Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 77 - Membantu Li-Jun


__ADS_3

Terkadang orang yang pernah kau cintai bisa menjadi rivalmu.


***


Xiao semakin berjalan mendekat. Entah kenapa Chan reflek memegangi tangan Li-Jun yang kebetulan berada di sampingnya. Dia segera menggerakkan kakinya sebelum Xiao tiba di hadapannya.


Xiao yang melihat tingkah Chan sontak menghentikan langkahnya. Apalagi kala menyaksikan jari-jemari Chan tampak bertautan dengan tangan lelaki lain selain dirinya.


"Sepertinya kau punya saingan Xiao!" ujar Devgan, namun Xiao malah mengukir senyuman tipis diwajahnya.


"Oke kalau itu maumu Chan, aku akan turuti caramu!" gumam Xiao. Dia sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari punggung Chan yang semakin mengecil.


Chan dan Li-Jun sudah berjalan lumayan jauh dari keberadaan Xiao. Li-Jun mulai curiga dengan gelagat aneh yang ditunjukkan Chan.


"Hei! kau kenapa?" tanya Li-Jun, ketika Chan terus saja menyeretnya.


Chan berhenti di tempat yang jauh dari keramaian, dan langsung melepaskan pegangannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa!" jelas Chan ambigu. Hingga membuat Li-Jun melayangkan tatapan menyelidik.


"Kau mengenalnya?" tanya Li-Jun sembari menyilangkan tangan di dada.


"Tidak." sahut Chan singkat.


"Tampaknya tidak seperti itu. Kau terlihat sangat gugup, aku bahkan bisa merasakan dinginnya tanganmu!" timpal Li-Jun, yang tentu saja berhasil membuat Chan melebarkan mata.


"Tidak! aku sama sekali tidak mengenalnya!" tegas Chan sambil berusaha menutupi kegugupannya sebisa mungkin. Dia benar-benar bersikukuh ingin menjauh dari Xiao. Sepertinya jasa pertolongan Xiao tempo hari tidak mampu meluluhkan hatinya.


"Ya sudah!" Li-Jun berusaha memahami. Alhasil Chan pun segera beranjak pergi.


"Tunggu!" panggilan Li-Jun sontak membuat Chan berhenti dan menoleh.


"Kau tadi sudah memanfaatkan diriku, dan itu tidak gratis!" kata Li-Jun seraya berjalan menghampiri Chan.


"Terus kau mau apa?"


"Namamu, kau belum menyebutkannya!" pinta Li-Jun.


Chan yang mendengar keinginan Li-Jun lantas tertawa kecil. Karena menurutnya kemauan lelaki tersebut terdengar sangatlah konyol. Padahal tadi dia sempat mengira, Li-Jun akan melontarkan permintaan yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Namaku Chan!" ungkap Chan.


"Kau--"


"JUN!" suara pekikan lantang menyebabkan kalimat yang hendak diucapkan Li-Jun terjeda. Baik dia maupun Chan segera menengok ke arah pemilik suara itu. Dia ternyata Kai dan kedua temannya. Mereka adalah orang yang sering menindas Li-Jun.


"Pergilah Chan!" perintah Li-Jun.


Tanpa pikir panjang, Chan langsung melangkah pergi. Dia sebenarnya merasa tidak enak meninggalkan Li-Jun begitu saja. Padahal tadi lelaki tersebut sudah membantunya lari dari pergokan Xiao.


'Apakah kali ini aku harus menolongnya?' pikir Chan dengan keadaan mata yang memejam cukup lama. 'Tapi jika berbuat onar, aku nanti bisa saja mendapat hukuman dari guru.' lanjutnya yang tengah berusaha mengambil keputusan tepat.


Pada akhirnya, Chan pun berbalik badan dan kembali menemui Li-Jun. Namun langkahnya seketika terhenti karena menyaksikan Xiao sudah bertindak lebih cepat darinya.


"Ayo kita pergi, kau tidak usah tunduk dengan orang-orang berengsek seperti mereka!" ujar Xiao seraya menyodorkan tangannya untuk Li-Jun yang sedari tadi terduduk di lantai.


"Hei anak baru! kau tidak usah ikut campur urusan kami!" tukas Kai, dia menarik paksa pundak Xiao. Kemudian mencengkeram erat kerah bajunya. Namun Xiao yang sudah terbiasa dengan tindakan kasar, terlihat santai saja menghadapinya. Dia bahkan mengukir senyuman lebar.


"Apa-apaan! kau malah tersenyum?! kau sedang mengejekku? hah!!" geram Kai yang semakin mengeratkan cengkeramannya.


Xiao memutar bola mata jengah. Tangannya lantas mempelintir salah satu lengan Kai.


Xiao yang tidak ingin mendapatkan masalah di hari pertama dirinya bersekolah, langsung melepaskan Kai. Dia tidak bermaksud mematahkan tulang lelaki berperawakan berisi itu.


"Kurang ajar kau! tunggulah pembalasanku!" ancam Kai sambil berusaha menahan amarahnya. Lalu ia pun segera dibawa pergi oleh kedua temannya.


"Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot menolongku!" Li-Jun yang sedari tadi terdiam akhirnya bersuara.


"Sama-sama!" sahut Xiao percaya diri. Jawabannya sama sekali tidak menyambung dengan pernyataan lawan bicaranya. Alhasil Li-Jun pun terkekeh karena merasa lucu dengan sikap Xiao.


"Aku Li-Jun, aku juga memilki kemampuan yang sama sepertimu!" ungkap Li-Jun yang tiba-tiba saja memperkenalkan dirinya.


"Apa?" tanya Xiao dengan kening yang mengernyit.


"Aku juga bisa melihat hantu." Li-Jun memberikan penjelasan singkat, dia berhasil menyebabkan mata Xiao membola.


"Bagaimana kau tahu?"


"Entahlah, mungkin itu salah satu bakatku yang lain."

__ADS_1


"Menarik!" Xiao mengukir senyum simpul.


Di sisi lain, Chan terlihat masih memperhatikan gerak-gerik Li-Jun dan Xiao dari kejauhan. Gadis tersebut sedang menyembunyikan dirinya dibalik dinding. Sesekali dia mencoba mengintip.


Chan sebenarnya ingin melihat keadaan Li-Jun, tetapi entah kenapa perhatiannya selalu saja tertuju pada Xiao.


Deg!


Jantung Chan mulai bergemuruh. Dia sekarang reflek memegangi bagian dadanya sendiri. Tepatnya dimana posisi jantungnya berada.


'Perasaan ini muncul lagi, kalau aku terus melihat kehadiran Xiao di depan mata, terus bagaimana aku melupakannya? sialan! kenapa dia muncul lagi sih!' batin Chan sembari menghentakkan sebelah kakinya.


'Tunggu, bukankah aneh Xiao memilih bersekolah di sini? jangan-jangan. . . Al' Chan menerka kalau Al ikut andil dengan keberadaan Xiao sekarang. Dia sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan memarahi Al. Tetapi sebelum itu, Chan ingin berbicara lebih dahulu pada Xiao.


***


Teng! Teng! Teng!


Sinyal pertanda pulang berbunyi, seluruh siswa-siswi sontak berhamburan keluar dari kelas. Hiruk-pikuk suara celotehan anak-anak remaja terdengar menemani suasana lingkungan sekolah. Mereka ingin saling berdahuluan untuk pulang ke rumah.


Kala itu Chan sedang dalam perjalanan untuk menemui Xiao. Hingga dari kejauhan dia dapat menyaksikan batang hidung lelaki yang sedang dicarinya.


Xiao tampak sibuk mengobrol dengan teman-teman barunya. Seperti biasa, dia memang pandai berperilaku ramah. Sikapnya itu lantas membuat banyak orang-orang tertarik untuk berteman dengannya. Baik dari kalangan lelaki maupun perempuan.


"XIAO!" panggil Chan. Dia berhasil mengalihkan atensi Xiao tertuju ke arahnya. Namun Xiao terlihat menunjukkan raut wajah datar.


Chan melajukan langkahnya untuk mendekati Xiao. Sekarang dia sudah berdiri di hadapan lelaki yang sekarang memiliki warna rambut hitam tersebut.


Chan sekarang menjadi pusat perhatian semua orang karena sudah berani memanggil nama Xiao di tengah orang banyak. Dia mendapatkan tatapan sinis dari siswi-siswi yang kebetulan sudah kepincut dengan ketampanan Xiao.


"Aku ingin bicara!" tukas Chan sambil menyalangkan matanya. Kedua tangannya mengepal erat. Sebab Chan tahu betul, kalau tujuan Xiao bersekolah di sini adalah karena ingin mengikutinya.


Xiao yang sedari tadi menyandarkan badan ke dinding, segera menegakkan badan. Dia dan Chan sekarang saling bertukar pandang.


Xiao menampakkan raut wajah bingungnya dan berkata, "Apa aku mengenalmu?"


Chan yang mendengar ucapan Xiao tentu langsung terperangah. Dia tidak menduga Xiao akan berlagak seperti itu di hadapan teman-temannya. Bahkan terdapat beberapa orang yang mentertawakan Chan.


"Sudahlah! kenapa kalian tertawa?" tegur Xiao kepada teman-temannya, atensinya teralih sejenak. Alhasil Chan pun mengambil kesempatan tersebut untuk melingus pergi.

__ADS_1


'Jadi kita tidak saling mengenal ya sekarang, oke, baiklah!' ujar Chan dalam hati seraya mematri seringai diwajahnya.


__ADS_2