Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 99 - Membersihkan Darah Diwajahmu


__ADS_3

Suasana hati yang buruk, terkadang dapat merubah segalanya ikut menjadi buruk.


***


Chan masih terdiam dengan keadaan kepala yang menunduk. Dia belum beranjak pergi dari kamar Xiao.


"Chan, bisakah kau menutup pintunya? aku tidak ingin melihat orang lain lagi menggangguku," ujar Xiao. Hingga berhasil membuat mata Chan membola.


"Kau mengusirku?" tanya Chan.


Xiao datar saja mendengarnya, ia perlahan merebahkan diri ke kasur. Kedua tangannya dilipat untuk dijadikan bantalan kepala.


"Tentu saja tidak, malah aku mau mengurungmu di sini bersamaku!" ucap Xiao.


Chan segera bangkit dan menutup pintu rapat-rapat. Selanjutnya ia membalikkan badan untuk menatap Xiao. Entah kenapa gadis itu masih ragu untuk melangkahkan kakinya. Dia seolah membeku di tempat.


"Kau kenapa masih diam di sana? tenang saja Chan, aku sekarang tidak berniat berbuat mesum!" Xiao mencoba meyakinkan. "Meskipun kau tampak sangat cantik dengan gaun itu," tambahnya.


"Ah, benar! aku hampir lupa kalau masih mengenakan gaun." Chan memperhatikan gaun yang sedang dipakainya. Dia sebenarnya ingin pergi, namun urung karena tidak berniat meninggalkan kekasihnya. Sebab keadaan Xiao sekarang terlihat mengkhawatirkan.


"Xiao, kau seharusnya bersihkan dahulu darah yang ada di baju dan wajahmu." Chan berjalan semakin mendekat. Dia kembali mendudukkan diri di ujung kasur seperti sebelumnya. Menatap wajah Xiao yang terlihat masih terdapat percikan darah.


"Bisakah kau melakukannya untukku? suasana hatiku benar-benar buruk sekarang." Xiao menyahut dalam keadaan memejamkan mata.


"Bukankah kau sudah dewasa? kenapa malah bersikap seperti anak kecil?" Chan mengerutkan dahi.


"Kalau begitu, aku akan tidur dalam keadaan begini. Toh aku sedang tidak peduli dengan penampilanku sekarang!" sahut Xiao datar.


Chan yang medengar menghela nafasnya. Dia segera menarik lengan Xiao, karena hendak membawanya ke kamar mandi.


"Chan!" Xiao reflek menarik tangannya dengan paksa. Dia tampak menunjukkan raut wajah kesal.


"Kau bilang ingin aku membersihkan wajahmu!" Chan meninggikan nada suaranya.


"Iya, tetapi aku tidak berniat bangkit dari kasur. Kakiku masih terasa sakit!" terang Xiao. Alhasil Chan pun melangkah pergi menuju kamar mandi. Kemudian mengambil sebuah handuk kecil dan sedikit air. Sekarang gadis tersebut sudah kembali lagi ke hadapan Xiao.


"Kau bersedia mengubah posisimu menjadi duduk kan?" Chan menatap serius. Kali ini Xiao menuruti perintahnya.

__ADS_1


Chan langsung melepaskan kancing baju Xiao satu per satu. Keduanya sama-sama saling membisu. Bahkan detak jantung mereka tidak berpacu lebih cepat seperti biasanya. Memang terkadang suasana hati yang buruk dapat mengubah segalanya dalam sekejap.


Setelah semua kancingnya terbuka, Xiao lantas melepaskan bajunya. Dia sepenuhnya bertelanjang dada. Mimik wajahnya terlihat masih cemberut. Xiao bahkan sama sekali tidak menatap wajah gadis yang sekarang sedang memperdulikannya.


"Tanganmu tidak apa-apa kan?" tanya Chan saat melihat perban terlilit di tangan kanan Xiao.


"Ini tidak begitu sakit." Xiao menjawab singkat.


Chan mengangguk pelan. Dia pun mulai membasahi handuk kecilnya, lalu membersihkan percikan darah yang ada di wajah Xiao. Chan mengelap agak kasar, hingga berhasil membuat Xiao berdecak kesal.


"Bisakah kau lakukan pelan-pelan?" protes Xiao yang akhirnya menatap ke arah gadis di hadapannya.


Plak!


Chan yang merasa geram sontak melayangkan cap lima jarinya ke pipi Xiao. "Diamlah!" titahnya.


"Ah, sudahlah!" Xiao menjauhkan tangan Chan dari wajahnya.


"Kantong matamu terlihat benar-benar buruk," komentar Chan. Namun Xiao meresponnya hanya dengan dengusan kasarnya. Dia membuang muka dari Chan. Padahal gadisnya itu tengah menatapnya lekat.


Yang ada dalam pikiran Chan hanya rasa cemasnya. Dia terkadang merasa kasihan dengan apa yang di alami Xiao. Lelaki tersebut seperti sebuah alat yang digunakan orang lain untuk melakukan segalanya.


"Cih! kau tidak akan bisa menang jika tidak membunuh musuhmu Xiao. Mana mungkin kau bisa berhenti membunuh. Itu juga sama saja dengan mengurangi kekuatanmu!" sinis Devgan. Dia tentu jengkel mendengar perkataan Chan.


Xiao hanya terdiam. Membiarkan dua sosok terdekatnya mempengaruhi dengan cara yang berbeda. Namun jujur saja, pelukan Chan sedikit membuatnya lebih tenang. Tangannya perlahan melingkar ke punggung Chan.


Ceklek!


Seseorang tiba-tiba membuka pintu, dan berhasil memergoki Xiao dan Chan tengah saling berpelukan. Ternyata itu Al, yang lupa mengetuk pintu akibat sedang tergesak-gesak.


"Astaga!" Al segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, seakan telah menyaksikan pemandangan yang menjijikan. Ekspresinya tampak meringis.


"Kalian lanjutkan saja, aku akan kembali lagi nanti," kata Al sembari memundurkan langkahnya, tanpa melihat ke arah dua sejoli yang dikiranya sedang berbuat mesum.


Xiao melepaskan pelukan dengan tenang. Berbeda dengan Chan, yang merasa sangat malu tak tertolong. Dia pun langsung bangkit dan berdiri.


"Al, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan!" Chan memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Apa maksudmu Chan, tidak apa-apa kok. Aku akan segera pergi." Al masih tidak mampu mengalihkan pandangannya ke arah Chan. Dia terus berjalan mundur dan sudah meraih pintu.


"Al, memangnya kau mau apa ke sini? apa ada sesuatu hal penting yang terjadi?" tanya Xiao tenang.


Mendengar pertanyaan Xiao, Al pun mengurungkan kepergiannya. Sebab kabar yang diberikannya memang lumayan penting untuk diketahui oleh Xiao.


"Mei sudah sadar, dan anak buahmu berhasil menemukan mobil yang telah dikendarai Shuwan!" ungkap Al.


Xiao pun langsung berdiri dan mengambil bajunya kembali. Dia mengenakan pakaian yang dikenakannya tadi.


"Chan, lebih baik kau istirahat dan ganti bajumu!" perintah Xiao seraya melingus pergi begitu saja. Dia ingin lekas-lekas menemui Mei yang sudah tersadar.


"Tapi, Xiao--" Chan tak kuasa meneruskan kalimatnya, dikarenakan Xiao sudah menghilang dari pandangannya.


"Xiao benar, kau lebih baik istirahat!" ujar Al yang masih berdiri di depan pintu. Atensinya tiba-tiba terfokus pada kaki Chan yang sedang tidak memakai alas. "Ugh, dan lihat kakimu. Jadi sedari tadi kau nyeker?" sambungnya tak percaya.


"Sudahlah Al, aku ingin ganti baju!" balas Chan tak acuh.


***


Xiao telah tiba di hadapan Mei. Di sana sudah ada Yenn yang terlihat memegangi sebuah gunting kecil.


Mei tampak di ikat di sebuah kursi. Tali tambang melilit kencang di tubuhnya. Kepala gadis tersebut berlinang dengan darah akibat luka yang diberikan Xiao kepadanya. Mei hanya menundukkan kepala. Rambutnya menjuntai menutupi hampir seluruh bagian wajahnya.


"Apa dia sudah memberitahu segalanya?" tanya Xiao.


"Aku baru saja mau memulai. Kita bisa melakukannya bersama-sama!" jawab Yenn. Dia mencelingak-celingukkan kepalanya ke arah pintu. Xiao yang melihat lantas keheranan.


"Kau mencari siapa?" Xiao menuntut jawaban.


"Chan! dia harus ada di sini!" ujar Yenn yang masih saja menatap ke arah pintu. Berharap calon menantunya itu akan muncul.


"Sudahlah, aku tidak ingin dia terlalu banyak terlibat!" respon Xiao menegaskan.


Yenn terperangah. Dia sedikit memundurkan kepalanya seolah kaget. Sebab bukan itu penuturan yang ingin didengarnya dari mulut sang putra.


"Xiao, jika dia ingin menjadi bagian keluarga kita, maka otomatis dia juga harus banyak terlibat dengan urusan kita sekarang!" timpal Yenn.

__ADS_1


Xiao langsung melotot tajam ke arah ibunya dan menegaskan, "Yang aku inginkan sekarang hanyalah menghabisi Shuwan!!!"


Yenn sontak kehabisan kata-kata. Apalagi ketika menyaksikan binar kemarahan yang ada di mata Xiao. Alhasil dia pun mengalah dan memberikan Xiao berbuat sesuka hati.


__ADS_2