Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 125 - Janin Tak Terduga


__ADS_3

Setiap perjalanan butuh proses dan pengorbanan.


***


Xiao, Chan dan Theo terus menyusuri jalanan berkabut. Dari kejauhan sudah tampak sebuah bangunan besar berwarna hitam yang tidak lain adalah tempat hunian Bork. Xiao sangat ingat tempat itu, dia dan Viera pernah ke sana.


"Bagaimana kau bisa sangat cepat menemukan tempat ini?" tanya Xiao. Membuat Chan otomatis ikut menatap ke arah Theo.


"Bukankah James sudah memberitahumu, kalau aku banyak mengetahui mengenai seluk beluk dimensi lain?" terang Theo dengan binar mata yang meyakinkan.


"Tetapi makhluk yang kita datangi sekarang, tidak bisa dipercaya dengan mudah. Dia juga akan meminta darah yang banyak!" ujar Xiao berpendapat. Dia sepertinya sudah enggan untuk mempercayai makhluk penyuka darah seperti Bork.


"Xiao, kita tidak punya pilihan lain." Chan berusaha meyakinkan Xiao. Tatapan matanya tampak teduh, hingga Xiao tidak kuasa untuk menolak. Selanjutnya mereka pun pergi memasuki rumah hitam yang ada di depan.


Penampakan mengerikan sosok Bork terlihat lagi. Berkepala pelontos dan memiliki lidah seperti ular. Di kulitnya terdapat sisik mengkilap berwarna kehitaman. Bork langsung menoleh ke arah tiga manusia yang sudah datang kepadanya. Sebuah senyuman terukir diwajahnya. Namun ekspresinya seketika masam tatkala menyaksikan keberadaan Devgan di samping Xiao.


"Ka-kau punya Devil?" tanya Bork tergagap. Aura mengerikannya menghilang dalam sekejao, karena rasa takut yang ditunjukkannya tampaklah jelas.


"Menurutmu?" balas Xiao ketus sembari menyilangkan tangan di depan dada.


"Baiklah, kalau begitu kau tidak usah memberikan darahmu. Biar dua temanmu saja!" ujar Bork menatap ke arah Theo dan Chan secara bergantian.

__ADS_1


"Kau sepertinya sudah tahu maksud kedatangan kami ke sini," ucap Theo. Bergabung dalam pembicaraan.


"Tentu saja, semua orang yang datang kepadaku selalu meminta bantuan untuk di antarkan ke tempat yang mereka inginkan. Ngomong-ngomong kalian mau kemana?" balas Bork yang di akhiri dengan rasa penasarannya.


"Ke sebuah kastil tua yang ada di dekat lautan hitam. Kami ingin mencari sebuah senjata--"


"Kau tidak perlu memberitahunya secara detail!" Xiao sengaja memotong uncapan Theo. Tekadnya yang tidak ingin mempercayai Bork, sepertinya sudah bulat dari awal.


"Kau pikir aku peduli dengan apa yang kalian cari? aku hanya peduli dengan seberapa banyak darah yang akan kalian berikan! kalau bisa janin yang ada dalam perut gadis itu!" Bork menunjuk ke arah perut Chan. Semua orang langsung dibuat kaget dengan perkataan Bork. Apalagi Xiao, dia merupakan satu-satunya lelaki yang akhir-akhir ini melakukan hubungan badan dengan Chan.


"Jangan bercanda! aku tidak hamil!" tegas Chan membantah keras dugaan Bork.


"Hihihi!" Bork terkekeh dalam sesaat. Dia perlahan melangkahkan kaki untuk mendekat. Kemudian mengamati keadaan perut Chan. Lidahnya yang panjang dan tampak seperti ular beberapa kali dikeluarkan dari mulut, seolah sudah tidak sabar untuk melahap apa yang ingin dimakannya.


"Kau ingin devilku menghabisimu sekarang juga?" ujar Xiao dengan tatapan yang seolah akan memakan Bork hidup-hidup. Mendengar ucapan Xiao, Devgan tergelak dan langsung mendekati sasarannya.


Bork sontak melangkah mundur. Kepalanya mendongak ke atas untuk menatap wajah Devgan. Ketakutan kembali terlihat pada raut wajah makhku berisisik tersebut.


"Jika kau tidak membantu kami, maka Devgan tidak akan segan-segan memusnahkanmu!" ancam Xiao percaya diri. Angkuh dan bertekad. Hingga sekujur tubuh Bork mulai bergetar, bahkan terdapat getir dalam sorot matanya.


"Ba-baiklah, aku akan membantu. Tetapi tanpa darah, energiku tidak akan cukup untuk melewati beberapa batas wilayah di dunia ini. Setidaknya berilah aku beberapa tetes darah. Lagi pula hanya aku yang mampu menjalankan kapalnya!" jelas Bork, yang disertai dengan permohonannya.

__ADS_1


"Tidak apa, biar aku saja yang memberikan darah kepadanya!" ungkap Theo. Dia terlihat sudah menggulung lengan baju yang sedang dikenakannya.


"Baiklah!" Xiao mengangguk setuju.


"Aku juga ingin memberikannya. Toh semua ini demi kelancaran perjalanan kita." Chan ikut mengajukan diri, dan sontak menyebabkan Xiao melotot tajam ke arahnya. Bagaimana bisa gadis tersebut bersedia memberikan darahnya? padahal dirinya baru mengetahui keadaannya yang sedang mengandung.


"Bagus, aku akan dengan senang hati menerimanya," sahut Bork sembari menggosok-gosokkan tangan seakan sudah tidak sabar.


"Chan! apa-apaan! biarkan Theo saja yang memberikan darahnya. Kau tidak perlu!" tegas Xiao dengan intonasi suara yang lumayan lantang. Hingga membuat dahi Chan berkerut kesal.


"Ini pilihanku! semuanya kulakukan demi kita semua. Setidaknya aku lebih baik darimu yang terkesan egois!" balas Chan tidak mau kalah.


"Apa? egois kau bilang?!"


"Iya! sejak awal kau memang begitu!"


"Lalu, usahaku dalam menyelamatkanmu selama ini, apakah bisa dibilang egois?!"


"Kau--"


"CUKUP!" Theo memekik nyaring. Dia berhasil membuat perdebatan tegang yang terjadi di antara Xiao dan Chan terhenti. "Kita tidak punya waktu untuk ini, selesaikan urusan pribadi kalian nanti!" tambahnya. Kemudian menyodorkan lengannya kepada Bork.

__ADS_1


Sebuah selang infus sudah di aliri dengan darah Theo. Tetes demi tetes darahnya memenuhi cawan yang telah disediakan Bork. Semakin banyak darah yang keluar, maka akan bertambah pusing pula kepala Theo. Lelaki itu mulai merasa lunglai akibat kehilangan banyak darahnya.


__ADS_2