Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 43 - Tentang Chan


__ADS_3

"Aku tidak bisa melewati hariku tanpa melihatmu."-Chan


***


"Xiao, siapa yang di ruang operasi?" tanya Yenn.


"Chan!" jawab Xiao singkat.


"Oh, dia masih menjadi tawananmu?" ujar Yenn yang menatap Xiao dengan sudut matanya. "Atau dia memang sukarela untuk menjadi tawananmu," sambungnya.


"Entahlah, yang jelas dia tidak pernah mau pergi meninggalkanku!" ucap Xiao.


"Hahaha! tentu saja sayang, dia terobsesi denganmu. Apa kau tidak tahu?" tutur Yenn dengan tawa gelinya.


"Tentu aku tahu, dia selalu memberikanku hadiah saat di sekolah. Bahkan di hari yang tidak spesial untukku," tukas Xiao.


Yenn menggelengkan kepala dua kali. "Ada hal yang tidak kau ketahui darinya. Jujur, aku kira kau akan langsung membunuhnya saat di hari ulang tahunmu. Tapi, kau. . ."


"Apa maksudmu? sesuatu yang belum ku-ketahui?" dahi Xiao mengernyit. Yenn pun mulai bercerita.


...-----...


[Flashback On]


Seorang gadis berseragam sekolah berjalan menyusuri gang kecil. Dia mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Tudung jaketnya dia pakai untuk menutupi kepala.


Setelah lama berjalan, gadis tersebut menghentikan langkahnya kala menemukan rumah yang dia cari. Selanjutnya dia mencari tempat bersembunyi yang tepat untuk menunggu seseorang keluar dari rumah.


Ceklek!


Tampak Xiao keluar dari rumahnya dengan seragam sekolah yang berbeda.


Deg!


Pupil mata sang gadis yang bersembunyi langsung membesar tatkala menyaksikan kehadiran Xiao. Gadis yang ternyata Chan itu tersenyum simpul dari balik maskernya. Setelahnya dia langsung bergegas berlari dan kembali pulang.


Di hari kedua Chan melakukan hal yang sama. Hingga terbiasa melakukannya hampir setiap hari. Bahkan kadang-kadang dia mendatangi rumah Xiao dua kali sehari. Entah apa yang dilakukan gadis tersebut, hingga suatu hari Fa bawahan Yenn mencurigai kehadirannya.


Kala itu Chan bersembunyi dibalik dinding gang. Kepalanya terus celingak-celingukan karena berusaha menemukan orang yang dicarinya.


"Hei!"

__ADS_1


Fa menepuk bahu Chan, dia ingin mengetahui tujuan gadis yang tengah bersembunyi tersebut. Chan yang merasa tertangkap basah sontak berlari sekuat tenaga. Namun kekuatannya tidak sepadan dengan orang yang sudah terlatih seperti Fa.


Bruk!


Fa dengan mudahnya menjatuhkan Chan dengan sekali tendangan. "Apa yang sedang kau lakukan hah? siapa yang mengirimkanmu ke sini?" bentak Fa dengan mata yang melotot. Tanba basa-basi, dia langsung merampas masker yang sedang dikenakan Chan. Terpampanglah sekarang wajah cantik gadis tersebut.


Dahi Fa lantas mengerut, lantaran gadis yang ditatapnya masih sangat muda. Kecil kemungkinan dia seorang mata-mata. 'Tidak! meskipun dia terlihat lemah, aku yakin tidak ada yang tidak mungkin kan?' batinnya, yang dilanjutkan dengan mencengkeram kerah baju Chan dengan paksa.


"Lepaskan!" Chan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman Fa.


"Jawab dahulu pertanyaanku, kenapa kau terus berkeliaran di sekitar rumah keluarga Wong hah?!" geram Fa. Chan masih tampak tenang, dia menggunakan trik kakinya. Yaitu dengan cara menginjak kaki Fa sekuat tenaga. Namun wanita yang diserangnya sama sekali tak bergeming.


Fa mengukir seringai diwajahnya, lalu mengeluarkan senjata andalannya dari balik saku bajunya. Sekarang pistol revolver milik Fa terpampang nyata. Dia langsung mengarahkan pistolnya ke kepala Chan.


"Kebetulan sedang sepi, jadi pasti akan lebih mudah untuk menghabisimu!" ancam Fa. Mata Chan membulat sempurna, tatapannya mulai getir.


"Ba-baiklah! aku akan katakan!" ujar Chan.


"Cepat katakan!" desak Fa.


"Xiao! aku hanya ingin melihatnya, itu saja!" ungkap Chan sembari menutup matanya rapat-rapat dan menundukkan kepala. Dia berjaga-jaga terhadap serangan Fa.


"Aku berkata jujur! aku hanya ingin melihat Xiao!" tutur Chan yang perlahan mulai merengek dan agak ketakutan. Karena pistol Fa sudah menempel di jidatnya.


"Aku bersumpah! aku tidak melakukan hal yang buruk!" jelas Chan. Fa akhirnya menurunkan pistolnya, karena menyaksikan gelagat Chan yang meyakinkan.


"Bisa kau jelaskan alasan kenapa kau ingin melihat Xiao? apa dia target yang ingin kau bunuh?" tanya Fa.


"Tentu saja bukan!" tegas Chan yang sekarang berani menatap ke arah Fa. Dia merasa geram dengan prasangka wanita yang sedang berdiri di depannya.


"Lalu apa?" Fa kembali bertanya seraya menyilangkan tangan di dada.


"A-a-aku mencintainya. . ." imbuh Chan, yang sontak membuat Fa merasa geli dan tertawa.


"Hahaha! jadi maksudmu kau itu seorang penguntit?" tebak Fa sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah Chan.


"Tidak! aku bukan penguntit!" tepis Chan.


"Dasar bodoh! itu namanya menguntit gadis jal*ng!" cerca Fa. "Oke, aku akan membiarkanmu. Tetapi jika kau melakukan hal yang mencurigakan, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" ancamnya dengan raut wajah yang meyakinkan. Fa pun mencoba beranjak pergi, namun Chan dengan cekatan memegangi lengannya.


"Ada apa lagi hah?!" timpal Fa.

__ADS_1


"Jangan beritahu Xiao mengenai hal ini!" mohon Chan.


Fa menggeleng sejenak dengan kekehnya. "Untuk apa aku berbicara mengenai omong kosong begini. Toh aku juga tidak begitu akrab dengan Xiao! nikmati saja obsesimu itu!" ucapnya, kemudian segera pergi.


Chan sempat berhenti melakukan kegiatan anehnya. Tetapi baru berselang dua hari, dia kembali lagi.


Fa mencoba terus memperhatikan Chan diam-diam. Dia ingin memastikan kejujuran gadis tersebut. Benar saja, Chan selalu pergi setelah melihat Xiao sejenak.


"Harusnya aku tidak membuang waktuku karena ini!" gumam Fa seraya menggeleng tak percaya.


[Flashback Off]


...-----...


"Chan melakukan itu?" Xiao merasa tak percaya.


"Fa menceritakan semuanya kepadaku. Sebab itulah aku dan ayahmu sangat mudah menangkapnya. Toh Fa sudah mengenalinya!" sahut Yenn santai.


Xiao terlihat tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Tidak lama kemudian Al datang sendirian menghampiri Xiao.


"Kenapa kau kembali?" tanya Xiao.


"Aku sudah lelah dengan Brian!" balas Al sembari duduk di kursi yang ada di seberang Xiao dan ibunya.


"Orang seperti dia memang keras kepala!" Yenn ikut menyahut.


"Diam! kau juga ikut andil atas terbunuhnya Jonas!" Al menatap tajam ke arah Yenn. "Kau beruntung, anakmu menjadi pewaris bakat Jonas. Jika tidak Brian pasti telah menghabisimu tanpa ampun!" tukasnya.


"Bakat? apa maksudmu?" Yenn mengernyitkan dahi.


"Xiao, kau belum menceritakan semuanya pada ibumu?" Al sekarang menatap ke arah Xiao.


"Ada apa Xiao?" tanya Yenn yang semakin dibuat penasaran.


"Aku bisa melihat hantu dan devil yang ada di samping Ibu!" tutur Xiao dengan raut wajah serius. Tetapi Yenn malah tertawa geli saat mendengarnya, seakan tidak mempercayai apa yang dikatakan sang anak.


"Al, inilah alasan aku tidak memberitahunya!" Xiao mengubah lawan bicaranya.


"Kau benar! tidak semua orang mempercayai hal seperti itu," balas Al sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Jadi karena itulah kau kabur dariku dan ayahmu?" tanya Yenn yang terlihat masih menahan tawa. Xiao hanya bisa merespon dengan senyuman kecut.

__ADS_1


__ADS_2