
Tragedi besar akan terjadi. Tetapi bukan berarti petualangan akan terhenti.
***
Spiderblood berada di sebuah hotel. Tepatnya di hotel yang mengutamakan privasi atas pelanggannya. Dia duduk menghadap Shuwan yang tengah terikat dengan tali. Di sebelah Shuwan, terdapat lelaki berbadan kekar yang tidak lain adalah Feng. Ternyata Spiderblood menyisakan satu orang Klan Wong untuk dibawa bersamanya.
"Biar aku tanya, apa kau bersedia ikut melakukan rencana besarku?" tanya Spiderblood sambil menarik pelatuk pistolnya. Dia bersiap meluncurkan pelurunya jika mendengar sebuah kalimat penolakan.
"Tentu saja aku mau! kenapa kau terus bertanya?!" sahut Shuwan yakin. Namun Spiderblood malah tergelak saat mendengar perkataannya.
"Dasar bodoh! aku tidak bertanya kepadamu!" balas Spiderblood seraya menatap ke arah Feng. Dia sebenarnya hendak memberikan kesempatan kepada Feng untuk bergabung. Hal itu dikarenakan Feng bisa menjadi bagian dari pasukan terkuatnya. Karena tubuh dan tenaga yang dimiliki Feng terkesan meyakinkan.
Feng hanya terdiam dan melotot ke arah Spiderblood. Sebenarnya sedari tadi ia terus menanyakan keadaan Klan Wong. Feng jelas belum mengetahui sepenuhnya mengenai kehancuran klan-nya sendiri.
"Ayo cepat jawab Feng!" desak Spiderblood. Namun Feng masih membisu.
"Baiklah, aku akan menghitung. Jika sudah mencapai angka satu, aku tidak akan segan-segan menembak kepalamu!" Spiderblood sudah menodongkan pistol ke arah kepala Feng. "Delapan, tujuh, enam, lima, empat. . . tiga, dua. . ."
"Baiklah!" Feng terpaksa setuju. Sebab ia tidak mau mati dengan cara sia-sia. Setidaknya jika dirinya masih dibiarkan hidup, Feng dapat mengetahui keadaan Klan Wong.
"Bagus!. . . tapi, jika kau berkhianat kepadaku, jangan harap aku akan membiarkanmu hidup!" tegas Spiderblood, yang berbicara tepat di depan salah satu telinga Feng.
***
Xiao memastikan Chan, Brian, Al dan Fa sudah tertidur. Setelah itu, dia segera berganti pakaian dan bersiap untuk pergi. Xiao berniat ingin memisahkan diri dari ke-empat orang yang tengah bersamanya. Dia ingin melakukan balas dendam sendirian. Sehingga jika ada kejadian buruk yang terjadi, maka Xiao sendiri yang akan menerima resikonya.
"Apa sekarang artinya kau tidak marah lagi kepadaku?" tanya Devgan.
Xiao perlahan melakukan tatapan tajam dan berkata, "Siapa bilang? justru saat ini satu-satunya orang yang membuatmu kesal adalah dirimu! tetapi karena kita saling terikat, aku tidak bisa meninggalkanmu dengan mudah!"
Devgan langsung terdiam mendengar penuturan Xiao. Dia menciut.
__ADS_1
Xiao sudah berada di dalam mobil. Ia perlahan menjalankan mobilnya dengan pelan. Namun tanpa diduga Brian tiba-tiba muncul dari arah depan. Alhasil kaki Xiao pun reflek untuk menginjak rem. Raut wajahnya seketika cemberut.
"Jangan gila! kau bodoh! bodoh! jika nekat pergi sendirian!" geram Brian dengan nada penuh penekanan.
"Menyingkirlah Brian!" ujar Xiao dengan suara yang tak kalah nyaring.
"Tidak! kau yang keluar dari mobil!"
"Apa-apaan kau! mencoba berani mengaturku begitu!"
"Cepat keluar dari mobil!" titah Brian bersikeras. Ia masih setia berdiri di depan kap mobil.
"Ada apa ini?" Fa baru saja keluar dari markas. Sepertinya dia menyadari adanya keributan yang terjadi di antara Xiao dan Brian. Xiao lantas tidak punya pilihan selain turun dari mobil. Dia menatap malas ke arah Brian.
"Xiao nekat ingin pergi sendirian!" ujar Brian ketus.
"Brian benar. Lagi pula ada kabar mengejutkan dari Spiderblood!" ucap Fa seraya mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian mengusap-usap layar ponsel seolah sedang mencari sesuatu. Setelah menemukan yang dicari, Fa pun menunjukkan layar ponselnya kepada Xiao dan Brian.
"Apa maksudnya?" tanya Brian bingung.
"Entahlah, dia bilang rencana besar pasukan berdarah. Bukankah itu sesuatu yang buruk?" sahut Fa dengan segala praduga.
"Tunggu!" Xiao merebut ponsel yang ada dalam genggaman Fa. Dia mencoba memeriksa video Spiderblood.
"Video Spiderblood sedang menjadi berita paling ramai di internet! ucapannya membuat semua orang panik. Tetapi dari yang kulihat, kebanyakan orang menganggap ucapannya sebagai lelucon!" tutur Fa menjelaskan.
"Aku rasa dia tidak akan melakukan hal seperti itu hanya untuk lelucon belaka. . ." respon Brian lirih.
"Benar. Mungkin inilah maksud rencana besar yang selama ini dia bicarakan!" Xiao mengembalikan ingatannya, saat Spiderblood mengirim video ajakan untuk bergabung dalam sebuah rencana besar.
"Apa dia pernah mengatakan mengenai rencananya itu?" tanya Fa penasaran.
__ADS_1
"Tidak!" Xiao menggeleng tegas.
"Lihat kan Xiao! andai aku tadi tidak menghentikanmu, mungkin kau tidak akan selamat sekarang." Brian menatap serius ke arah Xiao.
"Lebih baik kita tetap bersembunyi dahulu di sini. Kita pantau rencana apa yang akan dilakukan Spiderblood!" Fa memberikan usul.
Xiao dan Brian pun setuju dengan saran Fa. Mereka memilih menunggu hingga keadaan aman. Sekarang mereka telah melangkahkan kaki masuk ke dalam markas. Namun Al yang baru saja keluar dari kamar Chan, langsung melayangkan pukulan ke wajah Xiao.
"Al! kau kenapa?!" tegur Brian yang terheran dengan tingkah Al. Namun pertanyaannya sama sekali tidak direspon. Al terlihat sibuk mencengkeram kerah baju Xiao. Sepertinya Chan sudah menceritakan semua kekecewaannya kepada Al.
"Kau kenapa tega menyuruh Chan pergi?! kau memang seperti ibumu! sama sekali tidak memiliki hati nurani!" ucap Al.
Mata Xiao sontak membola. Apalagi gadis yang sekarang mencengkeram bajunya telah berani menghina ibunya. "Kurang ajar kau Al!" geramnya sembari membalas dengan cara melingkarkan salah satu tangannya ke leher Al.
"Hentikan!!" pekik Brian. Dia segera melerai pertikaian yang terjadi di antara Xiao dan Al. "Kita tidak punya waktu untuk ini. Simpanlah kekesalan yang ada di antara kalian, untuk sementara kita fokus menyelamatkan diri!" sambungnya. Terdapat semburat ketegasan dari mimik wajahnya.
***
James dan Eva baru saja turun dari pesawat. Keduanya telah menjejakkan kaki ke tanah kelahiran Xiao. Langkah mereka terhenti saat melihat kerumunan orang yang berdiri di depan televisi.
James melihat berita mengenai Spiderblood yang sedang ramai. Raut wajahnya tampak gelisah saat menyaksikan Spiderblood, meski hanya dalam sebuah benda mati.
"Kau kenapa terlihat begitu cemas?" tanya Eva sembari memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan lelaki paruh baya di sebelahnya.
"Kita harus bergegas menemukan anak itu!" ungkap James sambil melajukan langkah kakinya untuk keluar dari bandara. Eva pun lekas-lekas mengekori dari belakang.
Ketika James dan Eva sudah berada di depan bandara, semua listrik mendadak padam. Hanya ada lampu-lampu mobil yang dapat dijadikan penerangan.
Semua orang terlihat panik. Mereka mulai mempercayai perkataan Spiderblood. Meskipun begitu, tentu masih ada segelintir orang yang masih tidak percaya. Terutama untuk orang-orang yang dapat menyalakan listriknya kembali dengan mesin pembangkit berbahan bensin.
"Sekarang bagaimana?" tanya Eva yang juga mulai merasa panik.
__ADS_1
"Ayo kita cari taksi yang dapat mengantar kita!" sahut James yang langsung bergegas untuk menemukan transortasi umum.