
Keberuntungan memang datangnya tak terduga, bahkan terkadang tidak menguras energi.
***
Xiao, Brian dan Shuwan telah tiba di Hongkong. Ketika turun dari pesawat, kepala Shuwan terlihat terus digerakkan kemana-mana. Sepertinya dia berusaha mencari cara untuk kabur. Namun Xiao langsung memegangi erat kedua tangannya.
"Apa-apaan kau!" protes Shuwan.
"Aku tidak bodoh! kau kira aku tidak tahu, kalau kau sekarang berpikir untuk melarikan diri?" balas Xiao, dia melepaskan tasnya dan mengencangkan genggamannya.
"Bri, bisa pegangi dia sebentar? aku mau menghubungi ibuku." Xiao menoleh ke arah Brian yang kebetulan berdiri di sampingnya.
"Serahkan cecunguk itu!" sahut Brian. Dia memegangi kedua tangan Shuwan lebih erat dibandingkan Xiao, hingga membuat Shuwan sontak meringis kesakitan.
"Hei! bisakah kau kurangi kekuatanmu? darahku sepertinya tidak dapat mengalir karena cengkeramanmu itu!" kritik Shuwan. Tetapi sama sekali tidak digubris oleh Brian.
Setelah menghubungi Yenn, Xiao hanya tinggal menunggu jemputan. Dia tidak perlu menanti terlalu lama, karena sekitar sepuluh menit kemudian, ibunya datang bersama beberapa anak buahnya.
Yenn turun dari mobilnya, matanya langsung terfokus kepada Shuwan. Dia tidak menyangka, apa yang dikatakan Xiao memanglah benar. Kalau klan Tao sepertinya sudah kehilangan pemimpinannya.
"Wah, lihat siapa ini. Haha!" ucap Yenn sembari menilik Shuwan dari ujung kaki sampai kepala. "Kau ternyata sudah menjadi pecundang!" sambungnya yang sekarang berseringai.
"Kerja bagus Xiao!" Yenn sekarang berbicara kepada sang putra.
"Apa Ibu sudah pergi ke markas Tao?" tanya Xiao.
Yenn menggeleng dan berucap, "Belum. Soalnya aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu, mengenai kabar yang kau berikan."
"Jadi kau tidak mempercayaiku?!" Xiao menyimpulkan dengan bola mata yang memutar kesal.
"Bukannya begitu, Ibu hanya tidak ingin bertindak ceroboh!" Yenn menegaskan.
"Terserah!" respon Xiao.
"Tunggu, mana ayahmu? kau bilang sudah menemukannya?" cegah Yenn kepada Xiao yang hampir melangkahkan kaki.
"Ini, dia ada di dalam sini." Xiao menyerahkan sebuah tas kepada Yenn.
"Apa maksudmu?" Yenn mengerutkan dahi.
"Suamimu sudah mati!" penjelasan singkat Brian berhasil membuat mata Yenn terbelalak. Dia merasa sangat terkejut. Matanya perlahan mulai berkaca-kaca. Perasaan amarah dan kesedihan bercampur aduk dalam dirinya.
"Siapa yang telah melakukannya Xiao! KATAKAN PADA IBU!" pekik Yenn dengan dibarengi luapan amarahnya.
__ADS_1
"Nanti aku akan jelaskan, sekarang lebih baik kita menyelesaikan urusan dengan klan Tao dahulu!" jawab Xiao yang terkesan santai. Sekarang Yenn hanya bisa melampiaskan kekesalan dan kesedihannya dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Untuk memastikan, Yenn pun lekas-lekas membuka isi tas yang diberikan Xiao. Jantungnya serasa disambar petir tatkala menyaksikan kepala utuh suaminya sendiri terpampang begitu nyata. Selain itu ia juga berhasil menemukan kepala utuh Anming. Sekarang Yenn sepenuhnya percaya kepada omongan putranya bahwa klan Tao memang benar-benar telah jatuh.
'Xiao benar, lebih baik menyelesaikan urusan dengan klan Tao terlebih dahulu!' batin Yenn menyetujui usulan putranya.
Selanjutnya Xiao terlihat mencengkeram leher Shuwan secara tiba-tiba. "Bisakah kau mengantar kami ke markasmu?!" ancamnya, namun Shuwan hanya terdiam, seolah tak ingin menjawab. Alhasil Xiao pun semakin mengeratkan pegangannya hingga membuat wajah Shuwan memerah.
Karena merasa tercekik, Shuwan pun bergegas menganggukkan kepala agar Xiao bisa lekas-lekas melepaskan cengkeramannya. Benar saja, lelaki berambut pirang tersebut langsung membebaskan Shuwan dari rasa tercekiknya.
"Ibu, suruh semua bawahan kita untuk ikut!" Xiao memberitahu kepada sang ibu.
"Baiklah!" Yenn setuju. Dia segera menghubungi semua anak buahnya untuk ikut pergi ke markas milik klan Tao.
"Tunggu, ini berarti kita pergi ke kota Ding Yang kan?" Brian memastikan.
"Iya! kau pikir mau kemana lagi?!" ketus Xiao, yang segera bergegas memasuki mobil. Mereka pun beranjak pergi ke kota Ding Yang.
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan lama, akhirnya tibalah sudah Xiao dan yang lainnya di markas milik Shuwan.
"Pegangi erat-erat cecunguk itu!" perintah Xiao kepada bawahan ibunya. Dua orang pun bertindak dan segera memegangi kedua tangan Shuwan.
"Apa ada yang punya pistol?" Xiao memandangi orang-orang yang tengah berdiri mengelilinginya.
"Kau mau apa? kau tidak akan membunuhnya kan?" Brian yang sepertinya ragu untuk memberikan senjatanya mencoba bertanya terlebih dahulu. Namun Xiao hanya merespon dengan senyuman yang tak dapat diartikan.
"XIAO! apa yang kau lakukan! aku sudah menyerahkan diri dan juga mengantarmu ke markasku!!!" pekik Shuwan yang mulai merasakan firasat buruk.
"Shu! shu!" Xiao meletakkan jari telunjuknya ke bibir Shuwan lalu melanjutkan, "tenang saja, aku tidak akan membunuhmu bodoh!"
Dor!
Tanpa aba-aba sedikit pun, Xiao tiba-tiba menekan pelatuk pistolnya. Dia mengarahkannya tepat ke kaki Shuwan.
"Aaaarkkhhhh!!!" Shuwan sontak mengerang kesakitan. Apalagi Xiao menembaknya dengan menggunakan pistol magnum, yang memang terkenal akan kekuatannya. Shuwan sekarang terduduk di tanah, karena sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya.
"Begitulah perihnya saat kakimu ditembak. Sakit bukan?" ungkap Xiao.
"Hanya begitu?" Yenn menatap Xiao dengan sudut matanya.
Xiao pun lantas membalas tatapan sang ibu dan berkata, "Untuk sementara hanya begitu."
"Sudahlah, itu lumayan cukup untuk membalas kesalahannya." Brian menuturkan pendapatnya sendiri. Namun dirinya malah mendapatkan pelototan tajam dari Xiao dan Yenn.
__ADS_1
"Apa?! kalian pikir aku takut?!" mata Brian menyalang ke arah ibu dan putra yang sedang berdiri di hadapannya.
"Diamlah untuk sementara Bri, atau. . ." sekarang Xiao menodongkan pistolnya ke arah Brian.
"Xiao, apa-apaan kau!" Brian tak terima dengan perlakuan Xiao.
"Hmm. . . benda ini sepertinya membuatku ketagihan!" Xiao terlihat membolah-balikkan senjata yang ada dalam genggamannya.
Tak! Tak! Tak!
Orang-orang Tao mulai bermunculan, sepertinya suara tembakan berhasil menarik perhatian mereka. Bahkan beberapa orang yang tidak asing untuk Xiao ikut hadir. Termasuk Zhu dan Mei.
Atensi Xiao yang tadinya tertuju ke arah Brian, sekarang teralih kepada beberapa orang Tao yang muncul.
"Ke-kenai!" mata mei membola kala menyaksikan penampakan Xiao. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat karena saking bahagianya. Dia memang memendam rasa cinta untuk lelaki berambut pirang itu.
"Ketua kalian sudah menyerahkan diri. Jadi mulai sekarang, kami yang akan mengambil alih semuanya!" Yenn bersuara dengan lantang. Dia sedang melakukan pose berkacak pinggangnya.
"Tidak! kami tidak akan kalah!" salah satu lelaki bawahan Tao bersuara. Dia memajukan langkahnya sambil menodongkan pistolnya.
Dor!
Tanpa ba bi bu, Xiao langsung meluncurkan peluru tepat ke kepala lelaki yang tadi sudah berani bersuara.
Bruk!
Lelaki tersebut seketika ambruk. Kepalanya tampak bolong dan mengeluarkan banyak darah akibat tekena peluru dari pistol Xiao.
"Jika ada yang melawan, maka dia akan mendapatkan nasib yang sama dengannya!" tegas Xiao. Dia memperhatikan satu per satu para bawahan Tao.
'Sial! kelakuan Xiao semakin menjadi-jadi, dia sangat berbeda dengan Jonas!' batin Brian, yang merasa tercengang terhadap aksi Xiao.
Pada akhirnya semua orang-orang Tao pun tidak punya pilihan lain selain mengalah. Mereka segera menurunkan senjatanya. Mei yang merasa senang langsung berlari kecil menghampiri Xiao.
"Kenai! aku sangat merindukanmu. Apa kau ke sini mau menyelamatkanku?" ujar Mei dengan tatapan yang berbinar.
"Aku--"
"Mei! tolong aku. . ." Shuwan menyela kalimat yang hendak diucapkan Xiao, dia mencoba memanggil gadis pujaannya lirih.
"Cih! siapa yang mau menolongmu!" mata Mei melotot ke arah Shuwan. Kemudian menginjak dengan sekuat tenaga kaki Shuwan yang sedang terluka.
"Rasakan ini!!" geram Mei.
__ADS_1