
Semua dapat terjadi dengan cepat dan tak terduga.
***
Mata semua orang terpaku dengan air hujan yang sedang turun. Warna merah mendominasi suasana. Terasa suram dan menakutkan. Hawa dingin yang mengikat pun perlahan menyelimuti. Hingga membuat seorang gadis seperti Chan melingkarkan kedua tangan ke badannya sendiri.
Brian terlihat berlari dari kejauhan. Tetesan hujan yang berwarna merah membasahi setiap jengkal tubuhnya. Lelaki tersebut seakan tergesak-gesak. Wajahnya pun tampak begitu panik. Setibanya di rumah, Brian langsung berteriak memanggil semua orang.
"XIAO! JAMES!" pekik Brian yang sedang berdiri di ambang pintu. Deru nafasnya tersengal-sengal akibat lari yang baru dilakukannya tadi.
"Ada apa Bri?!" tanya Fa, yang kebetulan berada tidak jauh dari pintu masuk rumah.
"Para pembantai itu. . . aku rasa itu mereka!" jawab Brian ambigu.
"Apa?! maksudmu?! coba jelaskan pelan-pelan!" desak Fa. Sama sekali tidak mampu memberikan ketenangan pada Brian.
"Ada apa ini?!" Xiao akhirnya datang. Dengan di ikuti oleh Theo dari belakangnya.
"Xiao, aku rasa para pengikut Spiderblood sedang mengarah ke sini!" ungkap Brian yang seketika membuat semua orang merasa dibuat begitu kaget.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Xiao meragukan.
"Aku melihat dua kapal sedang berlayar menuju ke sini. Dan jumlah orang yang ada di dalamnya tidak sedikit. Aku bisa menyaksikan dari jauh topeng dan senjata yang mereka pakai."
"Jangan bercanda Bri, sekarang bukan waktu yang tepat!" Fa berusaha menampik praduga yang dituturkan Brian.
"Brian benar! aku juga melihatnya. Sebentar lagi mereka akan tiba ke sini!" Eva yang baru saja datang dari luar menyahut. Sepertinya dia juga melihat apa yang telah dilihat oleh Brian.
__ADS_1
"Kalau begitu, Xiao, Chan dan Theo lebih baik mempersiapkan diri untuk pergi ke dimensi lain. Biar kami yang mengurus keadaan di sini!" ujar James yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan.
"Apa?! kami tidak bisa pergi dalam keadaan genting begini!" protes Xiao dengan dahi yang berkerut kesal.
"Apa kau punya opsi lain? menurut saja Xiao! James benar, kami semua bisa mengatasi keadaan di sini!" timpal Brian, yang menyetujui pemikiran dari James.
Xiao tertohok. Dia menelan salivanya sendiri sekali. Dirinya memang tidak punya pilihan lain selain pergi ke dimensi lain. Sebab hanya dia yang mampu menemukan dan menggunakan senjata gaib.
Fa dan Eva bergegas menaiki atap. Mereka berniat memantau keberadaan dua kapal yang sedang mengarah ke pulau. Eva menggunakan sebuah teropong agar mampu melihat keadaan dengan jelas. Meskipun hujan merah sedikit menyamarkan penglihatannya, tetapi dia berusaha sebisa mungkin. Benar saja, dua kapal misterius itu hampir tiba di pantai.
Eva juga kebetulan dapat melihat puluhan orang yang mengenakan topeng diwajahnya. Tidak lupa beragam senjata juga tengah dipegang oleh orang-orang pembantai tersebut. Sudah jelas mereka adalah komplotan Spiderblood.
"Aku rasa, kedatanga Theo memancing mereka pergi kemari," ungkap Fa menduga. Kemudian berbalik badan dan turun dari atap. Dia berniat mengambil senjata terbaiknya agar mampu memberikan perlawanan yang maksimal.
Semua orang tampak memilih senjatanya masing-masing. Beberapa senjata api yang dibawa Fa dari markas sangatlah berguna sekarang. Masing-masing mendapatkan satu hingga dua senjata.
"Entah kenapa aku setuju dengan Xiao. Kami tidak bisa pergi meninggalkan kalian dalam keadaan begini!" ucap Chan dengan raut wajah khawatir.
"Percayalah, kami bisa menghadapi ini semua. Kalian harus segera menemukan senjata gaib secepatnya. Terlepas bagaimanapun keadaan kami di sini!" James berucap dengan ekspresi yang meyakinkan.
Dor!
Sudah terdengar suara tembakan. Feng melakukan perlawanan. Dia ternyata pergi lebih dahulu tanpa sepengetahuan semua orang. Sekarang lelaki berbadan kekar itu tengah berdiri menyambut kedatangan para pembantai. Tembakan demi tembakan diarahkannya. Dia sekarang berdiri di tempat yang tidak jauh dari pantai.
Melihat Feng yang sedang berjuang sendirian, Fa pun bergegas membantunya. Apalagi para pembantai yang datang juga ikut membalas tembakan Feng. Bunyi keributan yang terdengar lebih seperti peperangan tak pernah terduga sebelumnya.
Sementara semua orang sedang sibuk melakukan perlawanan. Hanya Xiao, Chan dan Theo yang masih berada di ruangan atas.
__ADS_1
"Kita harus pergi sekarang!" ucap Theo mendesak.
"Itu mungkin mudah bagimu!" balas Xiao ketus.
"Tetapi, jika kita terus mengulur-ulur waktu, bukankah keadaan akan semakin memburuk?"
"Theo sepertinya benar. Kita harus pergi sekarang!" Chan terpaksa menyetujui pendapat Theo. Logika mendorongnya untuk segera melakukan tindakan.
Xiao menghela nafas panjang sambil mengacak-acak rambut frustasi. Matanya terus menatap keluar jendela, karena mencoba menyaksikan keadaan semua rekan-rekannya.
"Ayo kita pergi!" ajak Chan yang sudah memasang tas ranselnya ke punggung. Kemudian memegangi pundak Xiao pelan.
Xiao akhirnya setuju. Dia dan Theo sudah bersiap dengan tas ransel yang melingkar dipunggung mereka. Meskipun suara riuh perkelahian dari luar terdengar mengerikan. Chan berusaha fokus, dan membawa kedua lelaki yang sedang bersamanya pergi ke dimensi lain.
Tidak butuh waktu beberapa detik. Xiao, Chan dan Theo telah berada di dimensi lain. Mereka tetap berada di rumah James. Akan tetapi dengan suasana yang lebih gelap.
"Sekarang kita harus kemana?" tanya Xiao sambil melirik ke arah Theo.
"Sang penikmat darah. Kita harus menemui makhluk itu!" jawab Theo, lalu melangkah lebih dahulu untuk memimpin.
Xiao dan Chan saling bertukar pandang. Mereka sama sekali tidak tahu makhluk seperti apa yang sedang dibicarakan Theo.
"Aku rasa makhluk yang dibicarakan Theo adalah Bork!" ungkap Devgan. Membicarakan perihal makhluk yang pernah mengambil darah Xiao. Tepatnya saat Xiao dahulu sempat berusaha menyelamatkan Chan di dunia lain.
"Bork?" Xiao mencoba menelusuri ingatannya.
"Xiao, cepat!" desak Chan yang sudah lebih dahulu berjalan. Xiao lantas segera mengikutinya. Mereka dapat keluar dari rumah dengan lancar. Karena kebetulan di rumah tersebut tidak ada makhluk mengerikan yang mengganggu.
__ADS_1
Xiao, Chan dan Theo melanjutkan perjalanan. Menembus kabut yang menyelimuti kegelapan. Suasana begitu hening. Hanya ada bunyi derap langkah yang bergema.