Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 92 - Kedatangan Chan Ke Markas


__ADS_3

'Saat ini aku akan diam, karena sebentar lagi tragedi besar akan terjadi.'- Devgan.


***


Xiao segera berjalan menghampiri Brian. Dengan di ikuti Chan dari belakang.


"Kenapa kalian yang datang? Feng mana?" tanya Xiao dengan dahi yang berkerut.


"Memangnya kenapa kalau kami yang datang?" timpal Al dengan nada angkuhnya.


Ketika Xiao hendak membuka pintu belakang mobil, Al langsung mencegahnya. Dia mendorong Xiao ke arah Brian.


"Kau duduk di depan bersamanya!" titah Al tegas. "Chan duduk bersamaku di belakang!" tambahnya seraya melemparkan senyuman ke arah Chan.


"Apa-apaan! kenapa kau jadi sok-sokan mengaturku!" kesal Xiao yang menggertakkan giginya. Namun tidak ada yang menghiraukannya sama sekali, bahkan Chan sekali pun. Gadis itu hanya mengikuti arahan Al, kemudian masuk ke dalam mobil. Tepatnya di kursi belakang.


"Kau mendampingiku saja," ucap Brian percaya diri sambil menepuk pelan pundak Xiao.


"Cih!" Xiao menjauhkan tangan Brian dengan kasar. Dia pun terpaksa duduk bersebelahan dengan Brian. Mereka sekarang telah siap berangkat. Mobil dijalankan oleh Brian secara perlahan.


Kebisuan menyelimuti beberapa saat. Xiao, Brian, Chan dan Al sama sekali tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya ada suara mesin mobil dan suara siulan Brian yang menjadi pengiring musik suasana tersebut.


Xiao tengah memikirkan mengenai tawaran Devgan kepadanya. Yaitu tentang bagaimana caranya menghilangkan mimpi buruk dan bisikan yang terus menghantuinya. Xiao melirik ke arah Devgan sejenak. Dirinya bisa menyaksikan betapa besar devilnya sekarang.


'Pantas saja, dia semakin bertingkah denganku,' gumam Xiao dalam hati. Dia memang tak dapat mengelak energi kuat yang ada pada Devgan.


Berbeda dengan Xiao, Chan malah berkalut memikirkan mengenai apa yang akan terjadi kepada dirinya, jika telah tiba di markas Klan Wong. Gadis itu tidak pernah menyangka, perasaan cinta mampu membawanya masuk lebih dalam ke dunia yang terbilang mengerikan. Chan harus beberapa kali menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. Bahkan sekarang ia tengah mengigit ibu jarinya sendiri sembari menggidikkan sebelah kakinya. Atensinya tertuju pada jendela kaca mobil yang memperlihatkan pemandangan bangunan-bangunan tinggi kota Metropolis.


Al yang duduk tepat di samping Chan hanya tersenyum tipis. Dia menatap ke arah gadis yang terlihat tidak tenang di sebelahnya. Jujur saja, Al merasa senang bisa memperbaiki hubungannya lagi dengan Chan.


Dari ke-empat orang yang berada di dalam mobil. Hanya Brian yang santai dengan pikirannya sendiri. Lelaki tersebut menikmati aktifitas menyetirnya. Dia bersikap seolah tidak ada masalah yang mengganggu pikirannya. Namun begitulah Brian, makanya ia mampu mengendalikan devil yang menyatu dalam tubuhnya. Sebab ia selalu berpikir positif dan membawa aura ceria, meskipun masa lalunya terbilang kelam.


"Xiao, kau harusnya mengkhawatir Chan. Dia sepertinya sedang gugup!" Al membuka topik pembicaraan. Chan yang mendengar lantas melebarkan matanya, dia menggeleng tegas karena ingin membantah pernyataan Al. Berbeda dengan Xiao yang langsung menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Chan.


"Hahaha! aku pun kalau jadi Chan pasti akan gugup, karena akan bertemu calon mertua yang psikopat!" komentar Brian yang merasa geli. Xiao sebenarnya juga merasa lucu dengan tingkah Chan, dia senang kekasihnya itu ternyata telah menganggap serius ajakannya.


"Siapa bilang! aku tidak gugup!" Chan menampik dengan gelagapan. Apalagi ketika dirinya melihat Xiao memalingkan kepala untuk menatapnya.


"Benarkah itu Chan?" goda Xiao seraya tersenyum miring. Namun Chan hanya merespon dengan cara membuang mukanya, meskipun wajahnya terlihat memerah akibat merasakan malu teramat sangat.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di markas Klan Wong. Xiao dan lainnya segera turun dari mobil, dan berjalan memasuki bangunan besar yang ada di hadapan mereka. Tempat yang mereka datangi adalah markas utama.


Markas Klan Wong sendiri ada dua. Yang utama berukuran paling besar dan terletak di dekat kota. Sedangkan satunya lagi adalah markas rahasia dan tersembunyi, yang terletak di hutan. Atau tepatnya di bawah tanah. Namun karena sudah mengambil alih kekuasaan Klan Tao, sekarang markan Klan Wong bertambah. Hingga jumlah akhir markas yang mereka miliki sekarang berjumlah tiga.


Xiao berjalan memimpin. Dia menyuruh Chan untuk mengikutinya. Lelaki itu berniat memperkenalkan kekasihnya kepada Yenn.


"Semoga berhasil Chan!" ujar Al sembari memasang pose tangan yang menyilang di depan dada.


"Chan, tunggu!" panggilan Brian berhasil menghentikan langkah kaki Chan dan Xiao.


"Kenapa Bri?" dahi Chan berkerut.


"Ini, bawalah untuk berjaga-jaga!" Brian menyerahkan sebuah pistol ke tangan Chan. Entah apa maksud pria tersebut, mungkin saja dia berniat mengejek atau memang benar-benar mengkhawatirkan Chan.


"Sialan! apa-apaan, kau pikir ibuku semengerikan itu?!" geram Xiao yang merasa tersinggung dengan tingkah laku Brian. Sedangkan Chan tampak kebingungan harus bagaimana merespon kelakuan Brian. Dia hanya terpaku menatap ke arah kedua lelaki yang ada di samping kanan dan kirinya.


"Tenanglah, aku hanya berusaha menenangkan Chan!" kata Brian santai, lalu segera beranjak pergi seolah sama sekali tidak peduli dengan kemarahan Xiao terhadapnya.


"Sudahlah Chan, jangan hiraukan dia!" Xiao langsung mengambil pistol yang ada di tangan Chan. Kemudian menggantikannya dengan tangannya sendiri. Sekarang keduanya berjalan menuju sebuah ruangan dimana Yenn sedang berada.


Bruk!


"Kenapa kau begitu berisik!" geram Yenn yang langsung menyalangkan mata ke arah sumber suara. Ia mengira yang datang adalah salah satu anak buahnya. Namun Yenn segera bersemangat kala menyaksikan kehadiran putranya, apalagi dengan keadaan menggandeng tangan seorang gadis di sampingnya.


"Xiao, Ibu mengira kau Feng!" ucap Yenn sembari memegangi area dadanya. Xiao tidak merespon sapaan sang ibu, ia hanya terus berjalan mendekat.


"Inikah gadis yang berhasil membuatmu gelisah?" Yenn memperhatikan Chan dari ujung kaki hingga kepala. Sedangkan Chan hanya bisa tersenyum tipis untuk menyapa Yenn. Sebenarnya dia agak merasa takut, apalagi saat melihat terdapat bercak darah menghiasi baju putih yang sedang dikenakan Yenn.


"Aku akan menikahinya!" ungkap Xiao. Dia berhasil membuat Chan dan Yenn sama-sama membulatkan mata.


"Hahahaha!" Yenn mendadak tertawa geli. Sedangkan Chan segera mengenggol Xiao dengan sikunya, wajahnya menjadi memerah bagaikan kepiting rebus.


Xiao terlihat memasang raut wajah datar. Ia bahkan sama sekali tidak terganggu dengan tawa gelak sang ibu.


"Kenapa? tidak boleh?" timpal Xiao.


Yenn pun akhirnya menghentikan tawanya dan berkata, "Tentu saja boleh, tetapi apa gadis ini mau menggantikan posisiku?"


Xiao otomatis menatap ke arah Chan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yenn. Gadis tersebut menjadi pusat atensi dari dua orang di hadapannya. Dirinya seakan dituntut untuk segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yenn.

__ADS_1


"A-a-aku. . . akan berusaha," ungkap Chan dengan terbata-bata.


"Kau pasti gadis yang bernama Chan itu kan?" tanya Yenn. Chan pun langsung menjawab dengan anggukan.


"Fa sudah mengatakan semuanya tentangmu. Dan aku suka bagian kau terobsesi dengan putraku," kata Yenn lagi.


"Terobsesi? aku tidak. . ." Chan awalnya berusaha membantah, namun ingatannya mengenai dirinya yang selalu mendatangi rumah Xiao diam-diam, sontak membuatnya membisu.


Yenn tertawa kecil dan berucap, "Kalian bisa bertunangan lebih dahulu. Dan sebelum menikah, aku ingin mengajari Chan mengenai banyak hal!" dia perlahan berjalan mendekat, kemudian mengangkat dagu Chan lembut.


"Siapa yang akan menikah?!" suara seorang gadis terdengar dari depan pintu. Ternyata dia adalah Mei yang sedari tadi menguping pembicaraan Xiao dan ibunya.


"Aku!" jawab Xiao tak acuh.


"Jangan bercanda! bukankah kau memiliki alasan menerimaku di sini?!" tukas Mei kecewa, dari awal dirinya selalu mengira Xiao telah jatuh cinta kepadanya.


"Mei?" Chan yang menyaksikan kehadiran Mei langsung meringiskan wajah.


"Tidak ada alasan lain selain rasa kasihanku kepadamu!" sahut Xiao yakin.


Mimik wajah Mei tampak cemberut. Dia melotot ke arah Xiao dan Chan secara bergantian, setelahnya dia pun berlalu pergi begitu saja.


"Kenapa dia ada di sini?" tanya Chan.


"Awalnya aku bermaksud mengajaknya karena ingin menyakiti hati Shuwan. Tetapi lama-kelamaan keberadaannya sama sekali tidak berguna," jelas Xiao.


"Jangan dipikirkan Chan!" Yenn menjeda kalimatnya sejenak, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Chan. "Tenang saja, Xiao persis seperti ayahnya. Dia lelaki yang setia," bisiknya. Dia berhasil membuat Chan tersenyum.


***


Di sisi lain, Mei merasa sangat kesal. Dadanya tampak naik turun karena amarahnya yang memuncak. Gadis itu merasa dikhianati oleh Xiao. Bahkan dia melemparkan benda-benda yang ada di dekatnya untuk meluapkan kekesalannya.


Hingga pada akhirnya terbersitlah pikiran Mei untuk mendatangi Shuwan. Dia pun bergegas mendatangi ruangan dimana Shuwan ditawan. Kebetulan ruangan itu lumayan sepi.


Mei yang sudah tahu letak kunci ruangan, tentu langsung berhasil membuka pintu. Dia sekarang berhadapan dengan Shuwan. Lelaki tersebut terkulai lemah di lantai. Cairan merah membasahi bajunya. Bengkak dan babak belur menghiasi wajahnya. Saking tersiksanya, Shuwan terlihat mengangakan mulutnya dengan saliva yang dibiarkan mengalir. Meskipun begitu Shuwan masih hidup.


"Mei. . ." lirih Shuwan dengan suara seadanya. Bola matanya bergerak untuk menatap gadis yang pada akhirnya mendatanginya.


"Shuwan! maafkan aku. Tetapi sekarang aku akan menebus kesalahanku!" ujar Mei.

__ADS_1


__ADS_2