
Seringkali otak dan hati kita menginginkan hal yang berbeda.
***
Xiao sekarang berada di dalam kamarnya. Ia sedang menggunakan akun dark web yang dibuatkan Ken untuknya. Lelaki itu menjelajahi laman internet berbahaya tersebut.
Xiao menemukan banyak transaksi ilegal. Baik itu berkaitan dengan pembunuhan, narkoba, dan juga penculikan. Namun bukannya merasa miris, Xiao malah semakin tertarik.
Padahal awal niat Xiao hanya ingin mencari informasi mengenai Spiderblood. Tetapi ia malah lupa diri dan malah menonton beberapa video pembunuhan. Setelahnya barulah Xiao menonton beberapa tayangan milik Spiderblood. Dia menyaksikan penyiksaan yang dilakukan Spiderblood terhadap korbannya. Termasuk salah satu adegan Spiderblood menguliti hidup-hidup wajah seorang wanita.
"Dia memang tidak waras!" gumam Xiao sambil menggeleng percaya.
"Pantas dia punya devil seperti raksasa!" sahut Devgan yang juga merasa tercengang melihat aksi Spiderblood dalam videonya. "Apa kau tertarik melakukan hal seperti itu? jika iya, maka kita akan menjadi semakin kuat Xiao!" tambahnya.
"Tidak!" tegas Xiao.
"Hahaha! kita kan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan." Devgan melirik ke arah Xiao dengan sorotan mata penuh arti. Sedangkan Xiao hanya merespon pendapat Devgan dengan gelengan tak percaya.
Keesokan harinya di sekolah. Xiao berjalan memghampiri Li-Jun. Keduanya tampak berbicara serius. Chan yang baru saja datang, sempat melihat penampakan Xiao dan Li-Jun sedang saling berhadapan, seolah membicarakan sesuatu hal penting. Rasa penasaran kembali menggerogoti pikirannya. Namun Chan langsung lekas-lekas menepis.
'Tidak! kau tidak boleh terlibat lagi Chan, fokus!' Chan mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Li-Jun tertawa kecil kala mendengar Xiao menanyakan perihal Chan. "Aku hanya sekedar berteman dengannya! memangnya kenapa? kau menyukainya?" timpalnya seraya menatap curiga.
Xiao tersenyum miring sambil membuang mukanya sejenak dari Li-Jun. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Tidak!" jawabnya singkat.
"Benarkah? kalau kau tidak mau, mending aku saja yang mengejarnya!" goda Li-Jun yang sebenarnya bermaksud bercanda.
"Silahkan!" ucap Xiao tak acuh, lalu langsung melingus pergi.
Xiao sekarang berjalan menyusuri koridor. Dari kejauhan dia melihat penampakan Olive sedang asyik mengobrol bersama kedua temannya. Tanpa basa basi dia pun segera menghampiri gadis cantik tersebut. Namun ketika menyaksikan kehadiran Xiao, Olive malah menunjukkan mimik wajah cemberut. Sepertinya ia masih kesal dengan perlakuan Xiao tempo hari.
"Kau mau apa?" tanya Olive ketus.
__ADS_1
"Ayo kita bicara!" Xiao menarik tangan Olive. Kemudian membawanya ke suatu tempat. Semua pasang mata tertuju kepada mereka berdua. Hal tersebut sontak membuat Olive tersenyum senang.
Setelah menemukan tempat yang dirasa tepat untuk bicara, Xiao pun berhenti. Dia segera memposisikan dirinya berhadapan dengan Olive.
"Jadilah pacarku!" tukas Xiao , yang tentu membuat mata Olive langsung membola.
"Apa kau serius?" Olive memastikan. Untuk membuktikan kebenarannya, tangan Xiao pun perlahan membelai rambut lurus Olive. Jidatnya ditempelkan pada jidat Olive. Jarak di antaranya hanya beberapa senti. Semua murid yang kebetulan berada disekeliling mereka lantas bersorak untuk mengejek Xiao dan Olive.
Kecuali untuk satu orang gadis yang sedang memegangi sebuah buku. Sedari tadi ia menyaksikan Xiao dan Olive sedang berinteraksi. Namun gadis yang tidak lain adalah Chan itu, tidak pernah menduga Xiao akan nekat bermesraan di depan banyak orang. Sudah dua kali Chan memergoki Xiao berdekatan dengan gadis cantik tersebut.
Pensil yang ada di tangan Chan lantas digenggammnya dengan erat. Setelahnya dia pun segera beranjak pergi dari keributan itu.
Chan sekarang mencoba berlari menjauh. Entah kenapa kakinya membawanya berlari menuju aula terbengkalai tempat dirinya bertemu Hana. Di sana Chan menyenderkan badannya ke dinding. Kali ini ia tak bisa menangis, karena amarah yang lebih mendominasi.
Bruk!
Chan menghempaskan sebuah kursi tak terpakai ke lantai. Dia sepertinya mencoba melampiaskan semua kekesalannya kepada benda mati yang tak bersalah.
"Kau kenapa marah-marah begitu?" tegur Hana, sang hantu yang tempo hari telah meminta bantuan kepada Chan.
"Biar kutebak, pasti lelaki tampan kan? hihihi!" Hana mencoba menerka, dan dia mengakhirinya dengan suara cekikikan yang terdengar agak mengerikan. Namun kali ini Chan tak menggubrisnya.
"Sepertinya begitu!" Hana mencondongkan kepalanya untuk memperhatikan ekspresi yang dintunjukkan Chan.
"Aku membencinya!" ucap Chan yakin.
"Sepertinya tidak begitu. Kau hanya berusaha membencinya, tetapi belum bisa!" komentar Hana yang dilanjutkan dengan decakan lidahnya. "Sangat menyedihkan!" tambahnya, yang berhasil membuat Chan menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa kau malah mengejekku?! bukannya aku sudah membantumu?" geram Chan.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Ngomong-ngomong bagaimana respon ibuku setelah membaca suratnya?"
"Dia langsung menangis dan juga merasa lega dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Katanya dari awal dia selalu percaya bahwa kau tidak akan pernah mengakhiri hidupmu sendiri dengan mudahnya." Chan bercerita, dan berhasil menyebabkan mulut Hana melengkung untuk mengukir sebuah senyuman.
__ADS_1
"Syukurlah!" gumam Hana. "Ngomong-ngomong siapa lelaki yang membuatmu marah itu? bolehkah aku tahu?"
"Kau mungkin tidak akan tahu."
Hana menggeleng tegas. "Kami para hantu sangat mengenal siswa-siswa yang tampan, apalagi sedang populer sekarang. Dan aku harap bukan siswa baru itu!" jelasnya yang sepertinya tengah membicarakan Xiao.
"Anak baru? maksudmu Xiao?" Chan memastikan.
"Iya! dia mempunyai makhluk yang sangat mengerikan di sampingnya. Selain itu dia..." Hana tiba-tiba tidak melanjutkan kalimatnya. Dia terlihat menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa?" Chan semakin dibuat penasaran.
"Bukan apa-apa. Yang jelas kau tidak boleh berdekatan dengannya!" tegas Hana.
"Tapi, dialah lelaki yang kusuka saat ini, dan aku merasa tidak rela jika dia menghabiskan banyak waktu dengan gadis lain..." lirih Chan yang pada akhirnya mengakui perasaan dari lubuk hatinya.
"Terserah apa pilihanmu, yang jelas aku sudah memperingatkan!" balas Hana.
Bel pertanda masuk kelas berbunyi. Chan pun bergegas memasuki kelas. Dia merasa sedikit lega, karena sudah mengeluarkan segala keluh kesahnya kepada Hana.
Namun ketika dalam perjalanan menuju kelas, Chan tidak sengaja bertemu Lien. Kedua tangan gadis yang ditemuinya tersebut terlihat berlumuran dengan darah. Dia baru saja keluar dari toilet.
Chan sontak melebarkan mata, apalagi Lien semakin berjalan mendekat. Sekarang Lien berjalan melingus melewati Chan dengan senyum miringnya. Karena merasakan firasat buruk Chan pun berlari memasuki toilet. Mungkin saja Lien sudah melakukan hal buruk di sana.
Nihil, ketika di toilet Chan tidak menemukan apapun. Dia merasa lega, tetapi tetap saja hatinya merasakan ada sesuatu yang ganjil.
'Chan! kau lupa diri lagi. Haiss! aku harus segera masuk kelas!' batin Chan, kemudian berlari masuk ke dalam kelas.
Karena terlalu memikirkan perihal Xiao dan Lien, Chan menjadi tidak fokus memperhatikan pelajaran. Jujur saja, ia bahkan merasa frustasi dengan dirinya sendiri.
Benar saja, selama tiga jam pelajaran, pikiran Chan terus teralihkan. Bel pertanda istriahat yang berbunyi menyadarkan lamunannya. Telinga Chan semakin panas kala mendengarkan pembicaraan teman-teman sekelasnya. Mereka membicarakan pasangan idola semua orang di sekolah, siapa lagi kalau bukan Xiao dan Olive.
Plak!
__ADS_1
Chan menggeplak mejanya sendiri. Atensi semua orang disekitarnya lantas tertuju kepadanya. Mereka menatap ke arah Chan dengan terheran-heran.