
Sesuatu yang salah harus dihentikan.
***
"Baiklah kalau begitu, pergilah ke desa yang bernama Chi Wang. Aku akan menemuimu di sana!" ujar Viera.
Kening Chan mengernyit. "Kau tidak pergi bersamaku?" tanya-nya.
"Ada sesuatu yang harus kulakukan. Apa kau takut pergi sendiri?" Viera berbalik tanya.
"Bisakah aku mengajak Al untuk ikut?" Chan memberikan usulan.
"Tidak Chan! jangan sampai ada yang tahu mengenai hal ini!" Viera terlihat panik.
"Kenapa? bukankah lebih mudah jika ada lebih banyak orang yang membantu?"
"Pokoknya tidak Chan. Rahasiakanlah, jika kau benar-benar ingin membantuku. Apa kau takut melakukannya sendiri? kalau kau ta--"
"Tidak! ya sudah, sampai jumpa!" Chan memotong kalimat Viera, dia mengangkat sebelah tangannya untuk melambai ke arah Viera. Setelahnya dia pun segera keluar dari kamar. Viera yang menyaksikan sontak mengukir senyuman lebar.
Ceklek!
Mata Chan membulat sempurna tatkala menyaksikan Al duduk tidak jauh dari pintu kamarnya. "Al, kau. . . sedang apa?" tegur-nya.
Al lantas bangkit dari kursinya, matanya menilik penampilan Chan. Dia bisa menerka gadis yang di hadapannya itu akan pergi. "Harusnya aku yang bertanya, kau mau kemana?" ujar-nya, yang sudah saling berhadapan dengan Chan.
"Aku mau ke suatu tempat," jelas Chan ambigu.
"Iya, tapi kemana?" timpal Al sembari menyilangkan tangan di dada.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk Viera, dan ini penting!" ucap Chan, seraya mencoba melangkahkan kakinya. Al yang mendengar justru semakin dibuat penasaran akan kepergiannya, tangannya dengan cekatan mencengkeram lengan Chan.
"Apa itu Chan? beritahu aku, mungkin aku bisa membantu!"
"Tidak perlu Al! aku mampu melakukannya sendiri." Chan menunjukkan semburat meyakinkan pada wajahnya. Membuat Al perlahan melembut dan melepaskan genggamannya.
"Ambillah ini! jika ada apa-apa hubungi Brian atau nomor siapapun!" Al memberikan smarthphone pemberian Brian kepada Chan.
"Wow! ini keluaran terbaru," Chan membolak-balikkan gawai yang sudah ada di tangannya. "Punyamu?" tambahnya.
"Bawa saja-lah Chan, jangan membantah! kalau kau tidak mau, aku akan mengamuk. Apa kau tahu betapa mengerikannya aku saat marah?" Al mencoba mengancam.
__ADS_1
Chan menghela nafas panjang dan terkekeh. "Ya sudah! ponsel-nya aku bawa bersamaku, puas?" tukasnya. Membuat patrian senyum terukir diwajah Al.
"Berhati-hatilah!" ujar Al yang sengaja berjalan mengekori Chan.
"Eh! kenapa kau mengikutiku?" protes Chan.
"Tenanglah, aku hanya akan mengantarmu sampai depan rumah. Kau takut sekali sih di ikuti?" Al mengerutkan dahi. Namun Chan hanya menggeleng dengan senyuman kecut diwajahnya. Dia langsung beranjak pergi melewati pagi yang menyegarkan.
Di sisi lain Brian dan Xiao sudah berada di dalam pesawat. Mereka hanya tinggal menunggu sang burung besi lepas landas.
"Sebenarnya sangatlah menyebalkan bisa duduk bersebelahan denganmu!" Xiao meringiskan wajah.
"Kau pikir aku tidak jijik?" balas Brian seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Jujur saja, keinginanmu yang menawarkan diri untuk menjadi teman sangatlah terdengar konyol!" Xiao membuang muka dari Brian sejenak. Tepatnya ke arah jendela yang ada di sampingnya. "Aku yakin, kau masih menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Jadi katakan padaku sekarang!" lanjutnya dengan nada pelan sambil menatap tajam pada Brian.
"Aku--"
Drrt. . . Drrt. . .
Getar dari ponsel Brian berhasil membuat kalimatnya terjeda. Dia langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa harus berpikir lama.
"Kau!" Xiao yang melihat sontak ter-geram.
"Brian, ini aku Al!" Al menjawab dari seberang telepon.
"Ada apa Al? kenapa kau menghubungiku lewat telepon rumah? bukankah aku sudah memberikanmu ponsel baru?" Brian melayangkan pertanyaan bertubi-tubi pada gadis berusia dua puluh lima tahun tersebut.
"Aku memberikannya pada Chan. Aku terpaksa, karena dia tiba-tiba pergi dari rumah. Katanya mau melakukan sesuatu bersama Viera!" terang Al.
"Kenapa kau membiarkannya pergi sendiri?!" Brian menekankan nada suaranya.
"Ada apa? terjadi sesuatu kah?!" Xiao bertanya karena merasa penasaran. Namun Brian tak hirau disebabkan dirinya masih sibuk bergumul dengan Al melalui telepon.
"Aku sudah mencoba mengikutinya! tetapi Chan bersikukuh ingin pergi sendirian. Aku sudah melakukan sebisanya Bri, salah satunya dengan mengorbankan ponsel baruku itu!" Al melakukan pembelaan.
"Terus?" Brian mengukir mimik wajah penuh tanya, meski tidak saling bertatap muka.
"Apa kau bodoh? kita bisa melacak keberadaannya lewat ponsel itu!" tutur Al, membuat Brian sontak melebarkan matanya.
"Oke!" ucap Brian, lalu segera mematikan panggilan telepon secara sepihak.
__ADS_1
"Kau harus--" Al terdiam sejenak kala menyadari panggilannya dimatikan. "Kurang ajar sekali!" geramnya seraya menghentakkan sebelah kakinya.
"Ada apa?" Xiao bertanya sekali lagi.
"Chan pergi ke suatu tempat sendirian. Katanya mau membantu Viera, atau apalah itu." Brian menjelaskan sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Xiao, sepertinya Viera melakukan sesuatu kepada Chan!" kata Devgan, yang langsung membuat Xiao bangkit dari tempat duduk dan segera keluar dari pesawat.
"Hei! Xiao! kau mau kemana?! apa kau sudah gila?" kritik Brian. Dia merasa malas mengikuti Xiao. Setelah terdiam dalam sekian detik, akhirnya dia memaksakan diri untuk mengejar.
Di kursi paling ujung terdapat dua bawahan Yenn yang diam-diam mengikuti Xiao dan Brian. Mereka juga terpaksa harus turun dari pesawat.
"Xiao! apa yang kau lakukan? Chan akan baik-baik saja. Aku yakin! meskipun Viera adalah hantu yang tak bisa dipercaya." Brian menyamakan langkahnya dengan Xiao.
"Kalau kau saja merasa tidak percaya, apalagi aku! kita harus mencegah Chan secepatnya!" Xiao bertekad. Dia melupakan rencana kepergiannya ke Jepang hari itu.
"Tapi kau kan tidak akan tahu dimana Chan tanpa diriku," Brian tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia tahu satu-satunya petunjuk mengenai keberadaan Chan adalah melalui ponselnya. Benda tersebut sudah saling terhubung dengan gawai yang sedang dibawa oleh Chan. Alhasil Xiao pun terpaksa ikut berhenti, dia tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan Brian.
"Kau benar! beritahu aku dia dimana?" Xiao bertanya dengan nada malas.
Brian tersenyum miring, dia senang dirinya bisa diandalkan. "Ya sudah, ayo!" ujarnya sembari mengambil ponselnya lagi, kemudian memimpin jalan lebih dahulu. Sekarang dia dan Xiao tengah berada di dalam mobil yang sama.
"Ternyata Chan lebih penting ya, dibanding ayahmu!" celetuk Brian. Menyebabkan mata Xiao harus menyalang ke arahnya.
"Bukan begitu, ini karena keadaan Chan mendesak, terus keberadaannya juga lebih dekat!" Xiao berkilah. Matanya meliar kemana-mana, seolah apa yang dikatakannya hanyalah alasan palsu.
Brian memajukan bibir bawahnya. Dia memang tak mempercayai omongan yang baru saja dikatakan Xiao. "Jujur saja-lah!" sekarang ia terkekeh.
"Bisakah kau fokus Bri? bukannya menambahkan keakraban, kau malah membuatku semakin jijik berteman denganmu. Sialan!" gerutu Xiao, dia memegangi pegangan yang ada di atas kepalanya.
"Sepertinya Chan juga masih dalam perjalanan. Coba kau lihat!" Brian mengubah topik pembicaraan, dan memperlihatkan lokasi Chan yang terkonfirmasi melalui gawai-nya.
"Iya. Sepertinya dia menaiki bus. Dasar gadis bodoh!" Xiao menggeleng tak percaya. Dia benar-benar dibuat geram dengan kelakuan Chan yang sangat mudah hanyut dalam kalimat lembut Viera.
"Kenapa kau sangat mengkhawatirkan dia sampai begitu sih?" tanya Brian sambil memutar setirnya pelan.
"Masalahnya Viera! dia ingin melakukan hal yang buruk pada Chan. Makanya aku cemas!" sahut Xiao.
"Padahal, dia hanya gadis biasa. Untuk apa kau buang-buang energimu untuknya!" imbuh Brian. Xiao hanya terdiam, dia tidak ingin lagi berdebat lebih panjang dengan lelaki jangkung yang duduk di sampingnya.
"Dia benar!" Devgan tiba-tiba menyetujui pendapat Brian.
__ADS_1
"Bisakah kalian diam!" perintah Xiao dengan mengepalkan tinju ditangannya.
"Oke, oke! aku tidak akan bicara lagi!" Brian mengalah.