Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 108 - Tragedi Kedua


__ADS_3

Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!


...-----...


Selalu ada alasan dibalik semua hal yang terjadi.


***


Shuwan melepaskan sendawanya setelah puas mengenyangkan perut. Ia sekarang menyenderkan diri dengan santai. Rasa kantuk perlahan menyelimuti matanya.


"Tertangkap kau!" suara bariton seorang lelaki membuat mata Shuwan terbuka lebar. Dia lantas menoleh ke arah sumber suara. Matanya terbelalak kala menyaksikan kedatangan Feng.


Shuwan mencoba berlari. Namun di depannya sudah ada Zao yang menghadang lebih dahulu. Langkah Shuwan sontak terhenti.


"Cepat maju! kalian pikir aku takut? kalian hanya berdua kan?" tantang Shuwan tak tahu malu.


Feng yang mendengar tersenyum miring. Ketika ia hendak melangkahkan kaki menuju ke arah Shuwan, sebilah katana mendadak muncul di hadapan lehernya. Matanya reflek terbelelak. Ternyata orang yang mengarahkan benda tajam tersebut adalah Spiderblood.


Lelaki bertopeng merah itu tidak sendiri. Ada dua anak buah yang tampak berdiri di belakangnya. Shuwan pun melangkahkan kaki untuk menghampiri Spiderblood.


"Habisi dia!" titah Shuwan kepada Spiderblood. Dia tidak tahu dari arah belakangnya Zao sudah bersiap menekan pelatuk pistolnya. Namun sebelum Zao sempat melepaskan peluru ke arah Shuwan. Tenshi sudah lebih dahulu menembakkan peluru ke kepala Zao. Lelaki tersebut tumbang, dan telentang tak bernyawa. Darah mengalir deras dari kepalanya.


"Sekarang telepon atasanmu, dan beritahukan kalau kau akan mengantar Shuwan ke markas!" Spiderblood terdengar sangat fasih dalam mengucapkan bahasa mandarin. Tidak seperti sebelumnya.


Feng pun akhirnya tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Spiderblood.


"Kau akan membunuhnya juga kan? ijinkan aku yang melakukannya!" geram Shuwan yang sedang menatap kesal kepada Feng.


"Diam! ikuti saja rencanaku!!" ujar Spiderblood tegas. Hingga membuat Shuwan langsung terdiam. Selanjutnya mereka pun segera pergi menuju markas Klan Wong.


Dengan menjadikan Feng sebagai sandera, Spiderblood dapat mengalahkan beberapa orang-orang Wong yang berjaga. Apalagi lima anak buah yang dibawanya sangatlah terlatih dan kuat.


Spiderblood tidak basa-basi dalam melayangkan katana-nya. Senjata-nya tersebut memang sangatlah tajam. Dapat memenggal kepala dalam sekali tebasan.

__ADS_1


Syut!


Spiderblood mengarahkan katana-nya ke leher Yenn. Bahkan tanpa sempat mendengar wanita itu mengucapkan satu kata pun. Sekarang keadaan Yenn sudah tidak bernyawa, dalam keadaan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


***


Xiao dan Chan sudah berada di sebuah tempat yang gelap. Dipenuhi kabut dan begitu dingin. Chan segera merobek bagian bawah baju Xiao. Kemudian menjadikannya perban untuk luka Xiao yang ada di lengan.


"Maafkan aku Xiao. . . aku terpaksa harus membuatmu terluka," ujar Chan masih dalam keadaan cemas.


"Tidak Chan, aku yang seharusnya berterima kasih!" sahut Xiao, lalu segera menoleh ke arah Devgan. Dia melayangkan pelototan kepada devilnya tersebut.


"Kau sudah menipuku Devgan! katakan kepadaku yang sebenarnya!" bentak Xiao.


"Aku melakukannya demi kita berdua!" Devgan membalas dengan suara yang tak kalah nyaring. "Bukankah kau ingin aku semakin bertambah kuat? kau ingin mengalahkan Spiderblood kan?" timpalnya.


"Apa?!" Xiao mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan Devgan.


"Xiao, apa maksudmu kalau Devgan menipumu? apa dia melakukan sesuatu yang buruk?" tanya Chan penasaran. Jujur saja, meskipun dalam dimensi lain, Chan masih tidak mampu menyaksikan wujud Devgan.


Dikarenakan keberadaan Devgan, beberapa makhluk yang mencoba menyerang Xiao dan Chan mundur. Untuk yang pertama kalinya, mereka tidak harus menghadapi makhluk berbahaya di dimensi lain. Apalagi sekarang ukuran tubuh yang dimiliki Devgan semakin besar.


"Xiao, aku pastikan kau tidak akan menyesal dengan pilihan yang aku buat untukmu!" ucap Devgan, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Xiao.


Setelah lumayan lama berjalan, Xiao dan Chan akhirnya menemukan sebuah pohon yang tampak bercahaya. Pertanda kalau itulah jalan keluar mereka. Keduanya pun bergegas menghampiri pohon tersebut. Saat mereka menyentuhnya, keberadaan mereka seketika berpindah kembali ke dunia nyata.


"Syukurlah, kita bisa keluar dengan mudah!" Chan mendengus lega. Ia mendudukkan diri di tanah. Di ikuti oleh Xiao yang juga ikut duduk di sampingnya. Mereka sedang berada di dekat sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh banyak pepohonan.


"Kalian tidak akan melewati dimensi lain dengan mudah, tanpa aku!" Devgan bersuara kembali. Namun Xiao lagi-lagi tidak mengacuhkannya.


"Apa kau memang sengaja mengabaikanku?!!" ucap Devgan lagi.


"DIAMLAH!" Xiao akhirnya tidak tahan lagi dengan Devgan. "Setelah ini jangan harap aku akan memberikan energi lagi kepadamu!" tegasnya kesal. Membuat Devgan terpaksa harus mengalah. Sebab ia tidak bisa mendapatkan energi tanpa persetujuan tuannya.

__ADS_1


"Tenanglah Xiao. . ." kata Chan pelan. Kemudian segera berdiri, ia melihat ke arah rumah kecil yang tampak tidak berpenghuni. Keadaan sekitarnya sangatlah sepi. Chan tidak bisa mengetahui dimana dirinya dan Xiao berada.


Pada akhirnya Chan mengajak Xiao beristirahat di rumah kecil yang ada di dekat mereka. Lagi pula keduanya sama-sama sedang kelelahan. Sekarang mereka berjalan bersama memasuki rumah kecil.


Chan dan Xiao sangat beruntung. Sebab di dalam rumah kecil yang mereka masuki terdapat lentera beserta koreknya. Meskipun hanya terdapat satu lentera, setidaknya benda tersebut dapat sedikit memberikan penerangan dan juga penghangat. Apalagi cuaca gelap dan gerimis masih menyelimuti. Matahari pun semakin turun ke ufuk barat.


Xiao terlihat duduk sambil merenung. Dia memikirkan apa yang telah menimpanya. Teringat jelas dalam ingatannya ketika Lien mengajaknya masuk ke dalam gudang. Saat itulah sebuah bayangan hitam masuk ke dalam tubuhnya. Xiao menjadi tidak bisa mengendalikan diri.


"Xiao, sebenarnya apa yang telah terjadi? maukah kau menceritakan semuanya kepadaku?" Chan memulai pembicaraan.


"Itu semua karena makhluk kutukan. . ." lirih Xiao memberitahu.


"Jadi semua tragedi yang terjadi di sekolah itu semua karena dirimu?!" Chan menatap tak percaya.


"Aku tidak menyangka makhluk itu akan menjadi berlebihan, dan membunuh banyak orang." Xiao tampak memegangi area kepalanya, dan menghela nafas beberapa kali.


"Bukankah Al sudah memperingatkanmu? kenapa kau tidak mendengarkan!"


"Diamlah Chan, kalau kau lelah denganku, pergilah!" ketus Xiao, yang sontak membuat Chan seketika membisu.


Chan berjalan dan segera duduk di sebelah Xiao. Ia memeluk lelaki tersebut dari samping. Meletakkan kepalanya ke pundak Xiao. Seakan dirinya menolak tegas ucapan yang sudah dilontarkan Xiao kepadanya.


Di sisi lain, Fa, Brian dan Al sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah Heping. Kedatangan mereka langsung disambut oleh keributan. Banyak polisi beserta pihak medis yang berlalu lalang.


Dikarenakan penasaran, Brian pun berinisiatif turun dari mobil dan bertanya kepada salah satu polisi yang ada. Saat mengetahui yang sebenarnya terjadi, Brian segera kembali masuk ke dalam mobil dan memberitahukan semuanya kepada Fa dan Al.


"Lihat! foto Xiao sudah beredar dimana-mana. Aku yakin dia sekarang melarikan diri bersama Chan!" imbuh Brian sambil memperlihatkan foto Xiao yang tertera di sebuah artikel online.


"Tetapi kita tidak tahu mereka kemana!" sahut Al yang tengah menunjukkan raut wajah khawatir.


"Kalau begitu, lebih baik kita pergi ke markas. Mungkin saja Yenn bisa membantu kita!" Fa langsung memutar balik mobilnya. Dia berniat kembali ke markas untuk memberitahukan Yenn semuanya. Fa juga tidak lupa untuk menghubungi Yenn melalui telepon terlebih dahulu. Namun Yenn sama sekali tidak menjawab panggilannya.


"Dia tidak menjawab?" tanya Brian yang sedari tadi menyadari kegelisahan dalam diri Fa.

__ADS_1


"Tidak!" jawab Fa singkat.


Ketika sudah tiba di markas, Fa, Brian dan Al melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Bagaimana tidak? keadaan markas Klan Wong dipenuhi dengan darah dan potongan tubuh manusia. Parahnya, korban-korban yang telah menjadi mayat tersebut adalah orang-orang Wong sendiri.


__ADS_2