
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
Ada dua cara untuk mencari sebuah tempat, yaitu dengan pengetahuan dan bantuan.
***
"Kalian mengenalnya bukan?" Spiderblood memiringkan kepalanya. Dari balik topengnya, ia menyorot tajam ke arah Hongli yang masih tidak menjawab pertanyaannya.
"CEPAT KATAKAN, APA KAU MENGENALNYA?!!" bentak Spiderblood.
"Iya." Hongli menjawab singkat.
Sekarang Spiderblood membalikkan badan, dia mengubah sasarannya. Tepatnya kepada Anming yang juga sedari tadi tidak bersuara.
"Kau!" Spiderblood memegangi paksa dagu Anming.
"CEPAT KATAKAN, APA KAU MENGENALNYA!!" tanya-nya sekali lagi sambil menekan lebih keras dagu yang sedang dipeganginya. Anming pun sontak berteriak histeris, karena merasakan sakit yang teramat sangat.
"Tolong lepaskan. . . beri aku kesempatan. . ." ucap Anming dengan bahasa mandarinnya.
"Apa?! kau bilang apa?!!" Spiderblood kembali bertanya karena tidak memahami bahasa Anming.
"Dia bilang, tidak tahu!" Hongli berinisiatif unjuk bicara. Sekarang dia punya strategi untuk membalas rivalnya tersebut. Spiderblood yang mendengar pun geram, dia melayangkan tendangannya beberapa kali ke badan Anming.
"Jelas-jelas kau yang membunuhnya, dan kau bilang tidak tahu?!" geram Spiderblood. Pemandangan itu membuat Hongli tertawa puas, hingga suaranya berhasil mengalihkan atensi Spiderblood.
"Jangan tertawa! aku pastikan kalian berdua akan mendapat hukumannya. Sekarang katakan kepadaku, bagaimana cara kalian membunuh wanita yang ada di foto ini?!" Spiderblood kembali menunjukkan foto yang ada ditangannya.
Hongli terdiam sejenak. Dia mencoba mencari cara untuk memperpanjang waktunya.
"CEPAT KATAKAN!!" desak Spiderblood kembali dengan pekikan lantangnya.
"Aku. . . hanya bertugas menangkap dan mengurungnya. Sedangkan bagian membunuh dilakukan oleh Anming!" terang Hongli tanpa menatap lawan bicaranya.
Spiderblood menggertakkan gigi, dia mendekatkan wajahnya kepada Hongli dan bertanya sekali lagi, "Aku bertanya bagaimana cara kalian membunuhnya?"
"Sudah ku-bilang Anming-lah yang membunuhnya!" Hongli bersikeras.
"Kalian benar-benar munafik! tidak ada yang bicara jujur sama sekali." Spiderblood melangkahkan kaki mendekati meja yang dipenuhi oleh beragam benda tajam. Tangannya bergerak perlahan untuk mencari barang pilihannya. Hingga gerakannya terhenti pada sebuah benda yang disebut kapak.
__ADS_1
"Kalian pikir aku tidak tahu, kalau cara pembunuhan yang kalian lakukan adalah memutilasi?!" Spiderblood berjalan sambil menyeret kapaknya ke lantai.
Hongli menggeleng, dan berusaha menegaskan, "Tapi kami tidak memutilasi seseornag hidup-hidup!"
"Nah! kenapa kau baru mengaku sekarang?" Spiderblood memiringkan kepalanya lagi. "Anggap saja ini bonus dariku. Supaya kalian bisa menikmati kehidupan lebih lama. Aku juga ingin memberikan kesempatan memilih untuk kalian." lanjutnya.
"Ayo Tuan Hongli, pilih bagian tubuh mana yang ingin kau serahkan lebih dahulu?" tanya Spiderblood. Menyebabkan Hongli harus membelalakkan matanya.
"Jangan pernah coba-coba!" ujar Hongli sambil mengeratkan rahangnya.
"Baiklah, kalau begitu aku saja yang pilihkan. . ." Spiderblood berjalan semakin mendekat. Dia mengangkat kapaknya, hingga reflek membuat Hongli terpejam. Namun bukannya menyerang Hongli, Spiderblood malah melayangkan kapaknya ke kaki Anming.
Jleb!
"Aaaaaarkkkhh!!!" Anming yang tidak menduga dengan serangan itu langsung berteriak. Kakinya merembeskan cairan merah nan segar. Meskipun begitu, kakinya belum sepenuhnya terpisah dari bagian tubuhnya.
"Oh masih belum terpotong ya. Oke, aku coba sekali lagi!" ujar Spiderblood yang seolah-olah sedang melucu. Dia menggaruk kepala bagian belakangnya tanpa alasan. Kemudian kembali mengangkat kapaknya dan melayangkannya tepat ke lengan Hongli. Iya, dia mengubah sasarannya lagi.
Jleb!
"Aaaaarrrkkhh!!" kali ini Hongli yang berteriak histeris. Tangan kirinya buntung seketika. Darahnya menciprat kemana-mana. Mengeluarkan aroma amis yang menusuk indera penciuman.
"Kau beruntung sedang duduk di kursi yang terbuat dari kayu ulin. Aku memesannya langsung dari tanah Borneo, haha!" Spiderblood melakukan penuturannya sejenak, dia merasa bangga karena gagang kursi yang diduduki Hongli tidak ikut terpotong. Setelahnya, ia melanjutkan lagi serangannya.
Jleb!
***
Xiao dan Brian melanjutkan perjalanannya, dan sekarang mereka sudah menjejakkan kaki di negeri sakura.
"Bri, menurutmu kita harus mulai dari mana?" tanya Xiao.
"Hah? kenapa kau bertanya kepadaku?" Brian mengulurkan kedua tangannya bingung.
"Bukankah firasatmu selalu benar. Sekarang aku mau mengujinya, coba buktikan kepadaku!" ujar Xiao sembari menyilangkan tangan di dada. Alhasil Brian pun menggeleng heran sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat.
"Kita coba berjalan ke sana!" Brian menunjukkan tangannya ke arah utara, kemudian melangkahkan kakinya lebih dahulu. Xiao otomatis mengikutinya dari belakang.
Seperti biasa, kota Tokyo sangat padat. Hampir mustahil menemukan seseorang di tengah kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Meskipun begitu Xiao bisa melihat Brian berjalan dengan penuh percaya diri, tanpa adanya gelagat kebingungan.
Kaki Brian tiba-tiba terhenti kala menyaksikan gambar gunung di sebuah papan reklame.
__ADS_1
"Ada apa?" Xiao memposisikan dirinya berdiri di samping Brian. Dia menatap penuh tanya.
"Itu dimana?" ujar Brian seraya menunjuk ke papan reklame di hadapannya.
"Apa ini pertama kalinya kau ke Jepang? kau sama sekali tidak belajar mengenai negara ini di sekolah ya?" remeh Xiao, yang sontak membuat Brian agak geram.
"Hei aku hanya menanyakan keberadaan gunung itu, tetapi kau malah menyinggung masalah sekolah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pencarian kita sekarang!" tegas Brian.
"Tentu ada hubungannya. Karena kita butuh pengetahuan saat bepergian, dan tempat yang ada di gambar reklame itu adalah gunung fuji!" balas Xiao semari menepuk-nepuk kesal reklame yang ada di depannya. Menyebabkan dirinya harus menarik atensi puluhan pasang mata yang kebetulan lewat.
"Gunung fuji? hmm. . . memang terdengar tidak asing." Brian mengelus-elus dagu dengan jari telunjuknya seolah tengah berpikir.
Xiao memutar bola mata jengah. "Kau aneh! masa orang setua dirimu tidak tahu gunung fuji? kau tinggal di goa?" sarkasnya.
"Hei! jangan menghinaku! aku punya banyak memori yang tersimpan di otakku!" tepis Brian yang tidak terima dengan sindiran lelaki yang lebih muda darinya tersebut.
"Ayo kita cari alat transportasi untuk ke sana!" ucap Xiao tak acuh. Kali ini dia yang memimpin jalan untuk rekannya. Matanya terpusat pada mobil taksi yang perlahan mendekat. Dia pun bernisiatif menghentikan taksi tersebut. Sedangkan Brian hanya bisa menghela nafas berat, dirinya hanya berusaha memaklumi perangai Xiao yang sangat sulit di akrabi.
"Halo Pak, bisakah mengantar kami ke gunung fuji?" tanya Xiao yang mencondongkan kepala ke jendela mobil.
"Gunung fuji? ah. . . tentu saja. Silahkan masuk!" jawab sang sopir taksi.
"Kau bisa bahasa Jepang?" Brian mengangkat kedua alisnya.
"Brian, saat aku pertama kali bertemu denganmu, aku tidak pernah bertanya 'kau bisa bahasa mandarin?' ya itu karena diriku bisa melihat dengan mata kepala kalau kau memang menguasainya!" tuturnya, lalu segera masuk ke dalam taksi.
"Dasar! padahal aku cuman bertanya," gerutu Brian. Dia juga ikut masuk ke dalam taksi. Keduanya pun kembali meneruskan perjalanan menuju lokasi yang lebih spesifik.
"Kau tahu? aku butuh waktu satu tahun untuk menguasai bahasa-mu yang sulitnya kelewatan itu. Karena kalau tidak, mungkin aku tak akan bisa mencari Jonas dan bertemu denganmu." Brian menjelaskan.
"Ayahku mengajarkanku banyak bahasa. Dia bilang itu sangat penting untukku di kemudian hari, terutama saat berhadapan dengan musuh yang berasal dari tempat jauh!" Xiao berterus terang.
"Oh begitu, pantas saja." Brian mengangguk-anggukkan kepala pertanda paham.
Di sisi lain Shuwan sedang bersender santai di depan mobil sportnya. Dia menunggu orang-orang yang akan ikut bersamanya ke Jepang.
Tidak seperti Xiao, Shuwan lebih memilih melakukan perjalanan bersama rombongannya. Kira-kira ia membawa sekitar sepuluh orang. Toh lelaki itu tidak perlu khawatir, karena beberapa mafia yang ada di Jepang akan ikut andil membantunya.
Hanya memakan waktu tiga jam lebih, Shuwan dan rombongannya sampai di negara tujuan dengan menggunakan pesawat pribadi.
"Yuze, mobilnya sudah siapkan?" tanya Shuwan seraya berderap menuruni tangga. Hembusan angin membuat baju hitamnya mengibas kesana-kemari.
__ADS_1
"Semuanya telah siap, Tuan!" jawab Yuze, yang merupakan bawahan terpercaya Shuwan untuk sekarang.
"Ya sudah, ayo kita temui para Yakuza itu!" balas Shuwan.