Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 89 - Bad Boy & Bad Girl


__ADS_3

Bad boy and bad girl go to the hell!


***


Xiao dan Chan berjalan berbarengan menuju gerbang sekolah. Keduanya sama-sama terdiam untuk sesaat. Chan terlihat memandangi kakinya yang terus bergerak maju.


"Jadi, apa kau akan ikut bersamaku?" tanya Xiao, memecah keheningan yang terjadi di antara dirinya dan Chan.


"Ke markasmu?" Chan berbalik tanya.


"Iya. Kalau perlu kita menikah saja!" ucap Xiao asal, mendadak wajahnya menjadi memerah. Sebab dirinya sendiri pun tak paham, kenapa kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulutnya.


"Pfffft! kenapa kau berpikir begitu? aku bahkan sama sekali tidak memikirkannya," respon Chan, wajahnya ikut-ikutan memerah. Perasaannya mendadak melambung tinggi. Segala masalah besar yang terjadi di sekolah seolah tenggelam dalam memorinya sejenak.


"Aku sebentar lagi akan mendapat warisan ayah, jadi aku butuh seorang pendamping!" ujar Xiao.


Chan yang mendengar reflek menghentikan langkahnya. Matanya membulat sempurna, sebab dia tahu betul pekerjaan apa yang digeluti kedua orang tua Xiao.


"Kau mengajakku jadi pembunuh bayaran?" Chan terperangah. Xiao hanya terdiam sambil membuang muka dari Chan.


"Maaf Xiao! tetapi aku bukan gadis yang berani melakukan apa yang ibumu lakukan." Chan segera memisahkan diri dengan Xiao. Dia melangkah melalui jalan menuju rumahnya.


"Xiao!" Feng tampak sudah datang dengan mobilnya. Seperti biasa, dia memang ditugaskan mengantar dan menjemput Xiao sekolah. Selain itu, Yenn juga memang sengaja mengutusnya untuk mengawasi Xiao.


"Feng, hari ini aku akan pulang terlambat. Ada yang harus ku-urus!" kata Xiao yang telah berada di hadapan Feng. Selanjutnya ia pun bergegas pergi mengikuti Chan.


Xiao berjalan mengekori Chan dengan santainya. Untuk beberapa lama, Chan memang tidak menyadari kehadiran Xiao di belakangnya. Kala itu langit tampak sangat mendung. Membuat suasana alam agak menggelap. Bulir-bulir air mulai turun membasahi tanah. Chan otomatis berlari menuju tempat yang teduh. Xiao yang melihat tentu mengikutinya.


Menyaksikan kedatangan Xiao, mata Chan langsung membola. "Xiao! kau mengikutiku?" timpalnya dengan kening yang mengernyit.


"Menurutmu?" jawab Xiao datar. Dia menyilangkan tangan di dada.


"Xiao, sudah ku bilang bahwa--"


"Aku tidak ingin membujukmu. Hanya saja, ketika bersamamu pikiranku tenang. Bahkan dari bisikan mimpi buruk itu." Xiao berterus terang.

__ADS_1


"Xiao, aku punya cara lain untuk melepasmu dari mimpi buruk itu!" Devgan mendadak bersuara. Namun untuk yang sekian kalinya Xiao tidak menggubrisnya sama sekali. Lelaki tersebut asyik memfokuskan pandangannya ke arah Chan.


"Xiao, jangan coba-coba merayuku," balas Chan seraya memutar bola mata malasnya. Xiao yang mendengar malah terkekeh geli.


Hujan semakin deras. Membuat Xiao dan Chan harus terjebak di depan sebuah kedai yang sudah terbengkalai. Chan tampak melingkarkan tangan ke tubuhnya sendiri, pertanda kalau ia tengah kedinginan.


"Sebenarnya ini waktu yang sangat pas untuk membunuh seseorang!" goda Devgan sekali lagi, yang tentu saja tak mempan jika Chan sedang berada di sisi Xiao.


"Bisakah kau ceritakan alasan Li-Jun tadi sangat membencimu?" tanya Chan.


"Oh, dia hanya salah paham." Xiao menjawab singkat.


"Mengenai apa?"


"Kutukan, dia berpikir aku memiliki ikatan khusus dengan makhluk di gudang terlarang itu!"


"Bagaimana bisa dia menuduhmu begitu?"


Xiao menatap Chan, kemudian melangkah lebih dekat. "Aku kebetulan pernah masuk ke gudang, dan bertemu dengan makhluk itu," jelasnya.


"Lalu?"


"Cih! harusnya kau berterima kasih kepadaku dengan cara memberikan lebih banyak energi!" sinis Devgan, dia sebenarnya sangat kesal dengan tuannya. Tetapi Xiao masih saja mendiamkannya bak seekor anjing tak bertuan.


Chan hanya menganguk-anggukkan kepala dan sedikit melangkah mundur untuk menjauh dari Xiao. Jujur saja jantungnya selalu berdebar tidak karuan kala berada sangat dekat dengan Xiao.


Hujan sudah tidak begitu deras. Chan segera melangkahkan kaki menuju rumah, sebelum itu dia berkata kepada Xiao, "Pulanglah! aku bisa mengurus diriku sendiri!" dia menambah senyuman tipis di akhir. Namun hal tersebut tidak membuat Xiao berhenti mengekorinya.


Sekarang Xiao dan Chan berjalan beriringan melewati air hujan yang masih sedikit berjatuhan. Chan mencoba menengok ke belakang.


Deg!


Jantungnya kembali berdegub kencang ketika menyaksikan Xiao masih berada di belakangnya.


"Kau masih belum pulang juga?!" Chan menggeleng tak percaya. "Pulanglah Xiao! jangan membuat perasaanku risih!" tambahnya, kemudian berlari sekuat tenaga.

__ADS_1


Xiao yang melihat Chan berlari malah tersenyum miring. Ketika gadis itu berusaha terus menjauhinya, semakin menggebu-gebu pula keinginan Xiao untuk memilikinya.


Chan menghentikan larinya seraya memegangi lututnya. Dia mencoba menoleh ke belakang dan akhirnya Xiao tidak terlihat lagi. Tetapi entah kenapa Chan malah merasa kecewa.


'Secepat itukah dia pergi?' benak Chan bertanya-tanya.


Tiba-tiba sebuah tangan berhasil mengagetkan Chan. Tangan itu memegangi lengannya. Chan sontak menoleh ke pemilik tangan tersebut. Pupil mata Chan membesar seketika saat mengetahui Xiao masih belum pergi. Apalagi ketika mulut Xiao langsung mencium bibirnya begitu saja.


Perlahan Chan terpojok ke mobil yang kebetulan terparkir di pinggir jalan. Dia tidak bisa membantah kalau dirinya juga merindukan sentuhan Xiao.


Tangan Xiao mencoba menarik pintu mobil yang ada di belakang Chan. Ternyata mobil tersebut sama sekali tidak di kunci. Xiao pun mendorong Chan masuk. Mereka pun melanjutkan pergulatannya di dalam sana.


Setelah puas melakukan hubungan intim, Chan segera mengenakan pakaiannya lagi. Dia kembali menyandarkan diri ke jok mobil. Gadis itu memperhatikan Xiao yang baru selesai mengenakan celananya.


"Xiao. . ." lirih Chan, dan berhasil membuat Xiao langsung menatapnya. Chan tersenyum, lalu memposisikan diri duduk di pangkuan Xiao. Kebetulan pada saat itu Xiao belum mengenakan bajunya kembali.


"Berjanjilah kau tidak akan menyentuh wanita lain lagi! ingat, hanya aku Xiao!" tegas Chan dengan kening yang mengernyit. Xiao yang mendengar hanya tertawa kecil. "Aku serius Xiao! jika kau ingin aku mendampingimu, itulah syaratnya!" ucapnya lagi.


"Kau ternyata psiko juga!" komentar Xiao.


"Cepat jawab Xiao!" balas Chan yang tak peduli dengan komentar Xiao.


Xiao terdiam sesaat dan berkata, "Aku berjanji!"


Chan tersenyum lagi, kemudian membawa Xiao masuk ke dalam pelukannya.


"Hei! kalian siapa? berani-beraninya masuk ke mobilku!" suara lelaki paruh baya terdengar dari luar. Xiao dan Chan otomatis menghentikan aktifitas mereka.


"Itu pasti pemilik mobilnya!" ungkap Xiao.


"Apa maksudmu?" Chan tak mengerti.


"Chan, kita berada di mobil milik orang lain!" jelas Xiao sembari lekas-lekas memakai bajunya.


"Apa?! kau gila!" Chan tak percaya. Setelahnya Xiao segera menarik Chan keluar dari mobil. Sebelum itu, keduanya tentu tidak lupa mengambil tasnya masing-masing.

__ADS_1


Lelaki paruh baya tersebut terdengar bersumpah serapah. "Dasar anak muda kurang ajar! tidak tahu sopan santun! (sumpah serapah di sensor********)!"


Xiao dan Chan yang mendengar malah tertawa geli sambil terus melajukan larinya. Tangan mereka masih bertautan erat satu sama lain. Gelapnya langit beserta hujan masih menemani kemesraan dua sejoli itu.


__ADS_2