
Pengorbanan memang mulia, tetapi sangat menyakitkan.
***
"Kita lebih baik jangan menoleh ke belakang!" titah Chan.
"Aku tahu, bisa kurasakan banyak makhluk lain yang sedang menatap kita." Xiao menghela nafas panjang. Chan pun menganggukkan kepalanya sekali. Mereka hanya berdiri di depan pintu tanpa menoleh ke belakang. Benar saja, ada banyak makhluk gaib penunggu toilet yang memperhatikan mereka.
"Chan, apa makhluk bermata merah itu bisa dibunuh?" tanya Xiao yang tengah berusaha menenangkan diri.
Chan menggeleng. "Tidak! aku belum pernah melihat makhluk seperti mereka bisa dimusnahkan, apalagi di dunia-nya sendiri!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Ini semua karena kau membawa kita ke sini!" Xiao mengernyitkan dahi sembari menunjuk Chan dengan jari telunjuknya.
"Apa kau punya pilihan lain untuk kabur dari orang-orang Tao? tadi saja kamu terlihat begitu kebingungan? padahal di sini aku berusaha menyelamatkanmu!" Chan menatap tajam Xiao.
"Terserah! yang paling penting berjanjilah padaku, kau tidak akan membuatku terjebak di sini selamanya!" ujar Xiao dengan nada penuh penekanan. Chan sontak membuang muka dari Xiao, dia sudah tidak tahu harus berkata apa. Keduanya sedang mendengarkan pergerakan dari makhluk bermata merah tersebut, yang sepertinya sudah berlalu melewati tempat persembunyian mereka.
"Kita keluar dari sini sekarang!" ucap Xiao yang sepertinya sudah mulai berani, dia merebut lilin Chan dan memimpin jalan lebih dahulu. Mereka kembali menyusuri lorong.
"Xiao jangan coba berani-berani melawan makhluk itu! dia bisa memakan jiwamu!" Chan menyamakan langkahnya dengan Xiao, kemudian menggenggam erat jari-jemari lelaki tersebut.
"Bagaimana kalau kita coba!" imbuh Xiao seraya masih melangkahkan kaki terus maju.
"Pokoknya jangan macam-macam, kita harus mencari kunci agar keluar dari tempat ini," balas Chan.
"Kau terus bicara mengenai kunci, apa itu?"
"Kunci atau triger untuk jalan keluar dari sini."
"Apa?"
"Kita akan tahu saat melihat benda paling berbeda di antara yang lain." Chan tampak meyakinkan.
Xiao dan Chan masih berjalan mengendap-endap di lorong. Keduanya hanya melihat ke sekitar, dan lupa bahwa si makhluk bermata merah juga bisa berjalan di atap. Mereka tidak tahu makhluk itu sedang bersembunyi di atas, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang dua manusia di hadapannya.
__ADS_1
"Lihat Chan! ada pintu, mungkin bisa menjadi jalan keluar." Xiao berlari menghampiri pintu, dan mencoba menarik gagangnya.
"Entahlah, sepertinya ini pintu biasa," ujar Chan.
"Ini pintu yang besar Chan!" Xiao bersikeras.
Tanpa diduga baik Xiao dan Chan merasakan ada lendir yang menetes ke kepala mereka. Suasana semakin mencekam tatkala keduanya mendengar suara cekikikan berasal dari atap. "Hihihihi!"
Alhasil Xiao pun bergegas membuka pintu yang ada di depannya, dirinya sama sekali tidak berniat menoleh ke atas.
"Chan kenapa kau tidak membantuku?!" geram Xiao yang berhasil memergoki Chan hanya mematung. Mendengar keluhan Xiao, lantas Chan pun segera membantu. Keduanya berusaha menarik gagang pintu sekuat tenaga.
"Aaaaaarrrrkkkhhh!" suara teriakan si makhluk bermata merah begitu memekakkan telinga. Selanjutnya, dia langsung mencoba menyerang Xiao dan Chan. Namun terlambat, karena dua manusia yang akan di serangnya sudah berhasil keluar dari pintu.
Nafas Xiao dan Chan tersengal-sengal kala sudah berhasil keluar. "Sekarang apa makhluk itu akan mengejar lagi?" tanya Xiao sembari memegangi kedua lututnya.
"Tidak! semua makhluk di sini punya wilayah. Jadi mereka tidak bisa meninggalkan tempat mereka, kecuali makhluk pengejar," terang Chan yang masih mengatur deru nafasnya.
"Itu bagus! sekarang lebih baik kita cari benda triger-nya," usul Xiao, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Tetapi tidak mampu melihat apapun, karena kabut tebal yang menghalangi.
"Topimu, jangan-jangan itu triger-nya!" tebak Chan.
"Entahlah, mungkin karena makhluk bermata merah tadi menyentuhnya? Aku rasa kita harus masuk ke dalam lagi untuk mencarinya." Chan menelan salivanya.
"Tidak. . . perlu. . ." tiba-tiba hantu kakek bermulut lebar menyahut dengan suara berbisiknya. Dia menunjukkan tangannya ke arah tertentu. Sepertinya hantu itu mencoba memberitahukan sesuatu.
"Sedang apa dia?" Xiao bertanya-tanya.
"Dia sepertinya mengetahui benda triger-nya! dan berada di luar sana!" Chan menatap datar ke kabut tebal yang menutupi jalan.
"Apa kau mempercayai makhluk tua tersebut begitu saja?" Xiao menggeleng tak percaya.
"Xiao, kau memang benar-benar seorang pemula. Bahkan dirimu tidak mengetahui hantu mana yang bisa dipercaya. Aku beritahu padamu, hantu lelaki tua selalu mengatakan hal benar!" jelas Chan dengan ekspresi datarnya.
"Tapi, apa kita bisa bertanya padanya mengenai apa benda triger-nya?" tanya Xiao serius.
__ADS_1
Chan mengangguk dan segera menatap ke arah si hantu kakek berada. "Apa Kakek tahu apa triger-nya?" tanya Chan pelan.
"Jem. . . ba. . .tan. . ." hantu lelaki tua itu menyahut dengan nada bicara berbisik dan pelan. Lalu tersenyum dengan mulut lebarnya yang hampir menyentuh kedua telinga. Xiao yang melihatnya langsung merasa bergidik ngeri.
"Ya sudah, ayo kita pergi ke tempat yang dia tunjukkan!" Xiao berjalan lebih dahulu ke depan. Namun segera menghentikan langkahnya, kala menyadari Chan tidak mengikutinya.
"Chan? kenapa kau hanya diam?" desak Xiao menatap Chan penuh tanya. Dia melihat ada keraguan diwajah gadis yang sedang ditatapnya.
"Ayo!" Chan berlari kecil menghampiri. Tanpa ba bi bu, Xiao pun segera menggenggam erat tangan Chan.
"Jujur, kabut lebih menakutkan dari kegelapan. Karena lilin ini tidak bisa berfungsi sama sekali!" keluh Xiao.
"Terus saja jalan!" titah Chan.
"Bagaimana kalau kita tersesat?" Xiao meragu.
"Yang penting kita tidak keluar dari jalur setapak ini. Percayalah Xiao, tempat ini tidak jauh berbeda dengan dunia nyata!" Chan berusaha menenangkan Xiao, padahal dirinya juga sedang dirundung ketakutan yang teramat sangat.
"Chan, kau berusaha menenangkanku. Tetapi tanganmu sedang gemetaran," ucap Xiao yang sekarang menoleh ke belakang untuk menatap Chan.
"Sudahlah! ayo jalan saja!" Chan tak hirau.
Setelah lumayan lama berjalan bersama, dari kejauhan mulai terlihat sebuah jembatan. Benar saja, warna-nya memang tampak berbeda dengan benda lain yang ada di sana. Jika benda lain cenderung gelap dan berlumut, sedangkan benda yang menjadi triger jalan keluar terlihat bercahaya dan menonjol.
"Ayo!" Xiao dan Chan bergegas mendekati jembatan. Namun terhenti saat genggaman tangan mereka terlepas dengan tiba-tiba.
"Aaaaaaaa!" Chan memekik begitu histeris.
"Chaaaaan!!!" teriak Xiao yang tak kalah nyaringnya. Dia melihat Chan ditarik oleh makhluk hitam berkuku tajam. Makhluk tersebut memiliki wajah busuk dipenuhi belatung, serta memiliki asap hitam yang menyelimuti sekeliling tubuhnya.
"Hahaha! akhirnya kita bertemu lagi Chan!" ujar-nya sambil menatap Chan yang sedang tersungkur ke tanah. Xiao yang melihat hal itu segera melemparkan lilin tepat ke arah si makhluk hitam. Alhasil makhluk tersebut tumbang sejenak. Tetapi dia mengeluarkan sesuatu dari tangannya dan mengarahkannya kepada Xiao.
Chan yang melihat segera bangkit dan mendorong Xiao ke arah jembatan. "Xiao! aku menepati janjiku!" pekik Chan. Hingga muncullah sebuah pembatas yang sepertinya dikeluarkan oleh si makhluk hitam. Yang memisahkan keberadaan Xiao dan Chan.
Bruk!
__ADS_1
Xiao terjatuh ke tanah dan segera kembali bangkit. "Chan! apa yang kau lakukan?!" protes Xiao. Namun dia langsung dibuat kaget saat telah menyadari dirinya sudah kembali ke dunia nyata. Di sekelilingnya hanya ada pepohonan rindang biasa yang berjejer.
"Chaaan!" pekiknya dengan mata yang meliar kemana-mana. Kemudian mengacak-acak rambut frustasi.