
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
Kapan semuanya akan berakhir?- Chan.
***
Xiao, Chan dan Theo sudah duduk di kursi pesawat. Mereka duduk bersama. Membiarkan pesawat lepas landas lebih dahulu.
Setelah pesawat terbang dengan tenang, semua orang bertopeng terlihat berdiri. Mereka menyeret pria bertopeng biru. Xiao, Chan dan Theo yang tidak mengerti hanya ikut-ikutan. Melangkah menuju bagian bagasi pesawat. Tempat yang harusnya di isi dengan barang, kosong melompong, karena memang penumpang yang ada sekarang memang sedang tidak pergi untuk liburan. Melainkan demi melakukan misi yang menurut mereka penting.
Semua orang tampak saling bergantian untuk menyiksa si pria bertopeng biru. Ada yang melayangkan tendangan hingga memukulnya dengan tongkat.Chan berusaha mengalihkan pandangannya. Sebab dia merasa tidak sanggup untuk melihat.
Seiring waktu bertambah, pria bertopeng biru itu semakin tak berdaya. Hanya ada erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
"Karena dia sudah mendapat banyak pelajaran. Sekarang tinggal tahap terakhir, kalian pasti mengerti apa itu." Lelaki bertopeng iblis bersuara. Dia tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Karena berniat memilih orang yang pantas untuk mengakhiri hidup sang pria bertopeng biru. Hingga akhirnya atensinya tertarik dengan senjata gergaji mesin yang dipegang Xiao.
"Kau! punya kesempatan membunuhnya!" lelaki bertopeng iblis menunjuk ke arah Xiao. Seketika membuat Chan dan Theo membelalakkan mata secara bersamaan.
Xiao sebenarnya agak terkejut. Sebab dirinya tidak menyangka akan turut menjadi bagian orang yang dipilih. Dia sebenarnya agak keberatan melakukannya, karena pria bertopeng biru berada dipihak yang berbeda dari Spiderblood. Xiao meragu, namun dia juga tidak bisa menolak. Semuanya demi keselamatannya, Chan dan Theo.
Chan yang merasa tidak tahan lagi, mencoba melangkah pergi. Akan tetapi, dia langsung mendapatkan teguran dari pria bertopeng iblis.
"Mau kemana kau?" ujarnya sambil mengangkat dagunya sekali.
"Chan..." lirih Xiao. Memberikan kode agar Chan tidak pergi. Kini Chan tidak punya pilihan selain menurut.
Sementara Xiao mulai menyalakan gergaji mesinnya.
__ADS_1
Ngeeeeeeng....
Seperti yang Chan bilang, bunyi yang dikeluarkan benda itu sangat berisik. Terkesan mengerikan dan memekakkan telinga.
"Terserah kau mau memotong bagian apa. Tetapi pastikan dia benar-benar mati!" ucap pria bertopeng iblis seraya memberikan ruang untuk Xiao.
"Lakukanlah Xiao..." Devgan terkekeh. Bersemangat dengan apa yang akan dilakukan tuannya.
Sedangkan lelaki bertopeng biru yang sudah lemah, hanya pasrah dan memejamkan matanya rapat-rapat. Kemungkinan dia tida mau menyaksikan akhir dari kehidupannya yang terbilang ironis.
Xiao menghela nafas panjang. Kemudian perlahan mengarahkan gergaji mesin kepada pria bertopeng biru. Anehnya semua orang bertopeng di sekelilingnya malah bersorak-sorai dan memberi Xiao semangat.
"Bagus kawan!"
"Cepat lakukan! aku sudah tidak sabar!"
"Come on!"
Sedangkan Theo mencoba sebisa mungkin bertingkah kalau dia bagian dari kelompok. Yaitu dengan cara terus bertepuk tangan. Jujur saja, dia melakukannya dengan gerakan yang tampak canggung dan meragu.
Xiao sudah berdiri di depan pria bertopeng biru. Sebelum dia benar-benar mengarahkan gergaji mesinnya, dia berucap, "Maaf..."
Selanjutnya tanpa basa basi lagi, Xiao segera mengarahkan gergaji mesin yang menyala tepat ke leher pria bertopeng biru. Cairan merah nan kental berhamburan kemana-mana. Beterbangan secara acak bagaikan air yang tumpah.
Ngeeeeeeng....
Chan akhirnya berbalik dan pergi. Dia membelah kerumunan sebisanya. Lalu masuk ke dalam toilet. Di sana gadis tersebut langsung mengeluarkan cairan yang berasal dari lambungnya.
***
__ADS_1
Aksi pembantaian telah selesai. Orang-orang bertopeng mulai menyibukkan diri dengan caranya masing-masing. Ada yang tidur, bermain dark web, dan menikmati makan malam.
Xiao dan Theo juga sudah kembali ke tempat duduk. Mereka menunggu Chan yang tidak kunjung kembali.
"Aku akan mencari Chan!" Xiao bangkit dari tempat duduknya. Namun tangan Theo dengan sigap memegangi lengannya.
Xiao membeku sejenak. Dahinya mengerut dalam. Apakah Theo takut?
"Jangan lama-lama..." lirih Theo yang perlahan melepaskan genggaman tangannya. Xiao hanya mengangguk, kemudian langsung beranjak pergi.
Di tengah perjalanan menuju toilet. Langkah Xiao berhasil dihentikan oleh pria bertopeng iblis.
"Kau sangat hebat tadi. Terlihat berpengalaman," pujinya seraya menepuk pelan pundak Xiao. "Padahal kau sepertinya masih sangat muda. Ah benar, kenalkan aku Zac." Pria bertopeng iblis sekarang merangkul Xiao.
"Xen. Kau bisa memanggilku Xen!" sahut Xiao. Tidak menyebutkan nama aslinya. Sebab dia yakin kalau pria yang sekarang merangkulnya juga sedang memakai nama samaran.
"Oh Xen... ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Masalah gadismu itu, apa dia memang berniat ikut masuk ke dalam rombongan ini? karena seperti yang aku lihat, dia tampak enggan dan sedikit takut dengan apa yang kita lakukan." Zac melontarkan pertanyaan menohok.
"Tentu tidak. Dia sangat hebat malah!" bantah Xiao tegas, berusaha melindungi Chan semaksimal mungkin. "Hanya saja, dia sedang..." Xiao melanjutkan kalimatnya dengan bahasa tubuh. Sebelah tangannya terlihat memegang bagian perutnya sendiri. Berniat memberitahu Zac, kalau Chan sedang bunting.
"Ah... pantas saja." Zac memanggut-manggutkan kepala. Dia tentu sangat paham betapa rumitnya seorang perempuan ketika sedang mengandung. Kebanyakan akan memiliki temperamen tinggi, serta memiliki mood yang sering berubah-ubah.
"Kalau begitu, aku harus pergi memeriksa keadaannya," ucap Xiao. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju toilet. Dia memanggil Chan sambil mengetuk pintu.
Chan yang sangat mengenal suara Xiao, lantas membukakan pintu. Sekarang dia dan Xiao berada di toilet. Keduanya saling membuka topeng yang menutupi wajah mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Xiao cemas. Apalagi ketika dirinya menyaksikan mata Chan tampak sembab. Jelas gadis itu baru selesai menangis.
Chan mengangguk pelan. Kepalanya menunduk sendu. Tangan Xiao secara alami membelai beberapa helai rambutnya yang berjatuhan.
__ADS_1
"Aku pastikan semua ini akan segera cepat berakhir Chan..." tutur Xiao, lalu melayangkan sebuah kecupan dikening Chan. Kemudian mendekapnya erat. Berharap apa yang dilakukannya tersebut mampu membuat gadisnya tenang.
*Sekitar dua/tiga bab lagi guys, cerita ini akan berakhir. Semoga betah terus ya 😁