
Yang cepat memang selalu memudahkan. Namun biasanya mengandung resiko paling besar.
***
Xiao melangkahkan kaki masuk ke dalam gudang. Namun ia sama sekali tidak menemukan jejak keberadaan Lien. Dia pun mengarahkan senter dari ponselnya ke beberapa titik. Hingga tampaklah seorang gadis tengah terbaring di lantai.
Xiao berjalan menghampiri gadis yang tidak lain adalah Lien. Sebelah kakinya mencoba sedikit menggerakkan badan gadis tersebut. Tanpa diduga tangan Lien mencengkeram kakinya secara tiba-tiba.
"Sial!" Xiao sontak terkejut dan hampir terjatuh. Namun untung saja dia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Lien langsung cekikikan, perlahan ia bangkit dan berdiri. Dia hanya tertawa untuk beberapa saat.
"Ternyata orang sepertimu juga bisa kaget," ujar Lien menatap Xiao dengan sorotan tajam.
"Kau selama ini berada di sini? apa keluarga Lien tidak mencari?" tanya Xiao penasaran.
"Untuk apa kau mengurus urusan itu. Serahkan saja semuanya kepadaku. Aku akan membereskan semuanya, asal kau terus bersedia bekerjasama denganku." Lien tersenyum miring sambil berusaha mendekati Xiao.
"Kata Devgan kau bisa membantuku, apa itu benar?" Xiao langsung bicara ke intinya.
"Untuk?" Lien menatap penuh tanya.
"Menghilangkan mimpi buruk yang saat ini terus menggangguku." Xiao mengungkapkan.
Lien yang mendengar tersenyum. Kemudian memegangi lengan Xiao. Dalam sekejap Lien membawa Xiao ke dimensi lain. Suasana terlihat gelap. Bangunan pun juga bukanlah sekolah lagi. Terdapat bangunan seperti rumah tua besar di depan Xiao. Warna hijau mendominasi suasana, bak sebuah neon yang menyala. Namun cahayanya sendiri begitu redup.
"Kau kenapa mengajakku ke sini?" Xiao mengerutkan dahi.
"Ikuti aku!" titah Lien yang sengaja berjalan lebih dahulu. Dia ingin menjawab pertanyaan Xiao dengan cara menunjukkan sesuatu.
Ketika Lien tiba di teras rumah. Pintu mendadak terbuka sendiri, seakan memang menyambut kedatangannya di sana. Setelahnya Lien pun berjalan memasuki rumah. Xiao otomatis mengikutinya dari belakang.
Saat berada di dalam rumah, tercium bau amis dan busuk yang sangatlah menyengat. Xiao langsung menutupi indera penciumannya rapat-rapat. Namun hal tersebut tidak menghentikan langkah kakinya untuk mengikuti Lien.
"Kenapa aku tidak ada melihat makhluk apapun di dalam sini?" Xiao bertanya-tanya sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Karena ini adalah tempat terkutuk," Devgan yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.
"Begitu ya," respon Xiao, mencoba maklum.
Lien terlihat masuk ke sebuah ruangan. Dia menghentikan pergerakan kakinya di sana. Selanjutnya gadis itu membalikkan badan untuk menatap Xiao.
__ADS_1
"Ambillah itu!" Lien menunjukkan tangannya tepat ke sebuah benda. Xiao lantas mengikuti arahan Lien. Dia berjalan mendekati benda yang tidak lain adalah berupa belati kuno.
"Kau menyuruhku mengambilnya?" tanya Xiao memastikan.
"Iya!" sahut Lien yakin.
"Ambillah Xiao, benda itu pasti akan sangat membantu kita!" Devgan memberikan persetujuan. Dia tampak menggosok-gosokkan tangannya seolah tidak sabar.
Setelah mendengar desakan Lien dan Devgan, Xiao pun mengambil belati kuno tersebut. Benda yang terlihat tajam itu diselimuti dengan warna merah darah. Terdapat bulatan seperti sebuah mata di bagian pegangannya.
"Aku menamainya dengan sebutan Glorix. Benda itu telah banyak memberiku kekuatan!" kata Lien.
Ilustrasi belati kuno yang di ambil Xiao:
Sekarang belati Glorix sudah ada dalam genggaman Xiao. Saat itu pula dia langsung kembali lagi ke dunia nyata. Tepatnya di gudang yang ada di sekolah.
"Apa hubungannya benda ini dengan mimpi burukku?" Xiao membalikkan badan untuk menatap Lien.
"Pokoknya setelah Glorix sudah di tanganmu, tidak ada yang bisa mengganggu lagi. Termasuk orang jahil yang selalu mendatangimu lewat mimpi!" jelas Lien.
"Mudah kan?" ujar Devgan. "Lebih mudah dari pada kamu harus membuang energimu untuk mencari senjata Jonas!" lanjutnya.
"Baiklah, aku akan membawanya. Aku harap ucapanmu itu bisa terbukti!" tukas Xiao menatap tajam ke arah Lien.
"Ahahaha! Lihat saja. Tapi. . . itu tidak gratis!" Lien memasang raut wajah serius setelah puas tergelak.
"Apa?" Xiao terperangah.
"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya menginginkan sesuatu yang sederhana saja." Lien berterus terang.
"Katakan apa maumu!" ujar Xiao.
Lien pun mengatakan apa yang di inginkannya. Dia hanya menyuruh Xiao untuk membawa belati Glorix saat hari ujian dilaksanakan nanti. Xiao awalnya bingung dengan permintaan Lien yang terkesan sangat mudah dan sederhana. Namun setelah dipikir-pikir hal tersebut malah menguntungkan untuknya.
'Yang paling penting mimpi buruk itu tidak menghantuiku lagi. Aku benar-benar sangat muak dengan kalimat yang berulang-ulang itu!' batin Xiao, yang pada akhirnya menerima persyaratan Lien.
***
__ADS_1
Chan sudah keluar dari kamar mandi. Dia kembali ke ruangan Al untuk menemui Xiao. Tetapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan lelaki tersebut. Dia pun akhirnya berjalan keluar ruangan. Kebetulan Yenn terlihat melangkah ke arah dirinya berada.
"Chan, kau tidak tidur?" tanya Yenn.
"Aku baru saja bangun tidur," balas Chan.
"Oh berarti istirahatmu sudah cukup ya!" Yenn menyimpulkan. "Kalau tidak ada kesibukan lagi, kau bisa ikut denganku kan?" tanya-nya.
"Kemana?" Chan mengernyitkan kening keheranan.
"Ikut saja ya," ucap Yenn lembut. Kemudian memimpin jalan lebih dahulu.
Chan awalnya mematung. Sebab dia mencoba memikirkan baik-baik tentang keputusannya. Dia takut Yenn akan mengajaknya melakukan hal yang aneh.
"Ayo!" Yenn tampak berbalik badan untuk mendesak. Alhasil Chan pun tidak punya pilihan lain selain menuruti. Keduanya sekarang berjalan dengan cara beriringan melewati lorong.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna hitam. Yenn terlihat mengambil kunci dari saku celananya, lalu memasukkannya ke dalam lubang pintu.
Chan sekarang diserang rasa panik. Dia memainkan jari-jemarinya tanpa alasan. Jantungnya mulai berdebar hebat.
'Apa aku akan di ajari cara untuk membunuh?. . . bagaimana ini, aku benar-benar tidak bisa melakukannya.' Chan menduga-duga di dalam pikirannya.
Apalagi di sekitar ruangan itu ada beberapa hantu yang membuat Chan bergidik ngeri. Terdapat hantu berlumuran darah, serta hantu kepala yang melayang. Menyebabkan darah dalam tubuh Chan berdesir hebat.
Cieeet. . .
Pintu ruangan di depan Yenn telah terbuka. Yenn menatap ke arah Chan, dan memberikan isyarat tubuh untuk menyuruh masuk. Namun gadis yang disuruhnya masih membeku di tempat, seakan masih ragu untuk melangkahkan kakinya.
"Kau tidak perlu takut!" ujar Yenn tenang. "Ayolah, apa kau tidak mempercayaiku?" tambahnya mencoba meyakinkan.
Chan akhirnya menganggukkan kepala pertanda dia sudah memutuskan untuk menuruti perintah Yenn. Dia merasa tidak enak untuk menolak. Lagi pula dirinya belum sepenuhnya tahu apa yang ada di dalam ruangan. Ia sekarang menggerakkan kakinya untuk masuk.
Mata Chan terbelalak ketika menyaksikan Fa sudah ada di dalam ruangan. Dia langsung menoleh saat menyaksikan kedatangan Chan dan Yenn.
"Aku serahkan dia kepadamu Fa!" kata Yenn, lalu beranjak pergi begitu saja.
"Hai penguntit! pilihlah senjata yang ada di atas meja itu!" ujar Fa sembari menunjuk ke kumpulan berbagai senjata yang tersusun rapi di meja. Chan perlahan berjalan mendekati meja tersebut.
Pupil mata Chan membesar tatkala melihat beragam jenis senjata di hadapannya. Terdapat, pistol, pisau, cambuk, bumerang dan sebagainya. Chan hanya bisa mengerjapkan mata beberapa kali.
__ADS_1