tidak pernah melihat langsung ayahnya Xiao, tetapi Brian bisa menerka dari kemiripan wajah pemilik kepala yang dilihatnya.
"Xia--" Brian menyimpan kalimatnya, karena ingin membiarkan Xiao menenangkan diri. Dia pun kembali menutup rapat-rapat tas yang tadi sudah dibukanya.
Hening menyelimuti suasana. Hanya ada suara tetesan hujan yang membuat keributan di atas atap. Perasaan Xiao berkecamuk. Dia merasa marah sekaligus sedih akan keadaan sang ayah. Bahkan entah kenapa ada rasa lega dalam dirinya. Hongli memang seorang ayah yang baik, namun ketegasan dan kedispilinannya terkadang membuat Xiao kewalahan.
...-----...
[Flashback On]
Empat tahun yang lalu. . .
"Anak bodohh!!! sejak kapan aku membiarkanmu pergi dengan teman-temanmu, hah! kau tidak boleh punya teman dekat Xiao!!!" geram Hongli sambil mendorong kepala Xiao tanpa henti.
Xiao hanya menunduk dengan wajah cemberut. Dia kebetulan pulang terlalu larut malam, karena terlalu asyik berkumpul dengan teman-temannya.
"Ayah aneh! kenapa tidak pernah membiarkanku bergaul dengan teman sebaya? apa salahnya? hah!" Xiao memberanikan diri untuk bicara. Dia mendongakkan kepala untuk menatap sang ayah.
Plak!
Hongli menampar putra semata wayangnya dengan keras. Hingga menyebabkan sudut bibir Xiao mengeluarkan darah.
"Kau tidak boleh melawan!" Hongli sekarang menarik ribuan helai rambut Xiao.
"Aaaa!" erang Xiao dengan keadaan wajah yang meringis kesakitan.
"Jadilah anak yang baik, agar aku tidak menjadi ayah yang menganiaya anaknya!" Hongli mengancam.
"Bajingan! apa kau harus seperti itu dengan putramu sendiri?!" timpal Yenn yang baru saja datang dari dapur.
"Xiao pulang terlalu larut malam karena teman-temannya, jadi dia pantas mendapatkannya! cuih!" ujar Hongli sambil beranjak pergi menuju kamar.
"Kau harus memaklumi ayahmu, Xiao." Yenn memeluk putranya dengan lembut. "Ayo kita obati luka dibibirmu!" lanjutnya sembari menepuk-nepuk pundak Xiao.
[Flashback Off]
...-----...
"Itulah alasan kenapa aku tidak pernah punya teman. Hanya Chan yang tidak pernah menyerah mendekatiku, hanya dia!" - Xiao.
__ADS_1