
Setiap perbuatan manusia, selalu memberikan dampak yang besar terhadap alam.
***
Sudah sekitar dua hari lebih Xiao dan yang lain berada di rumah James. Mereka sudah lumayan terbiasa dengan suasana dan cuaca yang ada di sana.
Xiao dan Chan tengah berjalan berbarengan, tepatnya dipinggiran pantai yang memancarkan mentari cerah. Xiao sebenarnya sudah memutuskan akan bersedia pergi ke dimensi lain. Namun ia masih kesulitan untuk mengajak Chan bersamanya.
"James benar. Tanpa aku, kau dan Theo tidak akan bisa pergi ke dimensi lain," celetuk Chan pelan. Rambut panjangnya beterbangan diterpa angin laut. Ia menatap Xiao dengan ekor matanya.
"Aku tahu," sahut Xiao singkat. Kedua tangannya nampak di masukkan ke dalam saku celana.
"Jadi kau sudah setuju?" Chan memegangi lengan Xiao. Keduanya otomotis menghentikan langkah kaki mereka.
"Apa aku punya pilihan lain?" kata Xiao sambil bertukar pandang dengan Chan untuk sesaat.
Dari kejauhan, terlihat sebuah kapal berukuran sedang tengah melaju ke tempat dimana Xiao dan Chan berada. Lama-kelamaan kapal tersebut semakin mendekat, dan benar-benar berhenti di pulau.
Xiao dan Chan sama-sama terkejut. Keduanya segera bersembunyi ke semak-semak terdekat. Mereka hanya berjaga-jaga, kalau-kalau orang yang datang adalah salah satu pemberontak. Xiao bahkan sudah siap siaga memegangi pisau lipat yang ada dalam saku celana.
Seorang lelaki melangkah turun dari kapal. Rambutnya pirang dan bermata biru. Badannya tampak bugar dan tinggi semampai. Wajahnya terkesan cuek, dan agak sangar. Ada garis-garis tertentu yang menyebabkan semua orang menilai dirinya begitu. Namanya Theo, lelaki yang memiliki usia sepantaran Xiao dan berasal dari Kanada.
"Sepertinya dia sendirian. . ." tebak Chan, yang berbicara ke telinga Xiao dengan pelan.
"Mungkinkah dia orang yang bernama Theo?" tebak Xiao.
Theo berjalan semakin mendekat ke arah keberadaan Xiao dan Chan. Dia merasa ada seseorang yang terus mengawasinya. Matanya bahkan menangkap dedaunan yang bergoyang di semak-semak.
"Siapa itu? James?" ujar Theo, yang seketika membuat Xiao keluar dari tempat persembunyiannya. Hal yang sama dilakukan Chan, tetapi ia keluar lebih lambat dibandingkan Xiao.
__ADS_1
"Jadi, kau yang namanya Theo?" Xiao berderap mendekat. Dia dapat menebaknya, karena Theo tadi sempat menyebut nama James.
Theo tampak menjawab dengan anggukan kepala. Postur tubuh Theo membuat Xiao percaya, kalau lelaki tersebut memang mampu berjuang bersamanya di dimensi lain.
"Aku Xiao Wong!" ungkap Xiao yang sudah berdiri di hadapan Theo.
"Oh, aku sudah menduga. Auramu memang agak berbeda dari gadis itu," Theo menunjukkan tangannya ke arah Chan. Pernyataannya lantas membuat dahi Xiao berkerut heran.
"Maksudku, lebih mengancam. Mungkin karena kau sudah lumayan banyak membunuh manusia. Bisakah kau memberitahuku berapa orang yang telah dibunuh?" Theo berucap lagi. Dia sepenuhnya memang penasaran, dan sama sekali tidak berniat menyinggung. Namun Xiao terlihat santai saja, lagi pula dirinya tidak bisa menampik penuturan Theo.
"Aku tidak tahu, karena tragedi di sekolah, aku sudah lupa berapa banyak orang yang kubunuh!" ungkap Xiao, dan berhasil membuat Theo mengukir raut wajah masamnya. Dia sebenarnya merasa sedikit ngeri.
"Umm. . . kau tidak akan melakukannya lagi kan?" tanya Theo serius. Akan tetapi Xiao malah tersenyum miring.
"Entahlah, mungkin--"
"Dia kemungkinan tidak akan melakukannya lagi," Chan akhirnya ikut masuk ke dalam pembicaraan. Dia segera ikut bergabung ke tempat Xiao dan Theo berada.
"Aku tidak bisa berjanji, apalagi dengan pemberontakan yang sekarang terjadi saat ini," ujar Xiao sembari mendenguskan nafasnya. Kemudian berderap lebih dahulu menuju rumah James.
"Dia memang begitu, kau akan terbiasa jika nanti pergi bersamanya," Chan mengajak Theo untuk mengiringinya berjalan. Keduanya kembali melanjutkan pembicaraan.
Dari depan Xiao dapat mendengar suara samar-samar Chan dan Theo sedang saling berbincang. Dia sontak menghentikan jalannya, lalu menghela nafas cukup panjang. Kemudian menoleh dan memekik, "Bisakah kalian lebih cepat?!"
Chan dan Theo seketika terdiam. Chan yang sangat paham dengan kecemburuan Xiao bergegas berjalan mendahului Theo. Dia melangkah menghampiri Xiao. Senyuman mengejek terpatri diwajah gadis bermata hitam tersebut. Perlahan Chan mendekati Xiao, dan berbisik, "Apa kau cemburu?"
"Chan!" Xiao menyalangkan mata.
"Apa kalian memiliki hubungan tertentu? dari yang aku lihat sepertinya begitu," Theo mendadak sudah mendekat. Namun Xiao dan Chan hanya saling terdiam. Keduanya sama sekali tidak menjawab. Chan sebenarnya berharap Xiao yang akan memberikan penjelasan kepada Theo. Tetapi dia sama sekali tidak mendengar jawaban satu kata pun dari mulut lelaki itu.
__ADS_1
"Ayo, lebih baik kita temui James. Agar kepergian kita ke dimensi lain bisa dipercepat!" Xiao sengaja mengalihkan pembicaraan. Hingga berhasil membuat wajah Chan tertunduk sendu.
"Baiklah!" sahut Theo seraya menoleh ke arah Chan yang tiba-tiba terdiam seribu bahasa. "Ayo Chan!" ucapnya lagi, mencoba mengajak Chan juga ikut. Mereka pun sama-sama melangkah memasuki kediaman James.
Kedatangan Theo disambut James dan Eva dengan ramah. Mereka mempersilahkan lelaki tersebut untuk beristirahat dahulu, sebelum melakukan perbincangan serius.
Theo sedang mengeluarkan beberapa barangnya dari tas. Dia baru selesai membersihkan badan. Xiao tampak berdiri di depan pintu kamar Theo. Dia bersandar ke engsel pintu yang ada di sebelah kanannya.
"Jadi, bakat apa yang kau miliki, sampai James percaya kepadamu?" tanya Xiao sambil melipat tangannya di depan dada.
"Aku tahu banyak hal tentang dimensi lain. Apa kau percaya dengan yang namanya reinkarnasi?" balas Theo yang telah selesai mengenakan kaos baju ke badannya.
"Reinkarnasi? entahlah. Setelah aku bisa melihat devil dan hantu, rasanya semua hal yang berbau tidak mungkin bisa menjadi mungkin." Xiao mengangkat kedua bahunya sekali.
"Maaf jika aku membuatmu bingung. Tetapi aku bukanlah Theo, melainkan seseorang dari masa lalu. Aku diberi kesempatan untuk melihat dunia lagi dengan tubuh ini. Setelah tewas, aku cukup lama berada di dimensi lain. Jadi, aku tahu banyak hal tentang dunia itu," Theo menjelaskan panjang lebar.
"Sepertinya dimensi lain memang adalah dunia yang besar. . ." lirih Xiao menatap kosong ke arah cakrawala di jendela. Tampak menggelap dan sedikit berwarna merah. Hingga ia merasa aneh dengan pemandangan tersebut. Xiao pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri jendela, dan memastikan pemandangan yang ada di luar rumah. Memang benar awan mendung terlihat berwarna kemerahan, dan tidak menghitam seperti biasanya.
"Ada apa?" Theo mendekati Xiao. Dia juga ikut memperhatikan fenomena alam yang terjadi.
"Apa aku salah lihat? kalau gumpalan awannya berwarna merah?" tanya Xiao memastikan. Takut kalau hanya dirinya yang menyaksikan gumpalan awan merah di langit.
"Kau tidak salah, awan itu memang merah!" sahut Theo yang juga tidak mengalihkan pandangannya dari langit.
Awan semakin menggelap, namun memberikan pendar merah menyala. Lama-kelamaan, hujan pun turun dengan derasnya. Bukan tetesan air bening seperti biasa, namun bulir-bulir air berwarna merah dan berbau anyir.
•Info
Halo guys, aku mau kasih tahu kalau beberapa bab lagi novel ini akan berakhir. Terus aku juga mau sekalian promosi novel terbaru. Bagi yang penasaran tinggal klik profil aku ya!
__ADS_1
Terima kasih... 😊