Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 135 - Melawan Spiderblood & Devilnya


__ADS_3

Setiap tindakan pasti memiliki resiko.


***


Semua orang-orang bertopeng di bandara telah tumbang. Kecuali Zac, Xiao sengaja meninggalkannya seorang diri dan mengikatnya dengan tali.


"Dasar pengkhianat! siapa kau sebenarnya?!" geram Zac. Topengnya sudah dilepas dengan paksa oleh Xiao. Wajah Zac tampak ditutupi dengan sedikit brewok di sekitaran dagunya.


Xiao dan Theo diam saja. Theo masih berdiri memegangi shotgun-nya. Sedangkan Xiao sibuk menyalakan gergaji mesinnya.


"Sial! kau mau membunuhku dengan itu?!" timpal Zac lagi. Giginya menggertak kesal, tetapi dia tidak mampu melakukan apapun.


Ngeeeeng....


Gergaji mesin Xiao sudah menyala. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Zac. "Mata harus dibalas dengan mata!" ujarnya, lalu langsung memenggal kepala Zac dengan gergaji mesin yang dipegangnya.


Theo yang melihat sontak meringiskan wajah, dan mengalihkan pandangannya. Selanjutnya barulah Xiao bergegas mencari keberadaan Spiderblood. Dengan bantuan Theo yang bersedia mengemudikan mobil, Xiao duduk tenang sejenak.


Xiao bisa tahu posisi Spiderblood karena devil yang ada di samping lelaki bertopeng merah itu sangatlah besar. Lokasinya sendiri berada di dekat sebuah gedung yang menjulang tinggi. Hampir sama dengan tingginya devil yang dimiliki Spiderblood.


Sementara itu, orang-orang bertopeng biru mulai berdatangan. Mereka menemui Chan yang menunggu. Sebab Chan memberitahu kalau dirinya tahu cara mengalahkan bawahan Spiderblood dengan mudah.


"Kenalkan aku Hanami!" seorang wanita bertopeng biru bersalaman dengan Chan.


"Chan!" jawab Chan singkat.


"Oke Chan, sekarang bagaimana caranya kami melawan semua bajing*n itu?" tanya Hanami.


"Menunggu. Kita harus menunggu terlebih dahulu..." sahut Chan sembari mengalihkan pandangannya ke arah sebuah mobil yang semakin menjauh. Gadis itu tahu kalau Xiao dan Theo ada didalamnya. Chan berharap usaha Xiao berhasil.


***


Theo menghentikan mobilnya. Xiao bergegas keluar. Kepalanya perlahan mendongak untuk menatap seberapa tingginya devil Spiderblood yang sedang berdiri.


"Theo, pergilah! aku bisa melakukannya sendiri!" titah Xiao sembari membanting pintu mobil. Kemudian berjalan memasuki gedung tinggi yang berada tepat di samping devil Spiderblood. Sebelum itu, Xiao tidak lupa untuk memakai topengnya lagi.

__ADS_1


Theo terdiam seribu bahasa. Dia merasa tidak tega meninggalkan Xiao pergi sendirian. Apalagi pimpinan seperti Spiderblood tidak mungkin menyendiri. Alhasil dia juga ikut keluar dari mobil dan kembali mengenakan topeng.


Sebenarnya, Xiao dan Theo tidak perlu mengkhawatirkan semua bawahan Spiderblood. Karena mereka semua sudah mendengar kabar tentang kejadian di bandara. Jadi sebagian besar dari mereka ditugaskan pergi ke sana.


Xiao menaiki elevator. Tanpa diduga Theo muncul dan berdiri di di sampingnya.


"Apa-apaan Theo, kenapa kau ikut?" timpal Xiao tak percaya.


"Aku ingin melihat Spiderblood secara langsung!" balas Theo tenang. Xiao lantas hanya bisa mendengus kasar.


Beberapa saat kemudian lift berhenti. Mengantarkan Xiao dan Theo di lantai paling atas. Sebab Xiao memang berniat pegi ke atap. Dia hendak menyerang devil Spiderblood terlebih dahulu, sebelum dirinya melakukan sesuatu kepada tuannya.


Ceklek!


Xiao membuka pintu menuju atap. Penglihatannya langsung disambut dengan rupa mengerikan devil Spiderblood. Tanpa ba bi bu, Xiao segera mengeluarkan pedang gaibnya. Hingga berhasil membuat mata devil Spiderblood membola.


Kaki Xiao berlari cepat ke arah ke arah devil Spiderblood, yang tidak lain adalah raja devil untuk saat ini.


Tanpa memikirkan resiko, Xiao melompat begitu saja ke udara. Mengarahkan ujung pedangnya ke kepala raja devil.


"Sial!" sembur Xiao kepada dirinya sendiri. Saking menggebunya keinginannya untuk memusnahkan raja devil. Dia sampai lupa memikirkan keselamatannya sendiri. Akan tetapi matanya seketika terbelalak. Jantungnya yang tadi sempat berdebaran akibat mengira ajal akan menjemput, perlahan menjadi tenang. Karena pedang gaib Xiao tertancap di kepala sang raja devil. Menyebabkan badan Xiao terhenti di udara dan tidak terjatuh.


Sebuah sinar hijau seperti kobaran api muncul dari luka di kepala raja devil. Suara erangan kesakitan raja devil memekik lantang. Bahkan bisa terdengar ditelinga Theo.


Pedang gaib berjalan mengikuti gravitasi. Membelah badan sang raja devil menjadi dua bagian. Kobaran api berwarna hijau itu menyala-nyala.


Sedangkan Xiao hanya berusaha sebisa mungkin memegang erat pedang gaibnya. Semakin bergerak ke bawah, maka semakin keras kekuatan pedangnya. Kedua tangan Xiao gemetaran. Hembusan angin kencang menerpa badannya, dan hampir membuat pegangan Xiao terlepas.


Dalam sekejap, pedang gaib berhasil membelah badan raja devil menjadi dua bagian.


Deg!


Jantung Xiao berpacu lebih cepat, kala pedangnya sudah tidak bertautan lagi di badan raja devil. Tubuhnya sepenuhnya berada di udara, tetapi anehnya dia dalam keadaan melayang. Terjatuh dengan pelan ke tanah.


Tap!

__ADS_1


Perlahan kaki Xiao berpijak pada tanah. Matanya segera mengerjap beberapa kali. Menatap kagum pada pedang gaib yang dipegangnya.


"Uhuk! uhuk!" suara batuk seseorang berhasil menarik arensi Xiao. Dia lantas menatap ke arah pemilik sumber suara yang tidak lain adalah Spiderblood. Posisinya berada tidak jauh dari Xiao. Sungguh kebetulan yang tak terduga.


Spiderblood teruduk di lantai. Digeromboli oleh dua bawahannya. Lelaki bertopeng merah itu tampak melemah. Tidak sangar seperti biasanya. Wajar, karena devilnya telah berhasil ditumbangkan Xiao.


Sebuah pistol yang tergeletak begitu saja di tanah segera di ambil Xiao. Langsung ditembaknya dua bawahan Spiderblood yang ada.


Melihat adanya serangan, Spiderblood sontak bangkit dan berdiri. Mengambil katana yang selalu ada di balik punggungnya. Dia mencoba berlari untuk menyerang, namun larinya yang lambat membuat Xiao lebih dahulu melakukan serangan. Ditembakkannya sekitar dua peluru kepada Spiderblood.


"Si-siapa kau!" ujar Spiderblood yang sudah terjatuh ke tanah. Katana-nya pun terlepas begitu saja, karena kedua tangannya reflek memegangi luka yang ada di tubuhnya.


Xiao berderap menghampirinya. Dia membuka topengnya sendiri, lalu juga melepaskan topeng Spiderblood. Terpampanglah wajah Spiderblood yang dipenuhi dengan luka bakar.


"Kau mirip sekali dengan devilmu." Xiao menjeda, demi melancarkan helaan nafasnya. "Karena itu, kau akan bernasib sama dengannya," lanjutnya seraya bersiap menarik pelatuk pistolnya.


"Mati!"


Dor! Dor!


Dua peluru Xiao tembakkan tepat ke kepala Spiderblood.


Dor! Dor!


"DIA TELAH MEMBUNUH SPIDERBLOOD!!!" tanpa diduga beberapa bawahan Spiderblood berdatangan. Salah satu di antara mereka telah meluncurkan dua peluru masuk ke badan Xiao. Mengenai tepat punggung dan kakinya.


"Ugh!" Xiao berusaha bertahan. Anehnya dia masih mempunyai energi yang kuat.


Xiao sontak memutar badannya, dan besarnya ukuran Devgan berhasil membuatnya terkejut. Hal itu membuat Xiao terpaku, hingga dia lupa dengan bawahan Spiderblood yang terus melakukan serangan kepadanya.


Jleb!


Salah satu bawahan Spiderblood lainnya telah menusukkan pisau ke perut Xiao. Mata Xiao perlahan mulai berkunang-kunang. Rasa sakit mulai menjalar di badannya.


Dor! Dor!

__ADS_1


"Xiao! cepat lari!!" hanya suara Devgan yang berhasil didengar Xiao sebelum dirinya menjadi tidak sadarkan diri. Selain itu riuhnya bunyi tembakan juga sedikit terdengar ditelinganya. Selanjutnya penglihatan Xiao seketika diliputi dengan kegelapan.


__ADS_2