
Yang selalu ada, bisa tiba-tiba menghilang tanpa diduga.
***
Spiderblood memainkan katana-nya dengan lihai. Setelah berhasil memenggal kepala Yenn, tentu dia menjadi sasaran semua orang Wong yang tersisa. Lelaki yang hampir tidak pernah menunjukkan wajahnya tersebut berkelahi seakan sedang haus darah. Begitu gesit dan tak kenal ampun.
Beberapa peluru yang mengarah ke Spiderblood pun bisa dicegahnya dengan katana. Suara dentingan peluru yang menabrak bilah katana-nya terdengar seperti sebuah lantunan nada tak beraturan.
Sedangkan ke-lima anak buahnya masing-masing memegang senjata api di tangannya. Mereka langsung menghabisi semua orang yang terlihat di depan mata.
Berbeda dengan Shuwan, yang tengah sibuk sendiri memeriksa ruangan satu per satu. Di tangannya juga terdapat sebuah pistol pemberian Spiderblood. Shuwan berusaha mencari Xiao, namun tidak bisa menemukannya dimana-mana.
Spiderblood dan para Tenshi-nya telah memusnahkan semua orang di dalam markas Klan Wong. Atensi Spiderblood tertuju kepada Shuwan yang tengah menunjukkan ekspresi cemberut.
"Kau kenapa?!" tanya Spiderblood.
"Aku mencari Xiao! musuh bebuyutanku!" sahut Shuwan.
"Lupakanlah, aku punya ide yang lebih baik dari pada harus membunuhnya secara langsung."
"Bagaimana?"
"Cepat ambil barangnya!" perintah Spiderblood kepada salah satu bawahannya.
Setelah pergi sebentar ke mobil sebentar, Tenshi pun kembali. Dia membawa benda yang langsung membuat mata Shuwan membola. Yaitu sebuah bom waktu.
Shuwan menggeleng tak percaya. Dia kembali terkagum-kagum dengan Spiderblood. "Kau memang sangat jenius!" pujinya.
"Aturlah waktunya selama mungkin. Kembali atau tidaknya dia ke sini, yang pasti markas ini akan tetap hancur berkeping-keping!" ujar Spiderblood bertekad. Kemudian segera melangkahkan kaki menuju mobil.
"Benar! itulah yang terpenting. Rasakah itu Xiao!" umpat Shuwan yang di akhiri dengan membuang salivanya ke lantai. Setelahnya dia bergegas mengikuti Spiderblood.
__ADS_1
Ketika Shuwan hendak masuk ke mobil Spiderblood. Salah satu Tenshi tiba-tiba saja menodongkan pistol ke arahnya.
"Apa-apaan ini!" protes Shuwan tak terima.
"Kau masih harus banyak belajar anak muda. Aku tidak ingin bekerjasama dengan pecundang!" ucap Spiderblood ketus. "Tetapi aku akan memberikanmu kesempatan, karena kau sudah membantuku meluapkan kekesalan kepada Xiao!" tambahnya.
"Apa?! kau menyebutku pecundang?!" geram Shuwan yang tak percaya. Tetapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Spiderblood. Shuwan hanya bisa menerima dirinya di ikat dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Hahh. . . Andai Xiao menerima tawaranku waktu itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi kepadanya," gumam Spiderblood yang perlahan membuka topeng. Wajahnya dipenuhi dengan luka bakar. Bahkan ia sama sekali tidak memilki sehelai rambut di kepalanya.
***
Pagi telah tiba, membawa embun lebih banyak akibat hujan yang terjadi hampir semalaman. Xiao membuka matanya pelan, penglihatannya langsung disambut dengan wajah Chan yang asyik terlelap. Gadis itu menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepala.
Xiao perlahan bangkit sambil mengangkat tangan Chan yang melingkar di pinggulnya. Atensinya tiba-tiba tertuju ke belati Glorix yang ada di belakang punggung Chan. Tangan Xiao beniat mengambil benda tajam itu. Namun keadaan Chan yang mendadak terbangun, membuat Xiao mengurungkan niatnya.
"Kau sudah bangun?" Chan mengubah posisi menjadi duduk sembari mengerjapkan mata beberapa kali.
"Kenapa kau marah? aku kan bertanya baik-baik." Chan mengerutkan dahinya. Sedangkan Xiao hanya tersenyum tipis untuk meresponnya. Matanya kembali terpaku ke arah belati Glorix.
Chan yang menyadari Xiao terus menatap ke arah benda tajam di belakangnya, lantas segera mengambil lebih dahulu. "Aku akan membuang benda ini!" ujarnya, yang bergegas melangkah menuju pintu.
"Xiao, kumohon jangan biarkan belati Glorix terpisah denganmu!" Devgan memohon dengan nada pelan.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan benda itu, dan juga dirimu!" balas Xiao ketus.
"Lihatlah nanti, kau tidak akan bisa melakukan apapun tanpa energiku!" ucap Devgan, yang sama sekali tidak di acuhkan oleh Xiao.
Chan sudah berada di luar. Dia mencari tempat yang tepat untuk membuang belati Glorix. Sejujurnya masih banyak pertanyaan dalam kepalanya. Terutama mengenai kemana perginya makhluk kutukan itu. Tetapi yang terpenting sekarang adalah menjauhkan belati Glorix dari Xiao secepatnya, sebelum kejadian buruk terjadi lagi.
Chan mengambil sebuah batang kayu kecil yang runcing. Kemudian membuat lubang di tanah. Setelah dirasa cukup, Chan pun langsung mengubur belati Glorix. Dia juga tidak lupa untuk menutupinya dengan dedaunan kering.
__ADS_1
"Apa kau sudah selesai?" Xiao baru saja keluar dari rumah. Ia mendesak Chan untuk segera pergi.
"Sudah." Chan melajukan langkahnya menghampiri Xiao. Keduanya sekarang bersama-sama menyusuri hutan. Mereka melangkahkan kaki cukup lama. Berusaha menghindari rerumputan yang tinggi dan berduri. Chan yang sedari tadi berjalan di belakang, mencoba meraih tangan Xiao.
"Aku sudah lelah, sepertinya kita berada sangat jauh dari pemukiman," kata Chan sembari mengatur deru nafasnya akibat kelelahan. Tangannya sekarang terpaut erat dalam genggaman Xiao. Namun lelaki yang di ajaknya bicara hanya membisu dan terus melanjutkan langkahnya.
"Xiao. . ." panggil Chan lirih. Alhasil Xiao pun menghentikan langkahnya, lalu sedikit menjongkokkan badan. Dia menghadapkan punggungnya kepada Chan. Xiao menyuruh Chan naik ke punggungnya.
"Kau yakin? lenganmu kan sedang terluka. Aku tidak mau!" Chan menolak tawaran Xiao.
"Naiklah Chan, lagi pula bukan punggungku yang terluka. Aku hanya tidak mau menghabiskan waktu dengan cara berhenti di tengah jalan!" jelas Xiao.
"Baiklah. . ." Chan akhirnya setuju. Sekarang Xiao menggendongnya ke punggung. Chan perlahan mengukir senyuman tipis diwajahnya. Entah kenapa ia merasa Xiao akhir-akhir ini memperlakukannya dengan sangat manis. Membuat kedua pipinya bersemu merah.
"Xiao, apa kau tahu? saat aku mulai menyukaimu, aku selalu berkhayal dapat memiliki kehidupan normal bersamamu. Tetapi, aku tidak menyangka ternyata kehidupanmu lebih rumit dariku." Chan bercerita.
Xiao pun tersenyum dan membalas, "Apa kau mengejekku?"
"Pffft! Tentu tidak. Aku hanya tidak menduga dapat memiliki kehidupan yang lebih menantang, terutama ketika aku menjadi semakin dekat denganmu!"
"Sudahlah Chan," ujar Xiao seraya terus melangkahkan kakinya. Apalagi kala dia telah melihat ada jalanan setapak. Pertanda kalau sebentar lagi dia dan Chan akan keluar dari hutan.
***
Ketika Fa menyaksikan keadaan di dalam markas, dia hanya bisa berteriak kesal. Dilanjutkan dengan tangisannya. Apalagi saat dirinya menemukan Yenn dalam keadaan sangat mengenaskan.
"Aaaaaaaaghhhhh!!! Aaaaaaarkkhh!!!" Fa duduk bersimpuh dalam keadaan menangis tersedu-sedu. Dia merasa sangat kehilangan Yenn yang sudah selalu di anggapnya seperti saudara kandung.
Brian hanya geleng-geleng kepala ketika menyaksikan pemandangan di hadapan matanya. Berbeda dengan Al, yang langsung mual ketika mata dan hidungnya bersatu menyiksa perutnya.
Al bergegas keluar dari markas. Dia memuntahkan sisa makanan dari mulutnya. Jujur saja, meski hanya melihat sebentar. Tetaplah bau amis dan pemandangan mengerikan menghantui pikirannya. Sekarang Al hanya berusaha menenangkan dirinya sebisa mungkin.
__ADS_1
Brian berderap menghampiri Fa. Matanya membulat sempurna tatkala melihat jasad Yenn sudah tidak bernafas lagi. Perlahan ia hanya menundukkan kepala. Seakan ikut berkabung dengan apa yang telah terjadi.