
Manusia memang tidak pernah lepas dari kesalahan.
***
Ketika semua orang sibuk berada di acara pertunangan. Ada seorang gadis yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beraksi. Dialah Mei, yang berniat melarikan diri bersama Shuwan. Sebelum itu, ia mencoba mengelabui seorang penjaga yang kebetulan berjaga di depan ruangan Shuwan disekap.
"Hei Zao! bosmu memanggil!" ujar Mei sembari menampakkan raut wajah meyakinkan.
Lelaki berbadan berisi yang sering dipanggil Zao tersebut berseringai. "Kau pikir aku mempercayaimu?" remehnya dengan pose berkacak pinggang.
"Apa-apaan! aku tidak berbohong." Mei menegaskan.
"Cih! karena kau mengatakan kata 'bohong' dalam kalimatmu, sekarang aku semakin yakin bahwa kau memang bermaksud menipuku!" ujar Zao.
"Dia tidak salah, kau memang dipanggil oleh Xiao!" Nuan tiba-tiba muncul dari belakang Mei. Sepertinya dia sudah dari awal menguping pembicaraan Mei dengan Zao.
"Siapa kau?!" tanya Zao seraya mengangkat dagunya sekali.
"Hei! aku ini ibunya gadis yang akan dinikahi Xiao. Bukankah anakku nanti akan menjadi bosmu juga?! jika dia telah menjadi atasanmu, aku akan--"
"Baiklah, aku mempercayaimu!" Zao lekas-lekas bersuara, dan sengaja memotong kalimat Nuan. Dia pun bergegas pergi untuk menemui Xiao. Sekarang hanya tinggal Mei dan Nuan berduaan. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain.
"Kau?. . . ibunya gadis itu?!" tanya Mei. Dia menampakkan ekspresi jengkelnya.
"Kau kenapa terlihat kesal begitu? sebegitu bencinya kah kau kepada anakku?" Nuan terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Kau tenang saja. Bahkan aku pun juga sangat membencinya!" tambahnya, yang tentu saja membuat Mei terheran.
"Maksudmu?" Mei memastikan.
"Yang pasti, aku berada di tim yang sama denganmu. Aku adalah orang yang ditugaskan oleh Shuwan untuk melakukan rencana cadangan," ujar Nuan. Mei langsung terdiam seribu bahasa. Setelahnya Nuan pun segera membuka pintu ruangan yang ada di belakangnya. Di sana tentu ada Shuwan yang masih terbaring lemah di lantai.
"Kau. . . terlambat!" ucap Shuwan dengan suara yang bergetar. Dia melotot tajam ke arah Nuan.
"Hei! kau pikir pekerjaanku hanya mengurus masalahmu saja?" sahut Nuan, bola matanya bergerak memperhatikan keadaan Shuwan. "Kau benar-benar terlihat menyedihkan," sambungnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian diam saja? cepat lepaskan aku!" desak Shuwan sembari berusaha bangkit untuk berdiri. Namun badannya yang lemah, sama sekali tidak mampu untuk menopang. Sehingga ia pun terhempas kembali ke lantai.
"Shuwan, aku tidak bisa membawamu pergi dari sini semudah itu!" Mei memberitahu.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku sudah menyusun semuanya dengan matang. Aku pastikan seluruh orang-orang Wong sedang berada di acara pertunangan!" ucap Nuan yakin.
Di sisi lain, tepatnya ketika Yenn telah memperlihatkan kepala utuh Anming. Ada seorang gadis yang sangat dibuat kaget. Matanya membelalak dan merasa tak percaya. Dialah Chan yang sekarang membekap mulutnya sendiri karena merasa miris dengan perilaku Yenn.
'Dijual?' batin Chan sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia melihat orang-orang malah tertawa dan kegirangan. Bahkan Xiao menjadi salah satu orang yang berseringai senang. 'Kenapa semua orang malah tertawa?'
Chan menggelengkan kepala sambil berjalan mundur. Hingga tanpa sengaja badannya menabrak meja, dan menjatuhkan sebuah botol wine. Seketika botol itu berubah menjadi pecahan kaca.
Karena kehilangan keseimbangan akibat sepatu high heels-nya, Chan pun terjatuh ke lantai. Semua pasang mata sontak tertuju ke arahnya. Xiao yang melihat langsung turun tangan, dan mencoba membantu Chan.
"Chan! kau kenapa?" timpal Xiao cemas.
Chan hanya terdiam. Ia hanya bergegas melepaskan sepatu high heels-nya. Selanjutnya, dia berdiri dan berjalan membelah kumpulan orang yang masih terpaku menatapnya. Chan melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Alhasil Xiao pun lekas-lekas mengikutinya dari belakang.
Benar saja, ucapan Yenn berhasil membuat semua orang kembali ke topik semula. Berbagai harga mulai ditawarkan satu per satu oleh para tamu.
***
Xiao melajukan langkahnya untuk mengejar Chan. Dia segera meraih lengan gadis tersebut. Sekarang keduanya berada di luar markas. Tepatnya di halaman markas yang lebih terlihat seperti sebuah taman.
"Chan!" Xiao menarik tangan Chan dengan paksa. Kemudian membalikkan badannya agar dapat saling bertatapan satu sama lain.
"Apa kau takut?" Xiao bertanya dengan tenang. Dia menatap manik hitam di hadapannya yang sedang menampakkan binar getir.
"Xiao, kenapa ibumu seperti itu. Dia sama sekali tidak mempunyai hati nurani," jelas Chan.
"Beginilah dunia kami bekerja, tidak ada yang namanya belas kasihan. Apalagi kepada orang yang telah melakukan kesalahan besar seperti Anming!"
Chan yang mendengar hanya terdiam. Kepalanya perlahan tertunduk. Badannya gemetaran. Xiao yang bisa merasakan getarannya lantas melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Pergilah! jika kau memang benar-benar takut. Dari awal, aku memang tidak pernah memaksamu untuk ikut denganku!" ungkap Xiao, yang sontak menyebabkan Chan langsung mendongakkan kepala.
"Bohong! jelas-jelas kau mengikutiku bersekolah di tempat yang sama!"
Xiao akhirnya tersenyum, dia tidak dapat mengelak pernyataan Chan. "Tapi kau tidak menolaknya kan? buktinya kau sekarang di sini. Bahkan bersedia bertunangan denganku. Jika kau benar-benar ingin pergi, harusnya kau lebih berusaha lagi."
Chan membisu, sambil menatap ke arah Xiao yang sedang membuang muka darinya.
"Lalu, apa kau sama sekali tidak berniat ingin pergi?" tanya Chan serius.
"Bukankah kau yang dari awal mengajakku untuk kembali lagi ke sini?" balas Xiao, berbalik tanya.
"Aku melakukannya karena berpikir kita akan tetap pergi ke perkumpulan rahasia. Aku pikir ibu dan ayahmu akan membantu. Tapi. . ." Chan tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena dia tidak ingin terlalu banyak bicara mengenai Hongli.
"Sudah ku-bilang, aku mau menyelesaikan urusan ayahku terlebih dahulu, sebelum benar-benar pergi untuk mengurus perihal bakat yang aku miliki sekarang!"
"Kau sepertinya sudah tidak terganggu lagi dengan bakat warisan Jonas itu. Bahkan kau telah terbiasa berkomunikasi dengan devilmu." Chan berkomentar. Xiao sudah mengangakan mulutnya karena ingin menjawab penuturan Chan. Namun suara panggilan seorang lelaki berhasil membungkam mulutnya.
"Bos!" ternyata yang memanggil adalah Zao. Dia datang menghampiri Xiao.
"Kenapa?!" tanya Xiao ketus. Dia tentu merasa terganggu dengan kedatangan Zao.
"Apa kau benar sedang mencariku?" tanya Zao, yang berhasil membuat dahi Xiao berkerut.
"Siapa yang memanggilmu. Bukankah kau ditugaskan untuk menjaga Shuwan?" Xiao menggeleng tak percaya.
"Berarti wanita itu memang membohongiku. Sial!" gerutu Zao.
"Wanita? maksudmu?"
"Dia mengaku sebagai ibu dari kekasihmu!" ujar Zao seraya menunjukkan tangan ke arah Chan.
"Nuan?" Chan menebak. Setelah sempat saling bertukar pandang beberapa detik, mereka pun bergegas berjalan menuju ruangan Shuwan ditawan.
__ADS_1