Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 38 - Ruang Vip


__ADS_3

Kerjasama yang baik memang bisa menimbulkan hasil yang baik pula.


***


"Chan kau tunggu saja di depan mall ya!" titah Xiao, yang segera beranjak pergi.


"Kau mau kemana?" tanya Chan.


"Pokoknya turuti saja perintahku!" balas Xiao yang semakin menjauh dari pandangan Chan.


"Sekarang apa yang sedang direncanakannya!" gumam Chan sembari menggeleng maklum. Alhasil gadis itu pun melakukan apa yang disuruh Xiao kepadanya. Chan sekarang berdiri di depan mall dengan penampilannya yang baru.


Brrrrm! Brrrm!


Mata Chan membulat sempurna tatkala menyaksikan kedatangan Xiao. Lelaki tersebut terlihat mengendarai sebuah sepeda motor baru. Xiao menghentikan motornya ketika sudah berada di hadapan Chan.


"Xiao! apa-apaan ini?!" Chan terperangah. "Bukankah ini mahal?" lanjutnya yang bertanya.


"Sudah aku bilang kita bersenang-senang kan? nih cepat pakai!" Xiao menyodorkan helm kepada Chan.


"Kau ada-ada saja!" Chan tersenyum senang, lalu segera duduk di belakang Xiao.


"Tetapi aku bisa lihat kau bahagia!" jawab Xiao yang sedang tersenyum dari balik helm-nya. Kemudian langsung menjalankan motornya.


"Sekarang kau mau membawaku kemana?" Chan melingkarkan tangannya ke pinggang Xiao.


"Haiss! bukankah sudah ku-jawab beberapa kali bahwa kita akan bersenang-senang!" sahut Xiao dengan nada tinggi.


"Benarkah?" Chan sedikit terkekeh sembari semakin merekatkan tubuhnya kepada Xiao.


Tidak memakan waktu yang lama, Xiao pun tiba di tempat yang dia tuju. Dia menghentikan motornya dengan tiba-tiba, yang sontak membuat Chan tersentak kaget.


Plak!


"Xiao! apa yang kau lakukan!" tegur Chan setelah melayangkan cap lima jarinya ke pundak Xiao. Namun lelaki yang dipukulnya hanya merespon dengan tawa kecilnya.


Chan terlihat celingak-celingukan melihat bangunan yang ada di depannya. "Tunggu, apa ini klub? kau mengajakku ke diskotik sore-sore begini? kau gila Xiao!" cibir Chan.


"Bukankah kau juga tidak pernah ke tempat seperti ini?" tanya Xiao, yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Chan. "Ya sudah kalau begitu, ayo kita masuk!" Xiao menyeret Chan ikut bersamanya. Keduanya mulai melangkahkan kaki memasuki klub.

__ADS_1


Dikarenakan harinya masih sore, tempat itu masih belum dipenuhi oleh banyak orang. Xiao sengaja memesan ruang vip untuk dirinya dan Chan.


"Apa kau perlu beberapa gadis untuk menemani?" tanya sang pemilik klub.


"Tidak perlu!" Chan menyahut lebih dahulu, sebelum Xiao sempat berbicara. Alhasil hanya ada mereka berdua yang berada di ruang vip.


"Chan bukankah kau juga belum pernah meminumnya?" Xiao menuang bir ke dalam cangkir.


"Belum!" jawab Chan singkat. Dia duduk dengan menyilangkan kaki layaknya gadis feminin pada umumnya.


Xiao mencoba melayangkan segelas bir ke dalam mulutnya namun gagal, karena Chan merebut gelasnya lebih dahulu. "Kau semakin nakal Chan!" kritik Xiao yang kembali menuang birnya ke gelas yang baru.


"Xiao, lebih baik kita jangan terlalu banyak minum dahulu. Aku ingin melihatmu menari di lantai dansa!" ungkap Chan sembari meletakkan gelasnya ke atas meja.


"Untuk apa menari di lantai dansa, tidak ada gunanya!" tepis Xiao dengan kekehnya.


"Bilang saja kalau kamu tidak bisa!" Chan mencondongkan wajahnya kepada lelaki yang duduk di sebelahnya. Alhasil Xiao pun mulai tergoda untuk semakin mendekat, tetapi Chan dengan sigap menahannya.


"Xiao, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku sebelum melihatmu menari!" imbuh Chan. Xiao yang mendengar tantangan yang dilontarkan Chan hanya merespon dengan tawa kecil.


***


"Apa yang terjadi pada ayahku hah!" Shuwan mencengkeram kerah baju bawahan yang telah memberitahukan informasi kepadanya.


"A-a-aku tidak tahu Tuan! dia tiba-tiba saja menghilang saat pergi ke toilet!" jawab sang bawahan dengan gagapnya.


"Kurang ajar! semuanya karena Xiao!" Shuwan semakin naik pitam. Nafasnya mulai naik turun, bahkan kedua tangannya mengepalkan tinju. Dia bertekad ingin lekas-lekas membunuh Xiao.


"Aku membutuhkan orang suruhan lebih banyak!" gumam Shuwan, yang mana perintahnya langsung dilaksanakan oleh sang bawahan.


Shuwan bahkan memaksa teman-temannya untuk ikut andil. Termasuk Mei, Zhu, Ling dan yang lainnya.


"Shuwan, kenapa kau memaksa kami untuk berbuat kriminal?!" tanya Ling, yang disertai dengan rengekannya.


Dor!


Shuwan membidik kepala Ling tanpa ampun di hadapan semua teman-temannya. "Jika ada yang membantah, maka aku akan pastikan kepala kalian akan berlubang sepertinya!" ancam Shuwan yang diakhiri dengan ludahannya kepada jasad Ling.


"Oh, kecuali untukmu Mei sayang. Kau tidak saja akan dilatih berkelahi, tetapi juga berlatih bersamaku di kamar!" Shuwan memegangi dagu Mei.

__ADS_1


"Shuwan!" panggil Zhu, yang sontak membuat Shuwan menoleh. "Apa boleh aku tahu siapa Kenai dan Jia?" sambungnya.


"Nanti kau pasti tahu!" ketus Shuwan, lalu segera beranjak pergi.


***


Sore berganti malam, Xiao dan Chan akhirnya melangkah menuju lantai dansa. "Ayolah Xiao apa kau malu?!" ucap Chan yang mulai menggerakkan badannya sesuai irama musik. Sedangkan Xiao yang masih enggan, hanya menghentakkan sebelah kakinya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Hahaha! Xiao, sekarang aku tahu kelemahanmu!" ucap Chan dengan tawa gelinya. Gadis tersebut tampak sangat bahagia.


'Aku sudah lama tidak melihat gelak tawa itu dari seorang Chan!' batin Xiao, yang pada akhirnya mulai menggerakkan badannya. Alhasil Chan yang menyaksikan tarian kikuk Xiao mulai tertawa dengan memegangi perutnya.


"Apa tarianku seburuk itu Chan?" tanya Xiao yang mulai menampakkan raut wajah merengutnya dan menghentikan gerakannya.


"Sangat buruk!" ungkap Chan singkat. Xiao lantas membuang muka darinya.


"Apa kau marah?" Chan memegangi wajah Xiao.


"Apa aku terlihat marah?" Xiao berbalik tanya.


Chan merespon dengan senyumnya, kemudian mempertemukan jidatnya dengan jidat Xiao. Jarak wajah di antara keduanya hanya beberapa senti. Xiao memanfaatkan momen itu untuk mencoba mencium bibir Chan. Namun untuk sekian kalinya gadis yang dicintainya tersebut kembali menolak. Chan reflek memegangi bibir Xiao, agar tidak menyentuh bibirnya.


"Kau masih menolak?!" tanya Xiao merasa tak percaya.


"Aku hanya tidak suka melakukannya di depan umum," jawab Chan, lalu membawa Xiao masuk ke dalam pelukannya. Xiao hanya meresponnya dengan dengusan kasar, tangannya terpaksa harus melingkar di punggung Chan.


Di tengah kerlap-kerlipnya lampu diskotik dan banyaknya orang, Xiao dan Chan masih melakukan aktifitasnya. Hingga tidak menyadari ada seorang lelaki dan perempuan yang sedari tadi mengamati gelagat keduanya.


"Sepertinya anak itu sedang dimabuk cinta!" celetuk Brian, yang dilanjutkan dengan menenggak bir langsung dari botolnya.


"Firasatmu memang tidak pernah mengecewakan Brian!" sahut Al yang tengah duduk di samping Brian dengan mengangkat sebelah kakinya. "Apa kita akan mengajaknya bicara sekarang?" lanjutnya.


"Sepertinya Xiao masih butuh waktu untuk bersenang-senang. Firasatku mengatakan sebentar lagi dia akan melewati pertarungan yang berat! jadi biarkan saja dahulu dia menikmati semuanya!" jelas Brian yang kembali meneguk birnya.


"Brian! sudahlah! aku tahu kau sangat menyukai alkohol. Tetapi setidaknya kendalikan dirimu, aku tidak mau mengurusmu kalau kau mabuk berat!" protes Al. Dia merasa risih dengan kebiasaan Brian yang selalu kecanduan alkohol.


"Hahaha! aku tahu kau pasti peduli padaku Al!" balas Brian santai.


Xiao tiba-tiba melepaskan pelukannya. "Chan, jika kau tidak suka keramaian, bagaimana kalau kita ke ruang vip saja?!" sarannya. Chan lantas tersenyum dan bergegas menyeret Xiao ikut bersamanya. Keduanya kembali memasuki ruang vip.

__ADS_1


__ADS_2