Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 98 - Pengobatan Dari Brian


__ADS_3

Tragedi yang tak terduga memang sangatlah menyakitkan.


***


Xiao berusaha bangkit untuk berdiri, tetapi kakinya terasa begitu sakit. Dia mencoba memaksakan diri untuk berjalan sebisa mungkin. Xiao berniat menghampiri Mei yang terlihat masih bernafas.


Dari kejauhan, muncul sebuah mobil yang semakin mendekat. Ternyata orang yang mengendarainya adalah Brian. Dia segera menghentikan mobil tatkala menyaksikan keberadaan Xiao.


"Apa yang terjadi? kata Zao, Shuwan telah kabur! bagaimana bisa?!" timpal Brian dengan dahi yang berkerut.


"Semuanya karena wanita itu! cepat bawa dia lagi ke markas!" ujar Xiao sembari menunjuk ke arah Mei yang masih tergeletak di aspal.


"Kenapa kau menyuruhku? aku bukan anak buahmu!" geram Brian yang tak terima dirinya diperintahkan semena-mena.


"Bri, kakiku baru saja tertabrak mobil yang dikendarai Shuwan. Aku kesulitan berjalan sekarang!" balas Xiao sambil menggertakkan gigi kesal.


"Kenapa tidak bilang dari tadi!" respon Brian, kemudian bergegas mengangkat Mei dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelahnya ia pun membalikkan badan untuk menatap ke arah Xiao.


"Kau benar-benar tidak bisa menggerakkan kakimu?" tanya Brian serius.


"Andai aku bisa, sudah dari tadi aku masuk ke mobilmu!!" jelas Xiao dengan nada penuh penekanan. Amarahnya belum pulih sepenuhnya.


"Biar ku-lihat keadaan kakimu," ujar Brian seraya berjongkok untuk memastikan luka yang ada pada kaki Xiao. Keningnya mengernyit tatkala hanya melihat goresan kecil. Brian pun mencoba menekan sekuat tenaga kaki Xiao.


"Aaaaakkh! kurang ajar! apa yang kau lakukan!" geram Xiao yang sontak merasa kesakitan akibat ulah Brian.


"Kau cuman sedang terkilir. Bersiaplah, karena ini mungkin akan sakit," Brian memberikan aba-aba sebelum memulai aksinya.


"Apa maksud-- Aaaaarkkh!!" kalimat Xiao terhenti ketika Brian memutar pergelangan kakinya secara tiba-tiba.


"Nah, coba jalankan kakimu!" titah Brian. Xiao lantas menuruti suruhan Brian. Benar saja, rasa sakit yang ada di kaki kanannya itu sudah berkurang. Xiao sekarang mampu berjalan tanpa harus mendapatkan bantuan dari Brian. Keduanya pun kembali ke markas.


Dalam perjalanan, Xiao terlihat gelisah. Lelaki itu tampak beberapa kali menutup kedua telinganya seolah frustasi. Bisikan yang ada dalam mimpi buruknya kembali terngiang-ngiang, seakan ada seseorang yang terus menekan tombol replay untuknya.


"Kau kenapa?" tanya Brian bingung.

__ADS_1


"Bisikan itu. Sangat menggangguku!" keluh Xiao, yang sekarang mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Makanya, kau harus mencari senjata Jonas secepatnya!" tukas Brian seraya terus fokus mengendarai mobil.


"Tidak!" tegas Xiao. "Aku harus menghabisi Shuwan dan Spiderblood terlebih dahulu!" tambahnya sambil mengambil perban yang ada di laci dashboard mobil. Kemudian memakaikannya ke telapak tangan yang sedang terluka. Sedangkan Brian hanya terdiam seribu bahasa saat mendengar penuturan Xiao.


Acara pertunangan atau tepatnya sesi pelelangan masih terus berjalan. Sepertinya Yenn belum mengetahui perihal kaburnya Shuwan dari markasnya. Xiao sendiri tidak ingin mengganggu ketenangan sang ibu. Lagi pula yang mengurus Shuwan dari awal adalah dirinya sendiri.


***


Al dan Chan terlihat sedang duduk di sofa. Keduanya sama-sama mendiamkan diri untuk sejenak.


Pikiran Al hanya terfokus dengan apa yang dilihatnya tadi. Dia menyaksikan Xiao sudah melebihi batas. Jujur saja, Al merasa takut jika Xiao tidak mampu mengendalikan diri dan terus melakukan pembunuhan. Jika hal tersebut terus terjadi maka devil yang ada di sampingnya akan menjadi semakin kuat.


"Al, Xiao baik-baik saja kan?" tanya Chan dengan raut wajah cemasnya.


"Iya." Al menjawab sambil menganggukkan kepala. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Chan. Karena kebenaran bisa saja membuat hubungan Xiao dan Chan kembali merenggang.


Tidak lama kemudian, Chan melihat penampakan Xiao yang berjalan melewati ruangan tempatnya berada sekarang.


Ceklek!


Chan membuka pintu kamar Xiao. Dia melihat kekasihnya tengah duduk di ujung kasur. Gadis tersebut langsung memposisikan diri untuk duduk di samping Xiao.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Chan khawatir.


"Apa aku terlihat baik-baik saja?" balas Xiao dengan dengusan kasarnya.


"Tentu tidak!" respon Chan. Dia perlahan menundukkan kepala dan menunjukkan ekspresi seolah merasa bersalah. "Maafkan aku, semuanya kacau karena ibuku. . ." lirihnya.


"Chan! kenapa kau meminta maaf untuknya. Dia bahkan tidak pantas untuk disebut seorang ibu!" sahut Xiao tegas.


"Tapi--"


"Diamlah!" Xiao lekas-lekas memotong ucapan Chan. Dia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur, atensinya tertuju pada langit pelafon yang ada di atas.

__ADS_1


Hening terjadi beberapa saat. Chan bahkan menutup mulutnya rapat-rapat, setelah melihat ketegasan yang ada dalam binar mata Xiao. Acara pertunangan yang seharusnya menjadi malam membahagiakan, malah menjadi ajang munculnya masalah baru.


"Chan. . ." panggil Xiao, yang sontak membuat Chan menoleh ke arahnya.


"Hmm?" respon Chan, menuntut jawaban.


"Aku sudah membunuh Nuan." Xiao berterus terang.


Mata Chan sempat melebar sesaat, dia agak terkejut. Namun hatinya sama sekali tidak merasakan kehilangan sedikit pun.


"Apa kau akan memarahiku?" Xiao mengubah posisinya menjadi duduk, agar dapat menatap ekspresi kekasihnya lebih jelas. Akan tetapi, Chan hanya menggeleng pelan.


"Aku tidak sedih Nuan sudah tidak ada. Tetapi yang membuatku kesal, kenapa kau yang harus membunuhnya?" Chan membalas tatapan Xiao.


"Karena dia membuatku kesal. Dia menyebutmu gadis pembawa sial!"


"Iya, dia sering mengataiku seperti itu saat masih kecil." Chan terlihat memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.


"Xiao!" Yenn mendadak muncul dari balik pintu. Nafasnya naik turun dalam tempo yang cepat. Sepertinya dia sudah mengetahui kabar mengenai kaburnya Shuwan. "Kenapa kau malah bersantai! bukankah Shuwan telah melarikan diri?!" timpalnya sambil menggertakkan gigi kesal.


"Aku sudah berusaha sebisa mungkin! lagi pula kita tinggal menunggu Mei tersadar, agar bisa mengetahui rencana Shuwan!" balas Xiao. Yenn yang mendengar hanya memutar bola mata jengah. Kemudian beranjak pergi begitu saja.


***


Shuwan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah klinik. Sebelum melarikan diri lebih jauh, ia ingin mengobati semua luka yang ada disekujur tubuhnya.


Bukannya berterima kasih, Shuwan malah membalas kebaikan dokter yang menolongnya dengan pukulan di kepala. Setelahnya Shuwan pun mengambil semua uang milik dokter tersebut. Dia juga tidak lupa menggunakan komputer yang ada di klinik itu.


Shuwan memasukkan alamat web yang tertera di secarik kertas pemberian Nuan. Selanjutnya intenet pun membawanya masuk ke dunia gelap. Tepatnya ke sebuah tempat orang-orang yang melakukan bisnis ilegal. Itulah dark web.


Domain internet yang diberikan Nuan ternyata adalah chanel milik Spiderblood. Entah dari mana wanita tersebut mengetahui rencana besar yang sedang disusun oleh psikopat asal Jepang itu.


Tidak lama kemudian Shuwan mendapat panggilan video dari Spiderblood. Shuwan memberitahukan semua kekesalan dan penderitaanya tanpa ada kecurigaan sedikit pun. Spiderblood yang mendengar hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Aku tentu akan membantu. Lagi pula, musuhmu itu juga sudah menolak tawaranku," balas Spiderblood, hingga membuat senyuman Shuwan mengembang.

__ADS_1


Bodohnya Shuwan, dia masih belum mengetahui bahwa dirinya tengah berinteraksi dengan orang yang telah membunuh ayahnya sendiri. Sampai sekarang Shuwan selalu menganggap, Xiao-lah yang sudah membunuh Anming.


__ADS_2