Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 42 - Bertemu Yenn


__ADS_3

Saling percaya adalah suatu hal yang penting dalam menjalin hubungan.


***


Xiao dan Brian bergegas memasuki rumah sakit tempat dimana Chan berada. Mereka harus menunggu gadis itu selesai di operasi. Sekarang Xiao sedang tertunduk dengan wajah cemberut di sebuah kursi panjang.


"Hei Xiao! bukankah harusnya kau bersedih? kok malah cemberut?" tegur Al yang heran dengan ekspresi Xiao.


"Aku hanya kesal dengan orang-orang Tao, aku tidak akan memaafkan mereka!" sahut Xiao sembari mengepalkan tinju di kedua tangannya.


Al yang mendengar hanya bisa menggeleng tak percaya. Perlahan Brian mendekat dan berbisik ke telinganya, "Wajar, dia itu psiko!"


"Hussh! sudahlah Bri!" Al menyenggol Brian dengan sikunya, agar karibnya tersebut tidak berbicara yang tidak-tidak lagi.


"Rasanya aku masih belum puas melakukannya," gumam Xiao.


"Tentu saja, Brian menghentikanmu di tengah jalan. Kau harusnya tidak pernah bergaul dengannya!" ujar Devgan.


"Kau yang seharusnya tidak pernah muncul!" tukas Xiao.


"Hahaha! bagaimana aku tidak bisa muncul? kau sendiri lah yang membuatku terlahir, aku adalah dirimu. Dan kau adalah aku. . ." Devgan berbicara sambil mengitari Xiao. "Kita adalah satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan, bahkan oleh senjata yang kau cari tersebut!" tambahnya.


"Tahu apa kau perihal senjata itu?" tanya Xiao.


"Kau pikir aku tidak mendengar semuanya? bukankah Brian berkata bahwa senjatanya juga bisa membuatku bersatu ke dalam tubuhmu?" terang Devgan.


"Aku pikir itu lebih baik!" Xiao menyeringai.


"Ya lebih baik jika kau mampu mengendalikan diri. Mungkin Brian bisa, tapi aku tak tahu dengan dirimu," Devgan menatap dengan keragu-raguan.


"Terserah! yang jelas keberadaan senjata itu masih belum diketahui!" tegas Xiao.


"Lebih baik kau tidak mencarinya!" hasut Devgan dengan nada pelan.


"Apa kau takut Devgan?" Xiao menatap tajam Devgan. Namun makhluk yang ditatapnya hanya membalas dengan pelototannya.


Brian dan Al yang tidak sengaja menyaksikan Xiao tengah berbicara sendiri berusaha maklum. Namun begitulah kenyataannya, mereka tidak mampu melihat apa yang Xiao lihat. "Aku yakin dia sedang berbicara dengan devil-nya," ungkap Al dengan nada pelan.


"Aku tahu, menurutku Xiao lebih berbahaya dari Jonas. Aku bisa merasakannya!" tutur Brian.


"Entahlah! toh aku belum pernah bertemu dengan Jonas," terang Al singkat. "Tetapi yang aku tahu, Xiao lebih tampan dibanding Jonas!" sambungnya seraya menatap wajah Xiao yang sudah banyak terkena goresan akibat berkelahi.


"Hah? apakah itu penting?" Brian terperangah. Dia menatap tak percaya kepada gadis di sebelahnya.

__ADS_1


"Tentu saja penting, khususnya untuk kaum hawa!" tegas Al. "Kau bisa lihat Chan kan? dia bahkan rela menyerahkan seluruh hidupnya untuk Xiao!" lanjutnya.


"Dasar bodoh!" cerca Brian.


"Iya Chan memang bodoh, tetapi dia beruntung melalui perjalanannya bersama lelaki tampan. Tidak sepertiku," sarkas Al sambil melirik ke arah lelaki di sampingnya.


"Hei! memangnya kenapa denganku hah?" Brian mengarahkan tinjunya ke arah Al.


"Hahaha! Bri kau harusnya bercermin!" sindir Al sekali lagi, yang sontak membuat Brian semakin geram. Dia hampir melayangkan tinjunya, tetapi di urungkan begitu saja. Sebab dia masih memiliki nurani di hatinya.


Tak! Tak! Tak!


Seorang wanita terlihat berjalan mendekat. Xiao otomatis mengalihkan pandangannya kepada wanita tersebut. Dia melebarkan mata tatkala menyadari wanita itu adalah Yenn, ibu kandungnya sendiri.


"Xiao!" panggil Yenn sembari berlari untuk menghampiri anaknya. Dia langsung membawa Xiao masuk ke dalam pelukannya.


Berbeda dengan Brian, dia terlihat melayangkan pelototannya setelah mendengar bahwa wanita tersebut adalah ibunya Xiao.


"Bukankah dia orang yang membunuh Jonas?" tebak Al.


"Benar!" Brian menggertakkan giginya. Dia mencoba melangkahkan kaki untuk mendatangi Yenn. Namun usahanya segera dicegah oleh Al.


"Tidak sekarang Bri!" ucap Al sambil memegangi lengan Brian.


"Xiao, kau kemana saja? kenapa kau pergi hah?" ujar Yenn yang perlahan melepaskan pelukannya.


Plak!


Sebelum Xiao menyelesaikan kalimatnya, Yenn lebih dahulu melayangkan tamparannya. "Dasar bodoh! semuanya karena kau Xiao! apa kau tahu? kekacauan yang telah kau buat?" timpal Yenn dengan mata yang melotot dan berembun. Dia sebenarnya merindukan anak semata wayangnya, namun rasa marah lebih mendominasi hatinya.


Xiao hanya menampakkan ekspresi datar. Dia hanya diam mendengarkan omelan sang ibu. Hingga satu kalimat berhasil menarik atensinya.


"Ayahmu sudah menghilang selama beberapa hari!" tutur Yenn dengan nada penuh penekanan. "Jadi, kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan!" sambungnya serius.


"Bagaimana orang sehebat Ayah bisa menghilang?" tanya Xiao tak percaya.


"Karena tidak ada yang mustahil di dunia ini, iyakan? bahkan lelaki yang berumur tujuh belas tahun bisa menjadi ketua para mafia." Yenn menatap penuh tekad. Xiao yang mendengar hanya membulatkan mata dan saling bertatapan dengan sang ibu.


Perlahan Yenn mulai tersenyum dan mengusap luka yang ada diwajah Xiao. "Kau harus bersedia, karena aku tidak punya siapapun lagi untuk dipercaya!" imbuhnya. Brian yang menyaksikan keberadaan Yenn sudah tidak bisa membendung amarahnya lagi.


"Sudahlah Al! aku tidak tahan lagi!" geram Brian, yang segera mencengkeram leher Yenn tanpa ampun. Dua orang bawahan Yenn berusaha menyerang, tetapi terpental begitu saja dengan tepisan Brian.


"Kkkkk. . . a-a-apa yang ka-ka-kau lakukan?" tanya Yenn yang mulai kesulitan bernafas, karena tangan Brian semakin mencekik area tenggorokannya.

__ADS_1


"Bri hentikan!" Al berusaha mencegah ulah rekannya. "Xiao! kenapa kau diam saja? ibumu sedang terancam!" lanjutnya yang sekarang mengubah lawan bicaranya.


"Brian, aku yakin kau pasti memerlukan penjelasan ibuku dibanding mayatnya kan?" tanya Xiao datar. Brian yang mendengar lantas menatap Xiao dengan sudut matanya. Dia merasa apa yang dikatakan Xiao memanglah benar. Alhasil Brian pun segera melepaskan cengkeramannya.


Yenn langsung menarik nafas panjang dan merasa lega. Dia memposisikan dirinya duduk di sebelah Xiao.


"Ibu tidak apa-apa kan?" tanya Xiao, yang langsung direspon oleh Yenn dengan anggukan kepala.


"Sekarang ceritakan alasan kau membunuh Jonas?!" timpal Brian yang sudah tidak sabar.


"Jonas?" Yenn mengerutkan dahi, dia mencoba mengingat korbannya yang bernama Jonas. "Oh iya aku ingat, dia adalah tawanan yang berasal dari Swedia. Aku mengingatnya karena dia salah satu sasaran yang sangat sulit ditangkap!" terangnya yang sekarang sudah ingat.


"Jadi alasanmu apa membunuhnya!!" bentak Brian.


"Aku tidak tahu, aku dan Hongli hanya melakukan tugas kami," jawab Yenn singkat.


"Apa?! tidak tahu?"


Bruk!


Brian mengamuk dengan menendang bak sampah yang ada di dekatnya. "Cepat katakan yang sebenarnya! jangan coba-coba membohongiku!" Brian kembali mencengkeram leher Yenn.


"Sudahlah Brian! ibuku berkata jujur. Karena memang itulah pekerjaannya. Mereka tidak butuh alasan untuk melakukan tugasnya, kau lebih baik cari saja orang yang telah menggunakan jasa ayah dan ibuku!" Xiao memaksa Brian menjauh dari ibunya. Sekarang suasana di antara keduanya semakin bertambah dingin.


"Siapa orang itu?" tanya Brian sembari menatap ke arah ibunya Xiao.


Yenn tersenyum smirk dan berkata, "Dia adalah mafia luar yang berasal dari Jepang!"


"Apa kau tahu nama organisasi mafia itu?" Al ikut masuk ke dalam pembicaraan.


"Aku akan beritahu nama tempat mereka. Namanya adalah Tambang Neraka!" tutur Yenn. "Dan aku pastikan, jika nekat pergi ke sana kalian pasti tidak akan kembali lagi," tambahnya dengan ekspresi serius.


"Cih! kau pikir aku takut?" remeh Brian yang segera bergegas pergi. "Ayo Al!" tambahnya sambil menyeret Al ikut bersamanya.


"Eh ta-ta-tapi!" Al menoleh ke arah Xiao, seakan ingin tetap tinggal. Dia tidak mampu melepaskan cengkeraman Brian meski telah berusaha sekuat tenaga. Setelah berada di luar rumah sakit, barulah Brian melepaskan genggamannya.


"Bri, apa kau gila? bukankah kau harus memenuhi janjimu dengan Jonas bahwa kau akan menjaga Xiao dan membawanya ke perkumpulan rahasia?" tukas Al dengan dahi yang berkerut.


"Dia membuatku kesal Al! aku tidak bisa terus berada di sisinya. Aku ingin mencari orang yang menjadi alasan dibunuhnya Jonas!" sahut Brian. Namun Al tampak membuang muka terhadap lawan bicaranya. Brian yang melihat sontak memutar bola mata jengah.


"Hei Al! jangan bilang kau mau tinggal? apa kau menyukai Xiao?" tebak Brian.


"Hah? apa maksudmu? aku hanya lelah dengan dendammu yang tidak pernah habis itu Bri!" balas Al.

__ADS_1


"Kalau begitu pergi saja sana! mulai hari ini jangan ikuti aku lagi!" tegas Brian dengan nada tinggi.


"Oke, kalau itu maumu!" respon Al yang segera kembali memasuki rumah sakit. Sejujurnya dia merasa sangat kecewa dengan tingkah Brian.


__ADS_2