
Terkadang yang kita kira tak terduga, adalah sesuatu yang sudah direncanakan.
***
Shuwan sudah tiga jam lebih di sekap di sebuah ruangan. Kala itu dia hanya mengenakan celana pendeknya, dan hanya duduk lesu di lantai.
Bruk!
Pintu dibuka dengan hempasan kuat. Hingga membuat Shuwan tersentak kaget. Dua bawahan Yakuza pun segera menyeretnya keluar. Sekarang mereka berjalan di lorong.
Mata Shuwan tertuju kepada pintu yang bertuliskan kata exit di atasnya. Dia sedang berpikir untuk melarikan diri. Ketika dua bawahan Yakuza yang membawanya lengah, saat itulah Shuwan melakukan serangannya. Dia dengan sigap menendang kaki kedua orang yang mengawalnya.
Buk! Dhuak!
Shuwan juga tidak lupa melayangkan tinjunya ke wajah dua bawahan Yakuza tersebut. Setelahnya ia pun berlari secepat mungkin menuju pintu yang sedari tadi menarik atensinya. Benar saja, pintu itu membawanya keluar dari markas Yakuza. Meskipun begitu, Shuwan tetap tidak bisa tenang sebab para bawahan Yakuza tampak berbondong-bondong mengejarnya.
Shuwan tidak memikirkan penampilannya lagi, dia hanya memikirkan bagaimana dirinya selamat dan kabur dari kejaran orang-orang Yakuza. Dia terus berlari entah kemana, hingga akhirnya menabrak seorang lelaki yang membuat matanya terbelalak.
***
Xiao, Brian dan Hiroto telah menghabiskan hidangan. Mereka hendak bersiap-siap untuk keluar dari kedai makanan. Hiroto terlihat meminum obatnya terlebih dahulu.
"Kau minum obat apa?" Xiao bertanya karena merasa penasaran.
"Cuman vitamin." Hiroto menjawab singkat yang disertai senyum tipisnya. Xiao hanya merespon dengan anggukan dan ber-oh saja.
"Aku jadi teringat dengan obatku." Xiao mengelus-elus dagunya sendiri lalu melanjutkan, "bisakah kau mengantarkan aku ke apotek setelah ini?"
"Tentu saja!" Hiroto langsung menyetujui. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Hiroto perlahan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah apotek. Xiao lantas turun dari mobil.
"Tunggu, kau mau apa ke apotek?" Brian memegangi lengan baju Xiao.
__ADS_1
"Aku ingin membeli obat!" sahut Xiao sembari menghempaskan jauh-jauh tangan Brian darinya. Kemudian melanjutkan langkahnya untuk memasuki apotek. Dia berusaha mencari obat yang dapat membantunya membunuh Hiroto secara halus.
"Kau mau membunuh Hiroto kan?" Devgan menebak perilaku mencurigakan Xiao.
"Begitulah. Kau senang?" balas Xiao seraya melirik devilnya selintas.
"Tentu saja, haha! ngomong-ngomong, kau tidak merindukan Chan?" ujar Devgan, yang sontak menyebabkan munculnya kerutan di dahi Xiao.
"Kenapa kau tiba-tiba membicarakannya, bukankah tempo hari kau ingin dia pergi, sampai-sampai meremehkannya?" timpal Xiao sembari memeriksa deretan obat yang terpampang. Jujur saja, dirinya tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang disekitarnya karena menyaksikannya berbicara sendirian.
"Aku hanya suka perasaanmu ketika bersamanya, aku dapat merasakan keliaranmu itu. Xiao, mungkin suatu hari kau akan membunuh Chan dalam keadaan tidak sadar, dan aku menunggu momen itu!" jawab Devgan terkekeh. Xiao sontak menggeleng sambil berseringai jijik. Dia tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Devgan. Berceloteh jahat, memang sudah menjadi kebiasaan devilnya.
Setelah sekian lama, akhirnya Xiao menemukan obat yang dicarinya. Dia memilih obat yang mempunyai efek halusinasi kuat. Xiao memasukkan sepuluh butir obat lebih ke dalam botol air mineral. Sebelum itu, ia tentu saja menghancurkan obatnya terlebih dahulu. Xiao melancarkan aksinya di dalam bilik toilet.
Brian yang masih menunggu di dalam taksi, terdengar bersiul untuk mengurangi rasa bosannya. Tidak lama kemudian, dia menyaksikan Xiao keluar dari apotek.
"Kenapa lama?!" tukas Brian kepada Xiao yang sudah membuka pintu mobil.
"Aku ke toilet sebentar tadi!" balas Xiao, dia masih berdiri di luar mobil. "Bri, kita turun di sini saja ya, kita sudah terlalu banyak merepotkan sopir taksi itu!" tambahnya.
"Aku sudah menemukan sebuah hotel di sekitar sini. Makanya aku menyarankan menyudahi perjalanan kita!" Xiao menjelaskan.
"Ya sudah!" Brian langsung turun dari taksi, dan membuat Hiroto sontak keheranan.
Xiao sekarang membuka pintu depan mobil, dia menundukkan kepala dan tersenyum kepada Hiroto yang sedang duduk di depan setir mobil.
"Kalian turun di sini?" Hiroto menatap bingung.
"Iya, aku menemukan tempat penginapan di dekat sini. Jadi, kau tidak perlu repot-repot mengantarkan kami lagi."
"Tapi--"
"Terima kasih Tuan Hiroto, jujur aku sangat terkesan dengan keramah-tamahanmu. Aku membelikan ini untukmu!" Xiao menyodorkan sekantong plastik yang berisi beberapa roti dan sebotol air mineral.
__ADS_1
"Wah, kau tidak perlu--"
"Dan ini bayaran untuk jasa pengantaranmu!" Xiao kembali menyambar kalimat yang hendak di ucapkan Hiroto. Dia menyerahkan beberapa lembar Yen kepada sopir taksi itu.
"Kau memberi terlalu banyak!" ujar Hiroto seraya memisahkan uang yang tidak seharusnya terikut. Matanya memang terfokus kepada lembaran uang tersebut. Dia perlahan menoleh ke arah Xiao lagi, karena berniat ingin mengembalikan uang yang berlebih. Namun Xiao dan Brian sudah menghilang dari pandangannya.
Hiroto keluar dari mobil dan mencelingak celingukan kepalanya untuk mencari keberadaan Xiao dan Brian. Nihil, dia tidak mampu menemukan kedua lelaki itu lagi. Apalagi di tengah hiruk-pikuk kota Tokyo nan padat. Alhasil dia kembali masuk ke dalam mobil.
Hiroto tersenyum kala melihat botol air mineral yang diberikan Xiao. Terdapat tulisan di botolnya, 'Minumlah, agar kau bisa terus bahagia bersama Ashumi.'
"Dasar anak itu!" gumam Hiroto yang sedikit tergelak. Lalu menenggak air mineral pemberian Xiao. Dia langsung menghabiskan minumannya sampai setengah botol. Tanpa berpikir lama, Hiroto kembali menjalankan mobilnya.
Di sisi lain, Xiao dan Brian tengah berjalan kaki secara beriringan. Keberadaan mereka sebenarnya masih tidak jauh dari lokasi Hiroto.
"Xiao, kau sangat mencurigakan. Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Brian seraya memasukkan kedua tangan ke saku bajunya.
"Kau tidak perlu--"
Syuuuut! Bruk! Prang!
Kalimat Xiao terjeda, akibat adanya sebuah mobil taksi yang tiba-tiba oleng dan menabrak beberapa pengendara ke jalur berlawanan. Alhasil terdapat sekitar lima mobil yang ikut hancur dan tertubruk. Sedangkan mobil taksi yang tadinya menjadi sumber masalah, terlihat kejatuhan tiang listrik.
Suasana menjadi riuh dan semakin padat. Xiao dan Brian yang merasa tertarik dengan kejadian itu ikut berhuyung di kerumunan penonton lainnya. Satu per satu polisi dan ambulan mulai berdatangan. Mereka segera menyelamatkan korban kecelakaan.
"Aku harap itu bukan taksi Hiroto!" Brian berharap. Berbeda dengan Xiao yang terdiam, dan sudah mengetahui kalau mobil taksi yang kecelakaan itu memanglah milik Hiroto. Xiao beranjak pergi sebelum Brian sadar.
Brian yang masih menonton adegan penyelamatan membulatkan matanya, karena dia menyaksikan Hiroto tak sadarkan diri dan bersimbah darah. "Xi-xiao, dia Hiroto! sopir taksi yang sudah banyak membantu ki--" Brian menjeda perkataannya karena tidak melihat keberadaan Xiao di sampingnya.
'Tunggu, apa Xiao yang merencanakan semua ini? gelagatnya tadi sangat aneh sebelum berpisah dengan Hiroto.' Pikiran Brian menerka-nerka, kemudian lekas-lekas berderap untuk menuntut jawaban kepada Xiao.
Bruk!
Seseorang yang hanya mengenakan celana pendek tiba-tiba menabrak Xiao.
__ADS_1
"Hei! apa matamu di taruh di pantat!" geram Xiao yang merasa terganggu dengan tubrukan orang tersebut. Dia segera menatap wajah sosok yang telah menabraknya. Pupil mata Xiao membesar tatkala menyaksikan penampakan Shuwan yang lebih terlihat seperti seorang pecundang.