Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 44 - Markas Bawah Tanah


__ADS_3

Setiap tindakan selalu ada resiko.


***


"Jangan berbicara omong kosong, lebih baik ikut Ibu sekarang!" ucap Yenn seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Aku tidak akan meninggalkan Chan begitu saja!" bantah Xiao yang masih diam dalam posisinya.


"Kau tenang saja, aku akan menugaskan semua bawahan untuk menjaga gadis itu!" sahut Yenn. "Oh, mungkin kau bisa ikut menjaganya," sambungnya yang sekarang berbicara kepada Al.


"Ide bagus! aku pun tidak berminat mengikutimu!" tukas Al, yang langsung direspon Yenn dengan senyuman smirk.


"Ayolah Xiao! apa kau tidak peduli dengan ayahmu sendiri?!" timpal Yenn. Dia menatap tajam ke arah sang putra.


Dengan hela nafas terpaksa akhirnya Xiao pun bangkit dari tempat duduknya, lalu melangkah mengikuti Yenn. Tanpa diduga sosok misterius mencengkeram kerah bajunya. Hingga membuat tubuh Xiao terangkat dan melayang sampai menabrak dinding. Devgan sontak menyerang sosok misterius itu.


"Xiao!" pekik Al dan Yenn bersamaan. Apalagi kala melihat darah keluar dari mulut Xiao akibat tersentak ke dinding. Namun bukannya marah, Xiao malah tersenyum sembari mengusap darah dengan tangannya sendiri. Matanya membulat sempurna tatkala menyaksikan Devgan tengah mengoyak tubuh sosok misterius yang lebih mirip hantu tersebut.


'Tunggu, aku mengenal hantu itu. Bukankah dia yang aku congkel matanya tadi siang? apa dia ingin membalas dendam?' batin Xiao. Sekarang sosok misterius tersebut musnah seketika.


"Kau tidak apa-apa? a-a-apa yang terjadi?" tanya Yenn. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya.


"Aku tidak apa-apa." Xiao menjawab singkat.


"Apa kau barusan habis diserang makhluk gaib?" tanya Al serius. Tetapi Xiao sama sekali tidak menjawab.


"Jagalah Chan!" ucap Xiao, lalu melangkahkan kaki bersama dengan ibunya.


"Xiao, jaa--" Al menyimpan kalimat yang hendak diucapkannya, dia hanya bisa melanjutkan dengan gumam-an pelan. "Jangan terlalu sering membunuh dengan cara yang kejam. . ." lirihnya sambil menatap ke punggung Xiao yang semakin menjauh.


Xiao dan ibunya sudah berada di parkiran. Keduanya menaiki mobil bersama. Sedari tadi Xiao hanya mengamati devil di samping Yenn. Sebab ukurannya lebih besar dibanding Devgan.


"Xiao, apa kau berhenti sekolah?" tanya Yenn.


"Tentu saja, bagaimana aku bisa sekolah jika menjadi buronan!" sahut Xiao seraya mendengus kasar.


"Ibu sudah bilang kepadamu, sepintar apapun dirimu kau tetap perlu sekolah. Itu penting untuk menutupi identitasmu!" timpal Yenn, yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Cih! percuma sekolah kalau akhirnya cuman menjadi seorang pembunuh bayaran!" sarkas Xiao dengan seringai meremehkan.


"Ibu hanya tidak ingin kau terlihat bodoh!"


"Aku memang tidak bodoh!" tegas Xiao.


Yenn menggelengkan kepala. "Kau pikir aku dan ayahmu mudah menyembunyikan identitas kami? kau pikir mudah menculik seseorang tanpa strategi? pokoknya kau tidak boleh kemana-mana. Selesaikan sekolahmu dahulu!" ujarnya dengan nada penuh penekanan.


"Kenapa kau bersikap seperti orang normal? menyebalkan!" gerutu Xiao yang tidak terima dengan kekangan sang ibu.


"Lihat dirimu. . ." Yenn kembali menggeleng. "Kau sangat berbeda dengan dirimu dahulu!" lanjutnya.


Syuuut!


Yenn menginjak rem dengan tiba-tiba karena saking kesalnya. Xiao pun menggunakan kesempatan tersebut untuk berusaha kabur, tetapi semua bawahan ibunya langsung mengepung.


"Sudahlah Xiao, jangan memberontak lagi!" Yenn keluar dari mobil dan berjalan mendekati putranya. "Kembalilah sekolah mulai besok, masalah ayahmu kita akan menyuruh bawahan untuk terus melakukan pencarian!"


"Apa? besok?!" Xiao menatap tak percaya.


"Apa Ibu ingin menyuruhku memutilasi mayat?" Xiao memutar bola mata jengah. "Aku tidak perlu sekolah untuk melakukannya!" tambahnya.


"Bersikap seperti orang normal itu penting! dengan begitulah semua rencana bisa berjalan dengan mulus. Bukankah itu yang kau lakukan terhadap Shuwan?" timpal Yenn.


"Oh masalah Shuwan, bagaimana kalau dia menangkapku di saat aku sedang sekolah? apa kau tidak memikirkan itu?" imbuh Xiao.


"Kau benar! hahaha!" sahut Yenn dengan tawa gelinya. "Sebaiknya kita cari ayahmu dahulu untuk menyelesaikan permasalahan dengan keluarga Tao!" sambungnya, kemudian segera kembali memasuki mobil. Xiao pun lantas terpaksa mengikuti.


Tidak lama kemudian sampailah Xiao dan ibunya di tempat tujuan. Lebih tepatnya sebuah hutan belantara yang terlihat sangat normal. Xiao mengingat berbagai kenangan yang pernah dia lakukan di sana. Termasuk ketika Shuwan sengaja menembak dirinya. Selain itu, dia juga menyaksikan banyak sekali makhluk-makhluk mengerikan yang hanya bisa dilihat oleh dirinya seorang.


"Apa tempat ini mengingatkanmu dengan hal buruk?" tegur Yenn, yang berhasil membuat Xiao tersadar dari lamunannya.


"Tidak juga!" sahut Xiao singkat. Selanjutnya mereka pun berjalan menuju markas yang berada di dalam hutan. Terdapat sebuah sumur yang tampak tua, tetapi bagi keluarga Wong itu adalah pintu masuk markas mereka.


Kala Xiao sudah berada di dalam, dia langsung terperangah karena melihat besarnya area markas milik kedua orang tuanya. Dia tidak pernah di ajak oleh Hongli maupun Yenn untuk datang ke sana.


"Kau tahu sebenarnya kami ingin menunjukkan tempat ini saat hari ulang tahun ke tujuh belasmu. Tetapi karena kelakuan anehmu, kami tidak bisa berbuat apa-apa!" ungkap Yenn.

__ADS_1


"Apa kau juga melakukan pekerjaanmu di sini?" tanya Xiao sembari menyamakan langkahnya dengan Yenn.


"Untuk saat ini begitu, kita juga sedang bersembunyi dari kejaran orang-orang Tao!" jawab Yenn.


"Yah, jumlah mereka memang sangatlah banyak!" keluh Xiao.


"Makanya aku sedang berusaha bekerja sama dengan para gangster dan mafia sebanyak mungkin! aku yakin ayahmu sedang ditangkap oleh mereka. Oh iya, Feng juga telah tertangkap!" jelas Yenn, dia kemudian menghentikan langkahnya ketika telah sampai di depan sebuah ruangan.


"Apa? benarkah? terakhir kali aku melihat Feng, dia ditimpa kecelakaan!" imbuh Xiao.


"Memang! sekarang lebih baik kau istirahat!" usul Yenn yang perlahan tersenyum tipis, lalu menepuk bahu anaknya pelan.


Xiao masuk ke dalam ruangan yang tidak lain adalah kamar untuknya. Dia langsung merebahkan diri ke kasur dan memejamkan mata. "Devgan, kau pasti akan menjagaku dari makhluk-makhluk aneh di sini kan?" ujarnya masih dalam posisi yang sama.


"Tenang saja, kau tidurlah!" balas Devgan dengan suara beratnya.


"Oh iya, terima kasih untuk tadi!" ungkap Xiao.


"Tentu, tetapi aku tidak melakukan semuanya dengan percuma loh, kau tahu maksudku kan?" sahut Devgan.


Xiao menyunggingkan mulutnya ke kanan dan berkata, "Tenang saja, banyak orang yang ingin aku bunuh!"


Yenn merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Dia segera menghubungi Fa yang kebetulan baru saja tiba di stasiun Metropolis.


"Fa, aku punya tugas baru untukmu!" ucap Yenn.


"Apalagi?" jawab Fa dari seberang telepon.


"Kau tahu gadis yang terobsesi dengan putraku kan?"


"Maksudmu Chan?"


"Iya, singkirkan dia!" titah Yenn. Dia langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


Di sisi lain, tepatnya di rumah sakit. Proses operasi Chan telah selesai. Sekarang tinggal menunggu gadis tersebut kembali siuman. Hanya Al yang setia menunggu duduk di sampingnya. Perlahan dari balik dinding muncullah Viera dengan wajah sendunya.


"Chan, kali ini aku tidak akan membiarkanmu bersama Xiao lagi. . ." gumam-nya sembari menatap Chan yang masih tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2