Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 50 - Pembunuhan


__ADS_3

Orang-orang yang ada disekitar, memang cenderung mempengaruhi. Terutama terhadap perangai manusia.


***


Dub!


Setelah listrik padam, Xiao segera bergegas menghampiri dua wanita yang masih terbaring di atas kasur.


"Hei nona-nona cantik, bangunlah sebentar!" Xiao berseru dengan gaya kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. Dia terlihat angkuh.


"Ada apa Xiao. . . aku masih mengantuk. . ." sahut Angel malas.


"Iya, aku juga masih lemas!" Elen ikut menimpali.


"Berarti kalian tidak mau bayaran dua kali lipat, ya sudah!" Xiao tak acuh sambil berjalan menuju pintu kaca yang mengarah ke balkon. Angel dan Elen tiba-tiba bersemangat, mungkin karena mendengar bayaran mereka akan ditambah. Alhasil kedua wanita itu pun kembali saling bersaing untuk melayani Xiao.


"Wah, listriknya mati ya? tumben!" ujar Angel sambil memainkan saklar lampu beberapa kali.


"Makanya, aku mengajak kalian berdua untuk menghirup udara segar di balkon. Ayo!" ajak Xiao yang melambaikan tangannya.


"Ide bagus, Xiao!" imbuh Elen, yang lebih dahulu mendatangi Xiao. Angel otomatis mengikutinya, karena dia tidak ingin kalah dengan rekannya sendiri.


"Coba lihat ke bawah, bukankah pemandangan kota Metropolis indah?" kata Xiao lembut.


"Kota ini tidak indah! Jujur saja, pantas disebut kota yang membosankan!" ungkap Angel seraya menoleh ke arah Xiao.


"Bolehkah aku menggendongmu?" celetuk Xiao dengan senyuman menggoda.


"Tiba-tiba?" Angel menatap bingung.


"Ya sudah, kalau begitu aku batalkan saja dua kali lipatnya!" Xiao memutar bola mata jengah.


"Untuk apa aku menolak!" Elen bersuara lebih dahulu dibandingkan Angel.


"Aku juga mau Xiao!" Angel tak terima. Raut wajahnya terlihat cemberut.


"Tenang saja, habis ini pasti giliranmu," Xiao kembali bertutur kata lembut. Selanjutnya, dia pun mengangkat tubuh Elen dengan gaya ala bridal style. Namun siapa sangka, badan molek bak gitar spanyol tersebut malah dilemparkan oleh Xiao ke bawah. Tubuh Elen terjatuh begitu saja dari ketinggian lebih dari 100 meter.


"Aaaaarkkhh!!!" teriakan Elen melengking sebelum tubuhnya terpental ke jalanan.

__ADS_1


"Astaga, aku lupa menyumpal mulutnya!" gumam Xiao, yang merasa terganggu dengan pekikan wanita malam tersebut.


Angel yang menyaksikan adegan itu sontak melangkah mundur. Matanya membulat sempurna, ia segera berlari menuju pintu keluar. Berapakali wanita tersebut harus memainkan gagang pintu, tetapi hasilnya nihil. Dikarenakan Xiao telah mengunci pintunya lebih dahulu.


"Ayolah Angel, aku akan kasih dua kali lipat. Haha!" ucap Xiao yang tergelak puas.


"Kau gilaaa! seharusnya aku tidak mempercayai anak dari pasangan pembunuh sepertimu!" pekik Angel yang sudah terpojok. Dia sekarang berusaha menyerang Xiao, dengan melempari semua benda-benda keras yang ada di sekitarnya.


Xiao mampu menghindari beberapa serangan Angel dengan sigap. Namun sebuah batu giok hias berhasil mengenai bahunya. "Aaa!" erangnya yang merintih terhadap rasa sakitnya. Xiao mulai merasa kesal, dia langsung memecahkan cermin yang ada di dekatnya.


Prang!


Serpihan kaca sekarang berserakan di lantai. Xiao mengambil salah satu serpihan yang tajam. Lalu berjalan mendekati Angel yang hampir masuk ke dalam kamar mandi.


"Lepaskan aku! dasar bajing*n!!" Angel mencoba sebisa mungkin melepaskan cengkeraman Xiao terhadapnya. Tetapi dirinya reflek mematung, kala Xiao mengarahkan pecahan kaca ke lehernya.


"Aku mohon, ampunilah! aku tidak melakukan kesalahan apapun!" mohon Angel. Dia merengek histeris.


"Ikut aku!" Xiao menyeret Angel. Lelaki itu menarik ribuan helai rambut sang wanita malam. Dia kembali berjalan ke arah balkon.


"Tidak! tidaak!!!" pekik Angel sembari berpegangan erat ke pintu. Dia menolak melangkahkan kakinya.


Bruk!


Terdengar suara hempasan dari arah bawah. Namun sama sekali tidak membuat Xiao tertarik. Dia hanya bergegas keluar dari kamar secepatnya.


***


Chan, Brian, dan Al sedang berjalan menuju sebuah rumah. Sepertinya mereka berusaha mencari tempat tinggal untuk sementara.


"Aku bingung kenapa kalian malah mencari rumah di kota ini, kenapa tidak keluar kota saja?" tanya Chan yang sedari tadi menahan rasa penasarannya.


"Tahanlah dulu Chan, ada banyak hal yang belum kami ceritakan kepadamu!" Al menepuk-nepuk pundak Chan pelan.


"Benar! hal yang seharusnya kami ceritakan dari awal. Tetapi karena terdesak dan dikejar bahaya, kami tidak bisa mengatakannya. Malah sengaja menyembunyikannya." Brian menjelaskan sambil terus melangkah lebih dahulu.


"Tetapi sekarang kami akan katakan yang sebenarnya kepadamu. Ini tentang Xiao dan bakatnya!" Al menimpali. Chan pun merespon dengan anggukan kepala. Sekarang mereka sudah tiba di rumah yang dituju. Ketiganya segera duduk saling berhadapan, membentuk titik segitiga.


"Apa kalian akan bercerita?" Chan menatap Brian dan Al secara bergantian. Dua insan yang ditatapnya tampak saling tukar pandang.

__ADS_1


"Oke, aku akan jujur kepadamu. Kalau aku sudah pergi ke Meksiko dan mencari cenayang yang semua orang kira mengetahui tempat perkumpulan." Al memajukan badannya dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja.


"Dan dia hanya menyia-nyiakan waktu!" Brian menyahut dengan gelengan kecewanya.


"Maksudmu?" Chan mengerutkan dahinya.


"Cenayang itu tidak tahu dimana tempat perkumpulan tersebut. Dia malah berbicara mengenai bakat indigo yang memiliki senjata!" Al bercerita kembali. "Kala itu, aku masih belum mengenal Brian, apalagi Jonas!" lanjutnya.


"Oh berarti kau ke sana sendirian Al?" Chan melebarkan matanya.


"Iya. Menyedihkan bukan?" Al terlihat tertunduk lesu.


Chan tersenyum tipis, lalu memegangi tangan Al lembut. "Aku paham kok, kau tidak sendiri Al!" ucapnya. Al yang mendengar lantas ikut tersenyum.


"Astaga, bisa hentikan tidak adegan berlebihan itu. Aku tidak tahan melihatnya!" kritik Brian seraya memegangi jidatnya.


"Bilang saja kau iri!" sinis Al.


"Siapa bilang?!" Brian tak ingin kalah.


"Sudahlah! cepat lanjutkan lagi ceritanya!" desak Chan yang sengaja menghentikan perdebatan tidak penting di antara Brian dan Al.


Kali ini Brian yang bercerita. Dia mengatakan bahwa pulau yang menjadi tempat perkumpulan rahasia sangat terpencil. Aksesnya pun sangatlah sulit. Sebenarnya pulau rahasia tidak ditemukan, tetapi orang-orang dari tempat itulah yang akan menemukan.


"Jadi maksudmu, kita harus menunggu sampai mereka menemukan kita, begitu?" Chan terperangah.


"Iya Chan!" balas Al singkat.


"Karena itulah kami berusaha mendekati Xiao. Sebab dia memiliki bakat terkuat, bahkan memiliki senjata khusus. Awalnya aku berharap orang tersebut Jonas, makanya aku tidak menyerah mencarinya. Tetapi siapa yang menyangka dia telah meninggal dan melepaskan bakatnya!" terang Brian. Terlintas jelas dalam ingatannya wajah teman dekatnya itu.


"Pantas saja kalian tidak berniat pergi keluar kota. Ternyata kalian masih berusaha memposisikan diri untuk berada di sekitar Xiao. Tetapi, dia benar-benar berubah sekarang. Apalagi setelah memiliki devil dan bertemu ibunya!" tutur Chan.


"Karena itulah kami membutuhkanmu." Al menyentuh pundak Chan lembut.


"Aku?" Chan menunjuk dadanya dengan tangannya sendiri.


"Hanya kau-lah yang bisa mempengaruhi Xiao dengan mudah!" ujar Brian.


"Tidak!" Chan berdiri dari tempat duduknya. "Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi! keputusanku bulat. Kalian lebih baik langsung temui dia saja!" tambahnya sembari beranjak pergi. Namun langsung dicegat oleh Al.

__ADS_1


"Baik Chan, tenanglah dahulu. Kami tidak memaksamu, tetapi hanya mengusulkan!" kata Al. "Tinggallah di sini bersama kami. Aku tidak ingin membiarkanmu sendirian!" sambungnya yang menatap penuh harap. Alhasil Chan pun mengurungkan kepergiannya.


__ADS_2