
'Untuk saat ini rencana Xiao berjalan dengan mulus'-Viera.
***
"Chan! ini saatnya kita pergi!" ujar Xiao sembari menoleh ke arah Chan.
"Tetapi bagaimana?" Chan mengernyitkan dahi.
"Dengan ini!" Xiao mengambil dua kunci dari lemari.
"Kunci apa itu?"
"Kunci mobil!" Xiao melempar salah satu kunci kepada Chan. Lalu melangkahkan kaki menuju jendela dan melihat keadaan hari yang sudah gelap. "Viera! apa kau-bisa mematikan listrik di rumah ini?" sambung Xiao.
"Itu mudah!" balas Viera yang segera terbang menembus dinding.
"Xiao, terus bagaimana dengan warisannya?" tanya Chan yang merasa kebingungan dengan sikap Xiao.
"Chan! aku tidak pernah bilang ingin memiliki warisannya. Aku hanya bilang ingin merebutnya, arti merebut bagiku adalah menghancurkannya!" tutur Xiao seraya memegangi kedua bahu Chan. Dia tahu Anming dan Shuwan sangat menyayangi rumah mewahnya tersebut.
"Terus bagaimana dengan uangnya?" Chan menatap Xiao serius.
"Chan, uang yang kita butuhkan ada di tangan kita!" sahut Xiao. Lantas Chan pun segera menatap kunci mobil yang sedang di pegangnya. Gadis itu sama sekali tidak mengetahui betapa mahalnya mobil yang kuncinya sedang ia pegang.
Di sisi lain Shuwan menarik Mei menjauh dari pintu kamar Xiao dan Chan berada. "Shuwan! lepaskan!!" pekik Mei yang tidak terima.
"Mei, ada aku di sini." Shuwan membuat Mei terpojok ke dinding. Tangannya melingkar ke leher kecil Mei. "Shu-shu-shuwan, ka-kau membuatku tak bisa bernafas!" keluh Mei yang berusaha melawan, namun tidak mampu.
"Mei! kau itu milikku!" lidah Shuwan mulai menjilati pipi gadis pujaannya. Sedangkan Mei hanya bisa pasrah dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Dub!
Listrik di rumah Shuwan tiba-tiba mati. Lantas Xiao pun segera mengambil alat pemantik yang tergeletak di atas nakas. Dia segera menyalakan api ke karpet.
"Xiao, kau-yakin?" Chan meragu.
"Percayalah padaku! cepat keluar dari jendela!" titah Xiao, yang sontak membuat Chan sigap keluar dari jendela dengan ketinggian delapan meter. "Apa kau bisa--" kekhawatiran Xiao sirna seketika saat melihat Chan sudah turun dengan lincah.
Setelah yakin api akan semakin membesar, Xiao pun segera menyusul Chan keluar dari jendela. Keduanya sekarang hanya perlu mencari letak garasi mobil.
__ADS_1
"Viera sedang dimana? kita membutuhkannya sekarang!" keluh Chan yang sedang bersembunyi dibalik pohon hias. Dia mengamati gerak-gerik pengawal yang sedang berjaga.
"Garasi ada di sana!" Xiao muncul dari belakang. Hal tersebut lantas membuat Chan tersentak kaget. Wajah Xiao tepat berada di sebelahnya, bahkan pipi antara keduanya hampir saja bersentuhan.
"Ikuti aku!" Xiao sengaja menempelkan pipinya dengan pipi Chan, kemudian segera berjalan mengendap-endap ke depan. Setelah menghela nafas akibat dari jantung yang berdebaran, Chan pun langsung melangkahkan kaki untuk menyusul Xiao.
***
Shuwan yang masih melakukan cumbuannya terhadap Mei, malah menikmati gelapnya suasana tanpa listrik. Lelaki itu bahkan sudah hampir menelanjangi Mei, dan membawanya ke sofa terdekat. "Aku harap listrik tidak menyala sampai kita selesai!" ujarnya dengan ukiran seringai di raut wajahnya.
"Api!!!" tiba-tiba terdengar suara orang-orang panik dari luar, yang sontak membuat Shuwan harus menghentikan aksinya. Mei pun mengambil kesempatan itu untuk mengenakan bajunya kembali.
Kala itu Shuwan melihat asap dan cahaya api dari bawah pintu kamar Xiao berada. Dia segera bangkit dan berlari menuju kamar tersebut.
"Kenai!!!" pekik Shuwan sembari menggedor pintu.
"Shuwan, ayo kita pergi! lihat apinya sudah menyebar kemana-mana!" desak Mei seraya melindungi hidungnya dari asap yang mulai mengepul. Karena melihat gelapnya rumah dan si jago merah yang sudah menyebar, Shuwan pun segera berlari lebih cepat dan meninggalkan Mei yang larinya agak lambat.
"Shuwan! tunggu!" Mei ikut berlari mengikuti Shuwan. Keduanya hendak lekas-lekas menyelamatkan diri dan berusaha keluar dari rumah secepatnya.
Xiao dan Chan sudah tiba di garasi. Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menemukan mobil yang mereka cari. Karena mobil yang Xiao pilih adalah yang termahal dan tercanggih.
"Xiao ini gila!" Chan terpesona dengan mobil yang akan dikendarainya.
Ilustrasi mobil yang dikendarai Xiao :
Lamborghini Veneno, harga 28 juta dollar Hongkong/60 miliar rupiah.
Ilustrasi mobil yang dikendarai Chan :
Mansory Vivere Bugatti Veyron 21,5 juta dollar Hongkong/38,7 miliar rupiah.
Xiao dan Chan langsung menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. Mereka sengaja memakai kecepatan tinggi. Alarm keamanan mulai terdengar, satu per satu para pengawal Shuwan mulai berdatangan dan berusaha mencegah kepergian Xiao dan Chan. Namun dua sejoli itu tak hirau, mereka malah semakin bersemangat melajukan mobilnya.
Saat hampir keluar dari wilayah rumah Shuwan, tiba-tiba atensi Chan tertuju pada Zhu yang sedang berlari melewati pagar. Sepertinya Zhu memanfaatkan kepanikan semua orang untuk mencoba kabur. Akhirnya Chan memelankan mobilnya ke arah Zhu.
__ADS_1
"Chan! apa yang kau lakukan!!!" tegur Xiao dengan nada tinggi, dia mencoba mencegah Chan.
"Zhu! naiklah!!!" pekik Chan yang sudah membuka pintu dan menghentikan mobil. Zhu yang melihat Chan tampak ketakutan, dia sama sekali tidak peduli dan meneruskan kembali memanjat pagar.
Dor!
Seorang pengawal Shuwan menembakkan peluru ke mobil Chan. Lidah Xiao sempat berdecak kesal, tetapi dia yang melihat keadaan itu segera banting setir, dan menabrakan mobilnya kepada pengawal tersebut. Chan yang paham dengan aksi Xiao kembali menjalankan mobil dengan cepat. Keduanya sekarang keluar dari wilayah rumah Shuwan.
Dari kejauhan Xiao bisa melihat mobil yang perlahan mendekat, dan dia bisa menyaksikan keberadaan Anming dengan wajah cemberut. Ekspresi Xiao mengukir seringai bangga. Mobil Xiao dan Anming saling bertemu, namun menuju arah yang berlawanan.
Anming langsung membelalakkan mata, ketika baru menyadari kalau dua mobil yang tadi lewat adalah miliknya. "Hei! bukankah itu mobilku!" geramnya dengan menggertakkan gigi.
"Apa kita harus mengejarnya sekarang?" tanya asisten Anming yang sedang menyetir.
"Tidak! aku harus menemui Shuwan lebih dahulu, yang terpenting, suruh semua bawahan kita menutup jalur transportasi di kota Ding Yang!" titah Anming dengan binar mata penuh tekad.
"Baik Tuan!" sahut sang asisten.
***
"Kenai! dimana diaaa!!!" Shuwan mengamuk di depan rumahnya yang terbakar. Dia melampiaskan semua amarahnya kepada Jay.
Tiba-tiba saja salah satu pengawalnya membawa Zhu kepada Shuwan. "Dia sepertinya bersekongkol dengan orang yang mencuri mobilmu Tuan muda!" ujar pengawalnya yang bergelar Peng. Dia mendorong Zhu tepat ke kaki Shuwan.
"Mobil? apa maksudmu?" tanya Shuwan yang tidak sempat melihat mobilnya berhasil dibawa pergi oleh Xiao dan Chan.
"Ada yang mencuri mobilmu Tuan!" jelas Peng.
"Siapa?" Shuwan melayangkan pelototannya.
"Sebab itulah aku membawa gadis ini kembali, karena dia mengenal para pencuri itu!" sahut Peng.
"Para? maksudmu ada lebih satu orang yang mencuri mobilku?"
Buk! Dhuak!
Shuwan melayangkan pukulannya ke wajah Peng.
"Bagaimana kalian bisa menjadi tidak becus begitu hah!" geramnya.
__ADS_1
"Hei gadis sialan! cepat katakan siapa mereka!" Mei menjambak rambut Zhu dengan paksa.
"Ke-ke-nai dan Jia. . ." jawab Zhu yang perlahan meneteskan air mata.