Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 131 - Rencana Pencarian 1


__ADS_3

Menjadi salah satu dari kawanan beresiko, tetapi cara termudah untuk mencapai tujuan.


***


Ketika Theo terus menginjak pedal gasnya. Saat itulah Devgan bersuara. "Xiao, aku tahu pedang itu akan berbahaya untuk para devil. Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah itu juga berdampak bagi para manusia yang memilikinya. Aku sarankan kalian berbalik, dan mencari rencana lain!"


Benar memang yang dikatakan Devgan. Senjata Xiao mungkin hanya berfungsi menumpas para devil, tetapi bukan berarti manusianya juga akan ikut tumbang.


"Apa?!" Xiao membulatkan mata. Dia sontak menyuruh Theo untuk kembali memutar mobil. Hal itu tentu saja membuat Theo dan Chan keheranan. Padahal tadinya Xiao tampak begitu percaya diri.


"Cepat berbalik! sebelum orang-orang bertopeng itu melakukan sesuatu kepada kita!" desak Xiao, yang otomatis mengharuskan Theo memutar balik mobilnya lagi. Kemudian membawanya ke jalan kecil yang kebetulan ada di samping kanan.


Setelah mobil berhenti, Xiao menjelaskan semuanya kepada Theo dan Chan. Dia memberitahukan apa yang dikatakan Devgan. Sekarang baik Xiao, Chan maupun Theo, mereka sama-sama mencoba mencari cara untuk menyelinap masuk ke bandara.


"Ugh! ini memusingkan." Chan memegangi jidatnya sendiri. Dia mencoba mencari jalan keluar, namun otaknya seolah buntu dan tidak menemukan sesuatu yang berguna. Sama halnya dengan Theo, yang masih terdiam seribu bahasa. Menatap kosong ke arah depan.


Berbeda dengan Xiao. Dia terlihat keluar dari mobil dan berjalan melihat-lihat toko yang ada di sekitar. Atensinya langsung tertuju pada sebuah toko dengan penerangan merah mengerikan. Tertulis kata halloween di banner yang ada di jendela.


Xiao lantas memanggil Theo dan Chan untuk mengikutinya. Sepertinya dia sudah mempunyai ide cemerlang untuk mendatangi bandara dengan mudah. Xiao dan yang lainnya masuk ke dalam toko halloween.


"Satu-satunya cara adalah berbaur!" Xiao menyodorkan sebuah topeng kepada Theo. Topeng yang dipegangnya adalah berbentuk wajah frankenstein. Berwarna hijau dan terbilang unik.

__ADS_1


"Sial, maksudmu kita pura-pura menjadi bagian dari mereka?" tanya Theo memastikan.


"Menurutmu? jika kalian takut. Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Xiao bertekad.


"Siapa bilang aku takut!" Chan terlihat sudah memasang sebuah topeng ke wajahnya. Dia mengambil topeng berwajah wanita. Tingkah beraninya membuat Xiao tersenyum tipis.


Karena tidak ingin kalah dengan Chan, Theo segera mengambil topeng pemberian Xiao. Sedangkan Xiao sendiri memutuskan memakai topeng drakula. Mereka sekarang sudah mengenakan topeng pilihannya masing-masing. Setelahnya Xiao menyarankan untuk mengenakan hodie hitam bertudung.


Sebelum benar-benar melakukan penyamaran, ketiganya berusaha mencari toko perkakas. Dimana mereka akan menemukan senjata tajam untuk dijadikan pegangan. Karena senjata sendiri merupakan salah satu ciri khas yang dimiliki oleh orang-orang bertopeng. Tidak lama mencari, tibalah mereka di toko perkakas yang tidak begitu jauh.


Xiao iseng mengambil sebuah gergaji mesin Hingga menyebabkan tangan Chan reflek memukul kepalanya. "Jangan berlebihan!" omelnya mengukir wajah cemberut dari balik topengnya. Namun usaha gadis itu sama sekali tidak berhasil membuat Xiao melepaskan benda yang dipegangnya.


"Xiao, biar aku beri tahu, kalau senjata yang kau pakai itu sangatlah merepotkan. Pertama, kau butuh banyak waktu untuk menyalakannya. Kedua, gergajinya mengeluarkan suara yang sangat berisik!" geram Chan sembari mencoba merebut gergaji mesin dari tangan Xiao.


"Chan! aku tidak punya waktu berdebat denganmu!" balas Xiao bersikeras. "Tenang saja, aku selalu membawa pisau di saku celana. Gergaji ini hanya sebagai dalih penyamaranku!" tambahnya berusaha meyakinkan gadisnya.


Chan hanya berdecak kesal, lalu mengambil pisau berukuran sedang. Dia memilih senjata yang terbilang sederhana, tetapi sangat berguna baginya. Sedangkan Theo mengambil sebuah palu, dia hanya asal memilih, dan tidak punya alasan untuk itu.


Mereka sudah menyusuri di jalanan kembali. Xiao tampak memimpin jalan lebih dulu. Langkahnya terhenti ketika menyaksikan ada mayat yang bersimbah darah. Dia mendekati mayat tersebut tanpa sepatah kata pun.


"Xiao, kau mau apa lagi sekarang?" tanya Theo penasaran.

__ADS_1


"Membuktikan kalau kita memang bagian dari mereka," ucap Xiao sambil menyentuh darah yang ada pada mayat di depannya. Darahnya sendiri masih terlihat segar dan cair, pertanda kalau mayat tersebut baru saja dibunuh.


Chan dan Theo mematung di tempat. Keduanya tentu enggan menempelkan darah orang lain di tangan maupun baju mereka. Sedangkan Xiao sendiri terlihat asyik mengoles darah ke senjata, tangan dan beberapa titik tubuhnya.


"Ini sebagai bukti, kalau kita ikut andil melakukan pembunuhan," jelas Xiao singkat. "Kali ini sepertinya kalian ragu untuk--"


Ucapan Xiao terjeda karena Chan dan Theo sudah menyibukkan diri untuk menyentuh linangan darah yang ada.


"Baru kali ini aku sangat menikmati perjalanan, bukankah menyenangkan?" Xiao tersenyum lebar dari balik topengnya.


"Jujur saja Xiao, aku juga merasa sangat senang." Devgan menyahut girang, karena dia berfirasat kalau dirinya akan mendapatkan energi dalam waktu dekat.


Chan dan Theo hanya menggeleng maklum. Setidaknya di antara mereka bertiga, ada satu orang yang bersemangat untuk melakukan perjalanan.


Sesudah mempersiapkan diri, Xiao, Chan dan Theo melangkahkan kaki menuju bandara. Mereka berjalan beriringan, dan membiarkan Chan berada di posisi tengah. Xiao dan Theo melakukannya agar gadis tersebut dapat dilindungi oleh mereka dengan baik.


"Inilah saatnya," ucap Xiao. Kemudian bergabung pada gerombolan orang-orang bertopeng.


Ilustrasi topeng yang dikenakan Xiao, Chan dan Theo :


__ADS_1


__ADS_2