
Sebenarnya kita tidak pernah bisa bersembunyi selamanya. Jika tidak ada satu manusia pun yang tahu, mungkin bisa saja makhluk lain yang mengetahuinya.
***
Xiao membuka matanya pelan setelah cukup lama terlelap. Dirinya langsung disambut dengan pelukan hangat dari Chan yang sedang tertidur. Gadis itu sepertinya tidak menyadari tindakannya.
'Dasar nih cewek, sok-sokan takut di apa-apain. Tapi dia terus yang mulai,' gumam Xiao dalam hati sembari menatap wajah Chan yang sedang menghimpit bahunya.
Xiao mencoba menggerakkan badannya, namun Chan malah semakin memper-erat pelukannya. Gadis tersebut seolah menganggap Xiao boneka beruangnya yang tidak boleh lepas.
Xiao merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Tangannya pun perlahan mengangkat dagu Chan. Gadis itu masih memejamkan matanya, bulu mata lentiknya semakin jelas dan memperindah wajah cantiknya.
Mata Xiao tertuju pada bibir Chan. Tanpa lipstik namun memikat. Xiao pun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Chan yang berwarna merah muda alami.
"Xiao!" pekik Chan yang tiba-tiba terbangun, lalu mendorong wajah Xiao pelan. Dia sangat terkejut dengan perlakuan lelaki berambut pirang di hadapannya. Xiao tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya berbicara lewat tatapannya yang lekat.
Chan terdiam, dia tidak bisa menolak keinginan Xiao. Dia pun mematung, dan menunggu Xiao untuk lebih dekat. Namun saat bibir keduanya hampir saling bersentuhan, suara bising dari luar seketika mengalihkan perhatian mereka.
Brak! Prang!
Terdengar suara benda yang berjatuhan, seakan ada seseorang yang sengaja melakukannya.
"Aku harap itu bukan orang-orang Tao!" ujar Xiao seraya mengubah posisinya menjadi duduk.
Di luar kamar Xiao dan Chan, memang sedang terjadi keributan. Yang tidak lain disebabkan oleh Shuwan dan anak buahnya.
"Cepat serahkan semua kunci kamar yang ada di sini!" titah Shuwan kepada kakek penjaga penginapan Sontana.
Alhasil si lelaki tua tersebut terpaksa memberikan kunci duplikatnya. Tubuhnya sudah terdapat luka dan lebam akibat serangan orang-orang Tao. Selanjutnya pengawal-pengawal Shuwan segera bergegas memeriksa kamar yang ada di penginapan Sontana.
"Cepat periksa semua kamar!" pekik Shuwan dengan dahi yang berkerut. Xiao dan Chan yang merasa mengenali suara itu segera bergegas untuk kabur.
"Xiao! cepat ambil semua barangmu!" suruh Chan, yang sudah merapikan seluruh barang-barangnya.
Xiao mencoba memeriksa jendela, matanya langsung membulat sempurna tatkala melihat banyaknya orang-orang Tao. "Astaga Chan, aku rasa kita terkepung!" Xiao melangkah mundur dari jendela.
__ADS_1
"Xiao, aku punya jalan!" imbuh Chan sambil memegangi kedua bahu Xiao.
"Apa?"
"Kita bisa bersembunyi ke dimensi lain." raut wajah Chan terlihat serius.
"Maksudmu?" tanya Xiao dengan dahi yang berkerut.
"Aku akan jelaskan nanti, yang penting ikuti saja arahanku!" ujar Chan sembari menghela nafas panjang. "Xiao fokuslah menatap mataku!" perintah Chan, yang segera dituruti oleh Xiao. Matanya tertuju pada iris mata Chan. Dalam mata gadis tersebut terdapat kilatan putih seperti debu halus yang bersinar.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, Shuwan tidak berhasil menemukan Xiao dan Chan. Hanya ada sebuah kamar kosong di depan matanya. Akhirnya dia pun kembali meneruskan pencarian di tempat lain.
***
Gelap menyelimuti kamar yang sama, tetapi dengan suasana yang berbeda. Dinding-dinding di sekitar tampak mengelupas dan berlendir hitam. Bau darah dan pesing menguar menusuk indera penciuman.
Xiao yang melihat keadaan tersebut merasa syok. Suasana itu mengingatkannya dengan makhluk botak yang pernah hampir membunuhnya. Xiao pun menuntut jawaban kepada Chan. "Apa yang kau lakukan Chan?"
"Kita ada di dimensi lain. Kita bisa bersembunyi di sini untuk sementara!" jawab Chan.
"Xiao, ini adalah salah satu bakatku yang lain," terang Chan singkat.
"Apa? kenapa kau tidak pernah memberitahuku?" Xiao merasa kecewa.
"Karena bakat ini berbahaya Xiao! aku hanya menggunakannya saat dalam keadaan genting. Seperti menolongmu dari makhluk berkepala pelontos itu, dan juga bersembunyi dari kepungan anak buah Shuwan." Chan menjelaskan dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Berbahaya? tetapi kenapa kau nekat melakukannya? ini sama saja dengan dibunuh oleh orang-orang Tao!" balas Xiao.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu yang sontak membuat Xiao dan Chan menghentikan perdebatannya.
"Xiao, kita harus sembunyi!" Chan menarik tangan Xiao, dan membawanya bersembunyi bersama di bawah kolong tempat tidur.
__ADS_1
"Chan, topiku!" protes Xiao yang ingin mengambil topinya yang tidak sengaja terjatuh. Tetapi tidak sempat ia ambil kembali.
Cieeet. . .
Pintu kamar terbuka dengan pelan. Muncullah makhluk yang sangat mengerikan, hingga membuat Xiao dan Chan membelalakkan mata.
Makhluk itu seperti laba-laba, berambut panjang, bermata merah dan lumayan besar. Dia berjalan dengan posisi kayang, kepalanya terbalik ke bawah.
Makhluk tersebut mengeluarkan suara nafas sangat nyaring layaknya orang yang sedang asma. Bahkan lebih mengerikannya lagi, dia bisa merayap ke dinding dan atap.
Xiao dan Chan mematung di tempat persembunyian mereka. Keringat mulai membanjiri tubuh keduanya. Terutama saat makhluk itu berkeliling ke seluruh sudut ruangan, seolah tengah mencari sesuatu. Hingga sang makhluk terhenti ketika melihat topi Xiao, dia memperhatikan benda yang dipegangnya agak lama.
"Kita harus pergi sekarang, atau tidak sama sekali!" imbuh Chan, kemudian segera beringsut pelan keluar dari kolong tempat tidur. Lantas Xiao pun mengikuti dari belakang. Keduanya mengendap-endap keluar dari kamar.
"Xiao, jangan pernah lepaskan tanganku!" Chan menggenggam jari-jemari Xiao dengan erat. Gadis tersebut memimpin jalan. Dia mengambil satu-satunya lilin yang ada di lorong.
"Chan, aku rasa kita harus mencari tempat persembunyian lain sebelum makhluk itu keluar dari kamar," saran Xiao dengan pelipis yang sudah berlinang keringat.
Dari kejauhan Xiao dan Chan mendengar suara berjalan dari makhluk yang mereka temui tadi. Keduanya pun bergegas memasuki ruangan terdekat, yang tidak lain adalah sebuah toilet.
"Sekarang apa Chan?" tanya Xiao.
"Kita harus mencari kuncinya!" Chan menyahut dengan jawaban ambigu.
Di sisi lain, Feng berdiri dengan gelisah di tempat perjanjiannya. Dia sedang menunggu kedatangan Hongli. Namun ayah kandung Xiao itu tidak kunjung datang.
Hari sudah menjelang pagi. Feng dan anak buahnya hampir menunggu semalaman. Lelaki bertubuh kekar tersebut berusaha menghubungi Hongli melalui telepon, dan hasilnya tetaplah nihil.
"Sekarang bagaimana bos? apa kita masih harus menunggu?" tanya salah satu anak buahnya yang berbadan besar.
"Entahlah, yang jelas keberadaan kita di sini sangat beresiko. Kita bisa saja ditangkap oleh orang-orang Tao!" jelas Feng seraya mendengus kasar. Dia dirundung perasaan khawatir.
"Tunggu! mungkin saja tuan Hongli diculik oleh orang-orang Tao saat menuju ke sini?" tebak Chang.
"Hmm, mungkin. . ." Feng terdiam sejenak sambil memegangi bagian dagunya, seolah sedang berpikir keras. "Aku akan memastikan, setelah mencoba memanggil Yenn terlebih dahulu," sambungnya, kemudian segera mengambil ponsel jadulnya.
__ADS_1
"Bos! ponselnya ganti saja lah! sekarang sudah zaman smartphone!" kritik Chang yang merasa risih dengan ponsel yang dimiliki bos-nya. Alhasil dia pun segera mendapatkan pelototan tajam dari Feng.
Seperti yang diduga, Yenn juga tidak mengetahui keberadaan suaminya. Kabar dari Feng malah membuat kondisi ibu kandung Xiao itu semakin memburuk.